Hampir semua anggota keluarga Grizelle dibantai dan seluruh hartanya lenyap tidak tersisa. Hanya tersisa Laquitta Grizelle saja yang kebetulan tidak ada di tempat saat kejadian pembantaian itu.
Namun, kini ia terpaksa tinggal bersama pria yang mengekang, memenjara, dan merampas kebebasannya.
Dia adalah Adyan Abercio, sang mafia yang menganggap sebuah nyawa tidak bernilai. Pria yang dibenci Itta sekaligus pria yang berhasil mencuri seluruh isi hatinya.
Penasaran? Yuk, ikuti kisah mereka sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini_S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Spesial
"Aku tahu, ini adalah hal yang terbilang nekat. Kamu pasti akan marah besar padaku, bahkan mungkin membenciku. Namun, kalau hal ini bisa membuatmu menjadi milikku dan menyelamatkan posisi Kakak, maka aku akan melakukannya."
Isera mendekatkan wajahnya pada Adyan. Jarak mereka semakin terkikis. Tatkala sedikit lagi Isera berhasil menyatukan bibir mereka, Adyan tiba-tiba saja menyerangnya.
Kini posisi mereka berbalik. Adyan berada di atas tubuh Isera dengan napas terengah-engah.
Bukannya takut, sebaliknya Isera tersenyum senang. Inilah yang ia tunggu-tunggu sejak tadi.
Tangan Isera dengan nakal melepas kancing kemeja Adyan satu per satu. Ia menyentuh pelan perut sixpack milik Adyan, menulis sesuatu dengan gerakan menggoda.
Tangannya beralih meraba wajah Adyan, mengelusnya dengan penuh cinta yang terpampang jelas di bola matanya.
Sungguh, Isera sangat mencintai paras tampan ini.
Perasaan bahagia meluap-luap membayangkan lelaki ini akan segera menjadi miliknya.
"Tunjukkan keagresifanmu, Sayang," tutur Isera dengan suara serak dan sedikit mendesah.
Namun, kejadian di detik berikutnya tidak pernah Isera pikirkan. Adyan tidak melakukan 'itu', melainkan mencekik lehernya dengan kuat.
Isera berusaha memberontak. Napasnya tersengal-sengal, sementara tangannya sekeras mungkin mendorong tubuh Adyan. Air mata mengalir sebab rasa sakit yang teramat.
Semakin lama pandangan Isera semakin mengabur. Dia menggerakan tangannya menggapai apapun yang ada didekatnya.
Saat dirasa tangannya berhasil meraih botol kaca, Isera langsung menyerang kepala Adyan. Namun, Adyan berhasil menangkap botol itu terlebih dahulu.
Hal itu memberi celah selagi Adyan masih fokus pada botol kaca. Sedetik pun Isera tak menyia-nyiakan waktu. Ia langsung berlari menuju pintu.
Malangnya pintu itu tidak dapat terbuka. Butuh sebuah kunci untuk keluar dari ruangan.
"Si*l! Bagaimana ini?! Karena terlalu panik aku jadi kehilangan kuncinya!"
Isera merutuki dirinya sendiri. Padahal sudah membayar mahal untuk menduplikat kunci kamar Adyan, namun Isera justru kehilangannya.
Tidak banyak waktu yang tersisa. Ia harus berpikir cepat.
Sebuah benda tajam melesat cepat dalam kurun waktu seperkian detik, lalu menancap tepat di depan pintu.
Tubuh Isera membeku di tempat. Jantungnya berdegup kencang tak karuan.
Tangan kanannya menyentuh pipi. Ia semakin dibuat membeku saat melihat cairan kental berwarna merah yang berasal dari pipinya.
Jika saja pisau itu tidak meleset, mungkin nyawa Isera sudah melayang.
Takut-takut Isera membalikkan badan. Kedua matanya menangkap sosok Adyan yang sedang berjalan sempoyongan.
Isera sangat yakin obat itu bekerja dengan baik. Namun, walau berada dalam pengaruh obat perangsang, Adyan tetap mampu bertahan hingga detik ini.
Lelaki itu mengangkat gelas berisi wine.
Sontak alarm pertanda bahaya berbunyi nyaring di kepala Isera.
"Kau tidak akan melemparnya, kan?!" tanya Isera was-was.
Adyan tidak menjawab langsung. Hanya langkahnya yang mendekat menjadi jawabannya.
"Kumohon, jangan ...." Isera memohon, tetapi Adyan mengabaikan permohonannya. "Jangan lakukan itu, kau bisa membunuhku nanti!"
Salah satu sudut bibir Adyan terangkat miring. "Bukankah ini yang kamu mau?"
"Tidak! Aku tidak pernah menginginkannya!"
"Berapa kali kau mengusikku?" tanya Adyan. "Aku sudah sering memperingatkanmu, bukan? Sepertinya kau memang ingin sekali kubunuh."
Isera menggeleng cepat. "Tidak, itu tidak benar! Kuakui aku salah, tetapi aku melakukan itu karena terlanjur mencintaimu."
"Persetan! Aku tidak peduli pada cinta si*lanmu itu!"
Isera terdiam nyeri mendengarnya.
Kalimat Adyan mencabik-cabik hatinya yang rentan. Begitu menyiksa hingga rasanya sangat menyesakkan.
"Apa ... kau benar-benar tidak mempedulikan cintaku?" Isera bertanya memastikan, berharap kalau ucapan menyakitkan itu tidak pernah ada.
"Cinta? Kau percaya pada hal itu? Cinta itu sama seperti sampah. Tugasnya hanya mengganggu kehidupan!"
Kata 'sampah' dari bibir pria itu membuat Isera semakin tersadar betapa dinginnya seorang Adyan Abercio. Tidak ada yang bisa mencairkan dinginnya Adyan.
Isera menghela napasnya.
Mungkin tindakannya memang benar. Kalau tidak seperti ini, Isera tidak akan pernah bisa mendapatkan pria itu.
Manik mata Isera menatap mata memabukkan milik Adyan. Perlahan ia mulai menanggalkan lingerienya, membuat tubuhnya terekspos tanpa ada yang disembunyikan.
Siapa pun pasti akan tergoda di saat-saat seperti, kan?
Walau Adyan tidak menyukainya, tetapi dia masih pria normal. Apalagi saat dia terkena obat perangsang.
Bukankah sudah jelas langkah apa yang akan dilakukan pria itu?
Gelas yang semula berada di tangan Adyan dibuang oleh pria itu sendiri. Langkah kaki Adyan semakin mendekati.
Sayangnya sekali lagi, itu hanya angan-angan semata.
Nyatanya yang dilakukan Adyan adalah menarik rambut Isera kencang. Tanpa perasaan sedikit pun, Adyan menyeret tubuh telanjang Isera, membuat kulitnya yang putih dan halus menjadi lecet.
"Lepaskan aku!" ronta Isera.
Adyan dengan sengaja membenturkan kepala Isera ke dinding disusul jeritan kesakitan Isera.
Seharusnya tak begini. Isera sudah melakukan banyak hal agar Adyan tergoda, tetapi kenapa hasilnya tetap sama?
Apa yang salah?
"T ... tolong, tolong hen ... tikan!"
Suara Isera terputus-putus. Ia takkan bisa melawan Adyan meski telah berusaha sangat keras.
Kekuatan fisik Adyan lebih besar walau dia berada dalam pengaruh obat. Rasanya seluruh tubuh Isera dibuat remuk.
"ADYAN HENTIKAN!" Teriakan seseorang menghentikan aktivitas Adyan menyiksanya.
Isera melirik orang yang datang. Matanya melebar melihat sosok Itta yang terhalang punggung lebar Adyan.
Itta berlari ke arah mereka. Ia segera membantu melepas cekalan di rambut Isera.
"Berhenti, Adyan! Kau bisa membunuhnya kalau seperti ini!" teriak Itta.
Itta merentangkan tangannya, menghalau Adyan yang memiliki niat membunuh terhadap Isera.
"Itta? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Isera bingung.
Sebelumnya Isera sudah memastikan tidak akan ada orang yang bisa masuk ke ruangan ini sementara waktu.
"Itu tidak penting sekarang. Yang terpenting adalah kau cepat pergi dari tempat ini!" peringat Itta.
Otak Isera tak cepat memproses. Bukannya cepat-cepat pergi, wanita itu hanya diam di tempat.
"Pergilah, bodoh! Apa kau ingin mati di sini?!"
Isera tersentak. "Tidak. Kalau aku pergi, Adyan mungkin akan melampiaskannya pada–"
Kalimat Isera terhenti tatkala melihat Adyan memeluk tubuh ramping Itta. Tak hanya memeluk, Adyan juga menghirup dalam-dalam aroma Itta.
"Kenapa bisa?" Isera bertanya tidak percaya.
Ia sudah melakukan banyak hal. Memakai lingerie seksi berwarna hitam, bahkan mengekspos semua bagian tubuhnya, tetapi Adyan tetap tidak tergoda sedikitpun.
Tetapi, kenapa dengan Itta berbeda?
Lelaki itu nampak lebih manja. Itu merupakan hal yang tidak pernah Isera duga.
Padahal dibandingkan dengan penampilan Isera, penampilan Itta sangat tidak menarik.
Itta memakai gaun berlengan panjang, sedangkan bagian bawahnya pun melebihi lutut. Selain itu, bagian dadanya tertutup rapat-rapat.
"Apa yang sudah kamu lakukan hingga dia jadi seperti ini?!" Itta bertanya membuat fokus Isera kembali.
"Tidak ada, aku hanya memberinya obat perangsang."
Baiklah, Itta sekarang sudah mengerti alasan Adyan mengamuk dan alasan keberadaan Isera yang tidak memakai sehelai kain pun di tengah malam.
"Dasar bodoh!" maki Itta pelan.
Itta mengelus punggung lebar Adyan sembari sesekali menepuknya pelan. Hal itu membuat Adyan melupakan niat membunuhnya untuk sementara waktu.
"Kau bilang aku bodoh?" tanya Isera.
Ia terkekeh geli. Di sisi lain, bulir air mata mengalir secara bersamaan.
"Kamu tidak akan pernah mengerti betapa menyedihkannya seorang wanita yang mengejar seorang pria selama bertahun-tahun, melakukan segala cara untuk mendapatkan cintanya. Tetapi, sekeras apapun usaha yang dilakukan, semuanya selalu saja sia-sia. Apalagi saat mengetahui dia telah memilih wanita lain."
"Apa yang kau maksud adalah aku? Kau juga tahu bahwa aku hanyalah pasangan sementara Adyan," ucap Itta.
"Tidak, kau berbeda."
Adyan yang Isera kenal selama tiga tahun ini tidak akan terlihat manja pada seorang wanita.
"Lebih baik kamu pergi sekarang sebelum Adyan punya niat membunuh lagi."
"Aku mengerti."
Itta cukup terkejut tatkala Isera benar-benar menuruti ucapannya. Wanita itu memakai lingerie hitam dan gaun tidur yang tergeletak di atas lantai.
"Aku punya satu pertanyaan," ucap Isera.
"Apa itu?"
"Kenapa kau bisa masuk ke tempat ini?"
"Aku memiliki izin keluar masuk kamar yang disediakan untuk Adyan."
Sudah Isera duga.
Isera melirik Adyan sejenak, kemudian membalikkan badan dan berjalan melangkah ke luar.
"Kau memang spesial untuknya," ucapnya sebelum menghilang dari balik pintu.