“Gue ngelakuin itu tanpa ada rasa ke lo, Na.”
Hidup Alana yang sempurna berubah drastis ketika dia hamil anak mantan kakak kelasnya, Rayyan.
Mimpi Alana sudah di depan mata yaitu untuk kuliah di Seoul National University. Sedangkan Rayyan, laki-laki itu punya pacar yang sangat dicintai. Tapi bagaimana dengan bayi dalam rahim Alana?
Update hari jumat, sabtu, dan minggu!
Happy Reading, Guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Pekerjaan Pertama
Pagi-pagi sekali, Rayyan sudah pergi dari rumah. Hari ini Rayyan akan pergi ke perusahaan teman ayah Niko untuk melakukan wawancara kerja. Saat Alana bangun, Rayyan sudah tidak ada di rumah.
Alana mengedarkan pandangan ke sekeliling kemudian menghela napas pelan. Alana benar-benar tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Alana duduk di sofa, menyandarkan punggungnya. Alana menghidupkan televisi, mengganti beberapa channel, tapi tidak ada yang menarik perhatiannya. Alana meletakkan remote televisi, membiarkan televisi itu menyala, menayangkan apapun.
“Apa gue keluar jalan-jalan?”
Alana segera menggelengkan kepala, menepis pemikiran itu.
Karena bosan, Alana berinisiatif membersihkan rumah. Sudah beberapa hari rumah itu tidak dibersihkan. Alana mengambil peralatan yang dibutuhkan, kemudian mulai membersihkan rumah. Berkali-kali, Alana bersin saat debu berterbangan ke hidungnya.
Hampir 2 jam, Alana baru selesai membersihkan rumah yang tidak luas itu. Wajar saja, Alana tidak pernah membersihkan rumah sebelumnya. Bahkan di rumah, Alana saja tidak pernah membersihkan tempat tidurnya sendiri. Semua Mbak Wati yang melakukan. Karena itu juga, sekarang tangan Alana terasa kering, panas, dan merah. Beberapa kukunya juga patah.
“Segini doang capek banget,” gumam Alana.
Alana mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya. Kemudian, menaikkan suhu AC. Alana mengambil ponselnya. Dia menelpon Dinar. Sudah lama mereka tidak bertukar kabar.
“Lanaaa!!!” seru Dinar saat panggilan itu tersambung.
Alana tertawa pelan. “Bahagia banget lo.”
“Iya lah. Akhirnya temen gue ini hubungi gue juga. Gue pikir udah lupa, kan udah punya suami.” kelakar Dinar.
“Yakali, Din.”
“Lo sama Rayyan gimana sekarang?”
“Biasa aja.”
“Tapi dia gak jahatin lo kan?”
“Enggak sih. Malah sekarang gue tinggal berdua sama dia.”
“Eh kok… lo udah beneran suka sama Rayyan.”
“Enggak lah, Din.”
“Gak papa juga sih kalo lo suka sama dia. Kan udah halal.”
“Yakali.”
“Atau jangan-jangan udah di-unboxing lagi.”
“Diinnn.”
“Ahahaha… canda canda. Iya pun gak papa lagi. Malah udah kewajiban gak sih?”
“Gak suka ih, lo bahas gitu. Eh, lo gimana disana? Udah mulai kuliah.”
Terdengar suara tawa pelan Dinar. “Belum masih bulan depan.”
“Enak banget sih, bisa kuliah,” gumam Alana pelan yang masih dapat didengar oleh Dinar.
“Naa-
“Iya, gue tahu kok. Gue yang milih ini. Tapi tetep aja, Din, rasanya gue masih aja gak rela.”
Dinar hanya bisa diam mendengarkan Alana.
“Meskipun gitu, gue harus relain kan. Berat sih, tapi gue akan berusaha buat ikhlasin mimpi-mimpi gue.”
“Na, are you okay? Perlu gue kesana sekarang?”
Alana tertawa pelan. “Yakali, Din. Gak usah, gue gak papa kok.”
Alana dan Dinar kembali mengobrol ringan, membicarakan banyak hal. Untung saja Dinar tidak sibuk, jadi bisa menemani Alana walaupun hanya melalui video call.
Sore hari Alana memutuskan untuk keluar. Dia ingin membeli makan di warung makan dekat rumah. Sebelum keluar, Alana memakai hoodie dengan kepala yang tertutup tudung hoodie dan juga masker hitam.
Alana keluar, menaiki lift turun, kemudian keluar dari apartemen. Alana berjalan menyusuri trotoar menuju warung makan yang terletak tidak jauh dari apartemen.
Alana menoleh saat ada beberapa motor yang melaju di sampingnya. Pengendaranya memakai seragam putih abu-abu sambil tertawa-tawa. Alana menatap nanar punggung mereka yang perlahan menjauh, lalu hilang ditelan kerumunan pengguna jalan lain.
Alana ingin kembali seperti itu lagi.
Alana menghela napas pelan.
“Usah gak usah nyesel, lo yang milih pertahanin adek bayi,” ucap Alana menenangkan dirinya sendiri.
Alana kembali melanjutkan perjalanan menuju warung makan. Alana membeli beberapa menu untuk makan malam. Sambil menunggu pesanan, Alana duduk di kursi plastik yang disediakan di sana.
“Itu Lana bukan si?”
Alana menoleh ke samping. Ada dua perempuan yang sedang membicarakannya. Alana mengenalnya, mereka teman SMA Alana. Mereka sedang lewat dan berhenti karena melihat Alana. Alana mengalihkan pandangan. Menarik tudung hoodie hingga menutupi seluruh kepalanya.
“Ngaco lo. Mana mungkin Lana di sini.”
“Tapi mirip banget.”
“Paling mirip aja. Gak mungkin itu Lana, semua orang juga tahu dia ada di Korea sekarang.”
“Tapi-
“Udahlah. Ayo ih!”
Kedua perempuan itu berlalu meninggalkan Alana. Alana menghela napas lega. Untung saja mereka tidak curiga lebih dalam lagi pada Alana.
...***...
Hari ini Rayyan mulai bekerja. Cowok itu magang di sebuah perusahaan dengan sistem kerja remote. Rayyan juga tetap masuk ke kelas.
Peraturan di kampusnya hanya mengizinkan mahasiswa bolos dua kali per mata kuliah dan Rayyan sudah membolos satu kali. Jika lebih maka Rayyan tidak dapat mengikuti ujian. Oleh karena itu, Rayyan tetap masuk.
Meskipun di dalam kelas Rayyan tidak memperhatikan materi, dia sibuk dengan laptop untuk mengerjakan pekerjaan barunya, tugas pertama yang dia dapatkan. Sedangkan di samping, Jeri sudah terlelap tidur sejak tadi. Hingga kelas selesai, Rayyan masih sibuk dengan laptop itu sedangkan Jeri masih terlelap dalam tidurnya tanpa terganggu suara-suara di sekitar mereka.
“Argh!”
Rayyan menoleh ke samping saat cowok di sebelahnya merutuk kesal. Wajahnya terlihat bingung dan frustasi. Dia mengacak rambutnya kasar.
“Kenapa lo?” tanya Rayyan.
Cowok itu, Dika menoleh. “Pusing gue! Gue sama Riko hari ini ada kerjaan, tapi dianya gak bisa. Gak ada yang gantiin lagi! Ini gue gimana?!”
“Kerjaan apa?”
“Fotografer acara ultah anak sma gitu.”
Rayyan hanya manggut-manggut. Dika menghela napas pelan, sambil berpikir. Kemudian cowok itu membelalakkan matanya dan menoleh pada Rayyan.
“Ray, lo bisa fotografi kan?”
“Iya.”
“Plis bantuin gue! Ya? Gantiin kampret satu itu!”
“Ha?”
“Tolonglah bantuin gue. Gue gak bisa sendiri. Lumayan loh fee nya, cuma projek bentar doang, acaranya nanti sore. Ya?”
“Fee?”
“Iya.”
Rayyan mengalihkan pandangan, berpikir. Dia menoleh pada laptop di depannya, kerjaan pertamanya belum selesai. Tapi deadline-nya masih nanti malam. Gak papa kali ambil proyek itu, lumayan kan hasilnya bisa untuk tambah-tambah penghasilan.
Rayyan menoleh kembali pada Dika yang masih menunggu jawabannya.
“Okei, gue gantiin.”
“Thanks, broo!!”
Hari ini adalah hari yang cukup sibuk bagi Rayyan. Sepulang kuliah, dia mengerjakan pekerjaannya di tempat magang, lalu sore hari pergi ke acara ulang tahun sampai jam 10 malam, dilanjut lagi mengerjakan pekerjaan dan mengedit foto sampai larut malam. Cowok itu bahkan sampai diejek teman-teman kampretnya itu karena tidak ikut nongkrong lagi.
Rayyan baru sampai di rumah pukul 2 malam setelah semua pekerjaannya selesai.
Rayyan membuka pintu rumah, menguap lebar. Rayyan benar-benar capek dan mengantuk. Dia berjalan pelan masuk. Di sofa terlihat Alana yang sudah tertidur pulas dengan lampu dan televisi yang masih menyala, entah sejak kapan. Rayyan mematikan televisi itu, kemudian mendekati Alana, menepuk pelan lengannya.
“Na, bangun, Na. Ayo pindah ke kamar.”
Alana hanya melenguh sambil menggeliat pelan. Mengubah posisi yang tadinya miring menjadi terlentang.
“Na.”
Tidak ada jawaban lagi dari Alana. Perempuan itu sudah tidur nyenyak. Rayyan menghela napas pelan.
Rayyan meletakkan tangan Alana di bahunya, kemudian menyelipkan tangannya di bawah punggung dan lutut Alana. Rayyan menggendong Alana. Alana menggeliat pelan dalam gendongan Rayyan, menggesekkan wajahnya di dada Rayyan untuk mencari posisi nyaman, kemudian kembali diam.
Rayyan menggelengkan kepalanya pelan dengan senyuman di sudut bibirnya. “Kayak bayi.”
Rayyan membawa Alana masuk ke kamar, kemudian dengan hati-hati, dia menurunkan Alana yang masih tertidur lelap.
Rayyan menatap lekat Alana yang sama sekali tidak terganggu dengan pergerakannya. Dia menyingkirkan anak rambut Alana yang menutupi wajah, kemudian mengusap singkat rambutnya pelan.
“Tidur yang nyenyak ya.”
Rayyan beralih menatap perut Alana. Rayyan mengulas senyum.
“Adek baik-baik ya.”
Setelah mengucapkan itu, Rayyan keluar dari kamar. Membasuh tubuhnya di kamar mandi, kemudian langsung merebahkan tubuhnya di karpet.
Rayyan menghela napas lelah. Dia capek sekali hari ini. Biasanya Rayyan hanya berangkat kampus, lalu pulang nongkrong haha hihi dengan teman-temannya. Sekarang Rayyan harus bekerja. Bahkan di kelas, di juga harus nyambi mengerjakan pekerjaannya.
“Andai aja gue masih bisa nongkrong kayak dulu,” gumam lirih pelan. “Capek banget harus kerja gini, padahal ini baru hari pertama.”
Rayyan memiringkan tubuhnya, menatap Alana yang terlelap tidur di atas kasur.
“Gak papa. Buat Lana sama buat adek bayi.”
...***...
lanjuuuut..