Buku Merah Maroon seolah menebar kutukan kebencian bagi siapapun yang membacanya. Kali ini buku itu menginspirasi kasus kejahatan yang terjadi di sebuah kegiatan perkemahan yang dilakukan oleh komunitas pecinta alam.
Kisah lanjutan dari Rumah Tepi Sungai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebingungan yang tumpang tindih
Yuzi menindih Aldo di kursi mobil. Gadis itu terus mendesak, meraih tangan Aldo dan mengarahkan pada lekuk tubuhnya. Bola matanya bergetar dengan napas yang tersengal tak beraturan.
Aldo seolah terhipnotis oleh aroma shampoo yang wangi. Kulit halus yang disentuhnya mengalirkan sensasi berdebar di dada. Meski begitu, sudut hati Aldo terus menerus meneriakkan untuk berhenti. Pikiran Aldo kacau, apalagi saat bibir ranum Yuzi terasa lihai berbisik di samping telinga.
"Hentikan Yuzi!" pekik Aldo meraih pundak Yuzi dan menjauhkan tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Aldo sedikit membentak.
Bulir-bulir air mata jatuh di pipi Yuzi. Gadis itu menangis. Hidungnya tampak memerah seperti tomat ceri. Bahunya yang kecil berguncang ringan, begitupun dadanya yang tak terbungkus benang sehelai pun.
Yuzi merasa terhina, malu tak tertahankan. Dia telah meneguhkan hatinya untuk memberikan semuanya pada Aldo, tetapi laki-laki itu tetap saja menolak. Apa yang lebih menyakitkan dari runtuhnya harga diri seorang gadis?
"Aku tidak bisa melakukan ini padamu Yuzi," ucap Aldo tegas.
Meskipun tersakiti, nyatanya perasaan kagum pada Aldo di dalam hati Yuzi malah kian membesar. Aldo memang nakal, tetapi dia tidak pernah memandang Yuzi dengan niat buruk. Atau jangan-jangan Aldo memang tidak pernah memandang Yuzi sebagai gadis cantik?
"Kamu bisa berbuat jahat pada Anggoro, Rana ataupun yang lain. Tetapi kenapa kamu tidak pernah sekalipun berbuat jahat padaku?" Yuzi terisak.
Aldo mendorong tubuh Yuzi ke kursi samping. Kemudian melemparkan baju Yuzi ke wajah gadis itu dengan sedikit kasar.
"Pakai bajumu. Lupakan semua ini. Kalian tahu aku bukan orang yang baik, tapi kalian tetap saja mengikuti jalanku. Bagaimanapun kalian kuanggap sebagai teman dan keluarga. Seburuk-buruknya aku, tidak akan mungkin meniduri keluarga sendiri," jelas Aldo menghela napas panjang. Dia mendorong pintu mobil dan melompat turun. Yuzi masih terisak, menyandarkan tubuh atasnya yang tak tertutup itu ke kursi mobil. Dia memejamkan mata, mencoba menghilangkan rasa malunya.
Aldo menghela napas, bersandar pada pintu mobil. Debaran di dada belum mereda sepenuhnya. Sulit menghilangkan lekuk tubuh Yuzi yang indah dari dalam pikiran. Bagaimanapun Aldo laki-laki muda yang normal, penuh dengan gejolak remaja. Bagaikan seekor kucing yang disodori pindang. Meski demikian rasa suka dan sayangnya pada Rina membuat mata hatinya terbuka.
Dalam keadaan diam termenung, Aldo kembali mengingat perkataan dan dugaan Yuzi. Apakah mungkin sebenarnya Rina ikut ke perkemahan? Hoodie yang dikenakan saat menemui Aldo di depan rumah ada di tumpukan baju dalam tenda.
Rina dan Rana memang sangat mirip. Postur, tinggi badan, bahkan cara berjalan pun serupa. Meski sangat jarang terjadi, saudara kembar dengan gender yang berbeda memiliki kemiripan yang otentik.
"Jika memang benar Rina ikut perkemahan, apa tujuannya? Memberiku kejutan?" gumam Aldo sendirian.
"Lalu kemana dia pergi sekarang? Bersama Bastian? Ngapain?"
Aldo mengernyit. Dia mengingat kembali soal Rina. Mungkinkah gadis itu ingin menghabiskan hari ulangtahunnya dengan Bastian? Sebuah pengkhianatan? Aldo menggeleng. Dia merasa mustahil hal itu terjadi.
Dalam kesunyian, Aldo mendengar langkah kaki diseret pada rerumputan di kejauhan. Tubuh Aldo langsung menegang. Jelas hatinya meminta untuk waspada. Dia teringat mayat Putra yang mengapung di kolam.
Aldo meyakini orang yang sudah menghabisi Putra adalah Pak Dollah. Mungkin saja Sang Survivor menyusulnya hingga ke tempat perkemahan. Perlahan, Aldo masuk kembali ke dalam mobil. Menemukan Yuzi yang masih tergolek di kursi tanpa mengenakan baju atasan. Yuzi cukup terkejut melihat Aldo.
"Diamlah disini. Aku mendengar bunyi langkah kaki di rerumputan dekat tenda," bisik Aldo. Yuzi terkejut dan mengedarkan pandangan. Tetapi kegelapan terlalu pekat.
Aldo memeriksa kotak perlengkapan di belakang kursi kemudi. Ia menemukan kunci T berukuran cukup besar. Aldo menggenggamnya dan mengayunkan perlahan. Ia merasa nyaman dengan senjata dadakan dari bahan besi itu. Aldo menoleh pada Yuzi dan meletakkan telunjuk di bibir, memberi isyarat agar gadis itu diam di tempat.
Perlahan Aldo keluar dari mobil, menutup pintu se pelan mungkin. Kemudian mengamati tanah lapang di dekat tenda. Memang terlihat bayangan sosok yang sedang berjalan terhuyung di kegelapan.
Dengan berjingkat, Aldo mencoba mendekat pada sosok yang sepertinya sedang terluka itu. Kondisi sekitar yang gelap membuat sosok yang berjalan dalam kegelapan tak terlihat rupa wajahnya. Aldo terus mendekat, sedikit menunduk. Ia mempersiapkan diri untuk melompat dan menyergap lawannya.
Tumit Aldo tak lagi menapak tanah. Ia berjinjit dengan tubuh bagian atasnya menunduk dan condong ke depan. Aldo menghitung mundur dalam benaknya. Tepat di detik ketiga, ujung kakinya menjejak tanah sekuat tenaga. Aldo melompat seperti seekor harimau yang sudah memperkirakan terkamannya takkan meleset.
Aldo menubruk sosok dalam kegelapan. Terdengar suara mengaduh sebelum keduanya jatuh ke tanah. Aldo menindih sosok dalam kegelapan. Ia mencengkeram leher lawannya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan bersiap mengayunkan kunci T. Namun, niat itu diurungkannya saat mendengar suara lawannya. Seseorang yang Aldo kenal. Ia pun melepaskan cengkeraman, kemudian mengambil handphone di saku dan menyalakan lampu flash.
"Pak Nafi'?" pekik Aldo terperangah.
Pak Nafi' meringkuk memohon ampun. Hidungnya tampak bengkok dan berdarah.
"Aldo?" Pak Nafi' tampak menangis. Guru BK itu terlihat menyedihkan.
"Kupikir Anda orang jahat yang berkeliaran di kegelapan. Apa yang terjadi Pak?" tanya Aldo sembari membantu Pak Nafi' berdiri.
"Anggoro edan. Dia mengamuk dan hampir mencelakaiku. Aku dipukul menggunakan palu. Hidungku patah, kacamataku pecah. Aku pingsan," jelas Pak Nafi'. Saat berbicara, Aldo dapat melihat salah satu gigi seri Pak Nafi' patah.
"Anggoro telah menghabisi Rana Do. Dia sudah kehilangan akalnya," lanjut Pak Nafi' bersungguh-sungguh. Mata Aldo membulat mendengarnya.
"Rana? Mati? Kenapa? Bagaimana bisa?" tanya Aldo penasaran.
"Aku melihatnya Do. Kepala Rana hancur, Anggoro ada disana dan aku memergokinya. Sepertinya perkemahan ini sudah dia atur untuk menjebak semua orang. Jadi soal stiker pada pohon pucung beracun pun itu memang ulahnya. Saat semua orang sudah panik dan dilanda ketakutan dia melancarkan aksinya, membalas dendam," ucap Pak Nafi' mencoba mempengaruhi Aldo dan menghasutnya.
"Perkemahan ini telah gagal Do, rusak. Kita harus segera lapor polisi, kita harus segera keluar dari hutan ini agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan. Aku yang diberi tugas sebagai penanggungjawab kegiatan akan bersaksi pada petugas yang berwajib soal kejadian di perkemahan ini. Aku akan mengambil peran itu. Tapi kuharap kamu bersedia membantuku dan membelaku nanti, di hadapan Ayahmu," lanjut Pak Nafi' merayu.
"Anggoro ya? Jadi tumpukan baju itu kamuflase yang coba dilakukan. Soal kematian Putra? Bagaimana mungkin?" gumam Aldo bingung.
"Kematian Putra?" Pak Nafi' memelotot.
Aldo diam saja kini. Semua hal yang terjadi tidak penting baginya. Untuk saat ini tujuannya adalah keluar dari hutan dan segera ke rumah Rina.
"Dimana kunci mobilnya, Pak Nafi'?" tanya Aldo kemudian.
terima kasih banyak atas karyanya.