Aku hanya ingin mengetahui aku layak meneruskan kemampuan ayahku sebagai Paranormal atau tidak, tapi aku justru terjebak dalam sebuah petualangan mistis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Hantu
Malam semakin larut tapi Anas masih belum bisa memejamkan matanya. Suara serangga malam yang begitu berisik ditambah udara pengap yang membuat kamar tidurnya terasa panas membuatnya memilih keluar dari ruangan tersebut.
Anas memilih duduk di beranda rumah sambil menikmati semilir angin. Dalam kegelapan malam Ia merasakan kehadiran sosok Makhluk gaib yang mendekat kearahnya.
Semenjak Keris Bromo Sengot bersemayam di tubuhnya. Anas mulai bisa merasakan dan mendeteksi keberadaan makhluk gaib. Jadi bukan hanya kekuatan supranatural saja yang ia dapatkan tapi juga mata batinnya mulai terbuka dengan sendirinya.
Anas tetap duduk santai sambil menikmati secangkir kopi hitam tanpa memperdulikan kedatangan makhluk tersebut.
Kini ia merasakan kursi yang didudukinya bergetar saat makhluk itu semakin mendekat kearahnya.
"Aaahhh!" Anas memejamkan matanya sembari menikmati aroma kopi yang baru saja dihabiskan olehnya
Sesosok Makhluk hitam tinggi besar kini berdiri tepat di depannya menatap nyalang kearahnya.
Makhluk itu menggerakan tangannya hendak mencekik leher Anas, namun dengan cepat Anas langsung menepisnya.
"Menyingkir Lah, jika kau masih mau hidup!" ucap Anas dengan tatapan tak kalah menakutkan
Bukannya menghilang makhluk itu justru merubah dirinya menjadi sosok yang lebih menyeramkan. Tubuhnya membesar dua kali lipat, kuku-kukunya semakin tajam dan meruncing, dan sebuah tanduk mulai keluar dari kepalanya.
Dengan santai Anas menjentikkan jarinya. Sosok Bromo Sengot pun keluar dengan Tubuhnya yang membesar sepuluh kali lipat, membuat Makhluk itu langsung ketakutan dan menghilang dengan cepat.
"Sepertinya dukun itu sudah terang-terangan menerang mu, apa perlu aku menyingkirkannya?" tanya Bromo
"Tidak perlu, karena jika aku melakukan hal itu maka aku tak ada bedanya dengan Dia. Kita ikuti saja permainannya, aku juga penasaran kenapa ia terus menerus menyerang Gunawan, tidak mungkin ia tidak memiliki motivasi tertentu bukan?"
"Kalau untuk masalah ini, sebaiknya anda tanyakan saja kepa Gunawan, aku yakin dia pasti tahu alasannya?" jawab Bromo kemudian pamit pergi
Jarum jam sudah menunjukkan pukul dua pagi. Anas pun segera masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya.
Siang itu semua warga tampak bersemangat berkumpul di balai desa. Seorang pria Kemudian naik keatas podium dan memperkenalkan calon lurah desa yang akan mengikuti pemilihan langsung di desa tersebut.
Dari empat kandidat lurah diantaranya adalah Teguh putra dari Mbah Paing.
Setelah menyampaikan visi misinya, Mereka pun diarak mengelilingi kampung oleh warga.
"Sepertinya pertarungan kali ini akan menjadi sengit karena dua anak dukun sakti akan bertarung menjadi orang nomor satu dikampung kita," ucap salah seorang pria di sebuah kedai makanan
"Benar, Mas Teguh dan Mas Aryo akan jadi saingan berat, sementara dua kandidat lainnya mah hanya sebagai pelengkap saja," timpal yang lainnya.
"Kalau kamu milih siapa Wir?"
"Ya jelas Mas Teguh lah, soalnya kata Mas Roni siapapun yang milik Mas Teguh akan dikasih amplop, belum lagi dia akan memberikan pengobatan gratis dan juga bagi yang punya usaha akan di bantu agar usahanya sukses,"
"Pengobatan gratis di kasih kartu berobat gratis gitu?" tanya Anas penasaran
"Bukan Mas, tapi pengobatan alternatif dari Mas Anas sama Nyi Paing tentunya, kemarin saja saya sudah di kasih jimat buat penglaris di warung kelontong saya sama Mas Teguh, jadi ya sudah pasti aku harus pilih dia. Belum lagi amplop yang di janjikan, katanya isinya lumayan besar," imbuhnya dengan perasaan bangga
Anas tersenyum mendengar jawaban pria itu.
"Sekarang aku tahu alasannya,"
Anas kemudian buru-buru membayar makanannya dan bergegas menuju ke perkebunan Apel. Anas memang memutuskan untuk bekerja kembali di perkebunan apel milik Gunawan.
Meskipun Gunawan sudah memintanya menjadi mandor dan pengawalnya saja namun Anas menolaknya. Ia tetap memilih menjadi penjaga kebun seperti dulu.
Hari ini Gunawan sengaja meninjau kebun apelnya. Anas langsung menghampirinya dan menemaninya saat ia melihat-lihat buah apel yang siap untuk di panen.
"Syukurlah sepertinya hasil panen bulan ini akan meningkat," ucap Gunawan
Lelaki itu kemudian mengajak Anas untuk menikmati kopi di pos jaga. Tidak lama seorang pria datang menghampiri mereka.
Gunawan tak asing dengan pria itu. Ia masih ingat betul dia adalah pria yang ingin membeli pohon Kelor di rumahnya waktu itu.
"Apa yang bisa saya bantu Mas?" tanya Gunawan dengan ramah
Pria itu kemudian menyampaikan maksud kedatangannya.
"Memang saya sedang mencari pembeli buah Apel. Jika harga yang Mas Tawarkan cocok ya saya pasti akan dengan senang hati menjualnya sama Mas Aryo," ucap Gunawan
"Tapi, saya ingin membeli semua apel di perkebunan ini bersama dengan tanahnya juga Pak Gun, soal harga saya tidak masalah berapapun yang anda minta aku setuju saja, bagaimana apa anda setuju?" tanya Arya
"Tapi sayangnya saya tidak ingin menjual tanah ini, jadi maaf Mas Arya saya tidak bisa menjualnya kepada anda," jawab Gunawan
"Sepertinya Bapak memang tidak pernah menuruti ucapan saya, andai saja dulu anda mengikuti perintah ku dengan menjual pohon kelor itu kepada saya mungkin anda tidak akan kehilangan istri dan anak anda. Sekarang tinggal anda renungkan, apa anda ingin kehilangan nyawa anda dengan mempertahankan perkebunan ini atau anda akan menjualnya kepada ku untuk keselamatan anda!" jawab lelaki itu kemudian meninggalkan Gunawan
Gunawan tampak memegangi dadanya yang terasa sesak setelah mendengar ucapan pria itu. Anas yang merasa lelaki itu mengancam keselamatan Gunawan pun segera mengusir pria itu.
"Anda baik-baik saja pak?" tanya Anas memastikan kondisi Gunawan
"Tolong usir pria itu dari sini!" jawab Gunawan meringis menahan sakit
"Sebaiknya anda pergi sebelum saya mengusir anda dari sini!" seru Anas
Lelaki itu tak langsung pergi meskipun Anas sudah mengusirnya. Ia justru berdiri menatap intens kearah Anas.
"Sebaiknya kau jangan jumawa hanya karena memiliki Keris Bromo Sengot, karena lawanmu kali ini bukan dukun sembarangan jadi hati-hati anak muda, jangan sampai kau yang harus jadi korban dalam pertarungan ini," ucap pria itu kemudian meninggalkan tempat itu.
Melihat kondisi Gunawan yang sekarat membuat Anas segera membawanya ke rumah sakit.
Gunawan yang terkena serangan jantung segera di larikan ke ruang ICU. Karena tak memiliki keluarga terpaksa Anas dan Purnomo lah yang harus menjaga pria itu bergantian.
Selama Gunawan di rawat di rumah sakit segala urusan perkebunan di handle oleh Purnomo sebagai orang kepercayaan Gunawan. Tak sedikit para juragan yang datang untuk menawar hasil panen apel milik Gunawan.
Karena begitu banyak pembeli Purnomo pun kebingungan. Ia malah meminta bantuan Anas untuk menangani para pembeli.
Malam itu giliran Purnomo menjaga Gunawan, sedangkan Anas di tugaskan Purnomo untuk menjaga perkebunan. Ia khawatir ada yang merusak tanaman apelnya karena apalagi musim panen sudah tinggal menghitung hari.
Awalnya tidak ada yang ganjil saat ia berjaga. Semua berjalan seperti biasa, namun tepat pukul dua belas malam Anas mendengar suara aneh di dalam perkebunan.
Karena penasaran Anas pun mengambil senter dan masuk ke perkebunan untuk melihat apa yang terjadi.
Tiba-tiba Anas terkesiap saat memasuki perkebunan. Kebun yang luasnya hampir satu hektar dan ditanami oleh apel tiba-tiba saja berubah menjadi sebuah pasar.