NovelToon NovelToon
Suara Hati Aluna

Suara Hati Aluna

Status: tamat
Genre:Pembaca Pikiran / Si Mujur / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:246.9k
Nilai: 5
Nama Author: samudra lee

Di kehidupan sebelumnya, Aluna dibenci dan dikucilkan oleh keluarga kandungnya sendiri karena hasutan Chika–anak yang diadopsi oleh Keluarga Anggara hingga tewas mengenaskan. Tidak hanya itu, Chika yang memang sudah mengincar harta kekayaan Keluarga Anggara pun akhirnya menghabisi semua anggota keluarga Anggara tanpa sisa. Hal tersebut membuat Aluna menyesal akan sikapnya yang selalu diam dan menerima saat ditindas.

Saat takdir memberi Aluna kesempatan untuk hidup kembali, Aluna berjanji untuk mengubahnya.

"Aku pasti bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku! Pasti!" ucap Aluna penuh keyakinan.


Tapi, lho kok? Kenapa sikap semua orang tidak sama seperti di kehidupan sebelumnya? Sebenarnya apa yang terjadi?



Yuk, ikuti kisah SUARA HATI ALUNA. Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5 nya ya. Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

"Aku memang tidak setuju, mama dan papa bercerai karena itu akan membuat Bunga menang. Tapi, sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah pengkhianatan, rasanya wajar kalau mama kukuh ingin berpisah. Bagaimana kalau selama sepuluh tahun ini Si Bunga juga berhubungan badan dengan orang lain–selain papa. Apalagi, tipe wanita seperti dia pasti rela memberikan apa pun agar bisa tetap hidup mewah. Entah sudah berapa pria yang sudah Si Bunga Jalanan ini ajak tidur. Bagaimana kalau diantara pria-pria itu memiliki penyakit menular? Kasihan mama kalau sampai tertular penyakit yang berbahaya."

Lagi-lagi Aluna berbicara dalam hati.

"Tidak! Mama tetap harus berpisah dengan papa, tapi, bagaimana caranya agar aset yang papa miliki tidak berpindah ke tangan Bunga dan anaknya?"

"Luna! Lagi-lagi kamu bicara sembarangan tentang Bunga!" sentak Abimana. "Bunga, bukan wanita yang seperti kamu tuduhkan! Dia wanita rendah hati yang tidak materialistis," belanya.

"Aku? Apa yang aku katakan?"

Aluna menunjuk hidungnya sendiri.

"Apa jangan-jangan papa bisa mendengar suara hatiku?"

Di saat Aluna sedang memikirkan kemungkinan itu, Aruan buru-buru mengatakan sesuatu. Dia tidak mau Sang Putri mengetahui bahwa seluruh keluarganya bisa mendengar suara hatinya.

"Mas, aku rasa semua orang yang melihat kelakuan Bunga pasti akan berpikir kalau dia adalah wanita materialistis yang bisa menghalalkan berbagai cara agar bisa hidup enak. Karena aku pun berpikir begitu," ucap Aruan.

"Ruan, kamu sudah keterlaluan," geram Abimana.

Aruan hanya mendengkus. Dia sebenarnya sudah malas untuk berdebat.

Aluna bernapas lega.

"Syukurlah, ternyata pikiranku yang berlebihan. Aku kira semua orang bisa mendengar suara hatiku," batin Aluna.

Aruan, Andi, dan Armand ikut merasa lega karena Aluna tak lagi curiga. Namun, ketiganya kembali tegang saat mendengar suara hati Aluna yang berikutnya.

"Aku harus coba mengatakan sesuatu, jika mereka tidak marah artinya mereka benar tidak mendengar suara hatiku," batin Aluna. "Papa pria idiot, Kak Andi jelek, Kak Armand plin-plan. Kalian pria-pria dari keluarga Anggara sungguh sangat menyebalkan!" maki Aluna dalam hati.

Wajah Abimana sudah terlihat merah padam menahan amarah. Pun dengan Andi dan Armand, kedua kakak lelaki Aluna itu menahan kesal tak mengira kalau Sang Adik akan mengatainya.

Aruan meminta Andi dan Armand untuk berpura-pura tak mendengar apa pun dan bersikap biasa. Sementara terhadap Abimana, Aruan hanya berharap pria itu tak mengatakan hal apa pun yang bisa membuat Aluna curiga. Dan untungnya, Abimana tak membalas makian Aluna dan lebih memilih memalingkan wajahnya.

"Aku tidak mau berdebat lagi, Ruan. Sekarang katakan apa keputusanmu!" ucap Abimana.

Aruan menatap Abimana sebentar kemudian beralih menatap Bunga. Wanita yang menjadi selingkuhan suaminya menunjukkan wajah lemah seolah tak berdaya. Padahal, Aruan yakin, wanita itu pasti sudah tidak sabar untuk menikmati harta Abimana tanpa takut ketahuan.

"Mas Abi bilang kamu terpaksa kembali ke sini karena anak kalian sakit. Benar?" tanya Aruan pada Bunga.

"Iya, Ruan," jawab Bunga di sertai senyum palsunya.

Ia kemudian menghela napas berat.

"Kalau saja anakku tidak sakit, aku pasti akan tetap diam di luar negeri dan tidak akan mengganggu kehidupan kalian," lanjut Bunga.

"Aku mengerti sebagai seorang ibu pasti kamu ingin melakukan yang terbaik untuk anakmu."

Ucapan Aruan tentu membuat Bunga sedikit kebingungan.

"Iya, Ruan. Aku senang kamu mengerti," balas Bunga.

"Tentu saja aku mengerti. Aku yakin kamu juga bukan wanita yang materialistis seperti yang dipikirkan oleh anak-anakku. Benar, kan, Bunga?"

"Tentu saja, Ruan. Aku bukan wanita seperti itu," jawab Bunga. "Tapi, Ruan. Setelah sepuluh tahun aku dan anakku hidup bersama dengan Mas Abi, rasanya kami berat jika harua kembali berpisah dengan Mas Abi. Jadi, bisakah kamu tetap membiarkan aku dan anakku hidup bersama dengan Mas Abi?" tanyanya dengan wajah memelas.

Aruan meraih tangan Bunga dan tersenyum lembut pada wanita itu. Aluna, Andi, dan Armand saling tatap dengan wajah penuh tanda tanya. Pun dengan Abimana dan Bunga.

"Apa sekarang kesehatan anakmu sudah lebih baik?"

Pertanyaan Aruan semakin membuat semua yang ada di sana kebingungan.

"Berkat kebaikan Mas Abi, anakku sudah sembuh total. Sekarang dia sudah bekerja di perusahaan besar dan tidak akan merepotkan Mas Abi lagi," jawab Bunga. "Dia bahkan sudah bisa membiayai hidup kami dengan gajinya."

Dia ingin membuat Abimana bangga dengan putranya.

"Wah, putra kalian sungguh hebat," puji Aruan.

"Kamu bisa saja, Ruan."

Bunga tersenyum penuh kebanggaan merasa bahwa putranya lebih unggul dari anak-anak Aruan.

"Kalau begitu kalian pasti tidak keberatan kan jika harus membiayai hidup Mas Abi?"

Pertanyaan Aruan bagai buah simalakama bagi Bunga karena apa pun jawaban yang akan ia berikan semua pasti akan merugikan dirinya.

"Ah, te... tentu saja. Bagaimana pun sepuluh tahun ini pasti sudah banyak uang Mas Abi yang digunakan untuk pengobatan anakku," jawab Bunga dengan terpaksa.

"Bunga, dia anakku juga," timpal Abimana.

"Mas Abi, kamu juga pasti tidak mau kan berpisah dengan Bunga dan anak kalian?" tanya Aruan.

"Tentu saja. Aku bisa menyerahkan segalanya asal kamu membiarkan mereka bedua tetap tinggal bersamaku," jawab Abimana.

"Baiklah. Aku setuju, Mas."

Semua orang yang ada disana tertegun mendengar perkataan Aruan termasuk Abimana dan Bunga.

"Setuju? Maksudmu, kamu setuju Bunga tinggal bersamaku?" tanya Abimana memastikan.

"Iya, Mas. Kalian bisa tinggal bersama selamanya dan aku janji tidak akan menghalanginya," jawab Aruan.

Abimana dan Bunga saling melempar senyuman.

"Tapi, Ma–"

"Andi, kita jangan menyulitkan orang yang saling menyayangi. Bagaimanapun mereka adalah orang yang disayangi papamu," potong Aruan sebelum Andi menyelesaikan kalimatnya.

Andi tak lagi protes meski wajahnya berubah masam. Armand dan Aluna juga memilih diam sambil menunggu keputusan yang akan diambil Sang Ibu.

Aruan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

"Mas Abi, karena kamu sangat ingin bersama Bunga dan anak kalian, maka sebagai wanita yang baik, aku tidak akan menghalangi. Tapi, kamu harus mau menandatangani surat ini."

Aruan menyerahkan sesuatu di tangannya pada Abimana.

Abimana membaca tulisan yang tertera di atas berkas-berkas itu.

"Surat Perjanjian Cerai?" gumam Abimana.

Diam-diam Bunga tersenyum karena akhirnya Aruan dan Abimana akan bercerai. Artinya kekayaan Abimana akan menjadi miliknya.

"Surat itu dulu dibuat oleh almarhum papaku. Ku kira, aku tidak akan pernah menggunakannya. Tapi, ternyata.... "

Aruan menghela napas panjang.

"Tapi, sudahlah. Kamu tanda tangani saja!" lanjut Aruan.

Abimana mulai membaca detail yang tertulis dalam surat perjanjian perceraian itu. Matanya membola ketika membaca poin yang mengharuskannya memberikan semua aset yang dimiliki untuk anak-anaknya bersama Aruan.

"Apa-apaan ini?" pekik Abimana yang kembali emosi.

"Bukankah tadi Bunga bilang sanggup membiayai hidupmu. Dia juga pasti tidak keberatan dengan isi perjanjian itu. Benar, kan, Bunga?"

Bunga kebingungan.

"Mas Abi bilang kamu wanita baik dan tidak materialistis, pasti kamu tidak akan keberatan membiayai hidup Mas Abi mulai dari sekarang. Apalagi, uang Mas Abi sudah banyak keluar untuk membiayai pengobatan putra kalian. Iya, kan, Bunga?"

Aruan tersenyum penuh arti saat menanyakan hal itu pada Bunga.

1
Kikin
bgs
Erna Masliana
cctv cek atuh
Erna Masliana
atuh kalian diem tangkap s Chika interogasi.. bego banget sih
Erna Masliana
kenapa nyuruh istri nya pulang sama s Nenek iblis
Erna Masliana
emang gak ada tombol??
Erna Masliana
enak bener selingkuh 10th gampang dimaafin
Erna Masliana
mantap
Erna Masliana
kenapa🤔 kamu nanyeak?? kamu juga pria iblis udah punya istri baik selingkuh
Erna Masliana
Lun yang bener dong.. gimana sih.. ini jadi susah mau ngambil tindakan apa
Erna Masliana
wajib tagih lah rugi banget
Erna Masliana
bukan gercep lagi kilat express
Erna Masliana
pelan pelan.. berdamai itu tidak bisa instan butuh proses dan waktu
Erna Masliana
heh reinkarnasi juga kah🤔
Erna Masliana
jelek 🤣🤣🤣🤣
Erna Masliana
🤣🤣🤣🤣mata kayak ikan koki lubang hidung kayak kerbau 🤣🤣
Erna Masliana
20th😱 masih di panti
Sulati Cus
👍🏻
Siti Solikah
wah Luna disekap semoga bisa ketemu
Siti Solikah
bagus
Siti Solikah
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!