NovelToon NovelToon
Moonlight Over The Mafia Empire

Moonlight Over The Mafia Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Konflik etika
Popularitas:67.6k
Nilai: 5
Nama Author: Alistia Haka

Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.

Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.

Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.

Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 29

Pada detik itulah, Aurora akhirnya menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan. Pria di hadapannya ini telah merancang segalanya dengan sangat rapi dan sistematis. Ketepatan rencananya terasa begitu akurat hingga membuat bulu kuduk meremang.

Semua ini adalah jebakan yang terstruktur:

Pertama, Aragon sengaja mengulurkan bantuan untuk membebaskan panti asuhan dari cengkeraman geng Bulldog, memosisikan dirinya sebagai penyelamat di mata Aurora.

Kedua, dengan sengaja ia membocorkan rahasia gelapnya kepada Aurora. Membuarkan Aurora menikmati setiap pembicaraan dengan Aragon. Itu bukan kecerobohan, melainkan umpan agar ia memiliki alasan personal untuk mengancam akan melenyapkan Aurora jika gadis itu mencoba berkhianat atau menolak tawaran.

Ketiga, saat menyadari bahwa ancaman pembunuhan dan intimidasi fisik yang intim tetap gagal meruntuhkan prinsip kebebasan Aurora, Aragon langsung mengeluarkan kartu as yang paling mematikan.

Keempat, menjadikan anak-anak panti dan para suster sebagai sandera. Penempatan mereka di hotel mewah miliknya bukanlah fasilitas cuma-cuma, melainkan cara paling halus untuk mengurung seluruh kelemahan Aurora di bawah pengawasannya selama Aurora belum memberikan jawaban yang Aragon inginkan.

Aurora menarik napas panjang yang terasa menyiksa dadanya. Air matanya kembali menetes perlahan, membasahi permukaan kertas putih di hadapannya saat ujung pena itu mulai menggoreskan tinta hitam, meresmikan penyerahan seluruh hidup dan rahimnya kepada sang iblis berwajah rupawan.

Tangan Aurora gemetar hebat saat menorehkan tanda tangan di lembar terakhir. Garis tinta hitam itu tampak begitu sederhana, namun baginya, setiap goresannya terasa seperti rantai kasat mata yang baru saja mengunci rapat masa depannya.

Begitu pena terlepas dari jemarinya, keheningan instan langsung menyergap ruangan. Aurora buru-buru menundukkan kepala. Ia menolak keras memperlihatkan wajahnya saat itu, tak sudi membiarkan Aragon menyaksikan seberapa hancur dirinya akibat keputusan yang terpaksa ia ambil.

Di sisi lain, Aragon yang masih berdiri mengambil dokumen tersebut dengan tenang. Tidak ada sorak kemenangan, pun tidak ada senyum puas yang berlebihan.

Justru sikap datarnya yang dingin itulah yang membuat bulu kuduk Aurora meremang. Pria itu bertingkah seolah-olah sejak awal ia sudah tahu bahwa hasil akhirnya akan selalu seperti ini.

“Bagus,” ucap Aragon singkat setelah memeriksa keabsahan tanda tangan itu.

Aurora hanya bisa menggenggam kedua tangannya erat-erat di atas pangkuan, mencoba meredam gemetar yang tak kunjung usai.

“Kembalilah ke kamarmu, Hank akan mengantarmu," lanjut Aragon, memutus keheningan. "Besok pagi-pagi sekali kau akan ikut bersamaku. Bersiaplah untuk menjadi istriku.”

Tanpa tambahan kalimat apapun lagi untuk Aurora, Aragon hanya memberikan isyarat dagu yang dingin kepada tangan kanannya. Perintah bisu itu langsung dipahami. Hank melangkah maju, memosisikan diri untuk mengantar Aurora keluar.

Ekspresi datar tak terbaca di wajah tampan Aragon justru menyulut rasa kesal yang bercampur dengan keputusasaan di dada Aurora.

Rasanya sungguh ironis; baru beberapa menit lalu ia merasa memiliki kendali atas kebebasannya, namun kini, Aragon dengan begitu mudah memamerkan kekuasaan mutlaknya, merenggut seluruh harga diri Aurora hingga tak bersisa.

Hank mengawal Aurora kembali ke kamarnya dalam keheningan yang mencekam.

Sementara itu, di dalam ruang kerja yang luas, Aragon tetap bergeming. Ia berdiri membelakangi ruangan, menatap hamparan lampu kota yang berpendar seperti butiran permata dari balik jendela kaca yang menjulang tinggi.

Di tangan kanannya, ia menggenggam lembaran dokumen kontrak yang baru saja merenggut hidup Aurora. Tangan kirinya mengangkat gelas kristal berisi wiski, menyesap cairan pekat itu perlahan, membiarkan rasa hangatnya membakar tenggorokan.

Tak lama setelah menyelesaikan tugasnya, Hank kembali memasuki ruangan. Langkah kakinya berat. Wajah pria tampan itu tampak jauh lebih serius dari biasanya, bahkan gurat keresahan yang jarang ia tunjukkan kini tercetak jelas di keningnya.

“Haruskah sampai sejauh ini, Tuan?” tanya Hank akhirnya, memecah keheningan yang dingin.

“Harus,” jawab Aragon singkat. Suaranya datar, tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari panorama malam di luar jendela.

“Tapi… metode ini terlalu berisiko bagi Nona Aurora. Anda mengikatnya dengan paksaan.”

“Justru harus ku ikat lebih dulu dan segera. Aku tidak ingin kehilangan dia.” Aragon menelan ludahnya, jakunnya bergerak naik dan turun.

“Ini cara paling efisien, Hank,” potong Aragon dingin. "Sekali dayung, dua atau tiga pulau terlampaui. Kau tahu betul… Dalam dunia mafia, tidak ada ruang untuk negosiasi dan bertele-tele."

Hank terdiam sejenak. Ia meremas kedua tangannya sendiri, menimbang-nimbang sebelum akhirnya memberanikan diri mengutarakan keraguan terbesar yang mengusik pikirannya.

“Tapi, apakah Anda benar-benar yakin? Bahwa Nona Aurora adalah putri yang hilang itu? Bagaimana jika kita salah orang?”

Kali ini, Aragon berhenti, gelas yang hampir sampai tepat di depan bibirnya turun kembali, lalu ia memutar gelas kristal di tangannya perlahan, memperhatikan bagaimana cairan amber di dalamnya bergoyang mengikuti ritme jemarinya.

“Sejak pertama kali mataku menangkap siluet kalung yang dikenakannya, aku tidak pernah ragu,” desis Aragon. “Gadis itu datang ke perusahaanku, dan berdiri di depan mobilku, tanpa tahu apa-apa tentang kalung yang ia kenakan.”

Tatapan Aragon mendalam, menembus kaca jendela seolah sedang melihat masa lalu. “Kalung berbentuk bulan sabit dengan ukiran kuno dan permata di tengahnya, Kalung itu adalah kunci sakral milik keluarga Moonlight. Tidak ada tiruan yang bisa menyamai keasliannya.”

Aragon menjeda kalimatnya, kilat licik melintas di netra gelapnya.

“Selain itu, gadis itu adalah satu-satunya kartu as yang paling efektif untuk membujuk Kakek. Dia mengenal Aurora.” Kata Aragon. ”Saat pertama kali melihat gadis itu, aku cukup familier dengan wajahnya, ternyata dia orangnya.”

Aragon mendengus pelan, sebuah senyum sinis yang sarat akan kepahitan terukir di sudut bibirnya saat ia mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan. Aragon selalu di usir oleh kakeknya saat ia datang berkunjung, sedangkan kakeknya selalu menatap foto seorang gadis secara sembunyi-sembunyi.

“Kau tahu sendiri bagaimana keras kepalanya pria tua itu. Aku hanya ingin dia segera mengemas barang-barangnya dan meninggalkan tempat sialan itu. Bagiku, rumah kumuh itu tak lebih dari tempat terkutuk yang dipenuhi kenangan busuk.”

Suara Aragon merosot turun beberapa oktav, bertransformasi menjadi desisan yang jauh lebih dingin dan menusuk.

“Meskipun aku dibesarkan di sana… meskipun aku diasuh dengan belas kasihan oleh pria yang bahkan tidak memiliki setetes pun darah yang sama denganku… aku tetap membenci setiap jengkal tanah di tempat itu, karena tempat itu mengingatkanku pada dua orang biadab yang telah membuangku.”

Rahang Aragon mengeras sempurna, menciptakan garis tegas yang menyeramkan di wajah rupawannya.

Genggaman tangannya pada gelas wiski semakin kuat, meremas kristal mahal itu begitu pekat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar menahan letupan emosi.

“Aku sudah muak melihatnya bertahan di sana, hidup menderita dan menolak semua fasilitas dariku, seolah-olah rumah bobrok itu masih layak disebut sebagai tempat pulang.”

Bersambung

1
Luna.aluna
ARAGON AKU SUDAH MEMBERIMU HATI SEBANYAK MUNGKIN TOLONG JANGAN KECEWAKAN AKU😂😍
Luna.aluna
Iya mas zaya tahu saya tahu
Luna.aluna
Tukeran dah Aurora aku jadi kamu ☺️☺️☺️
Rainn G.
Kenapa ga dari tadi kata si hank 😭
Lanjut kak jangan di gantung
Rainn G.
Habis bulldog terbitlah aragon 😭 tapi ya mending aragon sih kemana-mana 😂
Rainn G.
😭🤣
Rainn G.
Rese emang kaya tuannya 11 12🗿🏃‍♀️‍➡️
Rainn G.
Omagatttt
Arumi Hanza
Aragon kayak lagi di wawancara 😄
Arumi Hanza
Cepat thor bikin aurora setuju
bvdy13
upp
bvdy13
next
pasya2007
lnjut
ifran 024
next yg banyak thoorr
ifran 024
seruuu
Aswatadhi
lnjut
Aswatadhi
cm aurora yg brani mendellik
luthz700
ditunggu kelanjutan bab baru
luthz700
lanjut update lagi
sugi ajah
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!