NovelToon NovelToon
Candu Ragamu

Candu Ragamu

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Dark Romance / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Syela

Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gentle Monster

Pagi datang menyelinap lewat celah tirai tebal yang masih tertutup rapi. Emily menggeliat kecil di atas ranjang asing empuk tersebut. Terasa lebih ringan kini tubuhnya. Berbeda sekali dari semalam yang rasanya begitu memusingkan kepala. Setelah semalaman bersusah payah memaksa dirinya tertidur, akhirnya ia menyerah pada lelahnya pikiran, dan jatuh dalam tidur yang entah bagaimana justru sangat nyenyak.

Sebuah ketukan pelan di pintu membuatnya tersadar sepenuhnya.

Emily mengucek mata, menoleh ke arah sumber suara. Masih ada sedikit rasa bingung, sampai ingatannya perlahan kembali tentang kejadian semalam, tentang Raphael, kamar ini, dan segalanya.

"Siapa?" tanyanya, menyahuti dengan suara parau.

Pintu terbuka sedikit, ada dua orang wanita berseragam pelayan masuk dengan sikap sopan. Salah satunya membawa gantungan baju lengkap dengan setelan pakaian dalam, sedangkan yang satunya membawa nampan kecil berisi segelas air mineral segar.

"Selamat pagi, Nona," sapa salah satu dari mereka dengan ramah. "Tuan besar meminta kami untuk membawakan pakaian yang akan Nona kenakan hari ini. Beliau memilihkannya sendiri agar sesuai dengan kebutuhan Nona ke kantor."

Emily menatap pakaian itu sekilas. Gaun hitam selutut dengan potongan pas mengikuti lekuk tubuh, dipadukan blazer putih ivory dengan model yang kekinian. Sebuah clutch kecil dan sepasang heels Louis Vuitton juga tersedia, warnanya senada. Semuanya terlihat baru. Bahkan masih tercium wangi mahal yang baru dari toko mewah itu.

"Tuan Raphael meminta Nona bersiap dan segera mandi. Beliau sudah menunggu di bawah untuk sarapan."

Namun yang membuat Emily mengangkat alis tinggi-tinggi adalah satu kotak kecil di samping gaun yang dibawa pelayan tersebut. Tatkala dibuka oleh salah satu pelayan, tampak di dalamnya satu set dalaman hitam dari renda Prancis dengan detail bordir rapi dan minim.

"Set ini juga dipilihkan khusus oleh Tuan besar, Nona," ujar pelayan satu lagi, sedikit tersenyum. "Untuk kenyamanan Nona."

Bahkan lapisan terdalam tubuhnya pun ingin Raphael atur? Oh boy. Emily hampir ingin membalas ketus, menolak atau bertanya siapa pria itu sampai bisa mengatur hidup orang seenaknya. Tapi pagi ini dia terlalu malas untuk adu mulut. Hari kemarin sudah cukup menyiksa, dan ia tidak ingin membuat paginya sekacau itu lagi.

"Di mana dia sekarang?" tanya Emily akhirnya, tanpa menatap langsung para pelayan.

"Sudah menunggu di ruang bawah, Nona."

Dengan anggukan singkat, Emily bangkit dari tempat tidur. Kakinya menyentuh karpet tebal nan lembut di lantai. Ia meneguk segelas air yang pelayan itu bawa sebelum akhirnya berjalan ke arah kamar mandi tanpa mengucapkan apapun. Tidak perlu. Kali ini ia akan bermain sesuai aturan—untuk sementara.

Ia tahu bahwa Raphael tidak akan mudah ditaklukkan, tapi pagi ini dia tidak akan memberinya kemenangan dengan emosi meluap-luap. Emily akan memainkan peran wanita tangguh seperti biasanya.

...•••...

Emily menuruni anak tangga setelah selesai bersiap di kamar, langkahnya perlahan sembari menelisik setiap sudut rumah mewah yang kini benar-benar bisa ia nilai dengan sadar. Mansion itu bak istana, begitu luas dan megah. Furniturnya berkelas, dari bahan-bahan premium yang dipilih dengan selera mahal—marmer, kayu mahoni, ukiran-ukiran yang tampaknya dipesan secara khusus hanya untuk jadi pajangan.

Di sepanjang dinding yang ia lalui, berjejer lukisan. Bukan gambaran alam atau potret keluarga seperti rumah orang normal pada umumnya melainkan lukisan wanita dengan pose menggoda dalam berbagai gaya sapuan kuas.

Cih. Emily mendecih pelan, beraut sinis dengan alis mata terangkat. Otak pria itu tampaknya memang hanya berisi wanita dan nafsu. Bukan benar-benar menyukai seni, hanya obsesi yang dibungkus dengan kemewahan. Beruntung dia kaya.

Langkah kaki Emily yang dibalut high heels terdengar kecil di tangga spiral, menggaung pelan di ruang luas itu. Ketika ia menoleh ke arah ruang tengah, matanya langsung menangkap sosok Raphael yang duduk tenang di atas sofa kulit berwarna krem tua, kaki panjangnya berpangku menyilang, tubuh gagahnya sudah terbalut setelan kerja berwarna gelap yang pas menonjolkan bahunya yang bidang.

Namun bukan penampilan sang pria yang pertama menarik perhatian Emily melainkan seekor kucing hitam yang tertidur lelap di pangkuannya. Raphael mengelus kepala si kucing dengan jari-jari panjangnya, begitu lembut, begitu sabar, dan sedikit manis. Sesekali ia menciumi kucing itu di kepala, membisikkan sesuatu yang tak jelas apa, lalu tersenyum sendiri.

Emily terdiam sejenak di anak tangga terakhir. Ini aneh. Pria itu, yang semalam menyeretnya, mengurungnya, memprovokasinya dengan kontrak kotor, kini duduk penuh kasih, menyayangi kucing itu sepenuh hati.

"Pria iblis seperti dia? Hah. Ironi macam apa ini?" batin Emily.

Kemudian, seolah menyadari kehadirannya, Raphael mendongak. Tatapan mereka bertemu. Dalam sekejap, senyum Raphael berubah drastis, dari lembut menjadi menyebalkan. Senyum setan yang membuat Emily berhasil memutar bola matanya. Bagaimana tidak? Seringai nakal sudah muncul di bibir tegas dengan garis tajam maskulin itu, matanya yang menatap dalam memandangi tubuh Emily dari kepala hingga kaki dan berhenti sedikit lebih lama di lekukan pinggangnya. Emily merasa jijik.

Ia membalas tatapan Raphael dengan angkuh dan sinis. Tak takut.

"Hm, akhirnya kau turun juga," sambut Raphael, masih tenang mengelus bulu-bulu halus dan lebat kucing kesayangannya. Ditatapnya Emily berjalan mendekat, seiring itu tampak ia puas. Gaun pilihanya sangat pas membalut lekuk tubuh sang wanita dengan indah.

"Damn, look at you. Penampilanmu terlihat seperti siap untukku, Nona Cooper."

Emily mendengus, jijik setengah mati. Bahkan Raphael tak berhenti menatap, kini tangannya berhenti mengelus kucing itu, sepenuhnya fokus pada wanita yang berdiri di hadapannya.

"Berhentilah menatapku seperti itu atau akan kupakai heels ini untuk mengoyak tenggorokanmu." Ancaman itu terucap tajam dari bibir Emily. Tak nyaman dia akibat tatapan pria itu.

Raphael terkekeh. "Uh... sadis." Ia bersandar ke sofa, membiarkan si kucing turun dan pergi entah ke mana. Satu lengannya terentang di atas sandaran, kakinya terbuka mengangkang lebar. Aura dominan terlihat jelas dari posturnya yang begitu maskulin dan mengintimidasi.

"Kembalikan ponsel dan tasku. Aku buru-buru ke kantor. Ada meeting penting yang harus kuhadiri." Emily menjulurkan tangan ke depan wajah sang pria.

Namun, alih-alih menyerahkan barang-barang itu, Raphael justru menggenggam tangan wanita itu dengan cepat dan mencium punggung tangannya. Emily tersentak, wajahnya merah padam karena emosi. Ia segera menarik tangannya kasar dan mengusapnya cepat-cepat pada sisi blazernya.

"Kau sinting!"

Reaksi sang wanita berhasil membuat Raphael tertawa karena menganggapnya lucu. "Sarapan dulu denganku. Setelah itu, aku antarkan kau ke kantormu." Itu terdengar bukan seperti permintaan tapi perintah.

"No! Never! Aku lebih baik pergi sendiri daripada harus berangkat bersamamu. Aku tidak ingin satu pun rumor menyebar di kantor karena terlihat bersama seorang pria menjengkelkan sepertimu."

"Kau tinggal bilang aku pengacaramu." Raphael berdiri, mengabaikan penolakan Emily, ditariknya tangan wanita itu begitu saja.

"Raphael!!!" Emily memprotes, tentu. Tapi langkah pria itu panjang-panjang dan cepat, membuatnya harus berlari kecil untuk menjaga keseimbangan. Kalau tidak, ia bisa terseret atau jatuh.

Setibanya mereka di meja makan, dua pelayan wanita langsung sigap menyambut, menarik kursi dan menyajikan hidangan yang sudah disiapkan. Meja panjang di hadapan mereka terhidang berbagai menu sarapan, nikmat aromanya, tersaji menawan sekaligus menggiurkan.

Croissant butter hangat, scrambled eggs lembut dengan white truffle shaving, smoked salmon di atas brioche toast dengan olesan cream cheese, avocado slice dengan lemon zest, serta mangkuk kecil berisi mixed berries segar. Di sisi lain, satu teko French press berisi kopi arabika premium sudah menunggu untuk dituangkan. Semua itu bisa Emily makan. Terserah mau yang mana lebih dulu, yang mana ia suka.

Tapi sayangnya, tak satu pun dari hidangan mewah itu menggugah selera Emily. Ia hanya duduk diam, tak berminat barang sedikitpun bahkan kala Raphael mulai memotong makanannya.

"Makan, Emily," ujar pria itu. Ia mengambil sepotong salmon panggang dari piringnya dan meletakkannya ke piring wanita itu.

"Kau saja. Aku tak selera," balas Emily malas.

Gerakan tangan Raphael langsung terhenti. Begitu pula mulutnya yang tadinya tengah mengunyah. Terangkat tatapannya, lekat menatap Emily. Ia tak suka dibantah, terlebih oleh wanita itu saat pagi-pagi seperti ini, saat suasana hatinya bisa berubah sangat cepat.

Ia pun meletakkan garpunya. "Makan," ulangnya dengan suara rendah.

Emily menggeleng, masih keras kepala. "Aku bilang tidak."

Detik berikutnya, kesabaran Raphael habis. Lantas ia raih dagu Emily dengan satu tangannya dan mencengkeram pipinya kuat hingga terbuka. Tubuh wanita itu menegang seketika, tak sempat mengelak ketika pria itu menyuapkan potongan salmon ke mulutnya secara paksa.

"Kunyah dan telan!" titah Raphael penuh penekanan, matanya menusuk dalam ke iris Emily. Auranya mendadak berubah menjadi dingin dan menakutkan, mengingatkan sang wanita pada malam sebelumnya kala tubuhnya di hempas kasar ke kasur.

Emily tak berkutik. Mau tak mau, ia menerimanya, mengunyah perlahan, lalu menelan. Tatapan angkuhnya segera memudar. Sadar bahwa tenaganya akan kalah dengan pria iblis ini.

Para pelayan yang menyaksikan adegan tersebut pun hanya bisa saling melirik diam-diam, lalu cepat-cepat menunduk. Tak berani ikut campur. Tentu. Mereka tahu betul siapa Raphael Walter. Namun tetap saja wanita ini asing dan berbeda. Sebab, tak pernah ada seorang pun dibawa pria itu ke mansion pribadinya selain kedua saudaranya. Bahkan keluarga besar Raphael pun tak punya akses bebas ke rumah ini.

Siapa sebenarnya wanita ini?

Sebelum Raphael menarik kembali tangannya dari wajah Emily, ia menepuk pelan pipi wanita itu dua kali. "Lihat? Betapa mudahnya patuh tanpa membantahku, Emily. Kau hanya perlu tahu kapan harus diam," ucapnya datar, kembali menegakkan tubuh, meraih garpunya. "Habiskan makananmu. Kecuali kau ingin terlambat ke kantor."

Kali ini, sang wanita menuruti meskipun dalam hati mengumpati. Diam-diam memakan makanannya, tak lagi ingin memperpanjang ketegangan di pagi yang sial ini.

Kadang, mengalah bukan berarti tunduk pada pria itu. Ada saatnya ia harus mengingat posisinya bahwa kini ia berada di kandang lawan. Dan di kandang lawan, siapa yang tak mau dimangsa dan termakan, sebaiknya tak melawan.

...•••...

Para pegawai menyapanya sopan ketika Emily melangkah keluar dari lift menuju ruangannya. Meskipun suasana hatinya telah porak-poranda sejak bangun tadi akibat tingkah dan ucapan Raphael di dalam mobil sebelum ia turun, sebagai pimpinan, ia tetap harus menjaga sikap dan tampil kuat di hadapan para bawahannya.

Melangkah kakinya cepat menuju ruang pribadinya. Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah harapan agar orang suruhannya sudah mengirimkan baju ganti sesuai perintahnya sebelum tiba. Sungguh, ingin sekali ia segera mengganti pakaian yang dikenakannya sekarang, karena meski baru, mewah pun mahal, pakaian pilihan Raphael itu tetap saja bukan gayanya. Ini terlalu Raphael, dan itu menyebalkan.

Begitu pintu ruangannya terbuka, suara sumbang langsung menyambutnya. Itu suara Ceysa yang seperti biasa memulai pagi dengan menyanyikan lagu-lagu Korea sambil sibuk merapikan meja. Pelafalannya kacau, nadanya amburadul, dan Emily yakin lirik yang dinyanyikan pun kemungkinan besar salah arti. Terdengar seperti kumur-kumur seorang pria tua di kamar mandi setiap pagi. Tapi anehnya, perempuan itu sangat percaya diri menyanyikannya.

Cih.

Telinganya langsung ngilu. Lagi?

Ceysa memang terlalu terobsesi dengan impian konyolnya untuk debut seperti idol Korea. Sayangnya, baik suara maupun gerakan tubuhnya lebih mirip gorila stres ketimbang calon bintang K-Pop.

Emily menghela napas panjang. Sungguh, hari yang buruk belum juga selesai.

"Ceysa. Berhenti! Kau terdengar seperti orang sinting," tegur Emily dengan datar, sambil melangkah menuju mejanya. Ia meletakkan tas dengan sedikit membanting dan menjatuhkan tubuh ke kursi empuknya seakan kini semua energi tersedot keluar dari tubuhnya.

Ceysa yang rupanya belum menyadari kehadiran bosnya, terlonjak kaget. Ia menoleh cepat dengan panik, lantas tersenyum kecut dan buru-buru merapikan pakaiannya. "Ah! Nona.. Maaf... aku tidak tahu kau sudah datang. Tadi aku hanya terlalu excited karena oppa-oppa ku baru saja comeback."

Emily mendengus, memutar bola matanya dengan lelah. Sudah terlalu sering mendengar sekretarisnya itu menyebut idolanya dengan sebutan "oppa" seolah-olah mereka punya ikatan kekeluargaan yang sangat akrab dan harmonis. "Tolong hentikan itu, Ceysa. Oppa, oppa..." cibirnya. "Bahkan mereka tak tahu kau ada di dunia ini. Kalau mau terobsesi, sesuaikan setidaknya dengan realitas budaya dan logikamu."

Ceysa hanya cengengesan malu. Lantas setelahnya baru teringat sesuatu. "Oh, ya.. Nona, aku dengar video rekayasamu muncul lagi di layar Times Square semalam. Orang-orang kantor sudah ribut membahasnya sedari tadi."

Emily memejamkan mata sejenak. Napasnya berat. Lagi. Masalah itu lagi. Ia menyandarkan tubuhnya sambil memegangi pelipis, berusaha menahan pusing yang mulai merayap.

Ceysa perlahan mendekat, merasa simpati. "Kau baik-baik saja, Nona? Maaf kalau aku cerewet. Tapi kau kelihatan benar-benar lelah. Aku tahu ini pasti karena ulah si Andrew brengsek itu."

Emily tak menjawab. Tapi dari sorot matanya yang menggelap, Ceysa tahu bosnya sedang menahan banyak hal.

Tak lama terdengar suara ketukan pelan di pintu. Kontan, Emily dan Ceysa menoleh bersamaan.

"Masuk," titah Emily tegas.

Pintu terbuka perlahan. Seorang staf perempuan dari bagian resepsionis muncul, melangkah sopan ke dalam ruangan dengan sebuah amplop besar di tangannya. Wajahnya tampak ragu, seolah membawa kabar tak baik. Ia berjalan perlahan mendekati meja Emily dan berhenti di hadapan sang atasan.

"Ada apa?"

"Surat untuk Anda, Nona Cooper."

"Untukku?" Emily mengerutkan dahi. "Dari siapa?"

Staf itu tampak gelagapan sesaat, sekilas melirik ke arah Ceysa sebelum akhirnya menjawab. "Dari pengadilan, Nona."

1
Mita Paramita
Ralph lagi curhat nih 🤣🤣🤣
Mita Paramita
semangat Emily 💪 Ralph terlalu memaksa kn Emily jadi takut 🤣🤣🤣 lanjut Thor 💪💪💪
Nona Syela: Wkwk iya nih Raphael mau enaknya doang
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Okay😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor semangat nulisnya 🔥🔥🔥 ceritanya bagus
Nona Syela: Thank you kak semoga betah😍
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: 😍💪 siap
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Nona Syela: 😍💪 Thank you kak
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Nona Syela: Siap kak 😍💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!