NovelToon NovelToon
Pena Bulu

Pena Bulu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Romansa / Cinta Murni / Persaingan Mafia
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: R_picisan03

Seorang penulis Novel terkenal asal prancis bernama Rempis Pieter Mark, terpaksa harus mendekam di salah satu rumah sakit gangguan jiwa yang terletak di sudut kota Le Mans. Rumah sakit jiwa yang jaraknya cukup jauh dan sangat terpencil itu bernama The Crazy Hospital. Insiden tahun 2004 silam, mengharuskan Niki sebagai seorang istri lebih memilih untuk mengirimkan sang suami ke rumah sakit gila di banding harus kehilangannya. Sebelumnya Rempis telah di tuntut hukuman mati, namun karena perjuangan Niki yang luar biasa, Rempis dikirim ke RSJ dengan masa tahanan yang tak tau sampai kapan. Bagi Rempis sendiri, memilih mati atau RSJ itu sama saja, tak berbeda. Meski mendekam, ambisi gila Rempis dalam menciptakan sebuah karya demi melawan ketidak adilan bagi hidupnya tak pernah pupus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PB#29

Jean berbalik kembali menatap pelayan, "Baiklah, kami ambil kamar itu," lanjut Jean mengambil kunci berjalan menuju kamar di lantai 2.

"Bagaimana inu? Bagaimana kalau sesuatu yang di inginkan akan terjadi? Kebayang gak tuh enaknya?" batin Larsen berjalan mengikuti.

Sesampainya di kamar, Jean meletakkan tas berlalu membuka jaket, "Maaf kalau akhirnya situasi ini membuatmu sedikit tidak nyaman," lanjut Jean mengambil handuk berniat membersihkan diri.

Larsen melirik-lirik ruangan kamar, terlihat kecil dan hanya cukup untuk sekedar beristirahat.

"Yasudah kalau begitu, aku akan menunggu di luar. Kabari aku kalau kamu sudah selesai berbenah diri," balas Larsen berbalik arah, berjalan menuju luar ruangan sembari menutup pintu.

Kembali ke sisi Max, Sofi dan Avin.

2 jam berikutnya, tepat pukul 10 malam, akhirnya mereka tiba di kawasan yayasan Crazy Hospital.

"Bangun, bangun! Pulas benar tidurnya!" ketus Avin mematikan mesin mobil, berada di sebrang jalan berhadapan dengan yayasan.

Max mengusap lembut matanya perlahan membuka pandangan, "Kita sudah sampai mana ini?" 

"Surga!" singkat Avin.

"Jadi itu ya tempatnya?" balas Sofi yang terbangun lebih dulu di banding Max, memandang gedung yayasan.

"Iya. Menurut peta lokasi yang Larsen berikan, ini sudah pas di sini tempatnya," jelas Avin.

Max memperhatikan sekitar area gedung, "Sepertinya, malam ini tidak ada yang berjaga. Apa mungkin kabar dari Larsen salah ya tentang penjaga utusan Delson?"

"Mungkin mereka lagi berada di dalam. Tugasku telah selesai, aku mau istirahat tidur, selebihnya urusan kalian berdua," lanjut Avin menyandarkan tubuh mencari posisi ternyaman.

Max menoleh ke arah belakang menatap Sofi, "Kamu sudah siap? Kalaupun mereka lagi ada di dalam, tetaplah bersikap santai."

Sofi menghela nafas, mengangguk rendah, memberi isyarat dirinya yang telah siap memasuki gedung tersebut.

Keduanya bersamaan menuruni mobil, menyebrang jalan dan sampai di pintu gerbang.

"Ingat apa yang harus kamu lakukan, jangan terlalu berfikir yang bisa memberatkan pikiranmu," jelas Max mengingatkan kembali, melirik area sekitar yang kian sepi.

Tak ingin lebih lama berada di tepian jalan, setelah mengantarkan Sofi, Max berlalu kembali menuju mobil.

"Semoga semuanya berjalan lancar," lirih Max memandang Sofi dari balik jendela kaca mobil.

Kemudian, Sofi kembali berjalan memasuki area halaman yayasan. Belum terlalu jauh melangkah, Arthur menghentikan langkahnya.

"Tolong berhenti sampai disitu. Maaf sebelumnya, jika ada keperluan, tunjukkan terlebih dahulu kartu identitas diri anda," ujar Arthur berhadap-hadapan.

Sofi membuka tas kecil, mengambil kartu pengenal identitas, langsung menyerahkannya pada Arthur.

Mengambil uluran kartu tersebut, memeriksa dengan sangat detail, "Sofi ya. Lain kali kalau mau berkunjung, lebih bagus di siang hari. Karena jika dalam kondisi malam hari, terlalu banyak orang melakukan kejahatan," jelas Arthur memberikan kembali kartu tersebut.

"Aku hanya singgah sebentar disini, mengunjungi sahabatku sebelum kembali ke Colmar."

"Sahabat? Siapa itu?"

"Wury."

Setelah selesai menjawab segala pertanyaan, Arthur mempersilahkan Sofi berlalu masuk ke dalam.

"Ada yang bisa kami bantu?" sapa Deria.

"Aku ingin bertemu dengan wanita bernama Wury."

"Kalau begitu, silahkan duduk terlebih dahulu. Saya akan segera memanggilnya untuk anda," pungkas Deria berlalu meninggalkan Sofi.

Selagi menunggu Wury, Sofi berjalan menuju sofa ruang tamu, terduduk dan memandangi beberapa pasien yayasan yang berlalu lalang melewatinya.

Berselang 5 menit kemudian, Wury menghampirinya, "Maaf membuatmu menunggu. Aku Wury, ada perlu apa denganku?" lanjut Wury berdiri di hadapan Sofi mengulurkan tangan.

Sofi yang melirik mengetahui jika Deria memperhatikan pembicaraan mereka, tetap menjaga sikap tenangnya.

Sofi bangkit berdiri, menjabat uluran tangan Wury, "Aku Sofi, sahabat kecilmu dulu. Masa iya kamu lupa? Tapi ya wajar sih kalau lupa denganku, sudah belasan tahun lebih kita gak bertemu."

"Sofi?" batin Wury berfikir sejenak.

"Maaf, tapi aku lupa dengan nama itu," balas Wury sedikit bingung.

Sofi mengambil foto dari dalam tasnya, "Coba lihat, mungkin kamu akan mengingatku setelah melihat foto ini," lanjutnya memberikan foto.

"Kenapa foto ini bisa ada padanya?" gumam Wury dalam hati memandang foto masa kecilnya.

Sofi mendekatkan tubuh, langsung memeluk, "Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak disini. Maaf jika aku berbohong, terlebih mengaku sebagai sahabat kecilmu, tapi aku harus melakukan ini," lanjut Sofi berbisik.

"Sepertinya, ada hal penting yang ingin kamu sampaikan. Oke baiklah, ikuti aku," balas Wury menuntun jalan menuju bilik kamarnya.

Setelah memasuki kamar Wury.

"Sekarang, kamu boleh mengatakan semuanya disini," ucap Wury mempersilahkan.

"Kamu yakin tempat ini aman?"

Wury menganguk rendah, kembali mempersilahkan Sofi berbicara.

Sofi mulai membuka pembicaraan tentang dirinya, teman-temannya dan di kota mana mereka tinggal. Selain memberitahukan kesehariannya sebagai penerbit ilegal, ia juga menjelaskan hubungan pihaknya dengan Rempis.

Terus memberitahukan jika pihaknya mengalami masalah, terlebih ketika Rempis terjerat kasus yang mengurung kebebasannya tersebut. Ia juga memberitahukan perihal kasus mengenai terkaitnya Delson dengan seorang gadis belia.

"Jadi, apa yang kalian inginkan dariku?"

"Aku ingin, kamu menemui Rempis dan menyampaikan padanya serta menjadi perantara hubungan kami, lalu memberikan naskah tersebut di setiap harinya."

"Bagaimana jika aku menolak?"

"Kamu berhak menerima ataupun menolak untuk memberikan bantuanmu kepada kami. Tapi tentu saja, apa yang kamu lakukan nantinya, kami akan memberikan upah yang setimpal untukmu, bahkan bagianmu itu diatas 25% dari seluruh hasil penjualan."

Setelah memikirkan dengan matang, Wury menyetujui permintaan tersebut. Baik Wury, Deria ataupun Arthur, pemikiran mereka sama perdulinya bila mengingat dana kebutuhan yayasan.

"Baiklah, aku akan membantu kalian. Tapi dengan satu syarat, rahasiakan hubungan ini dari siapapun."

"Kalau masalah menyimpan rahasia, kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Serahkan saja pada kami," pungkas Sofi mengakhiri kesepakatan.

Sofi langsung bergegas pergi menuju Max dan Avin, meninggalkan Wury yang sedang berjalan menuju kamar Rempis.

Di dalam mobil.

"Bagaimana?" ucap Max menyambut Sofi memasuki mobil.

"Semuanya beres, dia menyepakati kerjasama yang kita ajukan."

"Apa kamu sudah memberitahukannya tentangku dan mulai kedepan...aku yang akan menjemput naskah darinya?"

"Pokoknya, semua berjalan seperti yang kamu inginkan."

"Berarti mulai besok, aku sudah bisa langsung menjemputnya?"

"Dia bilang, tunggu terlebih dahulu kabar darinya," jelas Sofi menghapus riasan wajah.

"Baguslah."

Max menoleh arah Avin yang masih tertidur pulas, sembari memukul ringan dahi Avin, "Bangun."

Plakk!

"Jangan! Jangan! Jangan bunuh aku!" ucap Avin mengigau terkejut langsung membuka mata, "Ya Tuhan, hampir saja aku terbunuh!" lanjutnya menghela nafas.

"Lagian dari tadi susah sekali di bangunin. Ayo buruan jalan, dia telah berhasil melakukan tugasnya," balas Max menunjuk Sofi.

Avin langsung menyalakan mesin mobil, "Iya...iya," lanjutnya mengendalikan laju mobil.

Berlalu ke sisi Jean yang telah bersantai di tempat tidur.

"Kenapa dia belum kembali? Padahal sudah selarut ini."

2 jam sebelumnya, setelah selesai berbenah diri, Jean mempersilahkan Larsen masuk ke dalam kamar, namun Larsen meminta ijin pergi mencari udara segar di sekitar penginapan.

Hingga jam menunjukkan pukul 12 malam, Larsen tak kunjung kembali.

"Sebenarnya ngapain sih? Aku tidak boleh tidur terlebih dahulu di banding dengannya," lanjut Jean mengambil dan membaca buku majalah.

Hampir 30 menit kemudian, Larsen tiba kembali ke dalam kamar.

"Kamu belum tidur?" ujar Larsen menutup pintu ruangan.

"Dari tadi belum bisa tidur, gak tau kenapa. Biasanya, jam 10 juga udah ngantuk berat."

"Oh, begitu," singkat Larsen mengangguk, melepas baju dan topi, hanya mengenakan celana pendek, mengambil handuk kecil di meja.

Tubuh atletis Larsen ketika berjalan menuju kamar mandi, tanpa ia sadari membuat Jean mencuri sedikit pandangan darinya.

"Huh...! Enggak, aku gak tergoda, aku bisa menekan hawa nafsuku!" batin Jean kembali memandang buku, sesekali kembali melirik Larsen.

"Kalau boleh aku kasih saran, sebaiknya wanita jangan sering tidur terlalu malam. Selain gak bagus untuk kesehatan, juga gak bagus untuk daya pikir," jelas Larsen menutup pintu kamar mandi.

1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽ𝐀⃝🥀ˢ⍣⃟ₛ♉
apa ada bau2 CLBK nih
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽ𝐀⃝🥀ˢ⍣⃟ₛ♉
haish skrg baru nyesel
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽ𝐀⃝🥀ˢ⍣⃟ₛ♉
apa kau pikir kau itu presiden ya🤭
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽ𝐀⃝🥀ˢ⍣⃟ₛ♉
nah bner tuh
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽ𝐀⃝🥀ˢ⍣⃟ₛ♉
astaga kejam nya delson
☠ᵏᵋᶜᶟ𝐑𝐚𝐲𝐢i
Baru mau di dukung,, ternyata nggk beda sama Delson..nasibmu lah Vio,,pesanku,pintar2 saja kamu mencari kawan,,
☠ᵏᵋᶜᶟ𝐑𝐚𝐲𝐢i
Yuji lagi mimpi ya,mau kamu ditebas sama Delson,, tapi di coba dulu nggk apa2 sih..kwwkk
☠ᵏᵋᶜᶟ𝐑𝐚𝐲𝐢i
Yuji cowok kah?
Cieee Vio mulai akting genit🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ𝐑𝐚𝐲𝐢i
Nahh, apa mereka ada bisnis haram juga?😐
☠ᵏᵋᶜᶟ𝐑𝐚𝐲𝐢i
Kau datang terlambat Bang.🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ𝐑𝐚𝐲𝐢i
Kasian ya Bang,cuma bisa melihat tanpa bisa melindungi orang yg kita sayangi..
itulah takdir.😕
😈ˢ⍣⃟ₛ 𝕯𝐄𝐌𝐈𝐓/𝐓𝐞𝐬𝐚
wah kasian supir ini nasibnya gimana entar ya masalahnya ini berhadapan dengan gembong narkoba....🥺🥺🙈
😈ˢ⍣⃟ₛ 𝕯𝐄𝐌𝐈𝐓/𝐓𝐞𝐬𝐚
Adams ternyata baik walaupun sedang membutuhkan organ buat ibunya tapi tetap tidak memaksa mereka harus memberikannya justru menyemangati kakak beradik itu
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
semoga si sopir tidak di bunuh... kasian nasibnya.. 😱
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
waaaddduuhh.. keselamatan sopir yg tukeran peran sama Miler lg dalam bahaya...... ckckckckck kasian kalo ketangkap... 🤔
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
huum boleh juga tuuhh ...kalo kamu gila ntar di rawat bareng ibumu 😡
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
kamu sih ceroboh... knp gk di rantai dompetnya di kunci ke celana ato ke sabuk..... 🤔
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
semoga kamu tdk mengalami apa yg kamu ucapkan barusan Adams.. , 💪
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤: huummm pokoke paket komplit yaa... 🤔
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
weeiiiyyy... pengamatan yg cerdik Larsen.. 👏👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤: lha iya harus cepat bisa baca sikon kalo jadi spionase... wkwkwkkwk
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
ya iya secara kan kamu masih muda... masih pengantin baru lagi... masa iya Delson mau mengakhiri hidupmu sekarang².. 🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤: huumm bungkus sajo lah... 😂
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!