Sejak lama Yordan menyimpan rasa pada Amara, namun rasa itu harus dia simpan dalam-dalam dikarenakan ada sesuatu perbedaan mendasar antara mereka.
Sedih dan sakit tentu saja dia rasakan kini. Omong kosong jika, cinta tak harus memiliki, tapi ia sadar, cinta tak boleh memaksakan diri.
Bisakah Yordan menghapus rasa yang selama ini ia simpan ataukah ia akan menyerah sehingga cinta itu akan menemukan jalannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Hanya Sekedar Rindu
Entah mengapa Yordan semakin gelisah. waktu berjalan sangat lambat. Dentingan detik menuju menit, menit menuju jam, seakan sedang mentertawakan dirinya yang tidak sabar lagi menunggu esok hari.
Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Merebahkannya di atas pembaringan yang empuk. Namun mata sulit sekali terpejam. Dia hanya bisa menatap kosong, langit-langit kamar yang tak bisa lagi memberinya kedamaian.
Lebih baik jika dia keluar. Menikmati langit malam di musim gugur. Memandang indahnya rembulan yang selalu tersenyum. Mengusir gundah-gulana yang dia rasakan.
Oh...apakah ini yang dinamakan rindu pada kekasih hati. Hingga dentingan jam pun tak dia hiraukan lagi. Entah berapa jam, dia habiskan waktu dalam perenungan.
Angin semilir yang berembus di musim gugur, seakan menambah dinginnya rasa yang lama tersimpan dalam jiwanya. Dia menanti rasa itu akan segera menghangat. Bersama dengan seseorang yang dia rindu selama ini.
Bayangan wajahnya senantiasa tergambar jelas dalam pikirannya. Senyumnya tingkah lakunya, keceriaannya, menari-nari di pelupuk matanya.
Amara...Amara... Nama itu selalu bergema di telinganya. Membuat getaran halus di setiap sudut hatinya. Dan menyebabkan jantungnya berdetak lembut, seakan mengalunkan lagu rindu.
Yordan terus saja menatap langit, seakan meminta persetujuan. Terhadap apa yang dia inginkan. Mengatakan sebenarnya yang dia rasakan pada orang yang dia tuju.
Karena dia ragu. Akankah Amara tahu, jika dia tak pernah mengatakan apa yang tersembunyi di kalbu.
“Yordan, benarkah itu kamu?”Suara nenek Yohana tiba-tiba menyadarkannya.
“Ya, Nek.”
“Kamu nggak tidur?”
Hmmm... Yordan tersenyum tipis dalam gelapnya malam. Hingga tak bisa terlihat oleh Yohana.
“Aku nggak bisa tidur, Nek.”
“Apa yang kau pikirkan?”
Yordan menghela nafas. Hanya nenek Yohana yang mengetahui dan bisa merasakan apa yang tersembunyi di dalam hatinya.
Apakah dia berterus-terang saja. Agar beban rasa yang tersembunyi di hatinya sedikit berkurang.
“Nenek, aku sedang memikirkan Amara.”
“Kamu rindu.”
“Iya.”
“Hanya rindu?”
“Tidak hanya rindu. Aku juga ingin selalu bersamanya. Tapi, apakah dia akan menerimaku?”
“Kamu sungguh-sungguh?”
“Iya, Nek.”
“Bukan pelampiasan, karena ingin menghindari Keysha?”
“Hanya momennya saja yang seolah-olah seperti itu.”
“Ya, nggak apa-apa. Aku sudah menduganya sejak awal. Kalau wanita yang kamu tunggu adalah Amara. Dia gadis yang baik dan selalu ceria. Nenek mendukungmu.”
“Besok, dia pulang Umroh. Aku ingin mengatakan perasaanku.”
“Berjuanglah, semoga dia menerimamu dengan tangan terbuka.”
“Amiin ya rabbal alamin."
Sekarang, Dia bisa sedikit bernafas lega. Beban di hatinya kini lebih ringan. Dia pun bermaksud kembali ke kamarnya. Ingin tidur, mata ini sudah sangat mengantuk.
“Alanngkah baiknya kalau kamu shalat Sunnah dulu. Agar rencanamu besok bisa berjalan lancar.”
“Baiklah. Hanya baca Al fatihah saja. Nggak apa-apa kan, Nek.”
“Nggak apa-apa. Tapi cepatlah kamu cari guru. Agar ada yang membimbingmu.”
“Iya, Nek.”
Yordan pergi meninggalkan Yohana yang juga ingin kembali ke kamarnya. Melanjutkan membaca Alquran. Sebagaimana yang biasa ia lakukan, setelah Shalat tahajjud.
🌺
Saat membuka mata, Jordan melihat jam menunjukkan pukul 05.00. Tiba-tiba dia teringat akan janjinya untuk menjemput Amara dan keluarganya. Namun sayang kemarin dia lupa untuk menanyakan kapan Amara dan keluarganya akan tiba.
Yordan mencoba untuk telepon, namun tidak diangkat. Dia pun mengirim chat, hanya centang satu. Jangan-jangan mereka sudah berada di pesawat, menuju Den Haag.
Dia segera bergegas, mengambil jaket, topi, serta slayer yang akan melindungi dirinya dari dinginnya hembusan angin di bulan Oktober.
Saat dia keluar kamar, suasana masih tampak sepi. Namun samar, alunan ayat suci Alquran terdengar lirih dari kamar nenek Yohana.
“Nenek.” Yordan mengetuk pintu sambil menyebut nama Yohana.
Suara alunan Alquran pun terhenti. Dia mendengar suara kaki melangkah mendekati pintu. Pintu itu pun terbuka.
“Aku pergi dulu, Nek?”
“Sepagi ini?” tanya nenek Johana tertegun.
“Ya.” jawab Yordan singkat.
“Ya sudah pergilah. Hati-hati di jalan!...Jangan ngebut lagi.”
“Ya, Nek.”
Yordan mencium tangan wanita yang telah senja, yang ada di depannya dengan takzim. Mohon restu agar niatnya terwujud.
“Assalamualaikum,” pamit Yordan.
“Waalaikumsalam warahmatullah,” jawab Yohana.
Yohana tak beranjak dari pintu. Dalam hati dia berdoa, “Ya Allah mudahkanlah urusan cucuku. Sehingga dia mendapatkan jodoh yang pantas untuk dirinya dan agamanya.”
Dia baru beranjak dari tempatnya, ketika Yordan telah menghilang di balik pintu apartemennya.
🌺
Yordan segera berjalan cepat, menuju tempat parkir yang ada di lantai dasar apartemen. Tidak lama kemudian, dia pun melajukan mobilnya keluar dari area apartemennya. Dan menghilang di jalanan kota yang masih lenggang.
Ya... Waktu malam memang belum berakhir.
Alam masih gelap. Fajar pun belum menampakkan diri.
Rumah, pertokoan, kantor-kantor, bahkan masih tertutup rapat. Tak ada aktivitas. Semua masih terlena dalam mimpi indah, di dunia kapuk.
Alhamdulillah, Yordan bersyukur, telah menemukan kembali kehidupan saat tiba di bandara. Tapi tak banyak. Satu atau dua orang yang berlalu lalang. Dan itu pun petugas kebersihan. Sedangkan yang lainnya tampak tertidur pulas di ruang tunggu.
Dia kembali membuka handphonenya. Siapa tahu ada chat yang masuk. Yang memberitahukan waktu kedatangan Amara dan keluarganya. Namun dia harus kecewa. jangankan chat masuk, chat yang dia kirim saja, masih centang satu.
Yordan merasa jenuh di ruang tunggu. Dia pun mencari mushola yang mungkin ada di sekitar bandara. Biasanya di sana telah ada kehidupan. Karena ini sudah masuk waktu subuh.
Benar saja... Di sana Yordan menemukan beberapa orang yang tengah bersiap-siap untuk melakukan ibadah salat subuh.
Yordan Pergi ke tempat wudhu, dan melihat dengan seksama tata urutan berwudhu seseorang berada di dekatnya, sebelum dia melakukan sendiri.
Demikian pula pada saat salat. Dia segera berdiri di belakang imam bersama orang-orang, sebagai makmum.
Salat berjamaah yang pertama, yang Yordan lakukan. Dia sangat menikmati setiap bacaan yang didengarnya serta gerakan-gerakan sebagai rukun salat sampai selesai.
Dia sangat khusyuk. Sehingga tidak mendengar adanya pengumuman bahwa pesawat penumpang dari Jeddah, Arab Saudi telah tiba di bandara.
Saat dia sedang mengamini doa iman, dia mendengar suara wanita yang amat dikenalnya, dari ruangan di sebelahnya. Konsentrasinya buyar.
“Irma, itu suara kamu kah?” tanyanya dalam hati.
Begitu doa selesai, dia pun segera bangkit. Hendak memastikan suara yang baru ia dengar.
Dia bangkit dan akan meninggalkan tempat salat. Dia terkejut tapi juga gembira, saat melihat Papa Marthen ada di belakangnya. Berarti benar, Amara sudah datang.
“Paman,” sapa Yordan.
“Eh kamu Yordan. Sudah lama?”
Amara sudah menceritakan semuanya pada Marthen kalau Yordan akan menjemputnya di bandara.
“Aku barusan datang, Paman.”
“Ya sudah kalau gitu. Paman mau salat dulu.”
“Iya paman.”
aku dah sabar menunggumu ❤️
jangan bosan untuk baca karyaku. ♥️