NovelToon NovelToon
My Cold Husband, Rafael

My Cold Husband, Rafael

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Noor.H.y

Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Canggung

Kanaya merebahkan tubuhnya di ranjang dengan posisi tengkurap, memeluk bantal guling erat-erat. Wajahnya kembali memanas saat ingatannya melayang pada kejadian di danau tadi.

Refleks, jemarinya menyentuh bibirnya sendiri.

"Ya ampun..." gumamnya lirih, lalu buru-buru membenamkan wajah ke bantal.

Detak jantungnya seolah kembali berpacu seperti beberapa saat yang lalu. Bayangan Rafael yang tiba-tiba mendekat, tatapan mata mereka yang saling bertemu, hingga kecupan singkat yang sama-sama tidak direncanakan itu terus berputar di kepalanya.

Flasback on.

Kanaya terjatuh di atas tubuh Rafael, kedua mata mereka saling menatap dalam diam.

Namun, bukannya menjauhkan tubuh Kanaya. Entah dorongan dari mana, wajah Rafael malah semakin mendekat hingga Kanaya dapat merasakan hembusan napas segarnya. Lalu...

Cup !

Rafael mengecup b!b!r Kanaya dengan sedikit menyesapnya pelan dan lembut.

Kanaya membeku.

Matanya membulat sempurna ketika merasakan sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya. Otaknya seolah berhenti bekerja selama beberapa detik, hanya menyisakan suara degup jantung yang berdentam keras di dalam dada.

Flasback off.

Kanaya menggeleng cepat.

"Bukan sengaja... itu cuma kecelakaan," bisiknya, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri.

Namun semakin berusaha melupakannya, justru wajah Rafael yang sedikit terkejut dan kemudian tampak canggung semakin jelas terbayang.

Ia berguling ke kanan, lalu ke kiri, memeluk bantal lebih erat.

"Kenapa aku jadi kepikiran terus sih..."

Tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis sebelum ia kembali menutup wajahnya dengan bantal karena malu pada dirinya sendiri.

Di sisi lain rumah, Rafael berdiri di balkon kamarnya dengan tangan bertumpu pada pagar. Angin malam berembus pelan, tetapi pikirannya sama sekali tidak tenang.

Sesekali ia mengusap wajahnya, menghela napas panjang.

"Apa yang barusan kulakukan..."

Biasanya ia selalu mampu mengendalikan diri dalam situasi apa pun. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ketenangannya benar-benar terusik.

* *

Pagi hari, Kanaya sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Ia membuka pintu pelan, sebelum keluar kamar ia menengok ke kanan dan kiri takut tiba-tiba saja Rafael datang. Entah kenapa, kejadiaan tadi malam masih saja mengusiknya. Pagi ini ia masih enggan untuk bertemu Rafael.

Kanaya mengembuskan napas lega saat memastikan lorong di lantai dua masih sepi.

Perlahan ia melangkah keluar kamar sambil merapatkan tas di bahunya. Sesekali kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, seolah sedang melakukan misi rahasia.

"Aman..." gumamnya lirih.

Ia mempercepat langkah menuju tangga.

Dalam hati ia berharap bisa keluar rumah tanpa bertemu siapa pun, terutama Rafael.

Sayangnya, harapan itu hanya bertahan beberapa detik.

Saat Kanaya menginjak anak tangga terakhir, aroma kopi yang samar tercium dari ruang makan. Ia spontan melirik ke arah sana.

Rafael sedang duduk dengan pandangan yang tertuju di ponsel miliknya, ia mengenakan setelan jas lengkap. Di tangannya ada secangkir kopi yang baru saja dibuatkan oleh Mbok Sum.

Kanaya langsung membeku.

"Kenapa dia masih dirumah sih. Biasanya juga udah berangkat ke kantor..." gumamnya pelan.

Tanpa berpikir panjang, ia berbalik pelan dan berniat mengambil jalan memutar melalui pintu samping.

Namun baru satu langkah, suara Mbok Sum membuatnya dengan terpaksa bergenti.

"Non Kanaya.. ini sarapan dulu, sudah siap."

Kanaya memejamkan mata sesaat sebelum berbalik perlahan.

"I-iya, Mbok. Tapi, aku buru-buru ada kelas pagi. Aku sarapan di kampus aja deh," kata Kanaya, mencari alasan.

Rafael menoleh. Tatapannya tampak tenang seperti biasanya, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.

"Sudah mau berangkat sekarang ?"

Kanaya mengangguk cepat.

"Iya."

"Hari ini saya juga mau berangkat. Sekalian saja saya antar."

Mata Kanaya langsung membulat.

"Tidak usah! Maksudku... aku bisa naik taksi atau minta Keisya buat jemput saja."

Jawabannya yang terlalu cepat membuat suasana sejenak hening.

Rafael mengamati wajah Kanaya yang terus menghindari tatapannya. Ujung telinga gadis itu bahkan sudah memerah.

Sudut bibir Rafael nyaris terangkat, tetapi ia menahannya.

"Kamu menghindari saya ?"

Kanaya langsung menggeleng kuat.

"Tidak! Mana mungkin!"

"Lalu kenapa sejak turun tangga gelagat kamu seperti orang menghindar gitu ?"

Pertanyaan itu membuat Kanaya kehilangan kata-kata.

Jari-jarinya meremas tali tas, sementara pipinya semakin merah.

"Apa karena se..."

"Stop ! Ayo kita berangkat sekarang," kata Kanaya, memotong ucapan Rafael. Lalu berjalan keluar menuju mobil lebih dulu.

Rafael menarik sudut bibirnya tipis, lalu berjalan mengikuti Kanaya.

* *

Kanaya turun dari mobil begitu kendaraan itu berhenti tepat di depan gerbang kampusnya. Ia merapikan tali tas yang menggantung di bahu, lalu menutup pintu perlahan.

Rafael hanya mengangguk singkat dari balik kemudi sebelum kembali melajukan mobilnya.

Kanaya berdiri di tempat, memandangi mobil hitam itu yang perlahan menjauh, melewati deretan pepohonan di sisi jalan. Tatapannya tak beralih sedikit pun hingga kendaraan tersebut benar-benar menghilang di tikungan.

"Huft..."

Ia mengembuskan napas panjang, seolah baru saja melepaskan beban yang sejak tadi memenuhi dadanya.

"Bisa-bisanya dia bersikap tenang gitu. Sedangkan aku mati-matian untuk tetap fokus dari berusaha untuk tidak gugup di depannya. Sikapnya juga seperti tidak terjadi apa-apa semalam. Padahal sudah jelas, dia mengambil first kiss milikku." lirih Kanaya, meraup mukanya kasar.

Entah mengapa, sejak kejadian semalam, berada di dekat Rafael membuatnya merasa canggung sekaligus gugup. Wajah lelaki itu, tatapan matanya, hingga kecupan tak terduga itu terus berputar di kepalanya.

Kanaya menggeleng pelan sambil menepuk kedua pipinya.

"Fokus kuliah, Kanaya," gumamnya lagi. "Anggap aja tadi malam itu sebuah mimpi indah."

Setelah menarik napas sekali lagi, ia memaksakan senyum tipis dan mulai melangkah memasuki area kampus, berusaha mengalihkan pikirannya pada kelas pagi yang sebentar lagi dimulai.

* *

"Kanaya!"

Keisya melambaikan tangan dengan semangat begitu melihat sahabat sekaligus kakak iparnya itu baru saja tiba di area kampus. Senyum cerah langsung menghiasi wajahnya.

Tanpa ragu, ia mempercepat langkah, hampir berlari kecil menghampiri Kanaya.

Kanaya menoleh, begitu melihat Keisya. Wajahnya yang sejak tadi tampak sedikit murung perlahan berubah cerah.

"Kei?" sapanya lembut.

Belum sempat berkata apa-apa lagi, Keisya sudah berdiri di hadapannya lalu merangkul lengannya dengan akrab.

"Kamu kenapa? Kok kelihatan melamun dari tadi?" tanyanya penasaran sambil memiringkan kepala.

Kanaya terkesiap sejenak. Ia segera menggeleng pelan dan memaksakan seulas senyum.

"Nggak kok. Cuma kurang tidur aja."

Keisya menyipitkan mata, jelas tidak sepenuhnya percaya.

"Ngomong-ngomong gimana kabar Kak Rafael ? Dia baik-baik aja kan Nay ?" tanya Keisya.

Keisya sebenarnya sangat khawatir dengan keadaan kakak sepupunya itu setelah kejadian semalam yang diluar dugaan.

Ia memang bukan untuk pertama kalinya melihat keributan yang dibuat oleh Darius yang selalu saja menunjukan rasa tak sukanya pada Rafael.

Itu juga salah satu alasan Rafael kenapa enggan untuk tinggal di kediaman utama, salah satunya karena Rafael mencoba menghindari perdebatan di kala Darius ada di rumah itu.

Keisya menatap Kanaya penasaran dengan rasa khawatir disana, saat menunggu jawaban darinya.

Kanaya mengangguk pelan, "Aman." lirihnya.

"Kamu yakin ? Dia nggak melakukan hal-hal aneh kan ?"

Kanaya menggeleng, "Nggak. Tadi juga dia sudah berangkat ke kantor seperti biasa." balasnya, "Udah, nggak usah dipikirin. Kak Rafael baik-baik aja kok. Ayo kita masuk ke kelas."

Keisya mengangguk pelan, lalu menggandeng lengan Kanaya dan melangkah masuk ke dalam ruang kelas.

Keisya yakin dengan ucapan Kanaya. Dia pun bersyukur kalau Rafael baik-baik saja. Padahal biasanya setelah bersitegang dengan Darius, Rafael mengurung dirinya di kamar dan mengabaikan semua hal meski itu juga urusan pekerjaan di kantor.

Namun, saat ia mendengar pagi ini Rafael pergi berangkat ke kantor. Keisya pun lega, akhirnya satu kabar baik kembali hadir saat Rafael bertemu dengan Kanaya.

* *

Mobil hitam yang dikendarai Pak Santo berhenti dengan mulus di lobi kantor. Pak Santo segera mematikan mesin, lalu turun dan berjalan memutar menuju pintu belakang.

Dengan sigap ia membukakan pintu untuk Rafael.

Rafael keluar dengan langkah tenang, jas abu-abu gelap yang dikenakannya tampak rapi tanpa sedikit pun lipatan. Wajahnya kembali memasang ekspresi datar dan profesional, seolah tidak ada satu pun hal yang mampu mengusik pikirannya.

Beberapa karyawan yang kebetulan berada di lobi langsung menghentikan aktivitas mereka sejenak.

"Selamat pagi, Pak Rafael," sapa mereka serempak.

Rafael hanya membalas dengan anggukan singkat disertai senyum tipis yang nyaris tak terlihat sebelum melangkah masuk ke dalam gedung. Derap sepatunya menggema di lantai marmer, sementara aura tegas yang selalu menyertainya membuat suasana sekitar seketika menjadi lebih hening.

Andra kebetulan juga sampai di kantor bertepatan dengan kedatangan Rafael. Ia berjalan mengikuti beberapa langkah di belakangnya menuju lift khusus direksi yang telah terbuka menunggu kedatangan sang pimpinan.

Di halaman depan kantor, tepatnya dari balik sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari lobi, sepasang mata mengawasi setiap gerak-gerik Rafael.

Tatapannya mengikuti sosok pria itu sejak turun dari mobil hingga melangkah masuk ke dalam gedung tanpa sedikit pun teralihkan.

Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis.

Namun, senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan. Yang terpancar justru kebencian yang begitu pekat, seolah telah lama mengakar di dalam dirinya.

Jari-jarinya mengetuk pelan setir mobil, sementara sorot matanya semakin tajam saat pintu lobi tertutup dan sosok Rafael menghilang dari pandangan.

"Sepertinya ada sedikit perubahan saat ini..." gumamnya lirih.

Ia menyandarkan tubuh ke jok, mengembuskan napas perlahan, tetapi sorot matanya tetap dingin.

"Tenang saja, Rafael. Aku tidak akan membiarkan dirimu untuk bahagia.."

Kalimat itu meluncur pelan, nyaris seperti bisikan. Sesaat kemudian, supir pribadinya menyalakan mesin mobil, sedangkan ia masih menatap ke arah gedung megah di hadapannya dengan tatapan yang menyimpan rencana yang belum diketahui siapa pun.

* * * *

1
Noey Aprilia
Ya suami kutub lh,apa lg.....🤣🤣🤣....
Noey Aprilia
Mskpn klkas,tp ttp prhtian....
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
Noey Aprilia
Rafael nih tipe2 kulkas,tp aslinya prhtian....dia ga tau msti brskap ky gmna,mkanya kya acuh gt....tp ykin bgt kl bntr lg dia bkln bucin parah....
Noey Aprilia
Kanaya....tau ga kl sbnrnya km yg nyosor dluan?????🤭🤭🤭....
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Noey Aprilia
Enth spa yg bkln bucin dluan....ga sbr aja nunggu mreka mesra,trs bkin sng mntan nangis guling2...
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣
Noey Aprilia: Sama2....smngttt...😘😘😘
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!