NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Anak Genius
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: DafToon

Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎

Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.

Dulu dipuji, kini dihina.

Dulu didekati, kini dijauhi.

Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Pertama di Tanah Asing

...langit utara yang luas mulai membentangkan takdir baru yang belum pernah tertulis dalam catatan mana pun di Kota Beira.

Perjalanan meninggalkan batas kenyamanan ternyata memiliki rasanya sendiri. Bagi Xiao Ba, setiap langkah menjauhi aroma garam Laut Selatan adalah transisi yang sunyi. Setelah berjalan selama tiga jam tanpa henti, vegetasi di sekitar jalan setapak mulai berubah. Pohon-pohon pesisir yang berbatang ramping dan condong karena angin laut berganti menjadi barisan pohon ek kuno berbatang lebar dengan daun-daun hijau pekat yang menyerap cahaya matahari pagi.

Keheningan hutan di utara ini berbeda dengan keheningan di kamarnya. Ini adalah keheningan yang hidup—penuh dengan cicit burung yang asing, gesekan daun, dan deru samar aliran sungai di kejauhan.

Di dalam lautan kesadarannya, ribuan bintang warisan Kaisar Langit yang biasanya tenang kini mulai berdenyut perlahan. Denyutan itu tidak menyakitkan, melainkan terasa seperti sebuah kompas spiritual yang merespons energi alam (Qi) yang lebih padat dan liar di luar wilayah Beira.

“Dunia ini sangat luas, Xiao Ba,” sebuah suara samar seolah menggema dari lubuk ingatannya, entah itu suara ayahnya yang samar atau sisa-sisa memori dari sang Kaisar Langit sendiri. “Dan wilayah luar tidak pernah seramah rumahmu.”

Xiao Ba menghentikan langkahnya di sebuah persimpangan jalan tanah yang ditandai oleh sebuah batu penunjuk arah yang sudah lumayan terkikis oleh cuaca. Tulisan di batu itu samar, namun masih bisa dibaca: Menuju Wilayah Sembilan Provinsi — Kota Perbatasan Wuhe (100 Li).

Ia menyentuh hulu pedangnya, memastikan posisinya tetap nyaman di pinggang, lalu mengambil jalur kiri menuju Wuhe. Kota itu adalah gerbang terdekat untuk keluar dari pengaruh Kerajaan Ying, sebuah tempat netral di mana para kultivator mandiri, pedagang karavan, dan pelarian berkumpul. Jika ia ingin mencari informasi tentang keberadaan orang tuanya atau petunjuk tentang faksi-faksi besar yang terhubung dengan warisannya, Wuhe adalah tempat terbaik untuk memulai.

Sementara itu, jauh di belakangnya, matahari telah meninggi di atas Kota Beira.

Di kediaman Keluarga Xiao, suasana pagi yang biasanya tenang mendadak pecah oleh suara langkah kaki yang terburu-buru. Penatua Ketiga Xiao Shu berjalan cepat melintasi koridor paviliun utama menuju kamar Xiao Ba, membawa sebuah laporan logistik yang perlu ditandatangani. Namun, ketika ia mendorong pintu kayu kamar tersebut, yang ia temukan hanyalah kekosongan yang rapi.

Di atas meja kayu yang bersih, selembar kertas yang dilipat rapi dengan segel lilin berenergi Qi biru muda berkilau pelan di bawah sinar matahari yang menerobos jendela.

Xiao Shu tertegun. Ia tidak menyentuh surat itu. Sebagai seorang penatua yang telah hidup lama, ia segera memahami arti dari keheningan kamar ini. Dengan wajah yang mendadak terlihat lebih tua beberapa tahun, ia mengambil surat itu dan langsung berjalan menuju paviliun belakang—tempat di mana Sang Kakek, Pemimpin Tertinggi Keluarga Xiao, sedang bermeditasi.

Ketika sang kakek menerima surat itu dan memecahkan segel Qi cucunya, ruangan itu mendadak menjadi sangat sunyi. Xiao Shu berdiri di dekat pintu, memperhatikan ekspresi wajah pria tua itu.

Tidak ada ledakan kemarahan. Tidak ada raungan kesedihan.

Sang kakek hanya membaca kata demi kata dengan jemari yang sedikit bergetar. Ketika matanya mencapai kalimat terakhir—Aku akan menemukan Ayah dan Ibu. Dan ketika waktunya tiba, aku akan kembali—pria tua itu melipat kembali surat tersebut, menekannya ke dadanya, dan memejamkan mata rapat-rapat.

"Dia benar-benar pergi?" tanya Xiao Shu dengan suara lirih.

"Ya," jawab sang kakek, suaranya terdengar berat namun penuh dengan kebanggaan yang tak terbendung. "Elang tidak bisa selamanya dikurung di sangkar pesisir yang kecil, Xiao Shu. Beira terlalu sempit untuk naga yang baru terbangun."

Sang kakek berdiri, berjalan ke arah jendela, menatap ke arah utara di mana awan-awan putih berarak di atas pegunungan. "Biarkan dia pergi. Tugas kita sekarang adalah memastikan rumah yang ditinggalkannya tetap berdiri kokoh saat dia kembali nanti. Perketat penjagaan, dan jalankan semua rencana yang telah dia susun bersama kalian kemarin."

Kembali ke jalur utara, senja mulai turun dengan warna merah bata yang pekat.

Xiao Ba telah menempuh jarak yang cukup jauh. Di depannya, di balik hutan yang mulai menipis, terlihat kepulan asap dari beberapa tungku memasak dan siluet dinding batu rendah yang menandakan keberadaan sebuah pos peristirahatan atau desa kecil sebelum mencapai Wuhe.

Di tempat inilah, untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Beira, Xiao Ba merasakan gesekan energi spiritual yang asing. Bukan dari satu atau dua orang, melainkan fluktuasi Qi dari belasan orang yang tampaknya memiliki niat yang kurang bersahabat di sekitar area pos tersebut.

Xiao Ba tidak memperlambat langkahnya. Wajahnya tetap tenang, sedingin es, namun matanya yang hitam pekat berkilat tajam di bawah keremangan senja.

Perjalanan barunya telah dimulai, dan dunia luar tampaknya tidak membuang waktu untuk menyambut sang pewaris Kaisar Langit.

Matahari tenggelam sepenuhnya, menyisakan garis merah darah di cakrawala utara. Kegelapan jatuh dengan cepat, membawa hawa dingin yang tidak biasa bagi seseorang yang terbiasa dengan angin laut yang hangat.

Xiao Ba menghentikan langkahnya beberapa puluh meter dari gerbang pos peristirahatan itu. Tempat itu sebenarnya adalah sebuah penginapan tua bertingkat dua yang dikelilingi pagar kayu tinggi berpaku besi, sekilas lebih mirip benteng kecil daripada tempat singgah para pelancong. Papan namanya bergoyang ditiup angin, berderit ngilu: Penginapan Angin Utara.

Dari luar, tempat itu tampak hidup. Cahaya kuning dari lampion minyak merembes melalui celah-celah dinding kayu. Suara gelak tawa yang kasar, denting cangkir kempa, dan aroma daging panggang yang pekat menyeruak ke udara malam. Namun, di bawah lapisan keramaian permukaan itu, lautan kesadaran Xiao Ba menangkap sesuatu yang lain.

Ribuan bintang di kepalanya berdenyut dalam ritme yang konstan, menyebarkan gelombang persepsi spiritual yang halus ke sekelilingnya.

Ada tujuh belas orang di dalam. Sembilan di antaranya memiliki aliran Qi yang tidak teratur dan kasar—tipikal tentara bayaran atau bandit lokal yang mengandalkan kekuatan fisik. Namun, ada tiga aura di sudut lantai dua yang sangat berbeda. Aliran energi mereka dingin, tersembunyi dengan rapi, dan bergerak melingkar seperti ular yang siap mematuk.

“Kultivator Ranah Pengumpulan Qi Tahap Akhir,” batin Xiao Ba, menganalisis dengan ketenangan yang presisi. “Dan mereka tidak sedang bersenang-senang. Mereka sedang mengawasi.”

Xiao Ba menyentuh tas penyimpanannya di pinggang, memastikan posisinya mantap. Di dunia luar, menyembunyikan kekuatan adalah bentuk pertahanan terbaik. Ia menarik napas dalam-dalam, dengan sengaja menekan fluktuasi energinya sendiri hingga ke titik terendah, membuat dirinya terlihat seperti seorang pemuda pengembara biasa yang baru belajar dasar-dasar bela diri.

Dengan langkah yang diatur agar terdengar sedikit lelah, ia mendorong pintu gerbang kayu yang berat dan melangkah masuk ke halaman penginapan.

Saat kaki Xiao Ba melewati ambang pintu aula utama, keheningan instan sempat tercipta selama satu detik penuh. Belasan pasang mata beralih menatapnya—menilai baju jubah hitamnya yang berdebu, pedang tua di pinggangnya, dan wajahnya yang terlalu muda.

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
☕️☕️
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
☕️
Dafa Faiha Roshiq: kasih tip dikit dikit dong
total 1 replies
Jojo Shua
😍
syarif ibrahim
akankah waktu berpihak kepada xiao Ba..... 🤔🤔🤔💪
Dafa Faiha Roshiq: pasti berpihak kan gw authornya
total 1 replies
Jojo Shua
😄😄✅️
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
☕️
Jojo Shua
😍
Dafa Faiha Roshiq: kasih penilaian nya dong
total 1 replies
sibaweh abduh
nice thor
Dafa Faiha Roshiq: Terima kasih bossku
total 1 replies
Jerry K-el
bagus ceritanya mengalir,tdk bertele-tele.
pertahankan👌
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Dafa Faiha Roshiq: done yahhh
total 1 replies
Dafa Faiha Roshiq
teman aku butuh penilaian mu
Dafa Faiha Roshiq
Gimana masih ada yang kurang tidak bro
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!