"Kamu adalah laki-laki yang bisa membuatku percaya, bahwa tidak semua laki-laki itu brengsek" ~Rania
"Kamu adalah wanita yang membuatku mengerti apa itu cinta" ~Aldrich
Aldrich yang tidak percaya pada cinta semenjak pengkhianatan yang dilakukan oleh suami kakaknya dan membuat kakak satu-satunya meninggal karena bunuh diri.
Akhirnya dipertemukan dengan Rania yang tidak percaya kepada laki-laki, setelah melihat sahabatnya sendiri meninggal karena bunuh diri akibat ditinggal kekasih yang telah menghamilinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anugrah Utarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitting
"Rania, ayo bersiap. Kita akan ke butik teman Bunda" ucap Bunda Livana dari balik pintu kamar putrinya.
"Iya Bunda, tunggu sebentar. Rania siap-siap" jawabnya dari dalam kamar. Rania langsung turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi.
15 menit kemudian ia sudah siap dengan setelan santai dengan memakai rok sebetis dan baju kaus over size. Dilengkapi sepatu flatt dan rambutnya ia kucir kuda.
Setelah selesai siap-siap ia segera keluar dari kamarnya bermaksud menemui Ibunya. Namun yang ia temui adalah Aldrich yang sedang duduk sambil membuka iPad-nya.
"Bundaku mana Al?" tanya Rania berdiri di dekat sofa tempat Aldrich duduk.
"Udah berangkat, karena kamu kelamaan dandannya" celetuk Aldrich sambil berdiri dan meraih tangan Rania. "Ayo berangkat sayang" Rania mengikuti Aldrich keluar dari rumah dan menguncinya.
"Memangnya kamu tau kita mau kemana?" tanya Rania sambil berjalan di samping Aldrich.
"Tau, tadi Bunda kamu udah kasih alamatnya" Aldrich membukakan pintu mobil untuk Rania dan segera berputar ke kursi kemudi setelah menutup pintu mobil disisi penumpang.
"Asal jangan nyasar aja" ujar Rania setelah Aldrich duduk disebelahnya.
"Tenang aja, kali ini nggak akan nyasar. Asalkan bukan kamu yang baca map-nya" ucapnya tegas dan mulai menghidupkan mesin mobil.
"Itu tau, karena wanita itu kalau soal stalker pasti jago. Tapi kalau udah disuruh baca peta, udah deh kacau banget" Rania mengakui kelemahannya dalam membaca peta.
"Wowww, bahaya nih" celetuk Aldrich dan langsung membuat kening Rania berkerut. Namun Aldrich tidak memperhatikan raut wajah Rania karena ia sudah melajukan mobilnya.
"Apa yang bahaya?" Rania menunggu jawaban Aldrich, namun yang ditanya hanya diam dan fokus menyetir. "Astaga aku lupa, laki-laki mana bisa diganggu kalau sedang menyetir" Rania menepuk keningnya sendiri dan memutuskan untuk tidak mengganggu Aldrich.
Akhirnya Rania memainkan poselnya untuk mengusir kebosanannya karena tidak melakukan pembicaraan apa-apa selama perjalanan.
"Rania" panggil Aldrich lembut, setelah menepikan mobilnya.
"Hmmm, ada apa?" Rania mengangkat kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke arah Aldrich.
"Itu bukan butiknya?" Rania menajamkan penglihatannya untuk melihat sebuah bangunan yang ditunjukkan Aldrich.
"Iya benar, itu butiknya" Aldrich kembali melajukan mobilnya menuju butik tempat mereka akan melakukan fitting baju pengantin.
Setelah sampai di tempat tujuan, mereka berdua langsung masuk ke dalam butik dan disambut dengan ramah oleh karyawan butik tersebut.
"Selamat datang Tuan dan Nona" sapa karyawan tersebut ramah. Keduanya hanya tersenyum dan melangkah masuk ke dalam.
"Ya ampunn,, kenapa kalian lama sekali sih?" terdengar teriakan heboh sang Bunda dari dalam. Rania melihat Bundanya keluar bersama Mommy Agneta dan satu wanita paru baya.
"Macet Bund" jawab Rania jujur.
"Ohh ya udah, sana kamu ikuti Auntie Audrey ke dalam" perintah sang Bunda dan Rania langsung mengikuti wanita paruh baya yang bernama Audrey tersebut.
Rania sudah berdiri di depan banyak sekali gaun-gaun cantik yang membuat matanya tak berkedip. Tangannya perlahan terulur memgang salah sstu gaun yang membuat matanya tertarik.
"Silahkan kamu pilih, gaun mana yang akan kamu coba" lamunan Rania langsung bubar setelah mendengar suara Audrey.
"Ohh iya Auntie" jawab Rania dan menunjuk 3 buah gaun termasuk yang ia pegang tadi.
"Jenn" teriak Audrey memanggil seseorang. Tak lama seorang wanita muda langsung datang sambil berlari.
"Iya Nyonya" jawab wanita yang dipanggil Jenn tersebut.
"Bantu Nona Rania untuk mencoba gaun pengantinnya di ruang ganti" ucapnya memberi perintah.
"Baik Nyonya. Nona mari ikut saya" Jenn berjalan ke arah sebuah ruangan dan diikuti oleh Rania.
Sampai di dalam fitting room, Rania mencoba gaun yang pertama dan memperlihatkan kepada calon suami dan dua Ibu-ibu rempong yang sudah menunggu di depan fitting room. Setelah tirai di buka oleh Jenni, semua mata tertuju kepada Rania yang terlihat anggun dalam balutan gaun yang menampilkan bahu putih mulusnya. Karena model gaunnya berbentuk kemben sebatas dada. Membuat belahan dada Rania terlihat jelas.
"Kamu cantik sekali sayang" puji Mommy Agneta saat melihat Rania.
Berbeda dengan Aldrich, matanya langsung membola saat melihat penampilan Rania yang menurutnya terlalu seksi. "Raniaaaa" panggilnya dengan tatapan tajam, "Gantiii, terlalu terbuka" perintahnya dan membuat Rania cemberut.
"Iyaa bawel" gerutu Rania dan kembali masuk ke dalam dan tirai kembali di tutup oleh Jenni.
Gaun kedua sudah di coba oleh Rania dan tetap mendapat protes dari Aldrich, sampai gaun ketiga baru dia setuju. Karena jauh lebih tertutup dari gaun yang pertama dan kedua. Setelah selesai pemilihan gaun, Rania langsung berganti pakaian dan membawa gaun yang ia pilih ke kasir.
"Udah di bayar?" tanya Rania saat melihat Aldrich berdiri di depan kasir.
"Udah, ayo pulang" Aldrich menarik tangan Rania keluar dari butik.
Langkah Rania terhenti dan mengedarkan pandangannya mencari kedua sosok wanita rempong yang sedari tadi heboh saat dirinya sedang fitting gaun. "Bunda dan Mommy-mu mana?"
"Katanya mereka mau beli sesuatu dulu sebelum pulang, makanya pergi duluan saat kamu masih ganti pakaian tadi" jelas Aldrich dan kembali membawa calon istrinya masuk ke dalam mobil.
Rania langsung menoleh ke arah Aldrich yang baru saja masuk ke dalam mobil. "Ohh iya, kamu bayar gaunnya pakai apa? Kan dompet kamu hilang?" tanya Rania sambil menatap Aldrich serius.
"Pakai kartu cadanganku" jawabnya datar.
"Really? Tidak minta bantuan Mommy kamu kan?" tebak Rania dan membuat Aldrich terbatuk.
Bagimana dia bisa tau, kalau aku pakai kartu Mommy?
Aldrich langsung gelagapan "Te.. ntu saja tidak, kamu pikir aku laki-laki macam apa? Yang minta bayarin sama Mommy saat aku sendiri mampu."
"Iyaa, aku tauu kamu mampu. Tapi kan dompet kamu hilang beserta isinya. Aku tidak yakin kalau kamu akan punya kartu cadangan. Jadi tidak masalah kalau kamu minta bantuan Mommy-mu. Karena situasinya juga tidak kamu inginkan bukan?" ucap Rania sambil meraih tangan Aldrich dan menggenggamnya lembut.
"Tebakan kamu benar, aku memang menggunakan kartu Mommy. Tapiiii, kamu jangan salah, aku memang punya kartu cadangan. Karena aku selalu prepare dalam segala hal. Aku hanya lupa membawanya, karena kemarin berangkat terburu-buru" jawab Aldrich bangga dan langsung mendapat tatapan tajam dari Rania.
"Ohh yaa, termasuk soal wanitaaa" Rania meremas kuat tangan Aldrich dan membuat Aldrich langsung sadar dengan maksud ucapan Rania. Suaranya terdengar lembut, tapi berhasil membuat dada Aldrich kembang-kempis karena gugup.
"Bu... kan sayang, kalau wanita aku hanya punya satu yaitu kamu" jawabnya dengan sedikit gugup.
Rania menghempaskan dengan kasar tangan Aldrich "Ayo jalan, kita ke kantor polisi" perintah Rania dan membuang muka ke luar jendela.
"Mau apa kesana?" tanya Aldrich bingung.
"Tidak usah banyak tanya!! Cepat jalan!" ucapnya tanpa menoleh ke arah Aldrich.
Aldrich terdiam dan langsung melajukan mobilnya menuju kantor polisi terdekat. Sampai di kantor polisi Rania langsung turun tanpa menunggu Aldrich membukakan pintu untuknya. Ia masih kesal dengan ucapan Aldrich tadi, meskipun sebenarnya maksudnya bukan begitu. Tapi entah kenapa dia tetap kesal.
Rania langsung duduk di hadapan Pak polisi yang sedang bertugas di sana.
"Permisi Pak, saya mau melaporkan kehilangan"
"Silahkan disebutkan kronologi dan barang apa yang hilang?" tanya petugas tersebut
Rania menceritakan barang apa yang hilang, sedangkan Aldrich yang sudah duduk disampingnya menceritakan kronologinya dan menambahkan apa saja yang ada di dalam dompet.
Setelah mendapat penjelasan dari keduanya, polisi langsung membuatkan laporan kehilangan untuk tanda pengenal dan kartu-kartu penting lainnya. Karena akan berguna saat mengurus surat-surat untuk pernikahan mereka.
"Baiklah Pak, terimakasih atas bantuannya" Rania segera berdiri dan mengulurkan tangannya, namun di tarik oleh Aldrich dan mengulurkan tangannya sendiri untuk menjabat tangan Pak Polisi.
Rania langsung memutar bola matanya melihat keposesifan Aldrich yang mulai muncul dan langsung melenggang keluar tanpa beban. Pak Polisi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan pasangan tersebut.
"Raniaa tunggu" Aldrich mengejar Rania yang sudah berada di dekat mobil. "Kamu marah?" tanya Aldrich seraya memutar tubuh Rania agar menghadap kepadanya. Aldrich tau kalau Rania sedang marah kepadanya, karena dari tadi Rania selalu mengabaikannya.
"Aku nggak marah" Rania melepaskan tangan Aldrich yang memegang lengannya dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Sayangg lihat aku" Aldrich menangkup kedua pipi Rania agar melihat kepadanya. "Kalau kamu nggak marah tatap mataku" pinta Aldrich dan Rania tidak melakukannya.
"Iya, aku marah, aku cemburu, puass" matanya mulai berkaca-kaca membayangkan, jika Aldrich punya wanita lain.
"Apa karena ucapanku yang tadi?" tanya Aldrich memastikan. Rania mengangguk dan menatap Aldrich dengan mata sudah basah oleh air mata.
"Jangan menangis, aku tidak punya wanita lain selain dirimu. Maksudku prepare dalam segala hal itu adalah tentang sesuatu yang penting seperti kartu, berkas penting, dan yang lainnya. Tapi bukan dengan wanita, karena aku hanya akan mencintai satu wanita seumur hidupku. Dan wanita itu kamu Rania. Asalkan kamu tau, sebelum aku bertemu kamu. Aku sangat tidak percaya dengan cinta dan ketulusan setelah penghianatan yang dilakukan mantan kekasihku dan suami kakakku. Tapi sekarang aku tau, kalau cinta sejati dan ketulusan itu ada" Rania tidak bisa lagi berkata-kata, dia langsung memeluk erat tubuh Aldrich dan membenamkan kepalanya di dada bidang laki-laki yang akan menjadi suaminya.
.
.
.
.
bersambung
gimana Kenzie dan Liana?
gimana anak2 Riana dan Aldrich?
walaupun akan menghadapi kemarahan suami tapi setidaknya sudah menggigit dan menjambak Leo...