NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:708
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: KAMAR YANG KEMBALI TERKUNCI

Bab 33: Kamar yang Kembali Terkunci

Sinar matahari sore yang mulai meredup menyelinap masuk melalui celah-celah ventilasi rumah keluarga Dirgantara, memproyeksikan bayangan jeruji besi jendela yang panjang dan kaku di atas lantai lorong tengah. Suasana rumah benar-benar sunyi, jenis kesunyian yang mencekam dan membuat telinga berdengung. Di lorong yang sempit itu, Revan masih berdiri mematung di depan wastafel dapur. Kedua telapak tangannya yang basah demi membasuh sisa tanah makam kini terasa dingin, sedingin hatinya yang kembali diselimuti oleh kabut salah paham yang teramat tebal.

Klek. Sreeet...

Suara langkah kaki yang terseret lambat memecah keheningan koridor. Revan menolehkan kepalanya sedikit, melirik tajam dari sudut mata. Di sana, Miko tampak baru saja keluar dari area kamar depan dengan wajah yang dipenuhi rona kelelahan yang masif. Sahabatnya itu mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya di dinding pembatas lorong, tepat di hadapan Revan.

"Udah tidur dia?" tanya Revan dengan nada suara yang sangat datar, hampir tanpa emosi.

Miko mendongak, menatap Revan dengan pandangan mata yang sarat akan rasa frustrasi. "Kondisi Abang lo bener-bener drop, Van. Badannya dingin banget kayak es, mukanya pucat, dan dari tadi dia terus-terusan megangin perutnya sambil nahan napas. Tadi pas gue baringin di kasur, dia langsung minta gue keluar karena dia mau istirahat sendiri." Miko menjeda kalimatnya, menatap Revan lebih dalam. "Dan begitu gue melangkah keluar... dia langsung ngunci pintunya dari dalam."

Mendengar kata 'mengunci pintu', sebuah senyuman sinis yang teramat dingin mendadak terukir di sudut bibir Revan. Sepasang rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di sekitar lehernya menegang kaku. Filter kebencian di dalam kepalanya langsung bekerja cepat, memutarbalikkan fakta biologis yang dialami Arka menjadi sebuah skenario kelicikan di dalam otaknya.

Dikunci lagi... batin Revan berbisik dengan sangat kejam. Skenario lama yang selalu berhasil. Dulu, setiap kali ada masalah atau tiap kali gua dapet masalah di sekolah, dia selalu ngunci diri di kamar biar Ibu sama Ayah dateng buat ngebujuk dan manjain dia. Dan sekarang, di hari kematian Ayah, saat semua orang tahu Ayah kolaps karena stres memikirkan masa depan dan ambisinya... dia kembali make trik murahan yang sama. Dia ngunci diri bukan karena sakit, tapi karena dia pengecut! Dia takut gua salahin, dia takut ngeliat muka gua, dan dia sengaja kabur dari tanggung jawab batin ini dengan cara bersembunyi di balik pintu kayu itu!

"Van, lo jangan natap pintu kamar Abang lo kayak gitu," tegur Miko yang mulai menangkap kilatan amarah yang berbahaya di sepasang netra Revan. "Arka itu lagi berduka, dia syok karena kehilangan Om Dirga. Fisik dia emang gak sekuat lo, Van. Lo harusnya bisa lebih ngertiin—"

"Ngertiin apa, Mik?!" Potong Revan cepat, suaranya naik satu oktav, bergaung kasar menembus keheningan koridor rumah. Cowok itu membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Miko, menatap sahabatnya dengan pandangan penuh tuntutan. "Lo gak tahu apa-apa soal apa yang terjadi di dalam rumah ini selama belasan tahun, jadi mending lo diem! Dia ngunci diri di sana bukan karena berduka, Mik. Dia itu cuma takut! Dia tahu kalau Ayah meninggal itu karena ulah dia yang egois, yang selalu nuntut ini-itu, yang selalu minta dilayanin kayak raja! Dia sengaja pasang tampang lemes dan pingsan di kuburan tadi murni buat nyari simpati orang-orang, biar gak ada yang nyalahin dia atas kematian Ayah!"

"Revan! Jaga mulut lo!" Miko menyentak keras, wajahnya memerah menahan amarah yang luar biasa. Jemari tangan Miko mencengkeram erat kaosnya sendiri, menahan sekuat tenaga sebuah kebenaran besar yang nyaris saja lolos dari bibirnya. Miko ingin sekali berteriak di depan wajah Revan, memberi tahu cowok bodoh itu bahwa kakaknya sedang bertaruh nyawa melawan gagal ginjal stadium akhir, dan uang yang dipakai Revan untuk bersenang-senang di bengkel adalah hasil perasan darah Ayah mereka sendiri. Namun, bayangan wajah mendiang Om Dirga yang memohon di atas ranjang klinik tempo hari membuat Miko terpaksa menelan kembali seluruh kalimat itu hingga dadanya terasa sesak berdarah.

"Gue gak bakal jaga mulut gue di rumah gue sendiri, Mik!" Balas Revan tak kalah sengit. Ia melangkah maju, melewati Miko dengan kasar hingga bahu mereka bertabrakan.

Revan berjalan lurus menuju ke depan pintu kamar Arka yang tertutup rapat. Ia berdiri di sana, menatap gagang pintu kuningan yang terkunci dari dalam dengan dada yang naik-turun memburu akibat gelombang emosi yang meledak-ledak. Revan mengangkat tangan kanannya, lalu menghantam pintu kayu tebal itu menggunakan kepalan tangannya dengan sangat keras.

BRAAAK! BRAAAK!

"Arka! Keluar lo!" Teriak Revan histeris, suaranya pecah berantakan di depan pintu. "Gak usah lo sok-sokan ngunci diri di dalem! Lo pikir dengan cara kayak begini rasa bersalah lo bisa ilang?! Lo pikir Ayah bisa hidup lagi kalau lo ngurung diri di kamar sambil pasang tampang sok tersakiti kayak gitu, hah?! Keluar lo, pengecut!!"

BRAAAK!

Revan kembali menendang bagian bawah pintu dengan sepasang sandalnya, membuat seluruh struktur pintu kayu itu bergetar hebat. "Keluar, Arka! Hadapin gue! Lo yang bikin Ayah stres! Lo yang selalu ngabisin tabungan Ayah buat ambisi-ambisi sialan lo itu! Kenapa sekarang lo malah sembunyi?! Mana Arka yang katanya anak emas kesayangan Ayah?! Keluar lo!!"

Di dalam kamar yang gelap dan pengap, Arka sedang berbaring meringkuk di atas kasur tipisnya tanpa seprei. Suara gedoran brutal dan makian penuh kebencian dari Revan di luar sana terdengar begitu jelas, menghantam gendang telinganya, lalu menembus langsung ke dalam ulu hatinya yang paling dalam. Setiap kata 'pengecut' dan 'pembunuh' yang diteriakkan adiknya terasa seperti siraman air raksa yang membakar seluruh sisa-sisa batinnya hingga hancur tak berwujud.

Namun, Arka tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk sekadar membalas ucapan Revan atau bangkit dari kasurnya.

Kondisi tubuh anak sulung itu saat ini benar-benar berada di fase kritis akibat absennya proses cuci darah yang seharusnya ia jalani kemarin. Racun ureum di dalam darahnya sudah menyebar luas secara biologis, menyerang sistem pencernaan dan paru-parunya. Arka mencengkeram perut bagian bawahnya dengan teramat sangat erat, kedua matanya terpejam rapat menahan rasa mual yang luar biasa dahsyat. Keringat dingin berukuran besar terus mengucur deras dari dahi dan pelipisnya, membasahi bantal kainnya yang sudah kusam.

"Uhuk... ugh..." Arka terbatuk kecil, buru-buru membekap mulutnya sendiri menggunakan selembar sapu tangan kumal agar suara batuknya tidak terdengar sampai ke luar kamar.

Saat ia menjauhkan sapu tangan itu di bawah temaram lampu kamar yang redup, Arka bisa melihat noda cairan pekat berwarna merah gelap melekat di atas kain tersebut. Napasnya kian pendek-pendek dan terasa sangat mencekik di tenggorokan. Rasa sakit yang teramat luar biasa di pinggang belakangnya seolah sedang mematahkan tulang rusuknya satu demi satu.

Tetesan air mata duka dan rasa sakit fisik mengalir melewati sudut mata Arka, jatuh membasahi pipinya yang kian tirus dan cekung.

Maafin Abang, Revan... bisik Arka di dalam hatinya yang remuk. Abang gak bermaksud buat ngunci pintu ini untuk hindarin kamu... Abang cuma gak mau kamu liat kondisi Abang yang menjijikkan kayak gini... Abang gak mau bikin kamu makin benci sama Abang... Maafin Abang yang udah bikin Ayah pergi...

Di luar kamar, Miko langsung berlari maju dan merangkul tubuh Revan dari belakang, menarik cowok itu menjauh dari pintu kamar Arka sebelum keadaan makin runyam. "Cukup, Van! Cukup! Sadar, lo! Ibu lagi istirahat di kamar sebelah, lo mau bikin Ibu makin hancur dengan denger lo ngamuk-ngamuk kayak kesurupan begini?!" Bentak Miko sembari menyeret tubuh Revan yang terus memberontak ke arah ruang tamu.

Mendengar kata 'Ibu', gerakan tubuh Revan mendadak terhenti kaku. Amarahnya yang meledak-ledak seolah mendadak disiram oleh air es yang membekukan seluruh sendinya. Memori tentang tatapan mata Ibu yang sedingin es batu di depan jasad Ayah tadi subuh kembali berputar di kepalanya, memberikan rasa ngeri yang teramat sangat dalam di hatinya.

Revan melepaskan cengkeraman tangan Miko dari jaketnya dengan sentakan kasar. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela ruang tamu, menatap hamparan langit sore yang perlahan berganti menjadi hitam pekat.

"Gue benci rumah ini, Mik," bisik Revan parau, nadanya kini melunak namun menyisakan sebuah kekecewaan dan dendam yang teramat pekat. "Gue benci fakta kalau di rumah ini, gua selalu jadi pihak yang disalahin, sedangkan si pengecut itu selalu aman di balik pintu yang terkunci. Ayah udah gak ada... dan rumah ini... bener-bener udah mati buat gue."

Miko hanya bisa berdiri diam di samping sahabatnya, menatap Revan dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa bersalah yang teramat mendalam karena ia terpaksa harus terus ikut andil dalam menyembunyikan skenario rahasia maut ini dari Revanza. Malam pun resmi jatuh, membungkus rumah keluarga Dirgantara ke dalam atmosfer duka, salah paham, dan keretakan hubungan persaudaraan yang kian hari kian mustahil untuk disembuhkan kembali.

Bersambung....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
knp gak kasih tau aja sih
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!