Karena sebuah kesalah pahaman, seorang gadis suci dihancurkan kehormatannya. Tak hanya kehilangan kehormatan, Ia harus kehilangan cinta, karir dan keluarganya. Di tengah upayanya bertahan menghadapi cobaan, Ia terpaksa harus dijatuhkan dengan kenyataan lain. Mengandung benih orang yang "merusak"-nya. mampukah Ia tetap melangkah membawa kemalangan dan merubahnya menjadi kebahagiaan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Citra Susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kenyataan Lain
Fajar melempar kumpulan foto seorang pria yang di bidik dari berbagai posisi ke arah ranjang tempat tidurnya. Tangannya mengepal menahan amarah.
"Si*lan!" geram Fajar.
Mencoba menghilangkan amarah, pria itu kemudian beranjak ke halaman belakang, dimana Risa dan Siska bersama sang bunda sedang menikmati suasana pagi di gazebo belakang. Fajar harus membiasakan diri melihat keberadaan Risa di rumahnya sekarang. Sejak Ia perkenalkan kepada sang Bunda, rupanya gadis itu sudah merebut posisi penting Fajar di rumah ini. Ia tak mampu berbuat apapun saat Sang Bunda lebih memilih memperhatikan Risa, gadis yang baru dikenal bundanya beberapa minggu saja. Namun di dasar hatinya Fajar merasa senang, melihat pujaan hatinya dekat dengan sang bunda.
Namun rupanya kebahagiaan itu seketika hilang, saat sesuatu yang buruk terlintas dalam pikirannya. Ingatan tentang kealpaan dirinya hampir dua bulan lalu membuat Ia menanggung sendiri beban pikiran. Dan rupanya pikiran buruk yang Ia takutkan malah diperkuat dengan kecurigaan dari sang bunda. Dihantui rasa takut dan bersalah membuat pria tinggi nan gagah itu menjadi pengecut. Ia hanya bisa mengucap maaf dalam diam tanpa bisa di dengar orang lain.
"Le ...."
Panggilan lembut Ranti menyadarkan lamunan Fajar. Ia yang tadinya tengah berbaring di kursi malas kamarnya kemudian bangkit untuk duduk. Ranti mendekati putra semata wayangnya, dan ikut duduk di samping pemuda itu.
"Nak Risa tadi menanyakan dirimu. Kenapa Kamu malah sembunyi?" tanyanya kemudian.
Ranti menelisik wajah Fajar dengan sinar keibuan, membuat pemuda itu tak mampu menyembunyikan apapun dari sang bunda.
"Jangan merasa bersalah, Le. Semua belum pasti. Kamu hanya akan membuat Nak Risa sedih jika harus menghindarinya seperti ini," terang Ranti.
Fajar menatap bundanya. "Tapi bagaimana dengan kecurigaan Bunda? Aku takut Bun, jika ini benar-benar terjadi. Bagaimanapun berarti Aku turut andil. Aku merasa bersalah Bun," ujar Fajar pelan dengan matanya yang sendu.
"Ini hanyalah intuisi seorang Ibu, Le. Belum bisa dipastikan. Lagipula bisa saja jika ini hanyalah tebakan yang salah," ujar Ranti meyakinkan. "Sebaiknya kamu membicarakan ini dengan Nak Akbar, juga Nak Siska. Biarkan mereka ikut membantu kegelisahanmu. Siapa tahu, Nak Siska dapat membantumu memastikannya. Bukankah jika sesama wanita akan terasa mudah?" tanya Ranti.
Fajar tampak menimbang saran dari Ranti, dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan di kepalanya.
"Apa kamu sudah bertemu dengan orang itu?" tanya Ranti. Fajar yang mengetahui maksud pertanyaan sang bunda menggeleng pelan. "Anak buah Bang Gilang baru mengirim foto ba**ngan itu tadi pagi Bun. Rencana, Fajar diantar sama Bang Gilang untuk menemuinya besok. Tapi jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, maka akan ada rencana yang berubah ...," ucap Fajar dengan nada ancaman.
Ranti hanya terdiam sambil memandang putra tercintanya. Ia tahu, bahwa putranya memiliki jiwa keadilan yang tinggi. Dengan orang lain pun Fajar rela membantu tanpa setengah-setengah, apalagi jika ini menyangkut seseorang yang memiliki ikatan di hatinya.
**
Siska terlihat mondar-mandir dikamar yang ia tempati dengan Risa. Raut wajahnya benar-benar dilanda kebingungan. Sesekali gadis itu menggigit kuku jemarinya.
"Aahhhh ... kenapa harus aku yang melakukannya,"-menjambak rambut frustasi-"Kak Fajar benar-benar jahat," gerutunya.
Gadis itu menatap pintu kamar mandi yang baru beberapa menit lalu dimasuki Risa. ia menganggukkan kepala yakin, lalu mendekat ke arah pintu.
"Kak ... Kak Risa!! Tolong buka pintunya!" teriak Siska di depan pintu toilet. "Kak! Pak Dedi menelpon dan butuh bantuan! Cepat buka pintunya!" ujarnya lagi. Dalam hati gadis itu berdoa semoga menggunakan nama Pak Dedi dapat membantunya.
Tak lama pintu terbuka menampilkan wajah panik Risa. "Pak Dedi kenapa Sis?" tanyanya. Namun belum sempat mendengar penjelasan Siska, gadis itu malah menyerobot masuk ke kamar mandi. Ia kemudian memeriksa ke arah toilet. "Kak Risa belum pipis ya?" tanyanya tanpa rasa bersalah.
Mendengar pernyataan Siska membuat Risa kesal. "Aku belum apa-apa karena kamu sudah teriak menggangguku," jawabnya.
Siska hanya tersenyum kecil. "Maaf Kak."
"Sebaiknya Kakak melanjutkan apa yang tertunda,"-mempersilahkan Risa menggunakan toilet-"pipislah," ujar Siska tanpa merasa berdosa.
Risa mendekati toilet, hendak membuka celana namun diurungkan karena melihat Siska masih berdiri di hadapannya.
"Apa kamu mau menungguiku di sini Sis?" tanya Risa tak percaya. Gadis di hadapannya mengangguk mantap, membuat Risa memutar bola jengah. "Dasar Gila!" umpatnya kasar lalu mendorong Siska keluar kamar mandi.
Risa mengabaikan ocehan Siska dan langsung menutup pintu kamar mandi. Dengan rasa kesal Ia kembali memulai ritualnya yang sempat terganggu. Gadis itu merasa heran karena beberapa hari ini Siska selalu mengganggu ritual paginya di kamar mandi. Mulai dari beralasan ada kecoa, ada tamu mendesak hingga yang terakhir tadi Risa terkecoh dengan kebohongan Siska tentang Pak Dedi. Dan yang paling membuat gadis itu kesal adalah Siska selalu bertanya padanya apakah Ia sudah buang air kecil. Risa bahkan sampai di buat frustasi dengan kelakuan Siska yang memeriksa toilet yang telah digunakannya. Itu menjijikkan bagi Risa.
Risa sudah menuntaskan hajatnya dan bangkit dari toilet. Matanya menangkap sebuah benda di bawah wastafel. Risa mengambil benda itu dan mengernyit heran. Kenapa ada benda ini di sini, pikirnya.
Risa membuka pintu kamar mandi dan keluar, dengan sigap Siska segera masuk dan mengunci kamar mandi dari dalam. Namun lima menit kemudian gadis itu keluar dengan wajah kecewa.
"Mencari ini?" tanya Risa sambil menunjukkan dua benda kecil yang ditemukannya di bawah wastafel.
Wajah Siska berubah menjadi kaget. Ia tak percaya jika benda yang ia sembunyikan malah ditemukan oleh Risa.
"Ini punya siapa Siska?" tanya Risa penuh penekanan. Wajahnya masih datar. "Apa ini yang membuat kamu beberapa hari ini selalu mengganggu saya di kamar mandi?" tanyanya menyelidik. Siska masih diam, gadis itu tak berani menatap wajah Risa. "Jawab saya Siska! Apa ini ada hubungannya dengan air seni saya yang sering kamu periksa?!" bentak Risa, membuat gadis di hadapannya terlonjak kaget.
Risa menarik nafas dan menghembuskannya kasar. "Baik. Kalau kamu tidak mau menjelaskannya ke saya tidak apa-apa. Tapi mulai detik ini, silahkan kamu kembali ke kost kamu. Silahkan pergi, karena saya sudah tidak membutuhkan kamu lagi," perintah Risa dingin.
Siska terhenyak dengan sikap Risa. Gadis itu tak menyangka jika diamnya akan membuat Risa marah. "Tunggu, Kak! Plis ... aku bisa jelaskan!" ujar Siska sambil mencoba menahan tangan Risa.
Risa menepiskan tangannya. Entah mengapa Ia merasa marah. Mengapa Siska harus menyembunyikan sesuatu, dan yang paling menyebalkan adalah sesuatu itu berkaitan dengan dirinya.
"Kak! Tolong berhenti, aku minta maaf. Aku akan menjelaskan semua, maafkan aku," ujar Siska terisak. Risa menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap gadis di hadapannya. amarahnya sirna, karena air mata gadis itu.
"Baiklah. Jelaskan padaku ...," ujar Risa pelan.
**
Saat ini mereka berkumpul di ruang tamu. Setelah rencananya gagal dan malah diketahui Risa, Siska menghubungi Akbar dan Fajar. Siska tahu Fajar adalah orang yang tepat untuk menjelaskan semuanya kepada Risa.
Risa memandang satu persatu sahabatnya dengan garang. Amarahnya kembali memuncak saat ia tahu Fajar dan Akbar yang berada di balik perbuatan konyol Siska.
Fajar merasa bersalah, Ia tahu semua kekacauan ini karena ulahnya. Siska pun menunduk tak berani mengangkat wajahnya. Sedang Akbar, Ia masih menunjukkan sikap tenangnya.
"Baiklah. Siapa yang akan menjelaskannya?" tanya Risa memecah keheningan. Fajar tampak ingin bicara, namun rupanya sudah didahului Akbar.
"Risa. Kak Akbar tahu kamu pasti marah dengan kejadian ini. Tapi Kakak minta kamu dengarkan penjelasan kami, dan ketahuilah bahwa yang kami lakukan adalah semata-mata karena kami mencemaskan dirimu. Kami menyayangimu," ujar Akbar lembut. Risa hanya diam.
"Maafkan Aku Risa. Seharusnya saat Angga menyarankanku untuk memberimu obat aku langsung memberikannya. Tapi aku malah lupa ...," sesal fajar.
Risa mengernyit heran. "Obat? Obat apa?" tanyanya.
"Obat pencegah kehamilan. Angga menyarankan padaku untuk memberikannya padamu jangan lewat dari tiga hari. Namun bodohnya aku melupakan semuanya. Aku yang saat itu kalut dengan keadaanmu lupa bahwa ba**ngan itu menumpahkan cairannya di dalam tubuhmu. Maafkan Aku Risa," ujar Fajar pelan. kedua tangannya mengepal menahan amarah mengingat kelalaiannya.
Risa memandang ke arah Fajar tak percaya. pikirannya masih mencerna ucapan Fajar. Lalu ingatannya kembali ke malam itu. Di tengah ketidakberdayaannya saat itu, Ia tahu Indra tidak menggunakan pengaman. Risa tercekat. Ia teringat benda kecil yang disembunyikan Siska.
"Lalu apakah Kau berpikir aku akan hamil? Itu sebabnya Siska diam-diam mencuri air seniku, untuk memeriksa apakah aku hamil atau tidak?" tanya Risa. Ia benar-benar tak percaya perbuatan konyol Siska hanya untuk memeriksa dirinya menggunakan testpack yang disembunyikan di kamar mandi.
"Lalu kenapa Kau baru melakukan ini sekarang, Jar?" tanya Risa. Kini wajahnya berubah sendu karena banyak pikiran-pikiran muncul di kepalanya.
Fajar merasakan kesedihan Risa. Ia tahu gadis itu pasti merasa bingung dengan semua kejadian ini. "Bunda melihatmu berubah, Risa,"-Risa menatap Fajar bingung-" Bagaimanapun, Bunda pernah menjalani proses itu. Saat Bunda melihatmu akhir-akhir ini yang menunjukkan tanda-tanda kehamilan seperti dirinya dulu membuat Bunda menyimpulkan hal itu, ...."
"Tentu jika hal buruk itu tidak terjadi padamu Aku akan menertawakan intuisi Bunda. Aku akan menganggap itu hanyalah tebakan konyol Bunda. Tapi Aku teringat jika Aku pernah lalai, Risa. Aku takut ... aku takut jika yang kutakutkan terjadi padamu," ucap Fajar.
"Jangan konyol. Tidak mungkin bukan, Aku langsung hamil dalam satu kali pembuahan," ujar Risa menahan semburat di pipi. Bagaimanapun ini bukan percakapan yang biasa Ia katakan.
"Kami akan sangat bahagia jika Kau memang tidak hamil Risa. Tapi bagaimanapun kemungkinan itu bisa terjadi. Dan kami semua cemas akan hal itu," ujar Akbar tenang.
"Untuk itu lakukanlah untuk Kami. Hilangkanlah perasaan cemas Kami," pinta Akbar. Pria itu memberikan sebuah testpack yang masih terbungkus pada Risa. Dengan ragu gadis itu melangkah menuju kamar mandi.
Siska, Fajar dan Akbar menunggu Risa dengan cemas. Bahkan Akbar yang biasanya paling tenang menghadapi persoalan apapun terlihat tak mampu menyembunyikan kekhawatirannya.
Ceklek ...!
Pintu kamar mandi terbuka. Semua mata tertuju pada sosok Risa yang keluar dari balik pintu. Gadis itu memegang benda kecil dengan gemetar.
"Ba-bagaimana ini?" ujarnya pelan.
Le\= berasal dari kata Tole, dipakai orang tua untuk memanggil (sayang) anak laki-laki (jawa).
lama gak muncul "!!
setelah aku stop baca di part 82, krn d rasa alur nya ga maju2.
akhirnya, hr ini tuntas baca 29 part dalam sehari, abis sampe tamat.
Terima kasih sdh berkarya, memberi hiburan buat kami.
tetap semangat melahirkan karya2 lg ya thor.
jangan kecil & patah semangat dengan kritik & saran.
aku kasih hadiah vote & bunga ya thor, biar terus semangat berkarya..
author tegaaaa...