Arsyila Almahira, seorang mahasiswi tingkat pertama yang berprestasi tetapi mengalami kejadian pahit. Tersebarnya video scandal itu membuat dirinya harus pergi jauh dari ibukota. Ayahnya bahkan mengusirnya dari rumah dan tak lagi menganggapnya anak.
Arsyila memutuskan untuk merubah penampilannya menjadi wanita bercadar. Ia berpindah kuliah di universitas Islam dengan jurusan berbeda dari sebelumnya. Ia juga tinggal di pesantren untuk memperdalam ilmu agamanya. Jujur, kejadian yang menimpanya membuatnya sedikit trauma dan berniat untuk memperbaiki diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.27
"Apa yang kamu lakukan?" Abah Ahmad berdiri dari duduknya lalu mendekati Fatimah.
"Saya tidak akan rela jika mereka berdua menikah," tunjuknya kepada kedua mempelai yang sedang duduk," Apalagi jika pernikahan ini berawal dari kelicikan."
Semua tamu undangan saling berbisik. Mereka tak menyangka ada wanita seberani Fatimah yang berani mengganggu acara pernikahan anak Abah Ahmad.
"Apa maksudmu? Siapa yang licik?" tanya Abah Ahmad.
Baru juga Fatimah akan menjawab, tak jadi saat ada dua orang pengawal yang tiba-tiba memegangi tangannya.
"Usir wanita ini! Dia sudah mengganggu acara pernikahan anak saya," ucap Umi Khadijah kepada dua pengawal itu. Kebetulan tadi Umi Khadijah yang memanggil mereka.
"Tunggu! Kalian jangan seenaknya pegang-pegang saya!" Fatimah mencoba melepaskan diri tetapi tak bisa.
Abah Ahmad merasa penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh wanita di depannya. Sampai-sampai berani mengganggu di acara seramai ini. Pasti wanita itu mempunyai alasan tersendiri.
"Sebaiknya kamu bicarakan apa maksud perkataan kamu tadi," pinta Abah Ahmad sambil menatap Fatimah.
Fatimah tersenyum senang karena Abah Ahmad tak ikut mengusirnya. Malah mengizinkannya untuk berbicara.
"Abah, sebaiknya biarkan saja dia pergi. Biar pernikahan anak kita bisa langsung di lanjutkan," ucap Umi Khadijah.
"Umi, sebaiknya kita kasih kesempatan dulu untuknya. Dia berbuat seperti ini mungkin saja karena ada alasannya," ujar Abah Ahmad yang tampak bijaksana.
Umi Khadijah melirik sebentar ke arah Fatimah lalu menghela napasnya. "Baiklah, kamu bicaralah! Lalu setelah itu pergi dari sini."
Disisi lain Ustadzah Hilya tampak ketakutan. Ia takut jika saja Fatimah membongkar rahasianya. Walaupun yang ia tahu Fatimah belum mendengar pembicaraan mereka tempo hari. Namun, ada rasa panik dalam dirinya.
Fatimah menghirup napas sejenak lalu menatap Adam dan Ustadzah Hilya secara bergantian. Lalu ia mendekati meja akad dan memegang microphone. Umi Khadijah hendak merebut microphone dari tangan Fatimah tetapi Abah Ahmad melarangnya. Sebenarnya Umi Khadijah tak ingin kalau Fatimah semakin mengacau.
Fatimah mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku gamis yang ia kenakan. Lalu memutar sebuah rekaman suara dekat dengan microphone, sehingga suara rekaman itu terdengar keras. Bukan hanya satu rekaman saja namun ada beberapa. Disana juga ada video dari pemilik suara.
Semua tamu undangan tampak riuh setelah mendengar rekaman itu. Mereka saling berbisik, ada yang menggunjing Ustadzah Hilya. Dan ada pula yang menatapnya kasihan.
"Ya seperti rekaman yang kalian dengar. Itu adalah kenyataannya. Adam bukanlah lelaki yang sudah menodai Ustadzah Hilya, jadi dia tidak berhak bertanggung jawab. Bahkan saya juga punya rekaman video dari pemilik suara itu. Mereka tiga laki-laki dan satu perempuan. Aldo dan gengnya, yang perempuan tentu Ustadzah Hilya. Jadi, jika keluarga Abah Ahmad ingin meminta pertanggung jawaban itu harusnya sama Aldo bukan sama Adam yang tidak bersalah," jelas Fatimah.
Semua tamu masih saling berbisik. Adam bersujud syukur karena akhirnya pernikahannya batal. Sedangkan Umi Khadijah dan Abah Ahmad tampak malu karena aib keluarganya di ketahui oleh banyak orang. Mereka tak menyangka Hilya akan melakukan hal seperti itu demi menikah dengan Adam.
Plak
Umi Khadijah menampar Ustadzah Hilya di hadapan semua orang. "Begini caramu berterima kasih sama Umi dan Abah? Kami sudah membesarkanmu sebaik mungkin tapi kamu malah mempermalukan kami." Umi Khadijah terisak tak bisa lagi menahan air mata yang menetes begitu saja dari sudut matanya.
"Maafkan Hilya, Umi, Abi." Hilya menunduk dengan tubuhnya yang sedikit gemetar.
Abah Ahmad mengambil microphone lalu mengatakan beberapa kata. "Terima kasih untuk semua tamu yang sudah hadir. Namun, sepertinya pernikahan anak angkat saya tidak bisa di lanjutkan. Untuk semuanya di perbolehkan pulang karena setelah ini tidak akan ada acara apa pun lagi."
Ustadzah Hilya merasa sakit saat mendengar Abah Ahmad menyebutnya sebagai anak angkat. Ini pertama kalinya Abah Ahmad mengatakan anak angkat. Selama ini kata-kata itu tak pernah keluar dari mulutnya. Mungkin karena Abah Ahmad sudah terlanjur kecewa kepada Ustadzah Hilya.
Adam mengajak keluarganya untuk pulang. Tak lupa mereka berpamitan terlebih dahulu dengan keluarga Abah Ahmad. Adam juga berterima kasih kepada Fatimah karena sudah berhasil mendapatkan bukti kelicikan Ustadzah Hilya.
Setelah kepergian semua orang, Ustadzah Hilya, Aldo dan gengnya di minta berkumpul di rumah Abah Ahmad. Tentu Abah Ahmad akan mengusut masalah yang di sebabkan oleh mereka.
"Abah mengumpulkan kalian disini karena Abah ingin tahu siapa lelaki yang sudah menodai Hilya dan membantunya memfitnah Adam," ucap Abah Ahmad sambil menatap ketiganya. Namun, mereka masih menunduk takut.
"Jawab!" Abah Ahmad sedikit meninggikan suaranya.
"Maafkan Hilya, Abah." Hilya langsung berlutut di bawah kaki Abah Ahmad. Ia sungguh menyesal karena ulahnya membuat nama baiknya jelek.
"Abah sudah memaafkanmu. Sesungguhnya tidak ada manusia yang suci. Semuanya pasti memiliki kesalahan. Namun, semua yang kamu perbuat tidak akan mengembalikan keadaan. Pasti saat ini gosip itu sudah beredar di luar pesantren. Abah hanya takut jika pesantren kita di tuntut karena tidak bisa memberikan contoh yang baik," keluh Abah Ahmad
"Maafkan Hilya, Abah. Hilya akan melakukan apa saja agar pesantren ini tidak di tuntut," ucap Hilya.
"Baiklah, jika begitu menikahlah dengan lelaki yang sudah menodai kamu dan pergi dari sini. Bukannya Abah ingin memutuskan hubungan denganmu, tetapi Abah hanya ingin kamu hidup mendiri di luar sana. Kamu masih boleh berkunjung kesini," ucap Abah Ahmad.
"Saya akan menikahinya dan mengajaknya tinggal di kampung saya. Maafkan saya atas semua kesalahan yang sudah saya perbuat," sahut Aldo yang sejak tadi hanya diam.
"Abah sudah memaafkan kalian berdua. Abah ingin hari ini juga kalian menikah," ucapnya sambil menatap Aldo.
"Baik, Abah. Nanti saya akan menghubungi orang tua saya untuk datang kesini," ucap Aldo.
"Abah tunggu orang tua kamu, Nak."
Setelah meminta maaf kepada Abah Ahmad, kini Aldo dan teman-temannya pergi dari sana. Hanya tinggal Ustadzah Hilya dan Abah Ahmad saja yang duduk disana. Umi Khadijah sudah sejak tadi pergi ke kamar. Jujur Umi Khadijah masih syok.
Sebenarnya Ustadzah Hilya dan Aldo tidak melakukan hubungan badan. Aldo hanya meninggalkan jejak merah saja di tubuh Ustadzah Hilya. Namun, apa pun yang mereka lakukan tetap saja itu zina dan mereka harus menikah.
"Nak, kamu jangan sedih ya karena Umi mendiamimu. Nanti juga hilang marahnya," ucap Abah Ahmad.
"Hilya mengerti kok apa yang Umi rasakan dan Hilya pantas mendapatkannya."
"Abah mau ke kamar dulu ya lihat Umi." Abah Ahmad beranjak dari duduknya lalu pergi dari sana.
Hilya pun memilih pergi ke kamarnya. Ia sangat malu kepada semua orang. Mungkin keputusan Abah Ahmad memang yang terbaik untuknya. Lagian jika ia masih tetap tinggal disana hanya menjadi beban keluarga.
hahaha 🤣🤣🤣
kamana wae eta .. 🤣🤣🤣
🤣🤣🤣
saudaranya mungkinn . atau adiknyaa . 🤣🤣🤣🤣🤣
org tua ga tau apa manten baru
pake nannya lagi ga buka pntu lama ngapain . 😝😝😝😝
habs ini apalgi konflik nyaa . 🤣🤣 seruu yaaa.