NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Rafli menatap Anisa dari dalam mobilnya. Rafli mengenal Anisa sejak duduk di bangku SMA. Mereka sejak duduk di kelas 1 hingga lulus sekolah selalu satu kelas.

Perkenalan mereka berawal dari peristiwa yang tak terduga. Hari itu adalah hari Senin. Hari paling horor bagi sebagian anak sekolah. Hari paling sibuk, hari paling menegangkan , pokoknya kalau udah ketemu hari Senin , hampir semua murid sekolah itu sibuk. Entah apa yang di sibukkan.

Seperti biasa di setiap sekolah, Senin pagi pasti di adakan upacara bendera. Pagi itu Anisa datang bertepatan dengan bunyi bel masuk. Anisa yang terburu-buru kakinya

 keselimpet kaki sendiri.

Alhasil dia pun oleng dan jatuh menubruk siswa laki-laki yang ada di depannya. Reflek siswa yang ada di depannya berhenti dan mencoba menahan tubuh Anisa. Siswa itu sebenarnya tidak tahu, yang baru saja menubruknya entah laki atau perempuan.

Tapi punggungnya merasakan ada benda kenyal yang membuat tubuhnya seperti kesetrum. Karena dia ingin merasakan sensasi setruman lebih lama lagi, dia pun rela menjatuhkan diri di lantai. Dan akhirnya... pura-pura pingsan.

               *********

Akibat dorongan tubuh Anisa yang terlalu kuat, siswa itu tak bisa menahan beban dari tubuh Anisa. Siswa tadi jantuh tengkurap dengan posisi Anisa di atasnya.

Anisa buru-buru bangun., dia merasa malu sekali. Apalagi banyak siswa yang melihatnya dan anehnya cuma jadi penonton Tak ada yang berempati untuk membantunya.

" Aduh dek.. hati-hati. nanti jatuh." kata seorang siswa laki-laki sambil menolong siswa yang tertimpa tubuh Anisa."

" Emang udah jatuh kali." gerutu Anisa.

Siswa tadi cuma nyengir sambil garuk kepala.

" Ini bagaimana selanjutnya, kayaknya dia pingsan." kata siswa yang hendak menolong orang yang tertimpa Anisa.

Anisa panik. Dia tampak cemas.

" Ya...udah angkat ke ruang UKS. " kata Anisa gugup. Dia takut sekali orang itu kenapa-kenapa.

" Ini berat. Ayo kita angkat bareng."

" Memang kamu nggak bisa minta bantuan sama yang lain. Yang sama-sama cowok." ketus Anisa.

"Tunggu . Nama kamu siapa." tanya Anisa.

" Dodo, dek." jawab siswa itu.

" Dak..dek, jangan sok tua. Kamu siswa baru juga, kan." tanya Anisa kesal karena dari tadi di panggil, dek.

" I..iya.Saya baru masuk tahun ini."

" Kita seumuran jadi nggak usah merasa sok tua. Panggil dak..dek, dak ..dek." ketus Anisa.

" Lha...saya harus panggil apa? Kakak gitu?." tanya Dodo polos.

" Anisa , ingat namaku Anisa." Anisa memperjelas namanya.

" Iya...udah dengar." sahut Dodo singkat.

"'Terus sekarang gimana ini. Mana yang lain udah pada ke lapangan." kata Anisa bingung.

" Sorry..kalau buat ngangkat dia aku nggak kuat. Apalagi ruang UKS letaknya paling ujung dekat toilet , bisa gempor kaki." kata Dodo.

" Terus di biarin aja gitu. Kalau dia lewat ntar gimana?" Anisa makin gelisah.

" Hahh...lewat?!. Yang bener aja Nisa, buat bangun aja nggak bisa , apalagi mau lewat." kata Dodo dengan polosnya.

Anisa mengepalkan dua tangannya karena kesal.

" Herghh...nggak nyambung banget sih, ngomong ama kamu , Do." Anisa geram.

Dodo sepertinya tak merespon ucapan Anisa. Dia malah melakukan tindakan di luar nalar. Dodo membalikkan posisi siswa yang pingsan tadi ,dari tengkurap jadi telentang .Tangan kanan dia masukkan ke ketiak kiri. Jari telunjuknya dia dekatkan ke lubang hidung yang pingsan.

Ajaib. Tak berapa lama siswa yang pingsan pun langsung siuman.

" Brrpppmbh... bau apa, nih. Bikin mual aja."

Anisa menutup mulut dengan ke dua tangannya. Antara ingin tertawa ,tapi kasihan. Kasihan , tapi dia seneng, seneng karena dengan begitu dia siuman.

Setelah bangun dari pingsannya, siswa tadi duduk bengong menatap dua anak manusia yang ada di depannya.

" Apa yang terjadi?"

Dodo dan Anisa saling berpandangan. Ternyata belum selesai dramanya.

" Kamu tadi pingsan. Tapi nggak tau juga sih, entah pingsan, entah tidur." ketus Dodo.

" Eh...betul juga ya, jangan-jangan kita di kerjain sama dia." Anisa curiga.

Samar-samar terdengar suara sepatu. Mereka baru ingat kalau hari ini ada upacara bendera. Seperti di komando mereka langsung mencari tempat persembunyian. Dari pada di hukum di jemur di lapangan , mereka lebih memilih bersembunyi.

" Tunggu nama kamu siapa." tanya Anisa.

" Rafli." sambil menarik tangan Anisa untuk sembunyi. Anehnya Anisa menurut saja.

Biasanya sebelum upacara di mulai ada guru yang sidak ke setiap kelas. Kalau ketahuan sengaja tidak ikut upacara bendera mereka kena sangsi.

" Sstt...diam. Dari tadi nggak bisa diam banget , sih." Dodo yang memang badannya sedikit gempal merasa sedikit kesusahan untuk jongkok lama-lama. Apalagi mereka sembunyi di semak-semak.

"Eeheemm."

Rafli , Anisa dan Dodo saling berpandangan. Mereka perlahan membalikkan badan , dan di hadapan mereka berdiri guru pria sambil bersedekah tangan.

Ketiganya menganggukkan kepala sopan.

" Selamat pagi, pak." kata Rafli berinisiatif lebih dulu.

" Hemmm...pagi. Setelah upacara selesai kalian bertiga berdiri di lapangan selama 15 menit."

" Tapi pak." Sela Anisa.

"Protes tambah 15 menit. Jadi 30 menit." guru itu lantas berlalu dari hadapan mereka.

Sesuai prosedur mereka pun menjalani hukumannya. Tapi tiba-tiba Dodo terkulai lemas. Beruntung Rafli yang berdiri di sampingnya, sigap menahan tubuh Dodo.

" Aduh...berat banget sih, ini bocah. Hei..Nisa bantuin dong." Nisa yang sibuk kipas-kipas dengan topinya buru-buru ikut menahan tubuh Dodo.

Anisa berlari ke ruang guru minta pertolongan. Dodo yang tau Anisa minta bantuan , membuka matanya sedikit dan memberi kode ke arah Rafli.

Rafli ternyata cepat tanggap. Atas insiden itu mereka pun di bebaskan dari hukuman yang masih tersisa 19 menit 99 detik lagi.

Dari kejadian itu akhirnya mereka bertiga jadi sahabat. Rafli yang kurus, tinggi dan rambut sedikit keriting, tampak cocok dengan Dodo yang badannya gempal , serta Anisa yang berbadan mungil. Mereka bertiga saling melengkapi.

" Aku mau lanjutin kuliah di Singapura, ikut kakak di sana." kata Dodo suatu hari.

" Yah...jauh dong." kata Anisa.

" Kamu gimana, Raf?". tanya Anisa .

Rafli garuk-garuk kepala.

" Aku belum tahu pasti. Kemungkinan kerja dulu, kalau udah ada biaya baru lanjut kuliah. Jadi tahun ini aku istirahat dulu."

Seperti mereka ketahui, Rafli bukanlah anak orang berada. Tak seperti Anisa dan Dodo yang ke dua orang tuanya sama-sama pengusaha. Tapi Anisa dan Dodo tak pernah mempermasalahkan hal itu.

Tapi di antara ke tiganya Rafli termasuk yang paling cerdas. Walaupun begitu antara Dodo dan Anisa, tak pernah memanfaatkan kecerdasan Rafli. Justru Rafli dengan sabar mengajari mereka, sampai mereka bisa lulus bersamaan.

Sampai pada waktu perpisahan. Dodo yang pada dasarnya anaknya sedikit manja. Sempat meneteskan air mata.

" Cemen amat kamu, Do. Masak nangis, sih." kata Anisa sambil mengusap air matanya.

" Hei...udah kayak di tinggal mati aja. Kita masih bisa VC an. Jaman udah canggih kok, bingung." kata Rafli yang sedang berusaha menutupi kegundahan hatinya.

" Beda." kata Anisa dan Dodo bersamaan.

Rafli menggaruk tengkuknya , dia sebenarnya merasa bingung juga.

" Anisa , jangan lupain aku ya, kemungkinan aku mau ikut daftar jadi TKI ke Jepang ." kata Rafli.

" Serius?!." tanga Anisa dan Dodo, lagi-lagi mereka kompak.

Rafli mengangguk.

" Jauh amat , Raf. Nggak bisa apa cari kerja di sini." kata Anisa.

" Sebenarnya aku udah di daftarin dari satu tahun yang lalu. Di sana ada adik ibu yang mengurus semuanya. Jadi aku tinggal berangkat." kata Rafli.

" Curang kamu. Kenapa baru bilang sekarang." Anisa memukul pundak Rafli dengan tasnya.

Rafli nyengir sambil mengusap pundaknya.

Rafli menatap Anisa , kali ini tatapannya berbeda dengan biasanya.

" Kalau ada uneg-uneg di omongin aja, nggak usah di pendam. Nanti jadi bisul." ujar Dodo sambil bangkit dari duduknya dan menjauhi ke dua temannya. Dia hanya ingin memberi ruang pada ke dua sahabatnya.

" Hei ..mau ke mana?" tanya Anisa.

" Mau beli cilok. Laper." kata Dodo sekenanya.

Sekarang tinggal berdua. Anisa dan Rafli.

" Nis..kalau kita di pertemukan lagi, apa kamu masih sama. Maksudku...ah..sudahlah lupakan." kata Rafli putus asa.

" Aku tahu arah bicaramu. Kalau aku ikut ke mana arah takdir menghampiriku." jawab Anisa diplomatis.

Rafli menarik nafas. Dia mengerti yang di ucapkan Anisa. Takdir tak ada yang tahu, manusia hanya tinggal menjalani saja.

Apalagi menunggu dalam ketidak pastian. Rafli harus berjuang , dan itu tak cukup satu tahun atau dua tahun. Rafli sadar itu.

Dan sejak hari itu, Rafli tak bisa menghubungi Anisa. Mungkin memang jalan cerita kehidupan Rafli harus seperti itu.

Handphone yang menyimpan nomer ke dua sahabatnya hilang, Rafli baru menyadari ketika sudah sampai di salah satu bandara di Jepang.

*Author nggak tahu nama bandara di Jepang. Jadi ini cuma alur cerita aja. Nanti pun nggak di ceritakan detailnya ketika Rafli di Jepang.

Beruntung omnya sudah menjemputnya di bandara. Kalau tidak , pasti dia akan seperti orang hilang.

Anisa yang sudah tahu Rafli berangkat ke Jepang, merasa kehilangan. Jujur dia mengharapkan Rafli mengungkapkan isi hatinya. Karena sebenarnya dia tahu Rafli menaruh hati padanya.

Hanya saja Anisa takut, takut dengan ketidak pastian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!