follow Ig ainunharahap12.
Kamar hotel yang terlihat sangat berantakan. Dengan pakaian yang berserakan di lantai dan ada sepasang insan yang berbaring di atas ranjang dengan tubuh polos yang tertutupi selimut.
Seorang pria dengan tangannya yang memeluk wanita di sampingnya itu yang lurus berbaring. Tiba-tiba wanita itu mengkerutkan dahinya dengan membuka matanya yang sangat berat. Wanita itu juga memijat kepalanya yang terasa sangat berat.
Wanita itu merasa berat pada perutnya yay membuatnya menoleh kesampingnya dan kaget melihat pria di sampingnya.
"What!' pekiknya dengan wajah kagetnya yang langsung menutup mulutnya dengan tangannya. Wanita itu langsung duduk dan melihat tubuhnya yang di balik selimut sudah polos.
"Bawa aku jalan-jalan ke surga. Sebelum aku kembali ke dalam Neraka," wanita itu menepuk jidatnya saat hanya mengingat sepenggal kata saat mabuk yang di ucapkannya pada pria yang tidak dikenalnya di sampingnya itu.
"Kau benar-benar keterlaluan Alea!" umpatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 perlawanan Alea.
Alea harus menerima nasibnya yang kembali di kurung di kamarnya dan tidak di beri makan. Padahal dia sudah sangat lapar dan sebelumnya dia juga belum makan sama sekali. Baru saja lolos dari rumah itu dan pergi bersama Alvian. Tetapi nyatanya dia kembali tertangkap dan sekarang nasibnya harus kembali di dalam kamarnya.
Alea yang merasa pusing berbaring di atas ranjang dengan bersandar di kepala ranjang. Dia juga sangat lelah dan tidak bersemangat sama sekali.
"Aku tidak akan bisa keluar lagi dari kamar ini. Papa benar-benar tidak peduli kepadaku dan membiarkan istrinya memperlakukan ku seperti ini," batin Alea menelan salavinya dengan matanya yang bergenang yang harus menerima nasibnya.
"Lalu dia? Apa dia sudah baik-baik saja!" Alea juga kepikiran dengan Alvian yang terakhir di tolongnya. Alea juga tidak tau bagaimana kabar Alvian. Karena terakhir kali Alvian hanya sadar sebentar dan setelah itu Alea tidak tau apa-apa lagi.
Ceklek.
Pintu kamar itu terbuka dan membuat Alea melihat kearah pintu kamar. Alea berdecak kesal saat melihat Monica yang masuk kamarnya. Baginya Monica masuk kamarnya hanya akan menambah pikirannya saja dan membuatnya semakin suntuk.
Monica langsung menghampiri Alea.
"Minta maaf kepada ku dengan apa yang kau lakukan!" ucap Monica yang berdiri di depan Alea menatap sinis Alea. Namun Alea tidak takut sama sekali dengan wanita yang dihadapannya itu.
"Jika kau tidak minta maaf. Maka kau tidak mendapatkan makan sama sekali dan akan mati!" ancam Monica dengan tegas yang memang seperti monster yang memperlakukan keji anak tirinya itu.
Alea tidak menanggapi dengan setiap apa yang dikatakan Monica, dia hanya diam saja dengan perkataan Monica. Alea juga sengaja ingin memancing kemarahan Monica.
"Kau tidak minta maaf juga?" tanya Monica dengan geram.
"Baiklah seperti inilah. Kau pikir akan ada yang kasihan kepadamu. Kau pikir ayahmu akan menolongmu, peduli padamu. Tidak akan ada. Masalah yang kau lakukan sangat fatal dan ini akibatnya," sinis Monica.
Apa yang di katakan Monica tidak satupun ditanggapi Alea dia hanya diam saja mendengar setiap apa yang dikatakan wanita yang sangat dibencinya itu.
"Dasar tidak berguna!" umpat Monica yang hendak pergi.
"Merasa berguna. Karena sudah berhasil merebut suami orang," langkah Monica terhenti ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Alea. Kata singkat namun terkesan sangat menusuk yang membuat Monica kembali membalikkan tubuhnya.
"Apa katamu?" tanya Monica menekan suaranya.
"Walau masih kecil. Aku tau. Jika kau sengaja merusak rumah tangga orang tuaku dan hanya untuk kepentinganmu yang terobsesi dengan ayahku dan kau secara tidak langsung membuat ibuku meninggal," ucap Alea yang sangat berani mengatakan hal itu kepada Monica. Mungkin saja kata-kata itu sudah lama di pendamnya dan baru di keluarkannya sekarang.
Monica mengepal tangannya yang tidak percaya jika Alea akan menganggapnya wanita seperti itu.
"Jangan marah. Jika calon suami anakmu di rebut. Karena pekerjaan ibunya jauh lebih dari itu," lanjut Alea.
"Kau!" Monica menghampiri Alea dengan kemarahannya.
Plakkkkkkk.
Langsung menampar Alea dengan kencang dan mungkin ini tamparan yang paling panas yang diterima Alea. Alea hanya tersenyum mendapatkan tamparan itu. Hal biasa dan mungkin tidak akan terasa.
"Kau ralat kembali kata-kata mu itu!" Monica menekan suaranya yang tidak terima dengan apa yang di katakan Alea.
"Perebut suami orang, pembunuh ibuku!" ucap Alea yang mengatakan kembali dengan wajahnya yang menantang Monica dan bahkan tidak takut pada Monica. Dia menunjukkan dirinya yang berani melawan.
"Anak kurang ajar!"
Plakkkkkkk
Monica kembali menampar Alea di pipi yang sama dengan ujung bibir Alea yang berdarah akibat tamparan Monica yang lebih keras.
"Kau itu benar-benar tidak tau malu. Aku sudah mengasuhmu selama ini dan ini balasanmu kepadaku yang telah mengatakan aku wanita seperti itu," umpat Monica dengan marah-marah.
Monica kembali ingin menampar Alea.
Tok-tok-tok-tok. Tamparan itu tidak jadi melayang ke pipi Alea saat ada yang mengetuk pintu dan Monica harus menghentikan apa yang di lakukannya.
"Maaf nyonya. Tuan Sandres memanggil nona Alea!" ucap pelayan rumah membuat Monica harus menahan emosinya yang ingin memberi pelajaran kepada Alea.
Alea hanya berdesis. Lalu turun Dari ranjang dan tidak peduli dengan Monica yang dipenuhi dengan rasa emosi yang meningkat sampai langit ketujuh.
"Beraninya dia mengatakan hal itu kepadaku. Dan dia sudah melawan kepadaku. Semakin lama dia memang semakin kurang ajar. Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi," ucap Monica dengan nafasnya yang naik turun ya masih tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Alea.
Alea menuruni anak tangga dan menghampiri Sandres yang duduk di ruang tamu dan juga ada Livia di sana. Alea dengan santai yang menghampiri Sandres dan sudah berdiri di depan Sandres.
Mata Sandres Livia melihat luka di ujung bibir Alea.
"Ulah apa lagi yang kamu buat?" tanya Sandres. Sandres hanya mempertanyakan kesalahannya tanpa Sandres bertanya Ada apa dengan pipinya dan kenapa sampai terluka.
"Sudahlah Alea. Papa tidak mau berdebat dan bertengkar dengan kamu. Kamu sudah dewasa dan cukup semua dengan membangkangnya kamu di rumah ini. Kamu sudah pergi selama bertahun-tahun dan itu sudah cukup untuk kamu. Papa memanggil kamu pulang itu untuk kamu menikah dengan Galang dan bukan untuk kamu melakukan hal-hal di luar dari konteks,"
"Jadi kamu jangan keras kepala dan jangan mencari masalah lagi. Kamu tetap menikah dengan Galang dan adik kamu biarkan bersama Alvian," ucap Sandres yang to the point menyampaikan apa maksudnya untuk memanggil Alea.
Dan pasti semua itu karena rengekan Livia kepada Sandres untuk menyuruh Sandres tegas pada Alea agar Alea meninggalkan Alvian.
"Aku tidak mau menikah dengan Galang dan aku tidak akan mengakhiri hubungan dengan Alvian. Aku dan Alvian punya komitmen," ucap Alea dengan yakin yang kali ini dia benar-benar ingin menghancurkan adiknya itu.
Wajah Livia langsung sedih dengan nafasnya yang naik turun dan begitu juga dengan Monica yang juga sudah ada di sana dan mengepal tangannya yang mendengar jawaban keras kepala Alea.
"Alea cukup! Apa kamu tidak malu harus merebut calon suami adik kamu sendiri!" sentak Sandres.
"Aku tidak malu. Karena semua itu sudah menjadi ajaran di dalam rumah ini. Jadi bukannya hal itu biasa. Jika saling merebut," jawab Alea dengan tenang.
"Alea hentikan omong kosong kamu. Jangan membuat papa semakin marah kepada kamu dan memberikan kamu hukuman yang lebih berat lagi," tegas Sandres.
"Papa hanya memikirkan satu perasaan saja. Saat aku dikurung di kamar dan tidak diberi makan, papa sama sekali tidak pernah khawatir kepadaku. Papa hanya diam saat istri papa memperlakukanku seperti ini. Papa memanggilku bukan bertanya bagaimana keadaanku dan bertanya apa yang terjadi kepadaku. Aku rasa penglihatan papa masih sangat bersih dan bisa melihat jika aku terluka dan semua itu karena perbuatan istrimu yang bermain tangan padaku. Namun bukannya ada niat sedikit untuk mempertanyakannya. Papa malah menyuruhku meninggalkan Alvian demi dia," ucap Alea yang terasa sesak saat mengeluarkan keluhannya. Selama ini keluhan itu tidak pernah dikeluarkan Alea dan hanya disimpannya di dalam hati.
Bersambung