NovelToon NovelToon
Because Of Accident

Because Of Accident

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / One Night Stand / Single Mom / Romansa / Tamat
Popularitas:112.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Karena sifatnya yang terlalu mudah percaya kepada orang lain membuat Nadira terjebak di sebuah kamar dengan seorang laki-laki yang tidak ia kenali. Saat sadar ia sudah tidak mengenakan sehelai benang pun.

Nadira Laura, atau yang kerap dipanggil Dira hidup sebatang kara di dunia ini. Kedua orang tuanya sudah meninggal saat dia berusia 10 tahun akibat kecelakaan. Hidupnya bertambah hancur saat ia dinyatakan positif hamil.

Keputusan yang ia ambil setelah kecelakaan itu adalah meninggalkan kota ini. Ia tidak berniat mencari lelaki yang telah merenggut kehormatannya. Nadira memutuskan mencari kebahagiaan dan membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama calon buah hatinya.

Akankah Nadira mendapatkan kebahagiaan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taman

Alta masih tertidur pulas dari semalam karena efek obat yang diberikan kepada anak itu juga. Sedangkan Nadira dan Meysa sudah terbangun sejak matahari mulai memancarkan sinarnya. Meysa keukeuh tidak ingin pulang, karena ia juga sedang tidak ada kepentingan hari ini jadi wanita itu tetap akan menemani Nadira di rumah sakit.

"Nad, lo gak kerja kah? Atau mau izin buat gak masuk?" tanya Meysa karena melihat sahabatnya masih santai saja.

Nadira menepuk keningnya pelan. Saking paniknya, ia sampai lupa untuk meminta izin tidak masuk hari ini. "Duh, gue lupa lagi Mey. Bentar ya, gue keluar dulu mau nelpon mbak Nindi dulu," ujarnya lalu bergegas pergi.

Ia menelpon Nindi di depan ruang rawat anaknya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya telepon itu diangkat oleh orang yang dituju. "Halo, mbak Nindi," sapanya pertama kali.

"Halo Nad, lo dimana? Kok belum juga dateng ke kantor sih?" balas orang disebrang sana.

Nadira terdiam sejenak, sepertinya ada yang tidak beres di kantor karena tidak biasanya juga rekan kerjanya itu berbicara dengan nada yang tergesa-gesa.

"Mbak, emangnya kenapa ya?" tanyanya sebelum mengajukan izin libur hari ini.

"Aduh, Nad. Gue pusing banget ini. Pak Gabriel tiba-tiba aja dateng pagi-pagi banget terus marah-marah karena banyak pegawai yang gak bener kerjanya. Pokoknya bos kita hari ini aneh banget Nad, lo cepetan kesini deh."

Wanita itu jadi tidak tega jika harus membiarkan Nindi kerja sendiri. "Tadinya saya mau izin hari ini mbak, anak saya lagi sakit. Tapi, kayaknya di kantor lagi banyak kerja banget ya."

"Ya ampun Nad, semoga anak lo cepet sembuh ya. Nanti gue izinin deh ya. Nad, udah dulu ya pak Gabriel udah manggil gue lagi nih, bye."

Sebelum sambungan telepon itu terputus Nadira bisa mendengar dengan jelas jika bos nya memanggil rekan kerjanya dengan suara yang keras. Nadira mempertimbangkan keputusannya untuk izin hari ini. Ia kembali masuk ke dalam ruangan anaknya.

"Mey, kayaknya gue harus kerja hari ini deh," ujarnya dengan wajah yang lesu.

"Loh, gak bisa izin Nad? Kenapa?" tanya balik Meysa.

"Bisa sih kayaknya, cuman di kantor lagi sibuk banyak kerjaan banget. Jadi, gue gak enak kalau harus izin sekarang," jawab Nadira.

Meysa menghela nafas pelan, sahabatnya ini memang tidak pernah berubah selalu saja tidak enakan. "Yaudah, lo kerja aja, biar gue yang jagain Alta disini. Jangan ngerasa gak enak terus sama gue, lagian gue gak ada acara kok sekarang," ucapnya

"Maaf ya Mey, gue juga gak mau tinggalin Alta, tapi mau gimana lagi."

"Iya, gapapa. Lo mending berangkat sekarang deh, kan lo juga harus ganti baju, sebelum tambah macet."

"Gue berangkat ya Mey, tolong jagain Alta dulu, nanti juga suster Rani bakal kesini kok temenin lo."

Hari ini Nadira terpaksa harus meninggalkan anaknya yang masih di rawat karena ia harus bekerja. Selain ia merasa tidak enak karena harus izin ketika kerjaan sedang banyak, ia juga merasa tidak enak baru kerja sebulan sudah izin saja.

Sepeninggalnya Nadira dari ruangan itu Meysa hanya diam sambil memainkan handphonenya menunggu Alta bangun dan dokter datang untuk memeriksa Alta. Cukup lama ia menunggu sampai anak itu bangun ketika dokter masuk ke ruangannya untuk memeriksa.

"Halo, selamat pagi," sapa dokter Afnan ketika baru memasuki ruangan.

"Pagi juga dok," balas Meysa sambil tersenyum ramah.

Alta yang baru saja bangun belum menyadari dokter yang memeriksanya. Sampai ketika Afnan sudah berada di hadapannya anak itu memekik kesenangan. "Dokter! Kita ketemu lagi ternyata! Aku kangen banget," ujar Alta dengan suara lantangnya

Afnan terkekeh pelan, "udah bisa teriak berarti udah sembuh dong ya, coba dokter periksa dulu ya," ujarnya lalu mengambil stetoskop yang ada di lehernya.

"Aku gak mau sembuh, nanti gak bisa ketemu dokter lagi," ujar Alta dengan wajah polosnya.

"Loh, harus sembuh dong, kalau kamu sembuh kita bakal sering main."

"Dokter beneran? Waktu itu katanya kita bakal ketemu lagi, tapi ketemunya waktu aku sakit aja," ungkap anak itu dengan wajah sedihnya.

"Nanti dokter bilang deh sama bunda kamu kalau kita mau ketemuan, terus nanti kita main deh," kata laki-laki yang memakai jas putih itu

"Om janji?" Alta mengangkat jari kelingkingnya yang dibalas oleh Afna dengan menautan jari kelingking juga.

"Janji. Sekarang, kamu makan dulu biar makan obat oke."

"Gak mau, aku mau makan sama bunda. Bunda kemana tante Mey?" tanya Alta yang baru menyadari jika bundanya sedari tadi tidak ada disana.

"Bunda kamu harus kerja sayang, gak bisa libur. Bunda juga tadi titip pesan sama tante kalau kamu harus makan yang banyak. Jadi, sekarang kita makan ya," ujar Meysa mencoba membujuk Alta namun anak itu hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak mau.

"Atau kita mau makannya di taman? Sama om dokter deh ditemenin, gimana?" usul Afnan yang ikutan membujuk.

Barulah Alta menganggukkan kepalanya. Melihat itu Afnan pun meminta Meysa untuk membawa kursi roda agar memudahkan ia untuk membawa Alta menuju taman.

"Tante Mey, tante Mey tidak usah ikut, aku hanya ingin berdua saja dengan dokter," pinta Alta ketika melihat Meysa juga mengikuti langkah mereka.

Meysa sedikit menimang permintaan keponakannya itu, tapi ia juga sebaiknya menunggu di ruangan takutnya suster Rani akan kebingungan mencari ruangan. Apalagi ia juga melihat jika Nadira sepertinya sudah akrab dengan dokter ini.

"Yaudah, tapi Alta harus makan banyak ya. Dok, saya gapapa titip Alta ya?" tanyanya

"Gapapa, santai saja. Saya juga sudah kenal dengan Nadira jika kamu khawatir."

Afnan segera membawa Alta yang terlihat sudah tidak sabar menuju taman rumah sakit. Untungnya belum banyak orang di sana sehingga udara segar masih bisa mereka hirup. Laki-laki itu mulai menyuapi Alta dengan telaten.

"Om dokter, itu siapa kok ngeliatin aku terus?" tanya Alta sambil memandang ke salah satu arah di belakang Afnan.

Laki-laki itu menoleh dan menemukan Raihan sedang berdiri sambil menatap mereka, ia pun melambaikan tangannya memanggil temannya itu. "Oh, itu temen om, dia juga mau kenalan loh sama kamu," jawabnya

Raihan melangkah dengan ragu menuju Afnan dan Alta. Dalam matanya masih tersirat jelas rasa tidak percaya. Anak itu sangat mirip dengan ia, apalagi waktu kecil.

"Halo om, nama aku Alta, nama om siapa? Kata om dokter, om juga mau kenalan ya sama aku?" tanya Alta sambil menyodorkan salah satu tangan kecilnya.

Raihan segera menggenggam tangan kecil itu, ia merasakan sensasi yang berbeda saat pertama kali berpegangan dengan anak yang mungkin anak kandungnya ini. "Nama om Raihan," jawab Raihan dengan singkat

"Ayo om duduk disini temenin aku kayak om dokter juga, pasti capek kan berdiri terus dari tadi?"

"Iya, lumayan capek," Lagi-lagi Raihan hanya menjawabnya dengan singkat, pikirannya entah kemana.

"Om dokter, nanti kalau izin sama bunda, jangan lupa ajak om Raihan juga ya, biar aku banyak temen mainnya," pinta Alta dengan mata penuh harap.

"Iya, nanti om bilangin sama bunda kamu. Sekarang, kamu makan yang banyak dulu ya," balas Afnan sambil terus memasukkan sesendok makanan ke dalam mulut Alta.

Ia bisa saja melakukan tes DNA sekarang tanpa sepengetahuan ibu dari anak ini, tapi ia merasa tidak sopan jika harus melakukannya secara diam diam. Melihat interaksi keduanya yang sangat akrab Raihan merasa sedikit iri. Ia hanya bisa menatap anak itu dengan pikiran yang terus bergelut. Laki-laki itu hanya diam menyimak pembicaraan mereka sampai anak itu kembali masuk ke ruangannya.

1
Endang Sulistia
kerwn
Endang Sulistia
ceo bego
Endang Sulistia
🤦🤦
Ryan Jacob
semangat Thor
Layla Darmawan
dr afnan gak lihat kemiripn alta sm raihan yaaa
Adinda
coba Nadira sama Gabriel dulu buat raihan cemburu thor
͟͞͞➳❥ ꨄ︎ Rouxi Wang ꨄ︎˚₊·: jngan lah sis, nanti mlah jatuh cinta beneran diranya 😣
total 1 replies
Adinda
anak saja diterlantarin bertahun tahun demi pelihara jalang dengan kemewahan, nyesal kan lo Raihan
Durin Lily
nda sabar cerita selanjutnya ....kasih peluang sama annk Raihan menikmati kasih seorg ayah seutuhnya begitu juga dan Nad kasih seorg cowok sejati
Durin Lily
nda sabar cerita selanjutnya ....kasih peluang sama annk Raihan menikmati kasih seorg ayah seutuhnya begitu juga dan Nad kasih seorg cowok sejati
Yati Yati
di gantung thor
Tsalis Fuadah
nah lelaki begokan,,,,,
Riskiya ahmad
lanjur
Tsalis Fuadah
buat apa nanya nanya,,,,toh tdk ada tindakan yg menunjukkan itikat baik baik terhadap wanita itu maupun darah dagingnya,,,
Rita Tanti
Luar biasa
Rasni
ceritanya bagus lanjut dong author...
Yati Yati
kasian bgt alta sabar bunda
Intan Arios
semamgat thor
Amilia Indriyanti
logikane banyak yg kontradiktif
Amilia Indriyanti
jare hidup sederhana, nongkronge dok cafe, camilane croissant 🫣
Rafa Fitria: halo kak, maaf sebelumnya atas ketidaknyamanannya, tapi bisa dibaca kembali ya kalau tokoh utama wanita nya tidak sendiri tapi bareng tokoh lain, terima kasih
total 1 replies
Amilia Indriyanti
jare entuk pesenan....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!