Namanya Aditia, saat ini dia berumur 21 tahun seorang Mahasiswa dan juga supir angkot.
Pada umur Aditia yang ke 18 tahun, ayahnya sakit-sakitan dan akhirnya kritis karena penyakit yang sampai sekarang menjadi misteri bagi keluarga mereka, tapi bukan itu yang membuat hidup Aditia berubah, Aditia seorang anak muda milenial harus memegang amanah dari ayahnya, amanah yang jika siapa pun mendengarnya akan tertawa bahkan menghina.
“Nak, kemudikan angkot ini, terima semua jenis penumpang dan antarkan mereka dengan segala keperluannya.” Itu pesan terakhir ayahnya.
Awalnya Aditia takut, tapi setelah membantu beberapa 'makhluk' yang tersesat, akhirnya Aditia sadar, amanah ayahnya adalah tanggung jawab yang telah Tuhan berikan pada kami yang terberkahi.
Ya, yang harus Aditia antar jemput bukan hanya penumpang manusia, tapi 'mereka-mereka', yang jiwanya tersesat, ruh yang tidak terlihat mata awam.
Dari sanalah kisah Aditia berawal, sang supir penjemput jiwa yang tersesat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 29 : Jawaban
“Kau sudah memperbaharui perjanjian bukan?” Alka bertanya dengan wajah sangat serius.
Aditia dan yang lainnya kaget, darimana kesimpulan itu berasal, bagaimana Alka tahu, apa itu karena Alka keturunan Jin?
“Dimana kau menanamnya? Di sini? di lift itu?” Apakah Alka hanya asal ucap? tapi kenapa dua makhluk itu seprti ketakutan, seketika Jarni dan Ganding langsung berlari, mendekati lift itu.
Sementara Alka menahan kedua makhluk itu agar tidak menghalangi Jarni dan Ganding.
Aditia menghunus kerisnya pada si Kuntilanak Merah, dia kepanasan, sementara Ganda Ruwa menghampiri yang kemungkinan adalah kekasihnya.
Ganding berteriak, “Mustika Anuman, Kak!” Alka tersenyum. Benar seperti yang Alka duga.
“Mustika Anuman, wah pertukaran yang luar biasa. Hajar Dit, musnahkan!” Alka bersiap, Ganding dan Jarni pada posisi, Hartino berada dibelakang Alka untuk memastikan bahwa kalau Alka jatuh, tidak ada celah untuk mereka berdua kabur.
Hanya butuh waktu satu jam bagi mereka untuk menghancurkan jin kafir ini. setelah mereka teringkus, Aditia menghunuskan keris dan Alka memusnahkan mereka dengan senjata yang tidak pernah dia keluarkan sebelumnya.
Cambuk api. Cambuk itu dia dapatkan saat sedang melakukan pertapaan di suatu gunung, dia dapatkan dari seorang kakek yang katanya adalah leluhurnya, kakek itu bilang, cambuk ini hanya bisa digunakan apabila dia bertemu dengan jin laknat yang kafir, jika jin itu melanggar perintah utama Tuhan, maka cambuk itu akan berguna.
Begitu cambuk itu mengenai tubuh kedua makhluk laknat itu, seketika tubuh astral mereka hancur dan tidak bersisi.
Aditia, Jarni, Ganding dan Hartino jatuh karena kelelahan, tidak mudah mengusir mereka.
Aditia melihat Alka mengusap tangannya, ada yang tidak beres sepertinya, tapi nanti saja dia tanya, Alka sepertinya menyembunyikan itu.
Semua orang keluar gedung itu, Mustika Anuman diambil oleh Jarni, Mustika itu akan disimpan di tempat biasa, sebuah museum mini dibawah kamar Jarni, tidak ada yang mampu mengendalikan semua benda ghaib itu selain Jarni.
Jarni memiliki tingkat kemampuan mengendalikan benda ghaib yang tinggi.
Semua orang sudah di angkot Aditia, mereka memutuskan untuk ke warung dekat kuburan, warung tempat mereja nongkrong.
Begitu sampai, mereka memesan kopi dan menuntut penjelasan dari Alka.
"Gimana kamu tau kalau ada mustika anuman di sana?" Aditia bertanya, yang lain ikut mendengar sembari makan gorengan, anak orang kaya tapi sangat sederhana dan loyal terhadap keluarga Pak Mulyana.
"Awalnya aku tidak tau, makanya aku memancing mereka dengan perjanjian baru, mereka menolak, tentu saja, tujuan mereka berarti bukan hanya tumbal, tapi sesuatu yang lebih besar.
Sebenarnya aku merasakan energi tinggi saat masuk, energi itu melemahkanku sekaligus menguatkanku, karena aku keturunan dua alam, makanya efeknya bolak-balik, aku agak ragu ketika merasakannya, makanya aku berusaha mencari jawaban saat itu, satu-satunya yang mungkin menjadi pertukaran besar, hanya mustika Anuman."
"Bagaimana kau yakin itu Mustika Anuman, kan Mustika banyak, Ka." Aditia masih bingung.
"Ingat apa yang Pak Abdul katakan? Dia bilang bahwa Dukun itu tidak berhasil mengusir Jin itu dari tanahnya, padahal dia menggunakan teknik tertinggi dalam pengusiran, teknik yang digunakan orang Persia dalam menaklukan tanah Jawa yang belum ada manusia, tapi penuh dengan jin jahat, teknik ini selalu berhasil. Karema tingkat ilmu yang digunakan sangat tinggi.
Tapi, pada kenyatannya, Dukun itu mati. Dia tidak berhasil, kalau tidak berhasil, berarti ada penangkalnya."
"Dan penangkal ilmu tertinggi, harus sesuatu yang tinggi, Mustika Anuman, tidak diragukan lagi." Aditia melengkapi jawaban.
"Gila! Kalau nggak ada Kak Alka, kita pasti udah jadi bulan-bulanan tuh jin kali ya." Hartino menanggapi sambil makan mie rebus.
"Emang apa sih Kak, yang buat Mustika Anuman segitu hebatnya?" Ganding bertanya.
"Aku nggak tau secara pasti, tapi ini legenda dari mulut ke mulut ya. Jadi katanya, Mustika Anuman ini adalah tempat bersemayam Khodam Raja Kera Putih Ghaib, Raja Kera itu pada masanya membantu banyak Raja-Raja manusia dalam kekuasaannya.
Di kalangan Jin, Raja Kera memiliki posisi yang sangat tinggi, ditakuti bahkan disegani oleh Ratu Kidul.
Oleh karena itu, ketika kematiannya terjadi, banyak yang menjadi saksi, bahwa Khodamnya menempati batu-batu Mustika lalu tersebar ke segala penjuru dunia."
"Wah, berarti Mustika ini ditakuti dan disegani, bahkan hingga sekarang, tapi apa yang menajsi relasi antara Mustika itu demgan Kunti Merah dan Ganda Ruwa?" Ganding bertanya.
"Mereka adalah Jin syirik yang telah kehilangan tuannya, entah bagaimana caranya mereka mendapatkan Mustika itu, pasti diberikan oleh tuannya, pemilik tanah gedung miring itu, tumbalnya bukan tanahnya, tapi mustika yang terkubur di dalamnya. Mustika itu tidak bisa pergi kemanapun, hingga sang keturunan pemilik tanah mengadakan perjanjian baru, kemungkinan perjanjian pertama si ayah memberi tanah, lalu perjanjian kedua, sia anak memberi mustika, maka lengkaplah yang mereka mau, pantas mereka tidak mau melepas tanah itu." Alka lanjut menjelaskan.
"Betapa menakutkannha ya Ka, dunia ghaib itu." Ada nada ngeri dalam ucapan Aditia.
"Apa yang kita ketahui, hanya sedikit yang Tuhan ijinkan untuk kita ketahui,itu daja udah luas banget Dit, makanya dari semua kejadian, kita harus selalu ambil hikmahnya."
"Terakhir Kak Alka," Hartino menghabiskan mienya sebelum akhirnya bertanya lagi, "kenapa Kak Alka, akhirnya yakin bunuh mereka ketika tahu Mustika itulah penyebab tanah itu dikuasai."
"Eh iya tuh, kenapa tuh?" Ganding dan Aditia setuju dengan pertanyaan yang sebenarnya sangat membuat penasaran. Kenapa juga baru kepikiran menghabisi mereka begitu tahu Mustika itu penyebabnya, kenapa nggak dari kemarin?
"Karena aku tahu, aku pasti menang." Alka tertawa terbahak-bahak.
"Hah?" Jarni yang biasanya diam saja ikut kaget.
"Mustika Anuman itu salah satu kekuatannya, mampu menangkal energi jahat, saat Mustika itu di tangan si Kunti Merah dan Ganda Ruwa, Mustika itu menjaga mereka, tapi jika mereka menghadapiku, maka mustika itu akan memberikan efek balik, karena aku memikiki cambuk yang terbuat dari Mustika itu. Cambuk api."
"Oh pantas, Mustika itu berpihak pada kita, ternyata ada pasangannya di cambukmu, sungguh aku semakin takjub denganmu Alka." Aditia memujinya.
Alka memerah karena hanya Aditia laki-laki satu-satunya yang selalu memuji Alka.
Karena memang cuma Aditia yang berani, yang lain mana berani memuji Kakaknya.
Setidaknya gedung itu sudah aman, mereka harus memberitahu Pak Abdul dan pemilik barunya, gedung itu bisa segera operasional seperti biasa lagi.
Seseorang datang dengan berlari, dari kejauhan orang itu berteriak, tolong … tolong ….
Alka dan Aditia seketika menoleh.
“Siapa tuh Ka?” Aditia bertanya.
“Nggak tahu.”
“Apa sih?” Hartino bertanya.
“Lah itu, si Bapak teriak lari-lari minta tolong. Nggak kedengaran?” Aditia tertawa.
“Hah? Enggak, lu denger Nding?” Hartino bertanya pada Ganding.
“Enggak, orang nggak ada apa-apa kok, mana yang teriak? Jar, lu liat?” Jarni hanya menggeleng.
“Teh, liat nggak?” Aditia bertanya pada penjaga warung.
“Sepi ini, apaan sih.” Si teteh malah ketakutan.
“Wah, apalagi ini?” Aditia melihat Alka, jadi, hanya Alka dan Aditia yang melihat lelaki yang meminta tolong itu.
“Ka, kita bantuin?” Aditia bertanya.
“Iyalah, orang cuma kita berdua yang lihat, siap-siap semua. Ini kayaknya bakal berat lagi.” Lalu mereka kawanan yang sedang makan itu menghentikan kegiatan makannya dan mengikuti perintah Alka. Kakak sulung yang mereka paling hormati, jadi dalam keadaan apapun, jika Alka bilang bersiap, mereka akan tinggalkan.
“Wah, baru kelar udah ada aja lagi.” Ganding berkata.
“Napa lu? capek?” Aditia meledek.
“Capek? Gue malah semangat, ya nggak Tin, Jar?” Ganding berjalan duluan mengikuti Alka, mereka memang sekawanan yang rada sinting.
atau Gurah, Kediri, Jatim
ada Jamp*** di Like-Earth, Jawa Barat
Bant**
Banyuw****
Suku Day** (Pulau K)
spesifik desanya sih blm ketemu, tp jd penisirin😌