Aku terbangun setelah pingsansaat bekerja lembur di kantor. saat aku membuka mata aku lagi, aku sudah tidak lagi berada di kantor “dimana ini?” belum sempat memahami situasi seseorang berteriak dari arah pintu “Permaisuri!!”.
Permaisuri? Siapa? Aku?
“syukurlah anda telah sadar permaisuri” ujarnya sambil menangis. “ dimana permaisuri?” semua terlihat sangat terkejut. “anda permaisuri, permaisuri Alena. Alena de Mois”
Alena de Mois? Sepertinya aku pernah mendengar nama ini, jangan bilang permaisuri jahat yang menyiksa anak tirinya? Dan di bunuh akibat pemberontakan?
Tidakkk...! jangan bilang aku merasuki novel dan menjadi penjahat ! kenapa aku di hidupkan kembali jika pada akhirnya aku akan mati lagi? Bahkan lebih mengenaskan? Aku akan memutuskan kali ini aku akan mati dengan cara yang baik, setidaknya bisa mati dengan nyaman?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mois, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Entah mengapa hari ini aku merasa lebih lelah dari sebelumnya, apa karena permasalahan kekaisaran semakin rumit setiap harinya? Terlebih kasus pengeboman masih menjadi tanda tanya.
Hah~
Aku ingin beristirahat sejenak
“ben”
“ya yang mulia “
“aku akan beristirahat sejenak d kamarku, tolong panggil aku saat jam makan siang” ujarku
“Baik baginda” jawab Ben
Aku berjalan menyusuri lorong istana, saat mendekati kamar permaisuri Aku bisa mendengar keributan. Apa yang terjadi?
Saat mendekat menuju kamar permaisuri, aku mendengar suara tamparan, aku segera bergegas masuk.
“Ada apa ini?!” tanyaku
Aku melihat Stela di lantai sedangkan permaisuri berada tepat di hadapannya. Sejenak aku sedikit kecewa, apakah permaisuri membuat ulah lagi? Bukankah dia sudah berjanji? Dan yang aku tidak habis pikir, ada Rudine di kamar itu.. diamenampar seseorang di hadapan anak-anak?
Tapi melihat tatapannya yang begitu percaya diri dengan meyakinkanku bahwa diatidak bersalah, aku mencoba mendinginkan pikiranku serta menurunkan ego. Baiklah.. mari kita tenang dan dengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Ucapku dalam hati.
Dari versi Stela, tentu permaisuri lah yang bersalah. Tapi kali ini aku akan mendengarkan penjelasan permaisuri sebelum memutuskan.
Setelah memerintahkan Stela keluar, aku duduk bersama permaisuri dengan ditemani secangkir teh. Jujur aku merasa sedikit tenang saat ini, bersama dengannya .. entah mengapa terasa seperti kenangan lama yang terulang kembali, padahal aku yakin aku tidak pernah menghabiskan waktu seperti ini dengan Alena.
Akupun sejujurnya merasa amat tidak nyaman dengan Stela, sebagaimana ia menyentuh tubuhku seenaknya walaupun hanya menyentuh lenganku, aku sangat tidak nyaman. Tapi karena ia orang kesayangan Sabrina, aku tidak bisa berbuat banyak.
Saat permaisuri menjelaskan bahwa semua berhubungan dengan Serina, ubun-ubun ku mendidih. Aku bukan orang bodoh yang tidak mengerti penjelasan itu. Sejujurnya akupun curiga dengan Stela setelah wafatnya Sabrina, tapi aku menutup mataku karena Serina selalu tampak bahagia saat bersama Stela.
Akupun merasa tidak enak kepada Alena, aku telah mengabaikannya sebelumnya saat ia menjelaskan tentang Stela padaku, saat itu aku tidak bisa mempercai apapun yang dikatakannya, tapi kali ini berbeda. Setalah pertemuan kami malam itu, setelah semua pengakuannya..
semua sekarang terasa berbeda, hatiku sedikit menghangat. Tidak ada salahnya menyelidiki masalah ini secara rinci. Tapi saat ini aku ingin bertemu putriku.
Aku.. entah mengapa ingin bersama Alena saat ini, apakah aku salah memintanya menemaniku menemui putriku? Aku bisa melihat ketulusannya saat ia berbicara ingin merawat Serina sebelumnya, apakah aku memintanya menjadi ibu angkat Serina saja setelah semua ini? Mari kita putuskan setelah melihat putriku terlebih dahulu.
...****************...
Kami berjalan menuju kamar Serina. Aku berjalan bersama kaisar tanpa sepatah katapun. Saat masuk kekamar, terlihat putri masih tertidur.
“Putriku..”
Ujar kaisar lembut dan lirih.. tersirat luka pada nada itu.
Ia langsung menghampiri putrinya dan memeluknya.
“ayah?”
ucapnya sambil menggosok matanya karena masih mengantuk.
Suara kecil memecah kesedihan kaisar. Seakan mengerti kegundahan ayahnya ia menyentuh wajah ayahnya seraya berkata..
“ayah.. selin tidak apa-apa” Ujarnya sambil tersenyum
Astaga anak ini, hatiku jadi sedikit pedih melihat anak yang masih sekecil itu bersikap dewasa, terlepas entah dia benar-benar berenkarnasi dari kehidupan sebelumnya seperti yang di ceritakan di karya aslinya atau tidak, ia tetaplah anak yang masih di bawah umur, masih sangat kecil.Aku merasa malu menjadi orang dewasa, aku akan melindunginya mulai saat ini!
Aku hanya bisa melihat dari kejauhan ayah dan anak ini saling berpelukan, betapa hangatnya.. kaisar yang seperti tembok besi itu bisa berperilaku hangat seperti ini.. inilah sisinya yang mungkin tidak banyak yang tau, bahkan mungkin Alena yang aslipun tidak bisa melihat sisinya yang seperti ini, mungkinkah hanya Sabrina? Yah itu mungkin, Sabrina adalah kekasih kaisar tentu saja kaisar bisa menjadi dirinya sendiri di hadapan kekasihnya.
“pelmaisuli”
Suara kecil imut itu menyadarkanku dari lamunanku
“Ah, iya putri?” jawabku
“pelmaisuli, telimakasih ya.. telimakasih sudah menyelamatkan selin” Ujarnya dengan menundukkan kepala kepadaku memberi hormat walaupun ia hanya bisa duduk di atas tempat tidur.
“tidak.. tidak jangan seperti itu putri, itu adalah tugas orang dewasa, tentu saja aku harus melakukannya” ujarku agak sedikit panik. Entah mengapa melihatnya begitu sopan seperti ini aku merasa tidak enak.
“Alena..”
Mm? Apa? Kaisar memanggil namaku? Saking terjutnya aku tidak menjawab panggilannya, hanya terpaku menatap mereka berdua.
“Maukah kau menjadi ibu angkat Serina?”
Pertanyaan kaisar yang tiba-tiba membuatku tidak berkutik, seakan ada air hangat yang mengguyur hatiku, terasa hangat. Entah mengapa air mataku berlinang. Apakah kaisar sudah sedikit mempercayaiku? Dan akupun bisa merasakan hati ini sangat senang, apakah perasaan ini juga campuran dari rasa senang Alena yang asli?
Serina juga tampak terkejut dengan pernyataan kaisar, melihat ekspresi Serina aku tiba-tiba merasa takut. Aku terlalu senang sampai tidak memikirkan bagaimana pendapat Serina, jangan-jangan dia tidak mau, aku telah melakukan banyak hal buruk sebelumnya. Ah bukan aku tapi Alena yang asli.
“Saya tergantung bagaimana putri, baginda” jawabku
“serin, bagaimana pendapatmu?” tanya kaisar lembut
“ung, selin mau.. selin mau pelmaisuli jadi ibu selin”
Entah mengapa jawabannya membuatku sangat senang. Aku.. aku akan menjaga anak ini, aku akan menjadi Ibu terbaik untuk anak-anak ku, tentu bagi Serina ibu terbaik setelah Sabrina.
“Alena.. aku memohon padamu, bukan sebagai kaisar, tapi sebagai ayah, sebagai Alex.. ku mohon jagalah putriku seperti anakmu sendiri, aku tau ini adalah permintaan yang egois karena aku tau sebesar apa kau membenci Sabrina, tapi aku benar-benar memohon padamu, jagalah putri kecil ini” Ujarnya dengan lirih.
Aku terdiam sejenak, benar.. Alena yang asli membeci Sabrina, tapi aku tidak.
“Baik yang mulia, saya akan menjaga putri sebagaimana saya menjaga anak saya sendiri” jawabku serta memberikan senyumanku yang paling tulus.
Aku bisa merasakan kebahagiaan mereka berdua.
“telimakasih pelmaisuli, bisakah sekarang selina memanggil pelmaisuli dengan panggilan ibu?” tanyanya
“Tentu sajaa “ tanpa pikir panjang aku langsung menjawab pertanyaan putri kecil ini
“Lalu, tolong panggil selin mulai sekarang bu, jangan putli lagi” Ujarnya memelas
Astaga aku tidak bisa melihat keimutan ini. Aku segera mengangguk
“Tentu serina,putriku”
Mendengar itu Serina menangis, membuka tangannya di hadapanku memintaku untuk memeluknya, tentu saja aku segera mendekatinya dan memeluknya. Aku mengusap rambutnya dan mencium keningnya, lalu memeluknya lagi. Rudine yang sudah bersama kami dari awal mendekatiku, akupun memeluknya. Kami saling berpelukan. Aku akan menjaga anak-anak ini mulai sekarang! Apapun yang terjadi anak-anak ini akan menjadi prioritasku!
“terimaksih Alena”
Ah aku melupakan kaisar yang ada di samping kami, dia duduk tepat di samping Serina, astaga saking terharu aku melupakan keberadaannya. Tentu saja aku tidak memeluknya, saat sadar aku jadi malu apakah aku terlalu berlebihan? Tapi aku senang bisa menjadi ibu Serina, aku senang memeluk Rudine dan Serina, aku menyukai mereka berdua.