Anyelir, gadis pekerja keras yang tak mengandalkan orangtuanya dalam menata masa depan pilihannya sendiri. Tiba-tiba harus mengabulkan satu-satunya permintaan papanya yaitu menikah dengan anak teman papanya.
Diandra, seorang pengusaha yang ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya. Apakah kehadiran Anyelir mampu melupakan kekasihnya itu?
Atau mereka akan memilih jalan berbeda?
#slow update
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jojo Natasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Kegagalan Pertama
Udara sore terasa basah setelah hujan seharian. Rachel baru menyelesaikan pemotretannya yang tertunda dua Minggu selama dia sakit. Dia berjalan meninggalkan tempat itu diikuti oleh asistennya yang setia.
" Sudah ada kabar dari Boby, Wi?" Tanya Rachel kepada Dewi, asistennya.
Boby adalah orang yang diperintahkan Rachel untuk mengikuti Anyelir dengan izin sedikit mengganggu dan mengintimidasi agar Anyelir menyerah.
" Boby baru saja telfon Ra. Dia ngajak ketemu di tempat biasa. Ada yang pengen dia omongin secara langsung ke kamu." Ucap Dewi sambil memeriksa barang bawaannya.
" Dia sudah berhasil apa belum membuat perempuan itu menjauh dari Diandra?"
" Itu juga yang ingin dia sampaikan ke kamu secara langsung."
" Baiklah. Ayo kita temui dia."
Rachel meluncur ke sebuah cafe yang menjadi tempat pertemuannya dengan Boby. Boby memilih tempat privat di bagian belakang agar tidak ada yang mengetahui pertemuan mereka. Boby berdiri dari tempat duduknya dan mematikan rokok ditangannya ketika melihat Rachel datang.
" Kabar apa yang ingin kamu sampaikan Bob? Saya harap bukan kabar buruk."
" Maaf Nona. Saya gak bisa lanjutin lagi perintah Anda. Saya mundur. Tentang uang yang sudah Anda berikan, akan saya kembalikan saat ini juga."
" Apa maksud kamu? Cuma sampai segini aja kemampuan kamu. Ternyata saya salah pilih orang. Tugas yang begitu mudah saja gak bisa kamu selesaikan." Emosi Rachel mulai tersulut melihat orang suruhannya tidak mampu menyelesaikan tugas kecil darinya.
" Saya lebih sayang teman-teman dan kelangsungan hidup kami daripada uang Anda."
" Baiklah. Kalau begitu. Masih banyak orang yang mau melakukan pekerjaan itu. Uang yang sudah saya beri anggap saja hadiah dari bantuan kecil tak berguna yang sudah kalian lakukan. "
" Tidak perlu Nona." Tolak Boby sambil mengeluarkan amplop berwarna coklat dari kantong celananya.
" Satu pesan saya Nona. Sebaiknya Anda urungkan niat Anda saat ini, karena Anda tidak punya kekuatan apapun untuk menghadapi orang-orang di sekitar perempuan itu. Anggap saja ini nasihat kecil dari saya agar Anda tidak hancur." Kata Boby kemudian sambil beranjak pergi.
Rachel merasa kesal. Sebab biasanya Boby selalu mampu menyelesaikan setiap tugas darinya, sekarang malah menyerah sebelum tugas itu terlaksana. Siapa sebenarnya perempuan yang sudah dinikahi Diandra. Kenapa sulit sekali untuk ditaklukkan. Rachel kemudian pergi dari tempat itu dengan wajah penuh amarah. Dewi mengikutinya dengan langkah sedikit tergesa.
Hingga beberapa hari kemudian, Rachel masih uring-uringan mencari cara menjauhkan Anyelir dari Diandra. Namun belum ada satupun orang yang bersedia melakukan itu untuknya. Apakah memang dia harus turun tangan sendiri?
" Baiklah. Jika memang tidak ada yang mau melakukannya untukku. Aku yang akan langsung membuat perempuan itu pergi dari hidup Diandra. Pergi dari dunia ini jika perlu. Tapi bagaimana caranya?" Ucap Rachel sambil mondar-mandir di kamarnya.
***
Pagi ini seperti biasa, Anyelir tiba di Andromeda tepat pukul 8. Suasana hotel yang sekaligus kantornya itu sudah mulai terlihat ramai. Ada beberapa agenda meeting pagi ini yang harus dia hadiri, salah satunya adalah dengan Martin, seorang pengusaha dari Amerika, yang juga teman Zaidan, kakak Anyelir. Menurut Zaidan, Martin ingin ikut andil dalam pengembangan sebuah resort di Bali milik Anyelir. Atas permintaan kakaknya, maka Anyelir sendiri yang menemuinya. Pertemuan itu di lakukan di ruang pertemuan hotel Andromeda. Setelah melalui diskusi panjang yang saling menguntungkan. Akhirnya mereka sepakat untuk menjalin kerjasama. Tak berapa lama, Martin pamit untuk segera terbang ke Dubai untuk menyelesaikan sedikit masalah di salah satu cabang perusahaan miliknya.
Jam telah menunjukkan pukul 16.00. Anyelir memutuskan pergi ke PF sebelum pulang ke rumah. Dia hanya ingin melihat keadaan di sana sekaligus menyapa Monica, istri Roni yang mulai kembali bekerja setelah cuti panjangnya. Anaknya diasuh oleh ibunya yang dibantu seorang babysitter.
Suasana PF di jam segini sangat ramai, tetapi semua pegawai masih tetap mampu melayani pelanggan dengan baik dan seperti seharusnya. Anyelir merasa puas dengan keadaan tersebut. Tak berapa lama, Anyelir sudah sampai di ruangan Monica. Siska, sekretaris Monica sedikit terkejut dengan kedatangan Anyelir.
" Ibu apa kabar? Sudah lama ibu tidak berkunjung." Sapa Siska sambil membungkuk yang dibalas Anyelir dengan anggukan kepala.
" Alhamdulillah baik Sis. Monica ada?"
" Ada Bu. Biar saya kabarkan kehadiran Ibu ke Bu Monic." Tawar Siska sambil mengangkat gagang telepon di mejanya.
" Gak usah Siska. Aku ingin sedikit mengejutkannya."
" Baiklah Bu." Siska meletakkan kembali gagang telepon ditangannya kemudian mempersilahkan Anyelir masuk ke ruangan bosnya.
Anyelir mengetuk pintu ruangan itu dengan pelan. Sambil menebak reaksi Monica.
" Masuk aja Sis." Sahut suara di dalam. Ternyata Monica mengira sang sekretaris yang mengetuk pintu.
Pintu ruangan terbuka. Monica menyapa tanpa melihat siapa yang datang, karena Monica masih asik dengan berkas-berkas ditangannya.
" Ada apa Sis? Kalau pekerjaanmu sudah selesai, pulang aja dulu. Aku juga akan pulang sebentar lagi, nanggung, masih sedikit lagi yang harus aku selesaikan."
" Sudah sore Bu. Ibu pulang aja. Anak ibu pasti sudah kangen." Suara di depan Monica membuat dia mendongakkan kepalanya. Memastikan sang empunya suara. Saat melihat sang pemilik suara, Monica langsung berdiri dan berjalan tergesa ke arah tamunya.
" Fira..." girang Monica sambil memeluk Anyelir yang disambut Anyelir dengan pelukan yang sama hangatnya. Ada rindu diantara mereka. Sebab sudah tiga bulan Monica absen dari kantor dan Anyelir pun belum berkesempatan mengunjungi rumah Monica sejak pulang dari rumah sakit.
" Apa kabar ibu muda? Jangan pulang terlalu malam. Sekarang sudah bertambah tanggung jawabmu di rumah."
" Sebentar lagi juga pulang Fir. Ini tinggal dikit lagi."
" Kamu tetap yang terbaik."
" Aku gak mau kamu kecewa karena dah milih aku Fir. Setidaknya aku harus bisa membuat kamu tenang menitipkan milikmu padaku." Ucap Monica yang dibalas Anyelir dengan tawa renyah.
Persahabatan mereka memang sudah terjalin lama dan semua orang yang Anyelir percaya memang patut mendapat kepercayaan itu. Anyelir tidak hanya sekedar memilih orang karena mampuannya tetapi juga pribadi yang dimilikinya. Monica dan Anyelir bercerita sambil melepas rindu hingga beberapa saat kemudian. Tepat pukul 17.00, Anyelir meminta Monica pulang terlebih dahulu. Sedang dia masih ingin berkeliling sebentar lagi sambil penyelami sikap para pegawai di sana setelah bos mereka pergi. Yang membuat Anyelir bangga adalah totalitas pegawai dalam menjalankan tanggung jawabnya masing-masing walau tanpa pengawasan. Lain kali Anyelir akan mengingatkan Monica untuk memberi bonus pada mereka.
tbc
Yey lagi rajin😂😂😂
Bisa update lagi🙈🙈🙈
Mimpi apa ya semalam🤭🤭🤭
Jangan lupa like n komennya👍👍👍
Typo abaikan 🤭✌️✌️
lanjut ya author aku menunggu mu😘
kirain dah pada pindahan semua 🤭