Kinara Wirasti seorang wanita berusia 55 tahun, bertemu dengan kekasihnya di masa lalu yang bernama Anggara Tirta pria seumuran dengannya. Ternyata Anggara adalah mertua dari anaknya. Bagaimana kisah cinta mereka? Akankah bersatu di usia senja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Rencana Angel
"Masuk!" Niko menarik tangan istrinya.
Kinara dan Anggara terkejut melihat Niko bersikap kasar, mereka saling berpandangan. Sebagai orang tua berusaha untuk bersikap bijaksana, tidak membela salah satu.
"Ada apa ini?" tanya Anggara, berdiri dari duduknya.
"Niko ingin bicara, Pah, Mah." Niko mengajak Angel duduk di sebelahnya.
Niko mulai mengutarakan keinginannya bercerai dengan Angel, keputusannya sudah bulat. Ia melakukan semuanya, demi kebahagiaan keluarga.
Namun, Anggara tidak setuju kalau mereka bercerai. "Niko, jangan korbankan rumah tanggamu! Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab. Aku dan Kinara akan tetap bersama, tanpa restu siapapun!"
"Jelaslah bersama! Urat malunya udah putus!" ketus Angel.
"Papah, dengar sendiri Angel berkata apa? Dia sama sekali tidak punya sopan-santun. Untuk apa pernikahanku dipertahankan," ucap Niko.
Kinara merasa malu, ia telah gagal mendidik Angel dengan baik. Ia memilih diam, dan tidak akan mengambil keputusan apapun. Seandainya Niko menceraikan putrinya, ia sudah siap menerima semua konsekuensinya.
Banyak sekali pengorbanan Kinara dalam membesarkan Angel, tetapi anak itu sepertinya tidak pernah menyadari.
"Walaupun aku dan Angel bercerai, aku tetap akan menganggap mamah seperti mamahku sendiri," ujar Niko menatap Kinara.
Kinara menganggukkan kepalanya, ia tidak bisa melarang Niko. "Semu keputusan ada di tanganmu, Niko."
Angel menganggap Kinara mendukung Niko, dan tidak peduli dengannya lagi. Ia merasa sangat kesal, hingga memilih menyetujui perceraian itu.
"Mamah, ternyata tidak berguna! Aku akan pergi dari rumah ini!" marah Angel.
"Sayang, kamu salah paham! Tolong jangan tinggalkan mamah," pinta Kinara, air matanya menetes begitu saja.
Seketika tubuh Kinara merasa lemas, ia teringat saat Angel sedang sakit. Ia berjuang sendiri mencari uang untuk berobat, sampai dihina banyak orang.
Angel menarik kopernya keluar rumah, Kinara tidak mampu untuk mencegah kepergian putrinya. Sedangkan Niko justru sangat senang, tidak ada lagi yang akan menghalangi Anggara dan Kinara.
"Dia sudah dewasa, Nara. Berhak menentukan hidupnya sendiri," kata Anggara, berusaha menenangkan Kinara.
"Angel masih butuh aku, Mas. Dia hanya pura-pura kuat, anak itu sangat rapuh," ucap Kinara, hatinya terasa sedih.
Anggara memeluk Kinara, ia tidak tega melihat kekasihnya bersedih.
***
Angel mendatangi Miranda, meminta pertanggung jawaban atas keputusan Niko. Mereka bertemu di apartemen milik Miranda.
"Ibu, harus bertanggung jawab! Niko mau menceraikan ku," kata Angel mendudukkan diri di sofa.
Miranda tertawa kecil, ia justru senang Niko bercerai dengan wanita miskin. "Bagus dong."
"Semua gara-gara, Ibu!" Angel meninggikan nada bicaranya.
Miranda memaki-maki Angel, tanpa memikirkan perasaan menantunya. Pertengkaran pun terjadi, mereka saling melemparkan benda yang ada di apartemen. Sialnya, Angel mendorong tubuh Miranda hingga keluar dari apartemen. Miranda terjatuh dari lantai sepuluh.
"Gawat! Aku harus melarikan diri!" Angel segera pergi dari apartemen itu.
Beruntung Angel bisa cepat kabur, kebetulan tadi apartemen dalam keadaan sepi. Para tetangga masih sibuk bekerja.
Orang yang menemukan Miranda, segera membawanya ke rumah sakit. Saat ini keadaan Miranda tidak sadarkan diri, karena terluka parah.
Mereka semua sudah melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib, dan akan segera diselidiki penyebab jatuhnya Miranda.
Niko yang mendapatkan kabar, mengajak Anggara dan Kinara ke rumah sakit. Untuk melihat keadaan ibunya. Ia merasa sedih, walaupun tidak mempunyai hubungan baik dengan ibu kandungnya.
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Niko, wajahnya tampak panik.
Dokter mengajak Niko ke ruangannya, beliau tidak tega menyampaikan kabar buruk ini. Beliau menyatakan kalau Miranda sudah meninggal, sejak dalam perjalanan ke rumah sakit.
Niko sangat menyesal, karena belum sempat meminta maaf dan memberikan hal yang terbaik untuk ibunya. Air mata Niko mengalir begitu saja, diiringi isak tangis.
Anggara memeluk Niko erat, walaupun Miranda sudah meninggal. Ia akan tetap menjaga Niko dengan baik.
"Pah, aku sudah tidak berguna lagi," ucap Niko.
"Siapa bilang? Kamu masih punya Papah, Oma, Mamah Kinara." Anggara berusaha menenangkan.
Kinara mengangguk setuju, ia juga mengucapkan rasa pedulinya kepada Niko.
**
Di pemakaman, Angel juga turut hadir tanpa menimbulkan kecurigaan. Ia berpura-pura tidak tahu, dan berlagak kaget.
"Niko, aku turut berdukacita," ucap Angel, memeluk suaminya.
Kedatangan Angel membuat Niko terharu, ia membalas pelukan istrinya. Ia merasa sendiri, masih membutuhkan Angel. Dalam keadaan berduka, Angel pandai menyesuaikan.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Nik? Kenapa ibu meninggal secepat ini," kata Angel, berusaha meneteskan air mata.
Sebelum berangkat ke pemakaman, Angel mengunakan obat yang bisa membuatnya menangis.
"Ceritanya panjang. Polisi sedang menyelidiki," kata Niko.
Deg ....
Jantung Angel berdetak kencang, rasa takut mulai menghampirinya. Kini ia bersiasat untuk membuat rencana baru, agar tidak dipenjarakan ketika kasus ini terungkap.
"Aku belum sempat meminta maaf, Nik." Angel terisak sedih.
"Kita do'akan saja, Angel. Lagipula apa yang terjadi denganmu dan ibu, karena kurang kesadaran." Niko masih bisa berkata bijak.
Setelah acara pemakaman selesai, mereka berkumpul di rumah Niko. Hanya Oma Salma yang tidak hadir, kebetulan beliau ada kepentingan.
Kinara masih setia mendampingi Anggara, keduanya saling bergandengan tangan. Anggara sengaja melakukan semua, agar Angel segera sadar dari sikap egoisnya.
"Angel, lebih baik kamu temani Niko dulu," pinta Kinara.
"Mamah, tidak perlu ikut campur!" Angel masih saja berkata sinis.
"Kita pulang saja, Nara. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri," kata Anggara.
Anggara dan Kinara melangkahkan kaki, keluar dari rumah Niko. Keduanya berniat memberikan waktu, agar Angel dan Niko sadar. Apalagi setelah Miranda meninggal, tidak ada lagi yang membenci hubungan mereka.
Sampai di rumah, Anggara menunjukkan betapa dirinya sedang kesepian. Tidak ada orang sama sekali, Bik Siti juga sibuk dengan pekerjaan.
Kinara mengamati seluruh ruangan, tata letak perabotan begitu rapi. Sayangnya tidak ada yang menghiasi.
"Rumah kalau penghuninya laki-laki, pasti catnya warnanya gelap," kata Kinara.
"Ubah sesukamu, Nara. Tetapi, setelah kita menikah." Anggara tersenyum, menatap Kinara.
bagus,tanpa perselingkuhan.
buat angel, serendah rendahnya,anak g tau diuntung
kok baru dipertemukan di usia yg udah setua itu.kan bisa di usia 40 an kak😢.
kasihan aku,mana masih sama2 lajang belum pernah menikah lagi dg orang lain.
Gak kebayang sama2 salah paham di antara mereka berujung merana hati sekian puluh tahun.
Ini salah othor nih!☹
Yg gak kasihan sama mereka.✌✌✌