"Jika kamu tidak mau menikah dengan Louis secara suka rela, anggap saja ini sebagai tanda balas budimu karena aku telah membiayai seluruh pengobatan ibumu."
Perkataan Fradella membuat dunia Irene runtuh. Baru saja dia bahagia melihat ibunya bisa berjalan kembali, tapi kini Irene harus ditimpa cobaan lagi.
Menikah bukanlah sesuatu yang mudah. Menyatukan dua insan yang berbeda, dua kepribadian menjadi satu dan saling melengkapi kekurangan masing-masing itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Bagaimana dengan nasib Irene setelah pernikahannya dengan Louis. Pernikahan antara pelayan dan sang presdir, akankah berjalan layaknya pernikahan pada umumnya?
Lalu akankah Louis membukakan hatinya untuk Irene setelah mereka menikah? Ikuti kisah Irene dan Louis disini ya🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risna afrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Pasar
Di kantornya Louis segera memerintahkan kepada Hari untuk menjemput Nyonya Muda.
“Antarkan Nyonya Muda ke pasar.” Perintah Louis dengan singkat padat dan jelas.
“Siap Bos.” Dengan tangan memberi hormat, Hari menjawabnya dengan tegas.
“Hari tunggu.” Louis menghentikan langkah Hari.
“Jangan pakai jas kamu.” Hari hanya diam dengan wajah bingungnya.
“Kenapa Bos?” tanya Hari sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidaklah gatal.
“Emm itu perintah dari Nyonya Muda,” jawab Louis dengan wajahnya yang nyengir kuda.
“Haha.. Hahaha.” Hari tertawa terbahak – bahak mendengar penuturan Bosnya.
“Hari diam! Tutup mulut kamu, bau abab.” Bentak Louis membuat Hari langsung menutup mulutnya.
“Jaga Nyonya dengan baik,” tambah Louis.
“Siap Bos.”
Hari meluncur ke rumah Louis untuk menjemput Nyonya Mudanya. Seperti perintah dari Louis, Hari melepaskan jasnya dan ia gantung di bagasi mobil. Hanya butuh waktu sepuluh menit, mobil yang Hari kendarai sudah tiba di halaman rumah milik Louis.
“Selamat pagi Nyonya.” Louis menyapa Irene yang baru saja keluar.
“Iya Hari, ayok kita berangkat sekarang.” Irene melewati hari yang masih membungkukkan badannya. Hari yang melihat Irene langsung masuk ke dalam mobil hanya menggaruk – garuk kepalanya.
“Ayo Hari, buruan dong.” Irene mengeluarkan kepalanya melalui jendela mobil untuk memanggil asisten suaminya itu.
“Iya Nyonya, siap. Mari meluncur.”
Hari memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, karena dia tidak mau membahayakan Nyonya dan calon bayinya. Karena pasar tradisional tidak terlalu jauh jaraknya, hanya butuh kurang dari sepuluh menit mereka sudah sampai.
Irene mengedarkan pandangannya untuk mencari Nara, dan tak lama akhirnya Irene menemukan sahabatnya itu. Nara melambaikan tangannya ke arah Irene dan juga Hari, dan Irene membalas lambaian tangan itu ke arah Nara dengan Pak Kim.
“Ehh dia siapa Nyonya? Sok kenal gitu si lambai – lambai ke arah aku.” Irene hanya berjalan tanpa menggubris ucapan Hari.
“Selamat pagi Nona Irene.” Nara dan Pak Kim menyapa Irene.
Hari yang melihat kedua orang ini menundukkan kepala ke arah Irene semakin bingung.
“Selamat pagi Pak Kim, Nara. Yuk Nar, aku udah ngak sabar.” Irene langsung menggandeng tangan Nara dan mengajaknya masuk ke dalam pasar.
Hari hanya mengikuti ke dua wanita itu tanpa protes dan tanpa suara.
“Eh Rin, siapa laki – laki itu?” bisik Nara ke telinga Irene.
“Itu asisten Louis, namanya Hari.” Mulut Nara membentuk huruf O mendengar ucapan Irene.
Dia tampan banget. Batin Nara.
Hari memang memiliki wajah yang tak kalah tampan dengan Louis, sebab itulah dia menjadi sorotan semua mata di dalam pasar.
“Ehh boleh minta nomor handphonenya ngak?” tiba – tiba ada seorang wanita yang kelihatan jauh lebih tua dari Irene menghampiri Hari.
“Maaf Bu, saya belum ingin menikah.” Jawabn Hari membuat Nara dan Irene tak bisa menahan tawa mereka.
“Haha.. Haha.. Haha.” Tawa renyah mereka pecah seketika.
“Hari, dia itu cuma minta nomor ponsel kamu, ngak nagajak kamu nikah. Ya ampun,” ucap Irene yang sisa – sisa tawanya.
“Iyakan kali aja dia mau ngajak aku nikah, aku belum siap.” Irene kembali tertawa karena sikap Hari yang menurut Irene menggelitik perutnya.
“Ya ampun Sayang, kamu jangan niru sikap Om Hari ya.” Irene mengelus lembut perutnya.
“Udah ah ayok Nar lanjut lagi.” Ajak Irene.
Mereka membeli banyak sayuran dan juga buah – buahan. Kini tangan Hari juga sudah penuh dengan belanjaan yang dibeli oleh Irene.
Saat Irene dan Nara hendak membeli makanan di sebuah warung langganan mereka dulu, langkah mereka terhenti. Ada wajah yang familiar di mata Irene dan juga Nara. Untuk sejenak mereka saling melempar tatapan yang penuh tanya.
“Idih malah saling tatap – tatapan, ngak tau tangan aku udah pegel banget apa ya.” Hari hanya bisa bergerutu.
“Nar,” panggil Irene.
“Kamu lihatkan?” tanya Irene lagi.
“Iya Rin, aku lihat dan mataku tidak mungkin salah,” jawab Nara.
“Tapi itu tidak mungkin Sinta, Nar. Dia masih di dalam penjara.” Irene mencoba untuk meyakinkan Nara dan menepis prasangka buruknya.
Untuk sejenak mereka masih mematung, memandangi wanita yang kini sudah pergi dengan mini kuper warna merah. Ada rasa gelisah dalam hati Nara, namun rasa gelisah Irene lebih besar dari yang dirasakan oleh Nara. Irene takut jika saja itu memanglah benar Sinta, karena ini bukan kali pertamanya melihat wanita yang memang terlihat seperti Sinta.
“Sudahlah Rin, mari kita makan saja. Mungkin kita terlalu gelisah sampai mengira wanita itu adalah Sinta.” Nara mencoba menenangkan Irene yang wajahnya terlihat sangat tegang.
suka dg kisahnya yg tdk memperdulikan kasta