Apakah waktu adalah dapat mengubah semuanya? Termasuk setiap kehidupan. Mungkin iya. Dan itulah yang dirasakan oleh gadis biasa yang terlempar ke dunia lain, dalam seketika dia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri.
Sebuah Negara yang amat besar harus terpecah belah menjadi dua sehingga memiliki latarbelakang yang sangat buruk.
Kehadiran gadis itu mungkin bukan main-main. Sehingga siapa saja dapat mengira bahwa gadis itu adalah 'Sebuah Ancaman'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langit Dan Bintang
Hiragi sangat penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan orang-orang di luar. Namun dia harus menahannya, dan menanyakan langsung pada Gorsa.
"Kondisi Utara makin memburuk? Itu sudah pasti tempat Gorsa." Batinnya.
Paman Daisi menghampiri Hiragi seperti kebingungan.
"Kau pasti sangat bingung dengan kondisi Utara." Ucap Paman Daisi tiba-tiba.
Pikirnya pasti saat ini Hiragi tengah pusing mendengarkan perihal tentang Utara, padahal Hiragi sama sekali tidak paham dan tidak mengerti keadaan itu. Saat ini memang banyak yang menjadi dekat dengan Hiragi, namun tidak ada yang tahu dari mana dia berasal, dan selalu beralasan bahwa Hiragi adalah teman jauh Harui.
Perasaan Hiragi makin tidak tenang dengan segala kebohongan. Dia melihat Biara dengan Bibi Mina sedang membicarakan hal yang menurutnya seru, tapi tidak dengan Hiragi gadis itu terlalu banyak pikiran yang dia pikul sendirian.
Pelayan satu-persatu pun mulai mengisi toko Paman Daisi, yang membuat Bi Mina mulai sibuk kembali, dan Biara pun memesan minuman untuk dirinya dan Hiragi.
Brak
Biara menggebrak meja dengan pelan karena melihat Hiragi tengah asik dengan lamunannya sendiri.
"Hiragi~ aku tahu kau mempunyai masalah, setidaknya beri tahu aku, memang seharusnya kebahagiaanlah yang dibagi bukan penderitaan, tapi untuk apa aku di sini jika kau ada masalah?"
Ucapan Biara terdegar jelas dan sedikit membuat hati Hiragi tenang, mungkin ada benarnya juga kalau dia tidak seharusnya merangkul semuanya sendirian jika dia memiliki Biara saat ini. setelah mendengar semua itu dari Biara, Hiragi sedikit lega dengan rasa kekhawatirannya.
"Biara aku-"
"Hiragi!"
...☄☄☄☄...
"Apa maksudmu?! Kenapa dia sampai terluka?!" Bentak Hiragi.
Gadis dengan rambut biru malam itu sedang buru-buru menuju kamar Harui, saat mendengar dari Gorsa bahwa Harui terluka saat pergi latihan.
《Sebelumnya.》
Gorsa memutuskan untuk pergi mencari keberadaan Hiragi.
"Mengapa aku baru menyadarinya! Astaga."
Saat sedang mencari Hiragi di sekeliling Kota, Gorsa tidak sengaja melihat ujung rambut seorang gadis yang berwarna biru gelap, di kota itu hanyalah Hiragi yang mempunyai rambut berwarna seperti itu.
Gorsa langsung menghampiri Hiragi dan mengatakan hal-hal di luar nalar, atau kebohongan.
《Di Tempat.》
Cklek!
Hiragi langsung bergegas menuju Harui yang masih terbaring, Hiragi begitu khawatir padanya, saat pagi pria ini sungguh dingin, dan saat pulang terluka. Hiragi mengenggam tangan Harui dengan lembut, tapi dipikiran Hiragi dia merasa Harui tidak terluka.
Harui membuka selimut Harui dengan cepat, sesuai prediksinya Harui tidak terluka sama sekali, namun pada wajahnya seperti memerah.
"Gorsa."
Hiragi memutuskan untuk keluar dari kamar Harui untuk menanyakan hal ini.
"Eh? Terkunci?" Ganggang pintu yang Hiragi pegang sama sekali tidak mau terbuka. "Gorsa! Biara Pama-" Ucapannya terputus. "Eh tidak Paman pasti sedang di Istana untuk mengatur acara festival nanti."
Hiragi sudah menggebrak pintu itu dengan kuat, tetapi dari aura-aura pintu ini seperti ada model sihir yang kuat, ingin merusak pintu itu tapi terlalu beresiko, dan menjadi teringat hal yang waktu itu.
Di sisi lain, Gorsa sedang berada di teras Mansion bersama Biara. Itu memang rencananya untuk mengunci Hiragi dan Harui. Jujur saja saat ini Biara juga seperti bingung apa yang Gorsa lakukan.
"Gorsa? Kenapa-"
"Kau tidak pernah menyadarinya?!" Bentak Gorsa dan membuat jantung Biara hampir lepas. Biara memang tidak mengetahui bahwa Gorsa adalah Putra Mahkota dari Negara bagian Utara, tapi Biara tahu kalau Gorsa berasal dari sana. "Aku dari awal memang curiga dengan sikap mereka berdua, dan sekarang terbukti." Ucap Gorsa yang berhasil membuat Biara tidak paham.
"Terbukti?"
Gorsa menjelaskan pada Biara, tingkah laku Harui pada Biara tentu saja semua itu ada sangkut pautnya dengan Hiragi. Biara terkejut dengan ucapan Gorsa, jika di pertimbangkan lagi dan lagi, Harui memang tampak aneh saat kejadian malam kemarin. Sebenarnya ini juga salah satu penjelasan tentang kemarin malam, Gorsa yakin disaat seperti itu Hiragi akan menjelaskannya pada Harui.
"Terus kenapa kau harus menggertakku!?" Batin Biara.
Saat ini posisi Gorsa sama dengan Biara. Di sisi ini Hiragi pasti menaruh perasaan pada. Harui begitu juga sebaliknya pada Gorsa mengenai Harui. Kedua orang itu berfikir masing-masing cukup keras.
"Mungkin memang seharusnya kita lakukan sesuatu." Ucap Gorsa dan Biara bersamaan.
Di kamar. Hiragi masih memperhatikan Harui yang masih tertidur.
"Harui, kalau dilihat lebih jelas, kau ini tampan juga ya, pantas saja, gadis-gadis Kota sangat tergila-gila padamu." Ucap Hiragi sendirian memecah keheningan sambil mengambil posisi duduk tepat di sebelah Harui.
Hiragi terus memandang wajah putih tirus Harui dengan cermat. Kini rambut Harui semakin hari semakin panjang, poni-poninya pun sangat panjang. Hiragi mengangkat tangannya dan menyingkirkan poni Harui yang hampir menutupi seluruh wajahnya.
Rambut hitam bulu mata tipis dan lumayan lentik, entah mengapa Hiragi merasa sangat nyaman jika berada di sisi pria ini jika dia banyak terdiam.
Harui membuka matanya dan pertama dia tatap adalah kedua mata biru Hiragi yang sedang menghadapinya saat tertidur.
"Kau!-"
Duagh!
Kepala mereka saling berhantupan, dan masing-masing memegang kening sendiri.
"Ha-Rui! Jangan bangun secara tiba-tiba!" Ucap Hiragi sambil mengelus pelan keningnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Ucap Harui dengan nada yang sedikit tinggi, Hiragi yang mendengarnya pun ikut panas.
"Apa maksudmu?! Apa tidak boleh memasuki kamarmu tanpa izin? Kau saja saat memasuki kamarku begitu santai." Jawab Hiragi tak kalah tinggi.
"Hah?" Harui langsung beranjak dari kasurnya menuju Hiragi yang sedang berdiri di balkon kamar Harui, lantai tiga.
"Ini kamarku Hiragi, Mansionku."
"Terus apa? Kau ingin menagih hutangku."Balas Hiragi. Dan di detik, di waktu ini mereka terus beradu mulut tiada henti. "Aku mendengar dari Gorsa bahwa kau terluka saat latihan, jadi aku pulang lebih awal dan langsung menuju Mansion, untuk melihat keadaanmu!" Hiragi menjelaskan sedetil-detilnya, Harui sedikit senang dan gembira disaat Hiragi mengkhawatirkannya.
Harui langsung terduduk di kasur lalu kembali
merenungkan kembali, hal-hal yang harusnya tidak dia ingat saat bersama Hiragi. Gadis itu sedang menatapi langit luar yang hampir malam, dan tersadar akan sesuatu pada saat malam itu bersama Gorsa. Hiragi langsung berjalan menuju Harui yang sedang terduduk.
"Harui yang kemarin malam it-"
"Aku tidak memikirkannya, keluarlah." Ucap dingin singkat dari Harui
Entah mengapa Hiragi merasa sangat bersalah pada Harui, padahal jika di pandang orang biasa itu hanyalah hal sepele dan tidak ada hubungannya dengan Harui, tapi kenapa Hiragi tetap menceritakannya pada Harui.
"Kau salah paham." Ucap lembut Hiragi dengan hembusan nafas panjang, seperti keluhan.
"Aku penasaran dengan Gorsa, bahwa dia mengetahui identitas asliku, jadi aku memutuskan untuk langsung beranjak dari kamarku menuju kamar Gorsa, tanpa pikir panjang, tapi mungkin keadaan sedang tidak mendukung, selimut Gorsa yang tergeletak membuatku terjatuh, dan yaaah seperti itu."
Harui terkekeh pelan, dan pikirannya seperti kembali normal, Harui memandang gadis itu yang membelakanginya sambil menatap langit luar. Dengan rambut sangat panjangnya itu, Harui saat ini merasa terkesipu dengan penampilan Hiragi. Terbesit di hatinya bahwa memang benar, tidak ada yang beres dengan perasaannya.
Mungkin jika bulan mengambil Bintang untuk membuatnya lebih terang, langit tidak akan pernah menyerahkannya dan tetap membuat Bintang menjadi hiasan dirinya. Begitu pula dengan Hiragi, saat ini Harui merasa tidak akan pernah menyerahkan gadis ini pada siapapun.
"Harui acara-"
"Hiragi, apa kau pernah sekali tidak membenciku?"
Pertanyaan yang dilontarkan Harui membuat Hiragi terdiam, dia tidak memahami perkataan Harui namun entah mengapa, pertanyaan itu membuat Hiragi tidak tenang.
"Eh-A-Aku"
"Bodoh, gadis seperti dirimu memang mudah dibodohi!"
Craak!~
Harapan yang mulai terukir dalam diri Hiragi patah begitu saja.
"Ha-Rui bodoh!" Hiragi melempar bantal tepat di wajah Harui.
"Manusia Jadi-Jadian seperti dirimu itu sangat menjengkelkan, entah mengapa para gadis selalu menatapi dirimu sebagai pria baik." Tukas Hiragi dengan ocehan panjang lebarnya.
"Heh, tapi itu membuktikan, bahwa diriku terkenal dikalangan wanita." Balas Harui dengan santai.
"Kurasa ada yang tidak beres dipikiran mereka, karena Tuan Muda Harui Mahiru, itu sangat bodoh, keras kepala, ceroboh!"
Harui mengerutkan dahinya, dan disaat bertepatan Hiragi melompat mundur melewati jendela. Harui langsung merebahkan dirinya ke atas ranjang dan tidak ada henti-hentinya tersenyum.
"Belum saatnya Tuan Muda Harui." Batin Harui dengan senyuman di kedua pipinya.
...☄☄☄☄...
Malam pun berlalu. Saat pagi ini semua orang masih tertidur, termasuk Erthan. Orang itu sungguh lelah, karena sedang mengurus acara festival yang akan diadakan besok malam di Kota Obelia. Hiragi masih menggunakan pakaian biasa dipagi ini. Karena sudah terlalu sering baginya terbangun lebih awal.
Hiragi pun membuka pintu besar Mansion agar udara dapat masuk, dan dia melihat pria berambut cokelat sedang bersantai dengan roti di tangannya.
"Gorsa?"
Moga komen ma like nya tersampaikan okey, yaa walau cuma 'Abc' ma 'Xyz'😆😆
Knp sad ending????