NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:217
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Pertemuan yang tak pernah mereka rencanakan, tapi justru takdir membawanya semakin dekat. Hingga mereka benar-benar yakin bahwa cinta itu hadir. Tapi ternyata tak cukup hanya Cinta, tapi juga ada perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.

"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????" bentuknya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apakah memang Dia spesial?

"Yan.....?" Feni berdiri agak jauh darinya.

"Akh...!! aku bisa stres!!"Yani mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi.

Feni menelan ludah, berkedip bingung.

"A..... Ada a-apa?" tanya Feni benar-benar gugup, terlihat ia takut.

"Asido.....!! Aku bisa stress lama-lama karna dia!!" bentaknya ke dekat Feni.

Feni membeku di tempat. Ia mengenal Yani cukup lama untuk satu hal. Kalau perempuan itu sudah mulai mengacak rambut sendiri sambil mengeluh seperti ini, artinya tingkat stresnya sedang naik.

Dan jika tidak segera menemukan jalan keluar, Yani bisa semakin mengamuk.

"Dokter Asido masih tetap......cuek?" Feni akhirnya berani bertanya soal itu.

"Iya...! Dan aku tak suka ini......" Wajah Yani memerah. Marahnya sudah benar-benar memuncak.

Feni langsung menegakkan badannya.

Kondisi Yani sekarang itu sudah masuk fase berbahaya. Sejak malam kemarin, Yani cerita semuanya padanya. Yani akhirnya mengakui jika perasaannya benar-benar ada pada Asido. Dan ingin segera memilikinya.

Dan hari ini, Yani menunjukkan kekesalannya yang sudah menumpuk.

"Itu artinya kamu harus bergerak lebih." ucap Feni pelan.

Tiba-tiba Yani membuka kepalan tangannya sendiri. Ia menatap Feni lekat dengan tatapan serius.

"Maksud.....kamu?!"

"Iyah.....Dokter Asido kan sebenarnya belum tau kalau kamu punya perasaan sama dia. Jadi siapa tau setelah dia tau...... Sebenarnya dia juga punya rasa yang sama." Feni mencoba menjelaskan idenya dengan tenang.

Mendengar itu, Yani langsung tersenyum. Wajahnya yang tadi langsung berubah drastis.

"Ide yang cemerlang......"

Ide itu langsung bercabang di benak Yani. Seketika marahnya menghilang.

"Syukurlah...... "batin Feni lega.

"Ini pas lagi jam makan siang," gumam Yani langsung beranjak ke kamar mandi, meninggalkan Feni di ruangannya begitu saja. Di sana ia merapikan rambutnya tadi yang sedikit berantakan olehnya tanpa sadar.

"untung saja......" Feni menghela napas lega. Sebenarnya ide tadi langsung datang begitu saja keluar dari kepalanya. Ia tak berpikir apa akibatnya dalam jangka panjang, tapi yang terpenting Ia bisa lolos dari amukan Yani.

"Asido, kali ini kamu tak bisa lolos." Yani memakai lipstik merah merona. Dia sengaja melakukannya untuk menarik perhatian Asido.

Yani keluar ruangannya dengan langkah tegas dan tatapan lurus ke depan.

"Ehh..... lihat deh, Bu Yani terlihat beda."

"Iya ya...... Mau kemana Ibu itu ya?"

Bisik- bisik itu terdengar cukup jelas. Beberapa staf heran melihat perubahan Yani seketika. Yani memang perempuan yang rapi tapi biasanya langkahnya tak setegas itu. Ciri khasnya yang terlihat manja tak terlihat saat itu.

"Tak ada waktu melayani mereka." batin Yani.

Dia tetap berjalan lurus tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri. Dia fokus untuk misinya, sampai ia berhenti di depan ruang Asido.

Belum sempat mengetuk pintu itu, Asido sudah keluar terlebih dahulu. Tangannya memegang ponsel dan kunci motornya.

"Yani.....?" Asido spontan mundur saat melihatnya.

Yani juga cukup terkejut tapi dengan cepat ia menyembunyikannya.

"Dokter mau kemana?" tanyanya.

"Ada apa? Ada masalah?"

Asido selalu saja bertanya itu, mengaitkan dengan dunia kerja jika sudah berhadapan dengan manager itu. Seperti tidak memberi celah untuk ngobrol selain itu.

"Tidak ada, Dok."

"Oh.... baguslah. Selamat makan siang." ucap Asido melangkah melewati Yani.

"Asido??" panggil Yani kuat. Kata dokter yang biasanya selalu ada sebelum nama Asido tak lagi terdengar.

"Ada apa Yani?" Asido menoleh ke belakang.

"Aku mau ajak kamu makan siang bareng." Yani langsung mengatakan tujuannya. Dia ingat perkataan temannya itu harus bergerak lebih.

"Lain kali saja ya..... Saya sudah ada janji. Maaf....." balas Asido sedikit menunduk dan kembali melangkah.

"Sialan..!!" batin Yani kesal dengan jawaban itu.

Bahkan sedikit pun tak ada perubahan Asido saat melihat penampilannya. Semuanya terlihat biasa saja. Bahkan saat ia langsung yang mengajak hanya penolakan yang ia terima.

Yani menarik napas panjang, dia berusaha lebih tenang. Karna tak mungkin ia meledak di tempat itu. Orang-orang banyak yang berlalu lalang. Apalagi itu jam istirahat.

"Tenang Yani..... Cari cara lain." pikirannya berbicara untuk menenangkan dirinya sendiri.

Sementara Asido tetap berjalan menuju parkiran untuk mengambil motornya.

"Beli apa ya yang cocok?" tanyanya pada dirinya sendiri saat motor itu mulai melaju meninggalkan area klinik.

Sepanjang perjalanan, pikirannya masih sibuk mencari ide. Beberapa menit di jalan, pandangannya tertuju pada sebuah restoran di pinggir jalan. Asido memperlambat motornya.

"Semoga ini cocok." Asido membelokkan motornya dan masuk ke area parkir.

"Ramai juga....."

Saat memasuki restoran itu, Asido sempat mengira kalau ia bisa langsung memesan dan segera pergi. Tapi dugaan itu salah. Restoran itu cukup ramai. Beberapa pelanggan sudah antri.

"Masih sempat....." ucap Asido memperkirakan waktu yang ia butuhkan. Antrian itu cukup panjang tapi pelayanannya cukup cepat.

"Selamat siang, Pak. Mau pesan apa?" tanya pelayannya saat giliran Asido tiba.

Asido mulai memilih beberapa jenis sushi yang terlihat paling cocok.

"Semoga dia suka." Asido keluar dari restoran sambil membawa kantong itu di tangannya.

Asido berjalan cepat menuju parkiran dan tetap hati hati memegang kantong itu untuk memastikan makanan itu tetap aman.

"Eh......" seru seseorang saat melihat Asido lewat dari depannya. Sementara Asido terus berjalan karna fokusnya tak ada pada sekitarnya.

"Dokter Asido.....?" teriaknya memanggil.

Asido berhenti dan balik badan mencari siapa yang memanggilnya di tempat itu. Orang itu berlari kecil mendekati Asido.

"Horas bah....." sapanya sambil memukul lengan Asido. Dia memang bukan orang Batak tapi dia sering menyapa Asido dengan kata itu mulai dari dulu.

"Ryan......?" Asido tak menyangka bertemu dengan dia lagi di tempat yang tak diduga.

"Kebetulan lagi ini atau bagaimana?"

"Astaga...... Saya juga nggak menyangka bertemu lagi dengan cara sesederhana ini." balas Asido.

"Kita lanjut ngobrol di dalam saja, sekalian makan siang." ajak Ryan.

Asido terdiam. Dia merasa sedikit segan untuk menolak. Tapi dia juga tak mungkin mengikuti ajakan itu untuk sekarang.

Ryan melirik kantong yang di tangan Asido. Senyumnya langsung berubah usil.

"Wih.... Sibuk Dok? Mau kemana?"

"Lain kali saja kita ngobrolnya, saya ada urusan sekarang."

Ryan mendecak pelan.

"Urusan apa bawa-bawa makanan, Lae....?"

Asido langsung mengerti kemana arah pembicaraan itu.

"Saya benar-benar buru-buru, Bro...."

"Cieee......" Senyum usil itu semakin lebar.

Asido memejamkan mata sebentar.

"Bukan begitu. Saya itu harus..... "

"Iya, iya Dok.....Saya percaya." potong Ryan tanpa membiarkan Asido menjelaskan lebih lagi.

"Astaga......" Geleng Asido tertawa kecil.

"Titip salam ya, Dok! Dan kalau mau ngedate itu bagusnya malam aja, Lae." bisik Ryan dengan nada usilnya.

"Sudah ya, Dokter Asido. Semoga berhasil." Ryan menepuk punggung Asido sebelum pergi menuju pintu masuk restoran itu.

"Dari dulu selalu aneh...." gumam Asido juga meninggalkan tempat itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!