NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

BAB 35

Pada akhirnya, alih-alih menyelinap masuk dan keluar tanpa jejak, kami justru berakhir diinterogasi di dalam gudang budak yang temaram ini.

Pintu kayu raksasa di belakang kami telah ditutup rapat. Udara lembap bercampur aroma gandum apak dan debu langsung menyergap paru-paru. Di bawah pendaran cahaya obor tunggal yang menempel pada dinding batu, wanita tua itu berdiri dengan postur yang begitu tegak dan anggun. Jemarinya yang berhias cincin emas perlahan memutar-mutar kunci besi gudang.

Dua pelayan pribadinya berdiri kaku di belakangnya, menatap kami dengan sorot mata yang bisa membekukan air.

Otakku berputar cepat, menyusun kepingan informasi dari pakaian sutra kelabunya, ukiran lambang di cincinnya, dan aura otoritas yang tak mungkin dimiliki oleh sekadar istri bangsawan biasa. Wanita di depan kami ini adalah penguasa bayangan kerajaan. Helena Komnene. Sang Ibu Suri. Fakta bahwa ia berdiri di gudang budak pada jam selarut ini tanpa pengawalan prajurit istana, melainkan hanya ditemani dua pelayan setianya, menandakan ada urusan sangat rahasia yang sedang ia jalankan.

"Jadi..." Suara Helena mengalun pelan, namun tekanannya memaksa siapa pun untuk mendengarkan. "Apa yang kalian lakukan di gudang budak ini?"

Tatapan tajamnya turun, menancap lurus pada pemuda yang sedang bersujud gemetar di atas lantai batu.

"Apalagi kau, Niketas. Bukankah kau dibesarkan sebagai pria yang terpelajar? Jika ayahmu tahu putranya keluyuran bersama seorang budak perempuan di malam buta, kira-kira hukuman apa yang akan ia siapkan untukmu?"

Niketas menelan ludah dengan susah payah. Bahunya bergetar hebat hingga tunik linennya berkerut-kerut.

"Ha-hamba... hamba mohon ampun, Yang Mulia..." cicit Niketas dengan suara yang nyaris tersedak. "Hamba kemari semata-mata ingin mengambil buku pembukuan gudang yang tertinggal. Tadi sore hamba bertugas di sini... dan hamba baru menyadari buku itu tidak terbawa saat hamba sudah dalam perjalanan pulang. Ayah hamba pasti akan langsung menanyakan buku itu begitu hamba menginjakkan kaki di rumah malam ini. Jika hamba pulang dengan tangan kosong... beliau pasti akan murka dan mencambuk hamba..."

Aku berdiri diam satu langkah di belakang Niketas, mengamati setiap inci pergerakan di ruangan ini.

Niketas sama sekali tidak berbohong. Ia hanya tidak sanggup menjelaskan keseluruhan situasinya.

Gudang-gudang logistik di kerajaan ini beroperasi secara normal dari pagi hingga sore hari. Namun, sejak meletusnya perang melawan Bizantium, keamanan istana diperketat luar biasa. Seluruh bangunan penyimpanan, baik gudang militer maupun gudang budak, wajib dikunci dan disegel setiap malam. Aturan ini ditegakkan setelah sempat terjadi upaya sabotase terhadap persediaan makanan kerajaan beberapa bulan lalu.

Secara fisik, pintu gudang ini memang tidak dijaga ketat oleh prajurit yang berjaga diam di depannya. Namun, masalah utamanya ada pada akses menuju ke sini. Para penjaga istana terus berpatroli secara acak dan berlapis di seluruh koridor dan jalan setapak di sekitarnya. Niketas tahu persis jalan menuju gudang, tapi ia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mendekat tanpa ketahuan oleh rute patroli yang tumpang tindih itu.

Karena keputusasaan itulah ia memohon bantuanku untuk memandu jalannya, memanfaatkan hitungan jeda patroli yang telah kuamati selama berminggu-minggu. Tentu saja aku tak melakukannya secara cuma-cuma. Sebagai imbalannya, ia berjanji membantuku mengambil sesuatu yang kubutuhkan.

Helena mengembuskan napas pendek dari hidungnya.

"Haaah... jadi begitu."

Mata wanita tua itu melirik kunci di tangannya, seolah sedang menakar bobot kejujuran pemuda di depannya.

"Kalau begitu, aku bisa memahami alasan bodoh kenapa kau nekat datang kemari," lanjut Helena dengan nada datar. "Namun, ada satu hal yang cukup mengganjal."

Kini, sudut mata Helena melirik tajam ke arahku.

"Sebagai putra seorang juru tulis kerajaan yang bahkan tak pernah memegang pedang, bagaimana caramu melewati barisan patroli di area ini?"

Tubuh Niketas yang masih bersujud tampak semakin menyusut.

"Ha-hamba... sebenarnya hamba sudah mencoba mencari celah sendiri, Yang Mulia. Tetapi para penjaga selalu ada di setiap sudut. Hamba tidak mungkin bisa melewatinya seorang diri." Niketas menelan ludah, suaranya mengecil hingga nyaris terdengar seperti bisikan. "Budak perempuan ini... dialah yang memandu hamba sampai ke sini."

Alis Helena terangkat tipis. Raut wajahnya tak berubah banyak, namun matanya menyiratkan ketertarikan.

"Seorang budak membantumu?"

"Ya... Yang Mulia." Niketas mengangguk cepat. "Hamba sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Tetapi setiap kali kami berhenti, merunduk, atau berbelok mengikuti instruksinya, kami selalu berhasil menghindari para prajurit itu seolah ia bisa memprediksi langkah mereka."

Hanya suara gemeretak obor yang mengisi ruang berdebu itu.

Tatapan Helena perlahan bergeser dari Niketas, naik, dan menancap lurus ke arahku. Ia melangkah maju satu tindak. Tanpa berkedip, ia memindai wajahku. Memperhatikan warna mataku, bentuk rahangku, hingga helaian rambut gelapku.

"Hmmm..." Helena menggumam. Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Mendengar penjelasan Niketas barusan... dan jika dilihat dari struktur wajah, warna kulit, serta helaian rambutmu itu... apa kau seorang Asadia?"

Mataku melebar tanpa bisa kutahan. Jantungku berdetak satu ketukan lebih cepat.

Ya Allah. Kakek Ezra dulu hanya bisa menebakku secara umum sebagai orang dari wilayah 'Suriah' karena ras kulitku. Namun, wanita di depanku ini menganalisis ciri fisikku dan langsung menyebut Asadia alias Bani Asad. Seberapa luas pemahaman geografi dan silsilah suku yang dimiliki Ibu Suri ini?

Aku buru-buru menundukkan kepalaku sedikit, memberikan rasa hormat yang pas. "Be... benar, Yang Mulia."

Helena tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih mirip apresiasi. "Aku sungguh tak menyangka salah satu budak di kerajaanku adalah keturunan bangsawan suku Asad. Pantas saja." Ia lalu beralih menatap pemuda di lantai. "Niketas, apa status gadis ini di antara para budak?"

"Dia... dia yang mengurus dan menjaga budak-budak yang masih kecil, Yang Mulia," jawab Niketas terbata-bata.

Tepat setelah menjawab itu, Niketas tiba-tiba menoleh ke arahku. Dengan wajah panik, urat leher yang menegang, dan bibir yang digerakkan seminimal mungkin agar tidak terlalu kentara, ia berdesis padaku dengan nada marah.

"Hei! Kau bilang kau hanya berasal dari keluarga bangsawan! Kenapa kau tidak pernah bilang padaku kalau kau dari suku Asad, hah?!"

Aku memutar bola mata, membalas bisikannya dengan nada tak kalah sinis dari sudut bibirku. "Kau kan tidak nanya!"

Interaksi bisik-bisik kami yang konyol di tengah situasi mencekam itu rupanya tertangkap jelas oleh Helena.

Dan tanpa diduga...

"BWAHAHAHAHA!"

Tawa Helena meledak seketika. Suaranya renyah, lepas, dan menggelegar memantul di dinding-dinding gudang.

Dua pelayan di belakang Helena tersentak kaget. Mata mereka melotot lebar, saling bertatapan dengan wajah pias. Dari postur mereka yang terlihat luar biasa syok, aku berani bertaruh bahwa mereka sudah tak pernah melihat wanita yang mereka layani sejak kecil ini tertawa lepas selama bertahun-tahun.

"Hahahaha! Ya Tuhan, kalian berdua ini sangat lucu," ucap Helena sambil mengusap sudut matanya yang sedikit berair. Tawanya perlahan mereda menjadi senyuman hangat. "Hubungan antara anak juru tulis yang penakut dan seorang gadis budak bangsawan dari suku Asad. Haaa... ini benar-benar hiburan."

Helena menarik napas panjang, menormalkan kembali ekspresinya, meski matanya masih menyiratkan keramahan. Ia menatapku lekat. "Ngomong-ngomong... bagaimana mungkin seorang Asadia bisa terdampar sampai ke tempat ini?"

Melihat ketegangan telah menguap, aku membalas tatapannya dengan lebih rileks dan mulai menceritakan perjalananku.

Tentu saja aku menyensor bagian kehidupan masa laluku di Kairo. Aku menceritakan bagaimana rumah keluargaku di selatan diserang, pelarianku yang gagal, dan bagaimana aku berakhir dijual ke kapal budak Bizantium. Kuceritakan juga saat aku diselamatkan oleh Goran dan hidup tenang bersamanya di sebuah tebing terpencil.

"Lalu," lanjutku dengan nada yang sedikit memberat, "saat kami sedang mengambil air di sungai, kami diserang oleh sebuah suku kecil dari pedalaman. Suku barbar yang tidak kuketahui namanya menculikku beserta mendiang Tante Ruth."

Aku menghela napas panjang. "Namun, saat suku kecil itu sedang menahan kami, pasukan elit dari kerajaan Bizantium tiba-tiba datang. Mereka memusnahkan suku tersebut dan merampas semua tawanan, termasuk aku dan bayi Tante Ruth yang masih merah, Lalu pasukan kerajaan Anda merebut kami kembali untuk dibawa kemari."

Obrolan kami berjalan cukup panjang. Entah bagaimana, ritme percakapan ini membuat sekat status antara budak rendahan dan seorang Ibu Suri seolah memudar. Helena mendengarkan setiap patah kataku dengan saksama, sesekali mengangguk dengan sorot mata penuh empati saat mendengar tragedi yang menimpaku.

"Begitu rupanya..." gumam Helena pelan. Tatapannya menerawang, menyiratkan kelelahan yang dalam terhadap kerasnya dunia ini.

Keheningan yang damai kembali menyelimuti kami. Suasana terasa sangat aman. Terlalu santai, mungkin.

Tanpa sadar, mulutku bergerak mendahului otakku.

"Lalu..." Aku memiringkan kepalaku, menatap wajah wanita tua itu dengan rasa penasaran yang polos. "Yang Mulia sendiri... kenapa malam-malam begini ada di gudang?"

Napas di ruangan itu seolah ditarik habis.

Dua pelayan di belakang Helena langsung membelalakkan mata mereka hingga nyaris keluar dari rongganya. Wajah mereka sepucat kertas, menatapku seolah aku baru saja mencabut pedang dan menodongkannya ke leher raja. Niketas yang masih berada di dekat kakiku menahan napas sampai wajahnya membiru.

Helena sendiri sedikit terkejut. Alisnya terangkat naik, menatapku dengan ekspresi yang tak bisa ditebak.

Aku terkesiap. Tanganku refleks terangkat, menutup bibirku rapat-rapat.

Ups. Sial. Sial. Sial!

Rutukanku meledak di dalam kepala. Dasar mulut kebiasaan! Padahal aku sudah sepuluh tahun hidup di dunia yang bisa memenggal kepala orang karena salah bicara, tapi kenapa watak ceplas-ceplos abad dua puluh satu ini masih saja refleks keluar?! Aku ini hanyalah budak! Harusnya aku tidak usah kepo dengan urusan rahasia Ibu Suri!

1
Eka
agak bosen sih Thor 2 bab dialog semua, walaupun akhirnya banyak yg terungkap 👍
Maya: sabar ya 🤭
total 1 replies
ThuscarRabbit
nih thor bunga 🤭 /Plusone//Rose/
ThuscarRabbit
gw suka ilustrasinya
Maya: makacih 😄
total 1 replies
ThuscarRabbit
pasti gatel geli geli 🤣
ThuscarRabbit
Bagus sih, isekai tema timur tengah
ThuscarRabbit
berani ya authornya bikin isekai model begini but, semangat aja thor 💪, yg penting enggak melenceng dari sejarah asli 🤭
Maya: semoga ya 🤭
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
loh kok? ohhhh maksud nya bab 1 nya di bawah ya? aduhaku bingung🤣
Maya: ooo iya itu 🤭, males ngarang judul 😄
total 3 replies
Eka
Keren Thor di tunggu updetnya
Eka
oh ini ganti POV ya?
Eka
judulnya apa Thor?
Maya: Thats the way it is 😄
total 1 replies
Eka
wajar sih
Eka
🤣🤣🤣🤣🤣
Eka
yg satu kepo GK prnah liat orang tua yg tua cerdik bet kek kancil 🤣
Eka
kasian 🤣
Eka
detail ya juga gambarinnya ya
Eka
buset beda jauh badannya ya😄 padahal di bab brapa gitu yg ada gambarnya juga masih sama kecilnya sama si mc
Eka
oh jadi emang anak kandung si raksasa ya
Eka
time skip lagi
Eka
sebarbar itu emang ya jaman itu
Eka
suka ni udah mulai ada ilustrasi gambarnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!