NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Genggaman Mafia

Cinta Dalam Genggaman Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Pengasuh / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: adelita

Liburan seharusnya menjadi pelarian bagi Cassandra Evans setelah dipecat secara tidak adil dari pekerjaannya. Ia hanya ingin menjauh dari masalah, melupakan tuntutan keluarganya yang terus mendesaknya untuk segera menikah, dan menikmati sedikit kebebasan di Roma, Italia. Namun, siapa sangka? Satu kesalahan kecil justru menyeretnya ke dalam dunia yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan—dunia mafia. Rafael “Rafe” Montenegro bukan sekadar pria kaya dan berpengaruh. Di balik ketampanannya yang dingin, ia menyimpan rahasia gelap. Duda dengan seorang putra kecil ini menjalankan bisnisnya dengan tangan besi, menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Tidak ada tempat untuk kelemahan dalam hidupnya—terutama setelah dikhianati oleh istri dan sahabatnya sendiri. Ketika Cassandra tanpa sengaja masuk ke dalam kehidupannya, Rafe tidak punya pilihan selain menahannya di sisinya. Awalnya, hanya untuk mengasuh putranya. Namun, semakin lama, Cassandra bukan sekadar pengasuh biasa. Ia menantang, membangkang, dan menghadirkan sesuatu yang sudah lama hilang dalam hidup Rafe—kehangatan. Tapi dunia Rafe bukan dunia yang aman. Dan Cassandra? Ia terlalu polos untuk terjebak dalam kekacauan ini. Namun, semakin ia mencoba melepaskan diri, semakin dalam ia jatuh ke dalam genggaman sang mafia. Di antara bahaya, rahasia, dan batas-batas yang tak boleh dilanggar, Cassandra harus memilih: tetap berjuang untuk keluar, atau menyerahkan hati pada pria yang bisa menghancurkannya kapan saja. Karena ketika mafia menginginkan sesuatu, mereka tidak akan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Lorong markas yang gelap dan penuh reruntuhan terasa begitu panjang bagi Rafael. Ia berjalan dengan langkah lebar, mendukung tubuh Cassandra yang semakin lemah dalam pelukannya. Napas gadis itu terdengar pendek dan berat, sementara kepalanya bersandar di dada Rafael, seperti tidak memiliki tenaga lagi untuk menegakkan diri.

"Bertahanlah," Rafael berbisik, meskipun suaranya terdengar lebih seperti perintah daripada harapan.

Cassandra hanya menggumam lemah, jemarinya sedikit meremas kemeja Rafael, lalu terkulai lagi.

Dari belakang, Ed berjalan cepat, memperhatikan kondisi gadis itu dengan cemas. "Dia kehilangan banyak tenaga. Kita harus cepat, Tuan!"

"Aku tahu!" Rafael menjawab kasar, tetapi nada suaranya lebih dipenuhi kepanikan dibandingkan kemarahan.

Di luar, api masih menyala di beberapa bagian markas. Bau mesiu bercampur dengan debu dan darah mengisi udara. Tubuh anak buah Emerick yang tumbang berserakan di mana-mana, beberapa masih mengerang kesakitan, tetapi Rafael tidak memedulikannya.

Yang ia pedulikan hanya satu—Cassandra.

Namun, baru saja ia melangkah lebih jauh menuju pintu keluar markas, tubuh Cassandra tiba-tiba menegang.

"Rafael..." suara gadis itu hampir tidak terdengar.

Ia menunduk, melihat wajah Cassandra yang pucat pasi. Detik berikutnya, kepala Cassandra terkulai ke lengan Rafael Tubuhnya benar-benar melemas dalam pelukan Rafael.

"Cassandra?" Rafael memanggilnya, mengguncang sedikit tubuh gadis itu.

Tidak ada jawaban.

Pingsan.

"CASSANDRA?!!"

Panik.

Jantung Rafael seperti dihantam keras. Tangan-tangannya mencengkeram erat tubuh Cassandra, mengguncangnya dengan kasar.

"CASSANDRA, JAWAB AKU!"

Tetap tidak ada reaksi.

Dan saat itu juga, Rafael kehilangan kendali.

"SIALAN! KITA HARUS KE RUMAH SAKIT SEKARANG!" teriaknya seperti orang gila.

Ed langsung bereaksi, menekan tombol di walkie-talkie. "Franco! Siapkan mobil! Nona Cassandra dalam kondisi darurat!"

Dari ujung lorong, tampak Franco berlari ke arah mereka, wajahnya tegang. "Sial, dia pingsan?!"

"KENAPA KAU KEMARI? JANGAN TANYA! CEPAT AMBIL MOBIL!" Rafael nyaris meraung.

Franco langsung berbalik dan melesat menuju kendaraan yang diparkir tidak jauh dari markas.

Sementara itu, Rafael menggendong Cassandra lebih erat, lalu berjalan cepat melewati reruntuhan. Anak buahnya yang tersisa mengikuti dari belakang, semua dalam kondisi siaga.

Di luar, beberapa pria bersenjata yang masih selamat menatap tuan mereka dengan kebingungan.

"APA YANG KAU TUNGGU?! BUKA PINTU MOBIL! CEPAT!" Rafael berteriak, membuat semua orang bergerak panik.

Seseorang membuka pintu belakang SUV hitam dengan tergesa-gesa.

Rafael langsung naik, memangku Cassandra dengan hati-hati. "ED, MASUK! FRANCO, JALANKAN MOBILNYA!"

Franco langsung menekan pedal gas dalam-dalam, mobil melesat meninggalkan markas yang kini mulai hancur.

Di dalam kendaraan yang melaju kencang, Rafael tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Cassandra yang masih tak sadarkan diri di pangkuannya.

Ia menggenggam erat jemari gadis itu, mendekatkannya ke bibirnya.

Di dalam mobil yang melaju kencang menerjang jalanan berbatu, Rafael memangku Cassandra yang semakin tak sadarkan diri. Tangannya menggenggam erat tubuh mungil gadis itu, seolah takut kehilangan. Nafasnya memburu, dadanya naik turun tidak karuan. Wajah Cassandra begitu pucat, napasnya tersengal-sengal, dan matanya tetap terpejam tanpa ada tanda-tanda akan sadar.

"Jangan berani mati di tangan orang lain, Cassandra..." suaranya rendah, dalam, tetapi bergetar. "Kau hanya bisa mati di tanganku saja. Mengerti?"

Tidak ada jawaban. Tidak ada reaksi.

Rafael merasakan dadanya seperti diremuk dari dalam. Tangannya bergerak, menepuk pipi Cassandra dengan lembut, lalu menempelkan dahinya ke dahi gadis itu. Dingin. Terlalu dingin.

Panik mulai menguasainya. Matanya merah, rahangnya mengeras, dan emosinya meledak.

"Cepat, cepat kemudikan mobil ini lebih kencang!" bentaknya pada Franco yang mengemudi. "Jika sesuatu terjadi padanya, aku akan membunuh kalian semua!"

Ed yang duduk di depan menoleh, menatap sahabatnya dengan ekspresi tak percaya. Franco juga tampak terkejut, tetapi ia tidak berani menanggapi.

Di kursi belakang, Rafael tetap menggenggam tangan Cassandra, menyalurkan sedikit kehangatan dari tubuhnya yang panas. Setiap detik terasa seperti siksaan.

Di depan, Ed dan Franco kembali bertukar pandang.

Mereka belum pernah melihat Rafael Montenegro seterpuruk ini.

Dan saat itu juga, Ed menyadari satu hal.

Rafael Montenegro, pria yang mereka kenal sebagai makhluk tak berhati, kini duduk di sana dengan ekspresi seseorang yang benar-benar ketakutan kehilangan sesuatu yang berharga.

"Sial..." Ed bergumam pelan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat Rafael bukan sebagai monster. Tapi sebagai seorang pria yang rapuh, yang baru saja menemukan ketakutan terbesarnya—dan ketakutan itu adalah kehilangan Cassandra.

Mobil semakin melesat kencang, menerobos jalanan berbatu yang semakin tak bersahabat. Franco hampir saja kehilangan kendali saat melintasi tikungan tajam, tetapi ia tetap fokus. Kecepatan yang mereka tempuh sudah tidak masuk akal, tetapi bagi Rafael, itu masih belum cukup cepat.

"Cepat, Franco! Kalau kau memperlambatnya satu detik saja, aku sendiri yang akan membunuhmu!" teriak Rafael, suaranya meledak-ledak.

Di pangkuannya, Cassandra masih tidak sadar. Gadis itu tetap diam, wajahnya pucat dan tubuhnya semakin dingin. Rafael menempelkan tangannya ke leher Cassandra untuk mengecek denyut nadinya, tetapi detaknya begitu lemah.

Rafael merasakan jantungnya mencelos. Ia bukan pria religius, tapi demi Tuhan, ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya ia berdoa tanpa sadar.

"Cass... bertahanlah." suaranya serak, hampir seperti bisikan.

"Tuan, kita hampir sampai!" seru Ed dari kursi depan.

Begitu rumah sakit mulai terlihat di ujung jalan, Rafael merasa napasnya sesak. Ia tidak pernah mengira sebuah rumah sakit bisa membuatnya merasa sedikit lega, tapi kali ini berbeda.

Tanpa menunggu mobil benar-benar berhenti, Rafael membuka pintu dan melompat keluar sambil tetap menggendong Cassandra.

"Dokter!!" suaranya menggema di seluruh area rumah sakit saat ia menerobos masuk.

Para perawat yang sedang berjaga sontak menoleh, terkejut melihat seorang pria tinggi dengan wajah ganas membawa seorang gadis yang tak sadarkan diri. Rafael tidak peduli dengan tatapan mereka. Ia mengamuk.

"Di mana dokter?! Cepat tangani dia! Kalau sesuatu terjadi padanya, aku akan membakar tempat ini!!"

Suara Rafael begitu keras hingga menggema di seluruh ruangan. Beberapa orang yang ada di ruang tunggu menoleh dengan ekspresi terkejut dan ketakutan.

Salah satu dokter yang mendengar kegaduhan itu segera berlari ke arahnya bersama beberapa perawat. "Tolong letakkan pasien di ranjang ini, Tuan!" katanya sambil menunjuk ranjang dorong.

Tapi Rafael tidak bergerak. Ia tetap memeluk Cassandra erat, seolah jika ia melepaskannya, gadis itu akan pergi untuk selamanya.

"Kami butuh memeriksanya segera, Tuan!" dokter itu bersikeras.

Franco dan Ed yang baru masuk langsung maju, mencoba menenangkan Rafael.

"Tuan, biarkan mereka menanganinya. Nona Cassandra akan baik-baik saja," bujuk Ed pelan.

Rafael tetap diam selama beberapa detik sebelum akhirnya, dengan sangat enggan, ia meletakkan Cassandra di atas ranjang dorong itu.

Begitu gadis itu dibawa masuk ke ruang gawat darurat, Rafael hanya bisa berdiri di tempatnya, dadanya naik turun dengan napas tersengal. Tangannya mengepal erat, kukunya hampir menembus kulitnya sendiri.

Ia merasa kosong. Tak berdaya.

Untuk pertama kalinya, Rafael Montenegro tidak bisa melakukan apa pun. Dan itu membuatnya gila.

...➰➰➰➰...

Lorong rumah sakit itu terasa seperti neraka bagi Rafael Montenegro.

Ia berjalan mondar-mandir seperti singa yang dikurung, wajahnya penuh amarah dan frustasi. Tangannya berkali-kali menarik rambutnya sendiri, lalu mengepalkan tinjunya. Setiap kali pintu ruang gawat darurat tetap tertutup, napasnya semakin berat, dadanya semakin sesak.

Sudah hampir satu setengah jam. Satu setengah jam penuh siksaan.

"Sialan! Apa yang mereka lakukan di dalam?!" Rafael menggeram, menghantam dinding dengan kepalan tangannya.

Ed dan Franco yang berdiri di dekatnya hanya bisa bertukar pandang, sama-sama tahu bahwa mereka menghadapi pria yang benar-benar di ambang kehancuran.

"Tenang, Tuan..." Franco mencoba meredam kemarahan Rafael, tetapi sia-sia.

"TENANG?!" Rafael menyambar kerah kemeja Franco, wajahnya penuh kemarahan. "Aku seharusnya menunggu dengan TENANG sementara Cass ada di dalam sana, berjuang antara hidup dan mati?! Apa kalian sudah gila?!"

Franco menelan ludah, tetapi tetap tenang. Ia tidak bisa menunjukkan ketakutan di depan Rafael. "Ini prosedur dokter, Tuan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu."

"Persetan dengan prosedur dokter! Aku bisa membeli rumah sakit sialan ini kalau aku mau!" Rafael mengumpat lagi, matanya merah, urat-urat di lehernya menegang.

Ia berbalik, menatap pintu yang tetap tertutup rapat, lalu tanpa berpikir panjang, ia melangkah maju dengan niat menerobos masuk.

Tetapi Ed dan Franco sigap, mereka segera menghalanginya.

"Jangan, Tuan!" Ed berseru, menahan bahu Rafael. "Kalau Anda masuk sekarang, itu bisa membahayakan pasien! Percayalah pada dokter, mereka tahu apa yang harus dilakukan!"

"Sialan! Lepaskan aku, Ed! Aku harus melihatnya!" Rafael memberontak, tetapi Franco ikut menahan tubuhnya.

"Tuan, ini rumah sakit, bukan markas mafia!" Franco berkata tegas. "Anda tidak bisa memaksa masuk seenaknya. Kalau dokter bilang harus menunggu, berarti kita harus menunggu!"

Rafael menggeram frustrasi, matanya liar, napasnya tersengal.

"Aku tidak peduli! Aku tidak peduli dengan aturan! Aku hanya ingin melihatnya!"

Suasana di lorong semakin tegang. Beberapa perawat yang lewat menundukkan kepala, tak berani ikut campur.

"Kumohon, Tuan..." kali ini Ed berbicara dengan nada lebih lembut. "Anda adalah Rafael Montenegro. Anda bukan pria bodoh yang bertindak tanpa berpikir. Kita hanya bisa menunggu, dan kita harus percaya bahwa Cassandra akan baik-baik saja."

Untuk pertama kalinya, Rafael terdiam.

Tangannya masih mengepal, rahangnya masih mengeras, tetapi ia tahu... Ed dan Franco benar.

Menerobos masuk tidak akan mengubah keadaan. Tidak akan menyelamatkan Cassandra lebih cepat.

Dan itu... membuatnya semakin frustrasi.

Dengan gerakan kasar, Rafael melepaskan diri dari pegangan Ed dan Franco, lalu menendang kursi di dekatnya hingga terjungkal ke lantai. "Sialan semua ini...!" ia mengumpat sekali lagi, sebelum akhirnya membenamkan wajahnya di kedua tangannya.

1
Elizabeth Zoe
sekolah minggu? tadi di bab 1 ada kalimat "jangan lupa solat di negara orang". kocak🤣
Fara Rasta
ceritanya bagus banget
Irabiya
kelamaan baru ad lanjutan x,,lelah nunggu x/Facepalm/
merry jen
jhtt bgtt rafe ngejerat Casandra bgtuu ,,ngmgyy Casandra bhongg pdhll diabyg culik paksa sekpp casandraa tgll drmhh dia ,,skrg jlkinn Casandra ddpn orgtua y lgg ,,
merry jen
kshh Casandra jdii twnnn ,,pdhll sstss bukn pekerjaan Isti atauu pun budakk ,,aneh mafia satu inn
merry jen
apa nntii Casandra gk truma ya atas kjdian yg menimpa yy🤔🤔
merry jen
si amorr itu sapa yaa pnsrann ygg sm ed
merry jen
kshnn sandraa jdii tahannn pdhll dia ajj di culikk dr fareal
Tara
kuberikan secangkir coffee hangat kak. Semangat!!!
Mari kita berdoa berjamaah semoga dapat suami yg kaya, gagah, setia dan mencintai kita selamanya. Amin🤔🤗🥰👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!