PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ervano. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melihat pada Naima. Gadis itulah yang sudah memberikan tamparan tadi. Mata gadis itu menatap nyalang pada Ervano. Dia sama sekali tidak menyangka pria yang dekat dengannya bisa melakukan hal yang melecehkan harga dirinya sebagai wanita.
“Ima, maafin aku.. aku..”
“Aku ngga nyangka, bang. Serendah itu pikiran abang sama aku!!”
“Ngga, Ima. Ngga begitu. Aku… ngga sengaja. Aku khilaf, maaf.”
“Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan tidak menyentuh yang bukan miliknya. Terima kasih, bang. Aku cukup tahu kelakuan abang seperti apa. Mulai sekarang, lebih baik kita ngga ketemu lagi. Aku tidak membenci abang, tapi bukan berarti aku bisa terus berteman dengan abang.”
Setelah mengatakan itu, Naima segera pergi meninggalkan Ervano dengan perasaan marah, kecewa sekaligus malu. Ervano hanya bisa memandangi kepergian Naima tanpa bisa melakukan apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amazing Iris
Sesampainya di rumah, Iris langsung disidang oleh Deski. Arsen, kakak Iris pun sempat dibuat pusing mencari jejak sang adik yang terus berpindah. Pria itu segera pulang ke rumah ketika Deski mengabarkan kalau adiknya sudah ditemukan. Ketika dia datang, Deski tengah menginterogasi anaknya.
“Kenapa kamu pulang? Apa kamu tidak tahu bagaimana khawatirnya mamamu? Apa kamu senang membuatnya sakit karena banyak pikiran?” cecar Deski.
“Maaf, pa.”
“Kamu tahu kalau mamamu sedang menjalankan tugas kemanusiaan di Gaza. Apa kamu tidak tahu bagaimana kondisi di sana? Bisa-bisanya kamu berbuat seperti ini dan membuat mamamu khawatir. Keterlaluan kamu!”
Helga, mama dari Iris adalah seorang dokter spesialis bedah umum. Wanita itu sedang menjalani tugasnya sebagai relawan di negeri palestina. Sudah enam bulan wanita itu berada di sana. Sebelum pergi dia mempercayakan Helga pada kedua orang tuanya di Bonn. Iris sendiri sedang menempuh pendidikan masternya di sana.
“Kenapa kamu kabur dari rumah kakekmu?”
“Aku ngga mau di sana, pa. Aku mau lanjut kuliah di sini aja.”
“Kalau kamu ingin pulang, harusnya bicara baik-baik. Bilang pada papa, pamit pada kakek, nenekmu. Bukan kabur seperti ini. Membuat mereka cemas. Kamu sudah besar, jangan bersikap seperti anak-anak lagi. Belajarlah bertanggung jawab!”
Iris hanya menundukkan kepalanya saja. Salahnya memang pergi tanpa berpamitan pada kakek dan neneknya. Namun Iris memang sudah tidak betah tinggal di bersama mereka. Kakek, neneknya memang baik dan sangat menyayanginya. Namun dia tidak tahan dengan saudara sepupunya, Audrey. Gadis itu selalu memusuhinya dan sering membuatnya dalam masalah.
Andai kakek dari pihak papanya masih hidup, maka Iris tidak akan kabur seperti ini. Erik pasti akan membantunya. Namun sang kakek sudah meninggal dunia sejak tiga tahun lalu karena penyakit jantung yang dideritanya.
“Pa.. sudah, jangan marahi Iris terus. Dia kabur pasti ada alasannya,” Arsen segera mendekat untuk membantu adiknya.
Iris memang tidak menceritakan perihal kelakuan Audrey pada siapa pun. Tapi Arsen tahu kalau adiknya tidak akan berbuat jika tidak ada pemicunya. Diam-diam dia menyelidiki apa yang terjadi dan tahu kalau Audrey lah penyebab kaburnya Iris.
“Memangnya apa yang terjadi?” suara Deski terdengar sedikit melunak.
“Sebenarnya Iris tidak betah karena Audrey. Dia selalu memusuhi Iris. Bahkan tidak jarang memanipulasi keadaan sampai akhirnya Iris yang kena getahnya. Papa ingat kan waktu kasus Iris dimarahi mama karena merusak acara charity shield? Sebenarnya Audrey yang melakukannya, tapi Iris yang kena jebakan batmannya.”
“Apa benar itu?” Deski melihat pada anaknya.
“Iya, pa.”
“Kenapa kamu ngga bilang?”
“Aku ngga mau mama dan papa bertengkar gara-gara aku. Papa tahu sendiri kalau mama sayang banget sama Audrey. Dan aku pernah dengar mama dan papa bertengkar gara-gara dia.”
“Iris.. papa minta maaf kalau selama ini kurang memperhatikanmu. Tapi kamu juga tidak seharusnya kabur seperti ini dan membuat semua orang panik.”
“Iya, pa. Aku minta maaf. Aku janji ngga akan ngulangi kesalahan yang sama. Tapi jangan kirim aku kembali ke Bonn.”
“Kamu tidak perlu kembali. Teruskan saja kuliahmu di sini.”
“Benar, pa?” mata Iris nampak berbinar.
“Iya.”
“Makasih, papa.”
Perasaan Iris benar-benar lega mendengar keputusan papanya. Tidak sia-sia dia menempuh perjalanan panjang untuk pulang. Bermain kucing-kucingan dengan anak buah papanya. Berkenalan dengan mafia Brasil dan ditolong oleh seorang dokter tampan.
“Tapi pa, kok papa bisa sih nemuin aku?” tanya Iris penasaran.
“Karena di dalam tubuhmu sudah terpasang chip yang memberitahukan di mana posisimu,” terang Arsen.
“Hah? Kok bisa? Kapan dimasukinnya? Kok aku ngga tahu?”
“Kamu kan waktu itu sempat hilang.”
“Oh iya. Waktu itu Audrey juga yang sudah mengunciku di ruang bawah tanah rumah kakek.”
“Makanya papa ajak om Jayden untuk menyuntikkan chip ke badanmu. Hanya aku dan papa yang bisa mengakses di mana keberadaanmu.”
Kepala Iris mengangguk-angguk tanda mengerti. Pantas saja pengawal sang papa bisa menemukan di mana dia berada dalam waktu singkat.
“Lebih baik kamu istirahat,” titah Deski.
“Iya, pa.”
Iris bangun dari duduknya, lalu berjalan menuju kamarnya. Matanya memandangi sekeliling kamar. Dia senang sekali bisa kembali ke kamarnya lagi. Sudah empat tahun lebih dia meninggalkan Bandung. Besok Iris berencana untuk berjalan-jalan untuk berburu kuliner di kota kembang ini. Tidak lupa dia akan membawakan makanan untuk dokter yang sudah menolongnya.
🍄🍄🍄
Dengan membawa tote bag di tangannya, Iris berjalan memasuki gedung rumah sakit. Dia ingin bertemu dengan Farzan. Dokter muda itu sudah menolongnya ketika dirinya kabur dari kejaran anak buah papanya. Dia berjalan menuju IGD. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok Farzan.
Hampir setiap bilik pemeriksaan diperiksa olehnya. Tapi dia belum menemukan sosok Farzan. Kepalanya menoleh ketika merasakan tepukan di bahu. Ketika berbalik, dia melihat seorang dokter berdiri di depannya. Dia adalah Ansel, dokter spesialis bedah umum dan juga kegawatdaruratan.
“Kamu cari siapa?”
“Euungg.. saya cari dokter.”
“Cari saya?”
“Bukan. Maksudnya saya cari dokter yang tugas di IGD.”
“Siapa namanya?”
“Siapa ya..”
Iris mencoba mengingat nama dokter yang sudah membantunya. Ketika meninggalkan ruang istirahat dokter jaga, dia sempat melihat sekilas nama dokter tersebut. Namun hanya tiga huruf saja yang bisa diingatnya.
“Ehm.. namanya ada huruf Z, A dan N. Zan.. ehm.. siapa ya? Fauzan.. Mizan.. Tarzan.. eh.. masa Tarzan,” Iris menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Maksudmu dokter Farzan?”
“Nah iya, dokter Farzan. Saya bisa ketemu dokter Farzan?”
“Dia sedang ada di kantin.”
“Terima kasih, dok.”
Iris secepat kilat segera keluar dari IGD. Dia berkeliling mencari kantin rumah sakit. Tak lama berkeliling, dia sudah menemukan keberadaan kantin tersebut. Begitu masuk ke dalamnya, dia melihat Farzan sedang duduk berkumpul dengan dua temannya. Gadis itu bergegas menghampiri.
“Dokter..” sapa Iris sambil tersenyum manis.
“Kamu.. perempuan yang kemarin kan?”
“Sstt.. perempuan siapa?” tanya teman Farzan.
“Gebetan ya?” tanya yang satu lagi.
“Sembarangan. Dia cewek setengah waras yang nyasar di IGD kemarin.”
Refleks Iris memajukan bibirnya mendengar Farzan menyebutnya gadis setengah waras. Sama saja pria itu mengejeknya gila.
“Eh dokter Tarzan, jangan ngomong sembarangan ya!”
“Bhuahaha..”
Dua teman Farzan tidak bisa menahan tawanya mendengar panggilan Iris untuk rekannya itu. Mata Farzan membulat mendengar panggilan Iris padanya. Hanya Zar, Arya dan Dipa saja yang berani memanggilnya dengan sebutan itu.
“Kamu mau ngapain ke sini?” tanya Farzan dengan nada ketus.
“Ngga usah jutek gitu mukanya, dok. Tar pasiennya pada kabur. Aku ke sini cuma mau membalas budi aja. Berhubung kemarin dokter udah nolong aku, aku bawain makanan buat dokter. Makanan ini olahanku sendiri.”
Iris menaruh tote bag di atas meja, lalu dia mengeluarkan kotak bekal tiga susun dari dalamnya. Dia membuka kotak bekal satu per satu. Dua kotak bekal yang dibawa Iris berisi hidangan yang belum pernah dilihat oleh ketiga dokter residen tersebut. Sedang satu kotak lagi berisi cookies namun bentuknya aneh.
“Ini makanan khas Jerman. Ini kartoffelsalat. Atau bisa dibilang salad. Isinya ada kentang, bawang bombay, tomat, telur, daging sapi, susu, mayonnaise dan cuka. Ini cocok buat appetizer. Nah yang ini falscher hase. Dibuat dari daging sapi cincang terus ditambah telur, tepung dan bawang. Hampir mirip steak.”
“Kalau ini apa?” Farzan menunjuk kue kering berwarna coklat yang pinggirannya diberi gula dengan warna-warni. Bentuknya aneh dan dia tidak yakin dengan rasanya.”
“Ini namanya lebkuchen atau kue jahe. Bentuknya emang aneh, karena aku ngga terlalu bisa ngebentuk adonannya hehehe.. tapi aku jamin rasanya enak kok.”
“Ini bentuk apa?” tanya teman Farzan.
“Ini bentuk asalnya mau aku bikin rumah. Cuma ada kecelakaan dikit pas ngebentuk, jadi sekarang udah kaya rumah abis kena gempa.”
“Astaga.”
“Kalau ini?”
“Ini maksudnya mau bikin bentuk beruang, tapi lagi-lagi ada kecelakaan, jadi kepalanya peyang dan kakinya kaya beruang kena penyakit polio.”
“Yang ini?”
“Tadinya mau bentuk kepingan salju. Tapi jadinya malah kaya salju yang meleleh kena api.”
Ketiga pria itu hanya terbengong saja mendengar penjelasan Iris. Dengan gerakan tangan, Iris mempersilahkan ketiganya mencicipi makanan buatannya. Ragu-ragu Farzan mencicipi kartoffelsalat lebih dulu. Ternyata rasanya cukup enak. Lalu dia mencoba falscher hase, rasanya juga lumayan. Terakhir dia mencoba kue berbentuk rumah yang terkena gempa. Walau bentuknya mengenaskan, namun rasanya enak.
“Gimana?” tanya Iris harap-harap cemas.
“Lumayan,” jawab Farzan.
“Syukurlah. Tadinya aku takut kalian keracunan.”
Uhuk.. uhuk..
Sontak ketiga langsung terbatuk gara-gara jawaban nyeleneh Iris. Gadis itu malah tertawa senang berhasil mengerjai ketiga dokter tersebut.
“Bersyanda, dok. Aku biar cantik, cetar membahana, tapi termasuk jago juga di dapur. Tolong dihabiskan makanannya ya. Buat dokter Farzan sekali lagi terima kasih. Jasa dokter tidak akan pernah kulupakan dan akan terus terpatri di dalam hatiku. Tapi sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi.”
“Kenapa?” tanya Farzan.
“Takutnya dokter jatuh cinta sama aku,” jawab Iris santai sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mata Farzan langsung membulat. Kedua rekannya pun langsung tertawa. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Iris langsung meninggalkan kantin. Hatinya sudah lega berhasil membalas budi pada Farzan. Sementara Farzan bersama kedua rekannya menghabiskan makanan yang dibawa gadis itu.
🍄🍄🍄
Ini aku kasih penampakannya Farzan dan Iris