Desa Karang digemparkan oleh sosok yang membawa kepala dan melemparkannya ke halaman setiap rumah korbannya. warga merasa seakan terkena teror yang sangat menakutkan, sebab tidak dapat diketahui siapa sebenarnya sosok yang sangat misterius tersebut. Sosok itu menghilang, setelah berhasil memenggal sebelas kepala warga desa yang semuanya adalah pria.
Apa yang menjadi motif dari sosok tersebut? maka ikuti kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam-5
“Lalu bagaimana Aki tahu jika Naes mati dibu-nuh?” Tanya Darmadi dengan penasaran.
Pria paruh baya itu menatap nanar. Ada jutaan rasa sedih dan juga penuh dendam di dalam hatinya.
Dengan rasa sakit itu, ia kembali melanjutkan kisahnya. Terdengar tarikan nafasnya yang begitu berat, yang menandakan jika apa yang kini sedang ia rasakan adalah sebuah luka yang tak dapat diobati.
“Setelah shalat subuh, aku bergegas berjalan menyusuri jalanan yang masih berembun. Rasa dingin tak lagi ku hiraukan karena aku merasa jika mimpi itu adalah petunjuk yang berasal dari Naes,” Ki Roso menarik nafasnya dengan berat, lalu kembali melanjutkan kisahnya.
Sesampainya Ki Roso di rumpun bambu. Suasana masih remang-remang dan ia mengedarkan pandangannya.
“Naes, Naeswari, dimana kamu, nak?” Panggilnya dengan penuh harapan. Tak ada sahutan yang berarti.
Hati pria paruh baya itu semakin merasakan sesuatu yang tidak baik. Ia merasakan sesuatu yang buruk terjadi pada puterinya.
Hari semakin terang, ia berkeliling ke area rumpun bambu, dan ia tanpa sengaja menemukan robekan kain pramuka yang diyakini milik puterinya, dan dugaaannya diperkuat ada bercak darah yang berceceran dirobekan kain dan juga terdapat didedaunan kering yang ada disekitar tempat itu.
Saat ia melihat ada sebuah galian lubang yang tampaknya baru saja digali, ia mencoba menghampirinya dan rasa penasaran yang tinggi membuatnya untuk menggali. Alangkah terkejutnya ia saat menemukan sepatu sebelah kanan yang tertinggal, dan itu diyakini milik puterinya. Tetapi ia tak menemukan tubuh Naii didalam liang tersebut, hanya tampak genangan darah yang mengering dan bergumpal bersama tanah merah.
Saat itu juga, fikiran buruk menyergapnya. Rasa sesak kian merasuki rongga dadanya, ia merasakan tubuhnya gemetar.
Dugaannya semakin kuat jika Naeswari telah mati dibu-nuh dan ini membuat dunianya berputar dan langit seolah akan runtuh.
“Naes, Naeswari. Siapa yang melakukan ini padamu, Nak? Bapak akan membuat mereka membalaskan kematianmu! Mereka semua yang terlibat harus ma-ti!” gumam Ki Roso sembari mere-mas robekan kain yang penuh bercak darah.
"Siapa juga yang telah memindahkan jasadmu? gumam Ki Roso kembali. Sepertinya ada yang lebih dahulu memindahkan jasadmu sebelum bapak tiba disini, tetapi siapa?" Ki Roso kembali bergumam.
Pria paruh baya itu mencoba mencari jejak lainnya, tetapi tidak menemukannya, dan ia memutuskan membawa pulang robekan kain dan juga sepatu milik puterinya dengan rasa sakit dan juga dendam.
Setibanya ia dirumah, ia disambut oleh Darsih yang menunggunya dengan sangat khawatir. raut kecemasan dan harapan hampa yang menguar diwajahnya.
Melihat suaminya pulang membawa robekan pakaian milik puterinya dan juga sepatu yang hanya sebelah saja, membuat Darsih semakin tak mampu menahan tangisnya. Ia merasa frustasi, harapannya tersia-sia.
Bersama dengan luka hatinya, Ki Roso memasuki kamar, ia tak lagi perduli dengan apa yang dilakukannya saat ini.
Dosa?
Saat ini ia tak lagi memikirkan hal tersebut. Dosa yang jelas akan menyesatkannya, saat ini ia anggap hanya angin lalu saja.
Ki Roso melakukan ritual dengan menyiramkan bercak darah tersebut dengan air limau, lalu membakar dupa dan juga kemenyan untuk membangkitkan nin qorin yang bersemayam ditubuh Naii saat semasa hidupnya.
Dendam, dan harus terbalaskan!
Itulah motto hidup yang kini terpatri didalam hatinya. Hingga akhirnya pembalasan itu terwujud dengan kematian Yudi yang sangat mengenaskan.
Setelah kematian Yudi, maka Ki Roso tak merasa puas, dan ia memastikan jika ada pelaku lainnya. Maka ia melanjutkan ritualnya hingga sampai tak ada lagi korban.
Tetapi Ki Roso tidak mengetahui siapa yang melakukan siapa pemindahan jasad puterinya, sepertinya orang tersebut mengetahui tentang segalanya.
“Tunggu, jika bukan Aki yang memindahkan jasadnya, lalu siapa?” Darmadi menyela cerita Ki Roso.
Ki Roso menoleh ke arah Darmadi, lalu menggelengkan kepalanya dengan lemah.
“Andai saja aku tahu dimana jasad puteriku, mungkin aku tidak akan tersesat terlalu jauh," jawabnya lirih.
Darmadi menggaruk kepalanya yang tak gatal."Lalu bagaimana dengan jasad Julia?" tanya Darmadi penuh selidik, dan ia tentu mencuriagai pria paruh baya tersebut.
Ki Roso menggelengkan kepalanya. "Sumpah, aku tidak tahu siapa yang melakukannya," jawabnya lirih ada sirat kejujuran diwajahnya.
Sementara itu, jasad Julia melayang diudara dan menyasar menyerang warga.
"Aaaaaa..." Jarwo melengking ke sakitan saat jemari tangan Julia merobek wajahnya. Seketika seluruh warga berhamburan melarikan diri.
Saat bersamaan, seorang pria yang merupakan sesepuh warga mencoba menghentikan aksi jasad tersebut dengan berbagai doa yang ia panjatkan.
Pria itu meraih tasbih disaku pakaian koko berwarna putih yang dikenakannya.
Ia berkomat-kamit membaca doa dan tentunya bukan mantra ya reader, lalu dengan gerakan cepat ia melemparkan tasbih tersebut ke udara, dan benda itu melesat cepat dengan berputar-putar bagaikan baling-baling bambu, dan mendarat tepat dikepala jasad Julia yang terbang melayang dan saat tasbih itu berkalung dilehernya, seketika jasad Julia terdiam sejenak, lalu melayang jatuh ditanah.
Buuuugh....
Jasad itu terjatuh ditanah basah bercampur bersama kubangan air yang berlumpur. Lalu warga yang berhamburan tadi berhenti berlari dan diam membeku. Suasana malam kian mencekam, dan membuat warga merasa penasaran, lalu menghampiri jasad tersebut.
Tampak jasad itu tertutup lumpur dan dan kepalanya hampir terpisah dari tubuhnya. Seketika hal tersebut membuat mereka bergidik. Mereka melihat pria sepuh yang tak lain adalah Ki Sabda, merasa jika pria itu dapat diandalkan. Perlahan ketakutan mereka memudar.
"Ki, bagaiamana ini," tanya Jarwo, sembari memegangi wajahnya yang sakit akibat cakaran dari sosok Julia barusan.
"Saya tidak tahu. Tetapi suatu saat akan terungkap siapa pelaku sebenarnya," Ki Sabda berdiri memandang jasad Julia yang berkubang dilumpur.
Sesaat terdengar suara sirine mobil polisi menuju kearah balai desa. Sepertinya polisi baru saja menyambangi rumah ki Roso untuk melakukan identifikasi tentang penemuan jasad yang mengering. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, para petugas menuju ke arah balai desa yang dikabarkan jika jasad itu terbang melayang melakukan teror kepada warga.
Hal itu sangat sulit diyakini oleh pihak kepolisian dengan nalar dan logika, tetapi itu nyata terjadi.
Melihat mobil polisi mendekat, warga bergegas menyingkir untuk memberi jalan kepada para petugas memeriksa jasad itu.
"Kembalikan tasbih milik saya," pinta Ki Sabda kepada salah seorang polisi.
Polisi itu meraih jasad yang berkubang lumpur dan meletakkannya didalam kantong jenazah, lalu membuka tasbih yang melingkar dileher jasad tersebut.
Polisi itu menggelengkan kepalanya pertanda bingung dengan apa yang terjadi. Maka ia segera memberikan tasbih itu ke tangan pria yang menjadi sesepuh desa.
"Bagaimana jasad inindapat tercebur dikubangan?" tanya polisi kepada Ki Sabda.
"Ia melayang tinggi dan tak terkendali"
Pihak kepolisian tercengar mendengarnya.
Contoh DAENG KEBO..DAENG MATOLA..
boy...boy...tunggulah giliranmu.