NovelToon NovelToon
SELINGKUHAN PAMAN

SELINGKUHAN PAMAN

Status: tamat
Genre:Pihak Ketiga / POV Pelakor / Konflik etika / Tamat
Popularitas:55.6k
Nilai: 5
Nama Author: zanizen_

Tentang perselingkuhan Hamish dan Thania. Paman dan keponakan. Hamish pria yang kesepian di hubungan rumah tangganya, hadirnya Thania dihidupnya mengubah segalanya lebih berwarna. Dan sejak kejadian mendesak di bawah hujan Hamish dan Thania mulai menjalin cinta terlarang mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Hamish menoleh pada Thania sebelum ia mengajak gadis itu menaiki tangga menuju lantai atas.

"Hati-hati. Perhatikan langkahmu." Pria itu menegur halus, agar Thania fokus pada langkahnya; tidak terus memandangi langit-langit dan sudut rumah Hamish.

Seketika gadis itu sadar akan tindakannya yang terus memperhatikan sekeliling rumah. Thania tersenyum kecil, dan mengangguk. "Baik, Paman."

Tangga kayu berukir itu meliuk anggun di sisi kanan rumah, dan setiap langkah mereka memunculkan suara lembut dari lantainya yang kokoh. Begitu mencapai lantai atas, suasana berubah menjadi lebih elegan dan berkelas.

Langit-langitnya tinggi dengan hiasan list bergaya kolonial, dan jendela-jendela besar dari kaca patri menyaring cahaya matahari siang, menciptakan bayangan hangat yang menari di lantai kayu.

Mereka melewati sebuah ruang terbuka yang memperlihatkan sebuah grand piano hitam mengkilap di tengah ruangan, terletak strategis di dekat dinding kaca besar yang menampilkan panorama halaman belakang. Sinar matahari menyoroti permukaan piano, menciptakan pantulan cahaya yang menenangkan. Ruangan itu terasa hangat dan damai, seperti tempat di mana waktu berjalan lebih lambat.

"Itu ruangan piano." Ucap Hamish dengan suara rendah. "Ayahku, membuat ruangan itu untuk Ibuku. Biasanya dulu, saat aku masih tinggal disini. Ayahku akan memainkannya di saat-saat spesial seperti saat hari ulang tahun ibuku atau anniversary pernikahan mereka." Sesekali garis tipis yang melengkung muncul dari bibirnya. Seakan pria itu teringat masa-masa itu, memutar kembali kenangan masa kecil yang indah dan hangat. Keharmonisan keluarga yang selalu menjadi impian Hamish.

Thania menatap ruangan itu dengan takjub, matanya berbinar. Ia belum pernah melihat piano seindah itu, dan suasana yang melingkupinya terasa begitu lembut dan hangat. Namun mereka tidak berhenti lama di sana. Hamish melanjutkan langkahnya, mengarahkannya menuju sebuah kamar yang tak jauh dari sana.

Kamar tamu itu berukuran sedang, cukup luas untuk satu orang. Jendela besar di sisi kanan kamar terbuka, membiarkan angin sejuk dari luar menyusup masuk. Tirainya melambai pelan, dan dari jendela itu tampak pemandangan kebun teh yang membentang di bukit-bukit pegunungan, hijau, subur, dan menyegarkan mata. Aroma dedaunan segar dan udara pegunungan menciptakan suasana yang menyejukkan hati. Dinding kamar dicat krem lembut, dan tempat tidurnya rapi dengan sprei bermotif bunga klasik. Ada lemari kayu tua dan meja kecil dengan vas bunga segar di atasnya.

Thania mendekat ke jendela, menatap luasnya kebun teh yang menghijau di kejauhan, lalu berbalik menatap Hamish dengan wajah kagum.

"Rumahmu... sungguh indah." Pujinya kagum, suara gadis itu terdengar ringan namun mengandung ketulusan yang tak terbantahkan.

Hamish tersenyum, matanya mengamati raut wajah Thania dengan lembut. "Kau nyaman?"

"Sangat," Thania mengangguk. "Semuanya terlihat seperti interior mahal dan klasik. Aku merasa seperti sedang tinggal di rumah keluarga bangsawan."

Hamish tertawa kecil, nada bangga terdengar di balik suaranya. "Baguslah kalau kau nyaman. Tempat ini memang penuh kenangan... dan kehangatan."

Beberapa detik hening berlalu saat Thania masih memperhatikan seluruh sudut tempat yang menjadi kamarnya. Angin luar masih berdesir, dan Thania menoleh ke arah pintu, lalu kembali menatap ruangan piano yang terlihat samar dari celah pintu.

"Paman bisa bermain piano?" tanyanya penasaran, bibirnya tersenyum tipis.

"Tentu," jawab Hamish sambil menoleh ke arah ruangan piano. "Kau mau aku memainkannya?"

Thania menggeleng cepat sambil tersenyum, "Tidak perlu sekarang. Aku rasa Paman harus istirahat dulu. Kau pasti lelah menyetir seharian."

Hamish tertawa pelan. "Baiklah. Nanti saja, setelah makan siang."

Thania mengangguk.

"Aku turun dulu, ya. Mungkin beberapa menit lagi ibuku akan memanggil setelah makan siang selesai disiapkan." Dan Hamish segera meninggalkan gadis itu di kamar dengan senyum singkat sebelum berjalan kembali menuruni tangga.

Thania menatap kembali ke luar jendela, membiarkan matanya terbuai oleh hamparan hijau yang bergoyang lembut tertiup angin, merasa seolah dirinya berada di dunia yang berbeda—lebih tenang, lebih lembut, dan perlahan... mulai akrab dan.... Nyaman.

...🍒🍒🍒...

Hamish menuruni anak tangga satu per satu dengan langkah yang santai, namun ada kehangatan yang pelan-pelan tumbuh di dadanya. Aroma khas rumah masa kecilnya—paduan kayu tua, bunga kering, dan udara pegunungan—membuatnya tenggelam dalam nostalgia, tapi juga menumbuhkan rasa syukur atas kehadiran sosok yang kini menunggunya di kamar lantai bawah: Tara, istrinya.

Pintu kamar terbuka sedikit, dan begitu Hamish melangkah masuk, ia melihat pemandangan yang membuat dadanya menghangat lebih dalam. Tara berdiri di depan lemari tua berukir, membungkuk sedikit saat melipat pakaian dan menyusunnya dengan telaten ke dalam rak lemari. Rambutnya digelung seadanya, ada kelelahan di raut wajahnya, namun justru itulah yang membuat Hamish terpaku. Tara dalam versi paling sederhana, tanpa kesibukan pasien, ruang praktik, atau rapat—hanya sebagai wanita yang hadir penuh untuk rumah... untuknya.

Tanpa banyak suara, Hamish mendekat dari belakang. Ia melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Tara, menarik tubuh istrinya ke pelukannya. Tara sedikit terkejut, tapi langsung tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada dada Hamish.

"Aku merindukanmu..." Bisik Hamish di dekat telinga Tara, suaranya berat dan lembut, mengandung lebih dari sekadar kata rindu biasa.

Tara menghela napas kecil, tangannya menyentuh lengan Hamish yang memeluk erat di perutnya. "Kita baru berpisah beberapa menit, Hamish." ucapnya ringan, meski ia tahu, bukan itu maksud dari rindu suaminya.

Hamish menggeleng pelan, dagunya bertumpu pada bahu Tara. "Bukan rindu karena waktu... tapi karena keadaan. Aku merindukan Tara yang bukan psikiater yang sibuk. Aku rindu Tara yang seperti ini... punya waktu, tanpa beban kerja, tanpa panggilan mendadak."

Tara tertawa pelan, suaranya lembut seperti desir angin gunung. "Kau bicara seperti aku ini orang yang tak pernah pulang."

"Kau selalu pulang... tapi sebagian dari hatimu sering tertinggal di ruang konsultasi," Jawab Hamish, kali ini jujur dari kedalaman perasaan yang selama ini ia pendam.

Tara terdiam, merasa bersalah sekaligus terharu.

Hamish memutar tubuh istrinya perlahan agar menghadap ke arahnya. Ia menatap dalam-dalam wajah yang selama ini menjadi tempatnya pulang, tempatnya bernaung. "Tapi hari ini... aku ingin egois sedikit. Hari ini, dan beberapa hari ke depan, kau hanya milikku. Hanya untukku."

Tara mengangkat wajahnya, tersenyum, dan membiarkan dirinya tenggelam dalam tatapan Hamish. Mata suaminya begitu tulus, seperti laut dalam yang tidak bisa diduga dasarnya. Hamish lalu mencium kening Tara dengan penuh kelembutan, lama, seakan ingin mengukir momen itu dalam memorinya.

"Terima kasih sudah mau meluangkan waktumu untuk pergi kerumah orang tuaku." ucap Hamish setelah beberapa saat.

"Aku juga butuh sedikit istirahat, Hamish. Butuh berhenti sejenak... dan hanya menjadi istrimu." Jawaban Tara keluar lirih, tapi mengandung ketulusan yang sama dalamnya.

Hamish memeluk Tara lebih erat, seakan tak ingin waktu berjalan terlalu cepat. Di tengah kesunyian kamar klasik itu, hanya ada suara jantung mereka yang saling bertukar irama, seakan dunia luar memudar, menyisakan satu kenyataan: bahwa di balik segalanya, mereka saling mencinta, saling merindukan-lebih dari yang sempat mereka sadari.

...🍒🍒🍒...

Sesaat Hamish membawa tubuh Tara dan menjatuhinya dengan perlahan diatas ranjang besar. Tara belum sempat menanggapi tingkah suaminya ketika Hamish kembali menariknya dalam pelukan; membuat Tara terduduk dipangkuan Hamish. Tatapan itu kembali hadir—hangat, penuh rindu, dan tidak tergesa. Wajah Tara berada begitu dekat dari wajah Hamish, hingga ia bisa merasakan hangat napas suaminya menyapu kulit pipinya.

"Aku sungguh merindukanmu, Tara..." bisik Hamish pelan, seperti gumaman di antara detak waktu yang melambat.

Tara menatap suaminya dengan mata yang memburam oleh emosi. Tangannya terangkat dan menyentuh pipi Hamish, ibu jarinya mengusap lembut garis rahang pria itu. "Aku tahu... aku juga begitu..."

Perlahan, wajah mereka mendekat. Dan ketika bibir mereka bersentuhan, tidak ada dentuman dramatis. Hanya keheningan penuh makna, seolah dunia menyusut ke dalam cangkupan dua jiwa yang saling mencari. Ciuman itu lembut, dalam, dan melambat seiring waktu. Tak ada keraguan, hanya penyaluran rindu yang telah lama ditahan—bukan sekadar sentuhan fisik, tapi pertemuan dua hati yang telah lama berjeda oleh kesibukan.

Hamish menarik tubuh Tara lebih dekat, dan tubuh Tara pun menyatu dalam pangkuannya. Mereka duduk di sisi tempat tidur, membiarkan pelukan itu menjadi tempat berteduh yang paling aman dan tulus. Hamish mengecup dahi Tara, pipinya, lalu kembali ke bibir istrinya, membiarkan rasa rindu tertumpah dalam keintiman yang tak perlu banyak kata.

Dari celah kecil pintu yang tidak sepenuhnya tertutup, samar-samar terdengar percakapan lembut dan suara ciuman yang teredam. Ristyna, yang tadinya hendak mengetuk, menghentikan langkahnya. Ia terdiam sejenak, matanya mengerjap pelan saat menyadari apa yang tengah terjadi di balik pintu kamar anaknya.

Senyum mengembang di wajah wanita paruh baya itu. Ada kelegaan, juga kebahagiaan yang tidak bisa ia sembunyikan. "Mereka masih saling mencinta sedalam itu..." gumamnya pelan, seolah mengafirmasi sesuatu dalam dirinya.

Ristyna tahu betul betapa sibuknya kehidupan pernikahan anaknya yang berpadu dengan karier. Tapi sore itu, ia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa di balik semua kesibukan, hubungan mereka masih seerat dahulu, mungkin lebih kuat dari sebelumnya.

Ia melangkah mundur perlahan, tak ingin mengganggu momen itu. Niat awalnya untuk memanggil mereka makan siang pun ia batalkan. "Mereka pasti akan keluar sendiri kalau lapar." Pikirnya sambil tersenyum puas.

Dengan langkah ringan dan hati yang lega, Ristyna kembali ke ruang makan, memeriksa dua orang juru masaknya yang tengah menata piring demi piring di atas meja panjang yang menghadap taman belakang. Aromanya menggoda, mengundang. Tapi hari itu, yang lebih memuaskan dari aroma makanan adalah kenyataan bahwa cinta di rumahnya masih terjaga... hangat dan utuh.

...🍒🍒🍒...

"Thaniaaaa... sayang, ayo turun, makan siangnya sudah siap!"

Suara lantang Ristyna menggema dari bawah, menembus celah pintu kamar yang dibiarkan terbuka.

Thania yang sedang berguling santai di atas kasur, dengan rambut terurai dan tangan menopang kepala, terlonjak pelan saat mendengar panggilan itu. Ia memutar tubuhnya, menatap jam dinding yang menunjukkan hampir pukul dua siang, lalu segera bangkit dengan gerakan lincah dan merapikan sedikit penampilannya sebelum keluar dari kamar.

Langkahnya menuruni anak tangga dengan hati-hati, udara sejuk dari rumah itu menyambutnya kembali. Begitu ia sampai di ruang makan, aroma masakan hangat langsung menggoda inderanya. Meja makan besar berukir elegan itu telah dipenuhi berbagai hidangan—mulai dari sup krim, salad segar, daging panggang, hingga seafood yang menggoda.

Di balik meja, Ristyna tampak sibuk mengisi piring Harris, suaminya, dengan penuh perhatian. Wajah wanita paruh baya itu berseri-seri, tangannya gesit menata porsi makanan.

Namun perhatian Thania tertumbuk pada dua sosok yang duduk berdampingan di sisi kanan meja—Hamish dan Tara. Mereka tampak sangat mesra. Hamish menyuapkan potongan kecil salmon ke mulut Tara dengan senyum menggoda, dan Tara membalas dengan tertawa kecil, lalu membalas perlakuan itu dengan gerakan serupa.

Thania terdiam sejenak. Ia menarik napas dalam, lalu perlahan duduk di kursi kosong yang kebetulan tepat menghadap keduanya. Pandangannya tertahan sesaat pada interaksi yang seharusnya terasa manis itu... tapi di matanya, ada semburat getir yang muncul sesingkat kilatan.

Namun tak lama, ia menepis pikiran itu, mencoba menata senyumnya sebelum Ristyna melirik ke arahnya.

"Sayang, akhirnya kau turun juga," Ujar Ristyna hangat. "Maaf ya, nenek ini tidak sabar kalau soal makan siang keluarga!" Lanjutnya lagi dengan antusias.

"Tidak apa-apa, Ibu, maksudku.... nenek." Jawab Thania sambil mulai mengisi piringnya. Ia tersenyum lebar, seolah semuanya baik-baik saja.

"Astaga, nenek? Aku harap yang pertama kali memanggilku dengan sebutan nenek adalah cucuku sendiri." Ristyna tersenyum culas, pandangannya kini beralih pada Hamish dan Tara yang mesra; sedang saling menyuapi. Seketika Tara dan Hamish merasa tersindir, sesaat keduanya berdeham rendah dengan canggung. Pura-pura tidak menyadari sindiran halus Ristyna.

Hamish menelan salivanya dengan kasar, pria itu berdeham kikuk saat menatap sorot mata tajam Ristyna mengarah padanya. "Ekhmm, secepatnya cucumu akan hadir, bu." Sahut Hamish.

"Iya bu, akan aku usahakan." Timpal Tara.

Dan Ristyna hanya mengangguk malas, dan kembali pada makan siangnya.

"Tapi Thania, usiaku baru 47 tahun. Sepertinya, sebutan nenek terlalu tua dan aneh saja bagiku. Panggil saja aku dengan,.... Granny." Saran Ristyna.

Thania mengangguk kecil, seraya masih mengunyah makan siangnya. Setelah gadis itu menelan, ia membuka mulutnya kembali. "Baiklah, Granny."

Untuk beberapa menit yang telah berlalu, hanya terdengar denting alat makan dan percakapan ringan antara Hamish dan Tara mengenai suasana perkebunan teh yang mereka lihat dari jendela. Thania menyuap makanannya perlahan, mencoba fokus pada rasa, bukan pada pasangan di depannya yang tampak sedang berada di dunia mereka sendiri.

Kemudian, untuk mengalihkan pikirannya, Thania membuka percakapan, "Granny, rumah ini sangat luas... Apa ada ruang-ruang khusus lainnya selain ruang makan, ruang tamu, dan piano?"

Ristyna tersenyum, senang melihat minat gadis itu.

"Wah, tentu ada, sayang," katanya dengan semangat. "Di belakang rumah ada kolam renang, lalu kami punya perpustakaan yang cukup besar, ruang billiard, ruang TV, ruang yoga untuk latihan ringan, dan... ada rumah kaca kecil di taman, tempat favoritku untuk minum teh saat sore hari. Kau harus ke sana nanti. Anginnya segar dan dikelilingi bunga."

Mata Thania membesar, tulus kagum. "Wah... sungguh rumah yang lengkap. Seperti rumah impian."

"Kalau kau ingin, nanti kita keliling rumah, ya. Aku sendiri senang kalau ada tamu baru yang ingin tahu sudut-sudut rumah ini." Ujar Ristyna sambil menepuk lembut punggung tangan Thania yang tergeletak di atas meja.

Ucapan hangat itu seketika mencairkan sesuatu dalam diri Thania. Rasa sesak dan cemburu yang tadi seperti kabut perlahan tersapu oleh kenyamanan dan kehangatan keluarga itu.

Gadis itu tersenyum, tulus kali ini. "Terima kasih Granny,... aku sangat senang bisa di sini."

Dan untuk sesaat, Thania benar-benar melupakan rasa nyeri di dadanya. Ia tenggelam dalam suasana rumah yang hidup, dalam tawa ringan dan suara percakapan akrab. Di antara aroma makanan dan kayu tua yang membawa kehangatan klasik, Thania merasa... mungkin dia bisa menikmati waktu ini, meskipun hatinya belum sepenuhnya tenang.

.

.

.

.

.

.

.

To be continue....

Jangan lupa votenyaa🤗

1
Nda
ditunggu novel selanjutnya thor
Nda
novel mu luar biasa thor
zanizen_: wahh terimakasih yahh😍
total 1 replies
mila.mil_
hebat zanizen_ 👍👍👍👍👍👍👍 gue salut banget sumpah. gue bener bener gak nyangka ada novel yang bisa mengombang ambing emosi pembaca 🤭. bakal gue baca series selanjutnya kok
zanizen_: thanks... aku juga gak nyangka ada yang baca Ampe ending sampai terkesan begini... makasih lhioo😍
total 1 replies
mila.mil_
nangis gueee ayolah Thania! Nathan SE cinta itu sama Lo! masa Lo mau ambil resiko sih dengan milih Hamish
zanizen_: udah bucin banget sama Hamish Thania nya🤭
total 1 replies
mila.mil_
pasti aku baca thor👍👍👍👍
zanizen_: mantap👍🤭
total 1 replies
mila.mil_
ya ampun Hamish! mau ngapain ini cuy🤣🤣🤣🤣🤣
zanizen_: adalah pokoknya🤭
total 1 replies
mila.mil_
ngakak ya ampun! di tawarin gituan dong
zanizen_: ngejar target penjualan staff nya🤣
total 1 replies
mila.mil_
yahhh udah mau habis aja ceritanya. penasaran endingnya Thor! semangat habisin nih novel! sikat teros ceritanya Thania sama Hamish! 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
zanizen_: Udah end nih, happy reading ya🤭
total 1 replies
Irma Luthfah
gak tega bangettt baca nya .😭😭😭
mila.mil_
tambah panassssss... gila lu Thania.... pelakor beneran baru muncul cuy. yok lanjut Thor! 👍👍👍🤭🤭🤭🤭💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
mila.mil_
udah mulai ketahuan nih. yok Tara! ungkap terus! sekalian tuh cerai in Hamish biar nanti nikah sama Thania 🤣🤣🤣🤣🤣 🤭🤭🤭🤭👍👍👍👍👍👍👍👍👍
mila.mil_
sumpah kasihan banget Tara. gue kalau jadi Tara sih, udah bener bener curiga banget kenapa bisa Hamish hilang gitu aja bahkan tanpa kabar. ini antara ke Thania atau Tara ya, gue rasa mereka berdua emang gak cocok banget buat cowok se bejat Hamish. OMG! gue Sampek nangis pas baca penderitaannya Tara. gak bisa bayangin gimana hancurnya harapannya. 💪💪💪💪💪💪💪💪 semangat lanjut Thor! bagus banget ini novel 💪💪💪👍👍👍👍
mila.mil_
sumpah sih, ini perasaan gue rada gak enak ke Thania. jangan jangan Thania ada rasa lebih berharga di mata Hamish. waduhhh Thania udah mode gak polos lagi
zanizen_: namanya juga selingkuhan 🤭
total 1 replies
Zeona
Bikin penasaran banget sama alurnya, semangat Thor💕💕
Irma Luthfah
ikut deg degan bangettt
mila.mil_
lanjut Thor! ku tunggu update nihh 🤭🤭🤭💪💪💪💪💪💪💪💪💪
mila.mil_
gila Thor!!!! udah mulai aja nih... i want to be inside you🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau nyebur kolam aja gue pas baca ini🤣🤣🤣🤭🤭🤭👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪💪💪
zanizen_: wkwkwk mantap👍🤭
total 1 replies
mila.mil_
parah ya. cuman gara gara Thania, banyak yang terluka. ini nih, persaingan ketat antara Nathan sama Hamish. 👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪😍😍😍😍
mila.mil_
kasihan Nathan 🤣🤣🤣🤣🤣padahal udah mau ni nu ni nu sama Thania, lah malah di gagalin sama Hamish.🤭🤭🤭🤭🤭 semangat lanjut thor
zanizen_: posesif hamish
total 1 replies
mila.mil_
lanjut Thor! sumpah sih ini seru banget. gue kepo korbannya nanti Nathan apa Hamish ya...🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍👍👍👍👍
zanizen_: adalah pokoknya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!