💸Sugar Mommy Online💸
Lulus kuliah jadi pengangguran, sampai umur 28 tahun pun masih nganggur, nikah gak ada calon, kerja di perusahaan gak ada koneksi, bikin usaha sendiri gak ada modal. Langganan Melolo, tontonan dracin dapat cuan receh yang bermimpi jadi istri CEO tampan dan media sosial-- tempat live nya gege-oppa-phi-akang tampan yang bermodalkan tap-tap layar dan spam komentar.
Itulah Lusi, atau gadis melar yang olahraga cuma niat dalam hati--- yang bernama asli Zhu Lusi Arsana. Anak yatim-piatu blasteran Cindo.
Hingga entah dia beruntung atau memang sudah takdir nya, sesuatu mengubahnya~
***
Mohon jangan hanya sekedar mampir, bacalah sampai tuntas agar penulis juga bisa menyelesaikan cerita sampai tuntas 🥹🤧
***
Jika alur sedikit menyimpang dari judul dan sinopsis maka mohon maaf 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Bagaimana Dengan Ku Saja?
Baru saat itu Rayyan tersadar itu Lusi, ia segera berdehem. "Aku hanya..." Lalu berhenti. Karena bahkan dia sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.
Lusi langsung tertawa. "Astaga, telingamu merah."
"Tidak."
"Bohong."
"Tidak."
Lusi tertawa semakin keras, sudah hampir sebulan mereka berlatih bersama. Hubungan mereka tentu jauh lebih santai dibanding saat pertama bertemu.
Rayyan juga tidak lagi sedingin dulu, meskipun kadang masih menyebalkan. Rayyan mengabaikan godaannya dan memperhatikan Lusi lebih teliti.
Jujur saja dia tahu perempuan itu berhasil menurunkan berat badan. Dia melihat prosesnya setiap hari, tetapi melihat hasil akhirnya secara langsung tetap membuatnya terkejut.
Lusi yang sekarang benar-benar berbeda, tubuhnya ramping, wajahnya kecil dengan mata bersinar penuh vitalitas dan bibir cerah yang terlihat mencolok, kulitnya cerah. Ditambah penampilannya hari ini yang membuatnya terlihat jauh lebih muda.
Rayyan bahkan sempat kesulitan menghubungkan sosok di depannya dengan perempuan yang pertama kali datang ke gym satu bulan lalu.
Saat ia masih memperhatikan, Lusi tiba-tiba meletakkan sebuah paperbag di atas meja.
"Ini untukmu."
Rayyan menoleh. "Apa?"
"Hadiah."
"Hadiah?"
Lusi tersenyum. "Terima kasih sudah melatihku sampai seperti ini, Pak Rayyaaaan~"
Nada bercandanya membuat Rayyan menggeleng kecil. Namun tetap membuka paperbag tersebut.
Detik berikutnya, gerakannya berhenti. Di dalamnya terdapat sebuah kotak jam tangan mewah. Rayyan membuka kotak itu dan langsung mengenali mereknya.
Richard Mille.
Pupil matanya sedikit mengecil, bahkan seseorang yang tidak terlalu mengikuti dunia jam tangan tetap tahu merek itu.
Apalagi dirinya. Ia tahu persis berapa harga benda yang sedang berada di tangannya.
Belasan atau puluhan miliar rupiah.
"...."
Rayyan mengangkat kepalanya menatap Lusi. "Kamu serius?"
Lusi mengangguk santai. "Tentu."
"Itu Richard Mille."
"Aku tahu."
"Harganya sangat mahal."
Lusi menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Ayolah kawan." Nada bicaranya santai. "Itu cuma hadiah kecil dariku."
Rayyan terdiam.
Hadiah kecil?
Jam tangan yang bahkan lebih mahal daripada mobil sport dianggap hadiah kecil? Ia kembali melihat jam tangan itu lalu kembali melihat Lusi.
"Kamu benar-benar memberikannya kepadaku?"
"Tentu saja."
"Kamu tidak menyesal?"
"Tidak."
"Kamu yakin?"
"Rayyan."
"Hm?"
"Kalau kamu tidak mau, aku bisa memberikannya ke pria lain."
Rayyan langsung mengerutkan dahi.
Lusi tertawa. "Aku bercanda."
Rayyan hanya diam, tatapannya kembali jatuh pada jam tangan itu. Jujur saja dia menyukainya, sangat menyukainya. Melihat reaksinya, Lusi tersenyum puas.
"Kamu menyukainya?"
Rayyan tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia bertanya. "Kamu tidak akan datang ke gym lagi?"
Lusi terdiam lalu berpikir sejenak. "Entahlah."
"Maksudnya?"
"Mungkin aku masih datang." Lalu ia mengangkat bahu. "Tapi tidak sesering dulu."
Rayyan terdiam. "Oh." Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Lusi memiringkan kepala. "Lalu?"
"Lalu apa?"
"Kamu tidak punya pertanyaan lain?"
Rayyan sebenarnya hanya ingin memperpanjang percakapan, entah kenapa. Namun ia tetap bertanya. "Setelah ini kamu mau melakukan apa?"
Ia mengira Lusi akan menjawab tentang bisnis nya, karena mengira Lusi seorang pebisnis sukses meskipun tidak tahu apa bisnis atau perusahaan nya.
Namun Lusi justru tersenyum, senyuman yang membuat firasat buruk muncul di hati Rayyan.
"Aku?"
"Iya." Rayyan menjawab dengan sabar, meskipun sedikit kesal melihat nya yang seolah-olah mengulur-ulur jawaban.
Lusi menopang dagunya, lalu menjawab dengan santai. "Aku akan mencari berondong-berondong muda untuk aku kencani."
Rayyan membeku."...Apa?"
Melihat wajah Rayyan yang tiba-tiba membeku, Lusi malah menghela napas pelan. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan memutar bola matanya seolah merasa pembicaraan ini sama sekali tidak aneh.
"Ayolah bro, jangan bilang kamu baru tahu."
Rayyan tidak langsung menjawab.
Sebenarnya bukan karena terkejut mendengar kata berondong. Selama satu bulan terakhir menjadi pelatih pribadi Lusi, ia sudah beberapa kali melihat kebiasaan aneh perempuan itu. Saat sesi latihan berlangsung hingga malam hari dan tubuhnya hampir ambruk karena kelelahan, Lusi sering kali membuka siaran langsung seseorang bernama Lin Chen.
Awalnya Rayyan mengira itu hanya konten relaksasi biasa. Bagaimanapun juga siaran yang ditonton Lusi memang bertema ASMR. Bahkan suatu kali ia sempat merekomendasikan beberapa video relaksasi lain agar Lusi bisa mengurangi stres setelah latihan.
Namun jawaban Lusi saat itu masih ia ingat dengan jelas.
"Aku nggak nonton karena ASMR."
"Lalu karena apa?"
"Karena orangnya tampan."
Jawaban yang terlalu jujur membuat Rayyan tidak tahu harus menjawab apa.
Sejak saat itu, ditambah dengan beberapa kali ia melihat Lusi kembali menonton siaran yang sama saat beristirahat di sela latihan, Rayyan secara tidak sadar menyimpulkan sesuatu. Mungkin perempuan ini memang menyukai laki-laki yang lebih muda darinya, terutama yang memiliki wajah tampan. Namun anehnya dia tidak menemukan wajah tampan di layar live itu, hanya sebuah gerakan tangan.
Pikiran itu kembali muncul sekarang.
Ruangan mendadak sunyi.
Rayyan menatap meja tanpa sadar, tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai tidak memperhatikan kalau Lusi sudah memanggilnya beberapa kali.
"Rayy."
Tidak ada jawaban.
"Rayyan."
Masih tidak ada respons.
Lusi akhirnya mengetuk meja menggunakan jarinya.
Tok. Tok. Tok.
"Oi."
Rayyan akhirnya tersadar dan mengangkat kepala.
Lusi memandangnya aneh.
"Kalau nggak ada yang mau diomongin aku pergi ya--"
"Kalau kamu kencan sama aku gimana?"
Kalimat itu keluar begitu saja, terlalu lancar dan terlalu cepat. Bahkan sebelum Rayyan sempat memikirkannya dengan benar.
Ruangan seketika menjadi hening, Lusi terdiam. Rayyan juga terdiam. Di kepala Lusi, sistem langsung berteriak tanpa henti.
[ Terima! ]
[ Terima! ]
[ Target menembak lebih dulu! ]
[ Host cepat terima! ]
Namun Lusi mengabaikannya. Ia menatap Rayyan dengan seksama seolah mencoba memastikan apakah pria di depannya baru saja salah bicara.
"Kamu nggak keceplosan kan?"
Rayyan menggeleng.
"Atau salah ngomong?"
"Nggak."
Jawabannya tenang, seolah memang sadar dengan apa yang baru saja ia katakan.
Hal itulah yang membuat Lusi semakin terkejut.
Selama sebulan terakhir, ia menganggap Rayyan sebagai teman. Teman pertama yang benar-benar dekat dengannya setelah kehidupannya berubah. Mereka sering bercanda, saling mengejek, bahkan sudah cukup nyaman untuk berbicara tanpa menjaga image.
Karena itulah ia sama sekali tidak menyangka hubungan mereka bisa berkembang ke arah seperti ini.
Lusi terdiam cukup lama.
Sementara Rayyan yang awalnya berbicara tanpa berpikir mulai merasakan kecanggungan yang jarang sekali ia alami. Melihat keraguan di wajah Lusi, ia berdehem pelan sebelum akhirnya kembali membuka suara.
"Kamu menyukai laki-laki muda yang tampan, kan?"
Lusi mengangguk pelan.
Meski sebenarnya bukan hanya itu. Jika harus jujur, ia juga menyukai laki-laki yang lebih dewasa. Hanya saja sistemnya memang lebih sering memilih target yang lebih muda.
"Kalau begitu denganku saja."
"..."
***
Like dan komentar... Kasih rating juga~
Mohon dukungannya 🥹
semangat terus ya~~~😋😋😋
semangat terus ya~~~/Grin//Grin//Grin/
semangat terus/Proud//Proud//Proud/
semangat terus ya~~~/Hey//Hey//Hey/