NovelToon NovelToon
KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI

Status: tamat
Genre:Aliansi Pernikahan / Tamat
Popularitas:185k
Nilai: 5
Nama Author: balqis

Kehidupan Abyaksa Pratama dan Anisa fitriani mulanya sangat bahagia. Di mata Anisa, Aby adalah sosok suami dan ayah yang bertanggung jawab dan penyayang. Tidak pernah terbersit sedikitpun di benak Anisa kalau pria pilihan Abahnya itu membawanya pada situasi di mana dia harus memilih antara ego dan kesempatan meraih surga.

Tragedi kebakaran di kantornya yang harus mempertemukan Aby dengan seorang wanita bernama Jelita.

Haruskah ia ikhlas membagi suaminya dengan wanita lain? yuk kita ikuti bareng- bareng ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Hari yang melelahkan buat Al bany.

Semua sesi lomba mereka ikuti. Termasuk permainan yang menguji kekompakan para orang tua.

"Tidak, jangan di ikuti,Nisa. Kau tidak boleh terlalu capek."

"Tapi aku tidak bisa melihat Al kecewa. Aku janji, akan bilang kalau memang aku kelelahan. Dan karna sangat menikmati hari itu, Anisa lupa pada sakitnya. ia bahagia melihat kebahagiaan di wajah putranya.

Ustadz Yahya sangat mengkhawatirkan keadaannya, beberapa kali ia mengingatkan Anisa agar tidak bergerak terlalu aktif. Tapi Anisa mengabaikannya.

Pada puncaknya saat mereka selesai makan siang, Anisa ambruk tak sadarkan diri lagi.

Ustadz Yahya dan yang lainnya panik menghadapi kenyataan itu.

Yahya ingat bahwa di ponsel Anisa ada nomor Dokter Ratna.

Tapi sayang nomornya tidak bisa di hubungi.

Akhirnya Yahya membawanya kerumah sakit.

Dengan gelisah dia menunggui Anisa yang sedang di tangani petugas.

Lalu terpikirkan untuk menelpon Aby. Tapi panggilannya selalu di reject.

Ternyata ponsel Aby sedang di pegang Jelita.

Ia yang dari awal merasa benci pada Anisa. Dengan sengaja menolak panggilannya.

"Aku tidak akan memberi kesempatan kalian dekat lagi." ucapnya sambil menghapus riwayat panggilannya.

Ia buru-buru meletakkan ponsel itu di tempat semula Karana Aby keluar dari kamar mandi.

"Aku akan menemui dokter, siapa tau kau sudah boleh pulang hari ini." kata Aby sambil mengambil ponselnya. Ia sama sekali tidak menaruh curiga pada Jelita.

Jelita hanya mengangguk ia berharap Aby tidak akan pernah tau tentang perbuatannya.

Anisa sudah sadar, saat membuka mata yang lihatnya pertama kali adalah wajah ustadz Yahya.

"Mas Aby...!" ucapnya lirih.

"Tenanglah, jangan pikirkan yang lain dulu. Aku disini akan selalu mendukungmu." ucap Yahya pelan. hatinya teriris melihat kondisi Anisa.

Dalam hati, ia merutuki sikap Aby.

"Dimana dia saat istrinya membutuhkan nya?"

Dokter Ratna datang tergopoh. Yahya langsung mencegatnya.

"Saya sudah menghubungi Dokter, tapi tidak bisa. Tolong Anisa, Dok!"

"Tenang, tenang dulu, Mas. Saya akan memeriksa kondisinya."

Setelah beberapa saat,

"Kondisinya semakin parah. secepatnya dia harus dioperasi, kapan kalian akan berangkat, saya akan dampingi."

"Terimakasih, saya akan segera mengurusnya."

 Yahya mondar mandir di ruangan itu, ia memikirkan bagaimana caranya untuk membujuk Anisa agar secepatnya mau berangkat keluar negeri.

"Apa kata Dokter Ratna?" tanya Anisa. Ia melihat pria itu sangat gelisah.

"Keadaanmu semakin melemah, kau harus cepat menjalani operasi pengangkatan sel sel kanker itu. aku akan mencari tau tentang prosedur dan biayanya."

"Setelah aku pikir-pikir, aku tidak mau menjalani operasi. Yang sering ku baca, walaupun dengan menjalani operasi dengan biaya yang fantastis. tingkat kesembuhannya hanya beberapa persen saja. Ketimbang uangnya di buang sia-sia, lebih baik di tabung untuk masa depan Al bany. Itu akan lebih bermanfaat."

"Tidak, Kau harus pergi! Kau dengar aku? apapun caranya kau harus pergi. Apa kau pikir nyawamu itu tidak berarti?" suara Yahya terdengar meninggi. Rahangnya terlihat mengeras, itu tanda seseorang sedang tegang atau emosi.

Anisa maklum kalau ustadz Yahya sangat mengkhawatirkan dirinya.

Karna itu dia tidak membantah lagi.

"Dokter paling hebat sekalipun tidak berhak memutuskan tentang hidup dan matinya seseorang. Kita wajib berikhtiar selain berdoa tentunya." kini nadanya mulai melunak.

Anisa tidak menjawab lagi.

"Aku akan keluar sebentar .!" ucapnya seraya pergi meninggalkan Anisa sendirian.

Anisa memandangi punggung pria itu. Sangat jelas terlihat dia sedang menyembunyikan air matanya.

Tak berapa lama, ia masuk lagi sambil membawa makanan.

"Bagaimanapun keadaannya, perut tidak boleh di biarkan kosong." ucapnya sambil meletakkan semangkuk sup hangat yang dia pesannya di kantin rumah sakit itu.

"Cobain, Nis. Aromanya sangat lezat, sangat menggugah selera, kau pasti suka."

Anisa menerimanya dengan tersenyum.

Andai saja yang di depan ya dan bersikap manis saat ini adalah Aby, betapa bahagianya ia rasakan. Tapi itu hanyalah mimpi belaka baginya. Kini suaminya itu sudah semakin jauh dari jangkauannya.

Ia mencoba mendekatkan hidungnya pada mangkuk yang di pegangnya.

"Aneh... Aku tidak mencium aroma apapun. Hidungku sedang mampet barangkali." ucapnya dalam hati.

"Terimakasih... baunya memang lezat." ucapnya berbohong. Ia tidak mau mengecewakan pria baik itu.

Dengan bersemangat, Anisa menyendok kan satu sendok ke mulutnya. Ia mencoba menikmatinya,tapi ia menghentikan kunyahannya.

ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Semua hambar di lidahnya.

"Kenapa? Tidak enak, ya?"

Yahya heran melihat kebingungan di wajah Anisa.

"Sangat enak, mungkin karena yang memberikannya juga berhati tulus hingga membuat rasa sup ini terasa beda." ucapnya bercanda.

Dalam hati, ia merasa sedih, ternyata penyakit itu telah merampas indra penciuman dan pengecapnya. Namun ia tidak mau menampakkan kesedihannya.

"Aku sudah mencoba menghubungi pak Aby, tapi tidak di angkat."

Anisa tersenyum getir.

"Dia tidak perlu tau tentang keadaanku. tentu saja dia masih sibuk dengan Jelita." ucapnya sendu.

"Tapi aku tidak merasa kecewa, toh ada orang baik dan tulus seperti ustadz, berada di samping ustad, aku merasa aman karena sedang bersama saudara laki-laki ku."

Yahya tersenyum.

Biarlah apapun yang di rasakan Anisa untuk nya, ia tidak perduli. asih bisa bersamanya, melihat senyumnya adalah kebahagiaan tersendiri baginya. walaupun di hati yang paling dalam ia berharap yang lebih.

"Kenapa penyakit itu harus memilih wanita sebaik Anisa?" gumamnya putus asa.

Anisa berusaha bangkit. Yahya dengan sigap ingin membantunya. Namun Anisa refleks mengangkat tangannya.

"Aku bisa, ustadz.."

"Maaf...!" Yahya tersipu. Ia baru ingat kalau diantara mereka bukan muhrim.

Aby yang berjalan di depan ruangan Anisa, tak sengaja melihat Yahya dari celah pintu yang sedikit terbuka.

"Ustadz Yahya? Sedang apa dia disini?"

Dengan penasaran Aby mengintip kedalam.

Ia begitu kaget melihat Anisa yang sedang duduk di ranjang dengan selang infus di tangannya.

Antara marah dan penasaran ia membuka pintu tanpa mengucapkan salam.

Yahya dan Anisa spontan kaget.

"Maaf, aku sudah menganggu kebersamaan kalian. Aku hanya ingin tau kenapa Anisa sampai di rawat di sini?" kata Aby dengan wajah kesal uang tidak bisa ia sembunyikan.

"Aku hanya kecapean, dokter minta aku di infus saja." Anisa menjawab singkat.

Mata Aby mulai memerah menahan buliran bening yang hampir tumpah.

"Baiklah, aku tidak perlu bertanya lagi kenapa kau tidak mengabari ku. Aku tau, sekarang sudah ada ustadz Yahya yang menjadi pahlawan bagimu , dia bisa hadir kapanpun saat kau ada masalah." ucap Aby dengan emosi yang tertekan.

Anisa memalingkan mukanya, ia tidak mau Aby mengetahui bahwa dia juga sedang menahan air matanya dengan susah payah.

Sedangkan Yahya beringsut hendak meninggalkan mereka berdua.

"Tidak usah pergi, ustadz. Karna memang tidak ada yang harus kami bicarakan secara pribadi." kata Anisa. Aby menarik nafas kasar.

"Asal kau tau, Nis... Apa yang kau lakukan ini sangat melukai hati ku."

Butiran bening itu akhirnya tumpah dari mata Aby.

Aby keluar tergesa sambil meremas rambutnya yang lebat.

Anisa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Ia menangis terisak.

"Kenapa aku tidak bisa menahan kesedihanku saat melihatnya air matanya?

Aku merasa sakit saat melihatnya terluka."

Yahya menenangkannya. Lalu Anisa berkata lagi.

"Sebenarnya dia sangat baik, akhir-akhir ini sifatnya berubah karena dia merasa cemburu dengan kedekatan kita, dan memang itu yang ku mau, agar dia segera melepaskan ku."

"Aku tidak bisa memberi pendapat dalam masalahmu ini. Aku hanya bisa bilang, bersabarlah, semua pasti berakhir dengan baik." Yahya menarik nafas panjangnya.

Melihat cinta Anisa pada Aby, membuatnya merasa iri.

.

1
Farisfauzi' Moms
👍
Nur Karyani
Luar biasa
Aira Azzahra Humaira
kok jadi males bacanya
Aira Azzahra Humaira
ah nisa baik banget km sih istri tua banyak kelebihan nya
Aira Azzahra Humaira
udah bikin cerai aja biar tau rasa si abi jodohin ama ustadz yahya si nisa
Aira Azzahra Humaira
istri tua emang tiada tandingannya dah apa gak malu tuh si linta darat
Aira Azzahra Humaira
udah talak aja si jelita nya km udah cukup bertanggung jawab abi klu emang km gak rakus sih klu rakus ya pengen punya bini dua
Aira Azzahra Humaira
instingnya istri gak pernah salah
Aira Azzahra Humaira
emang bego ya si abi mau maunya di porotin cepetan katauan atuh Thor kacian si nisa nya biar mampusss tuh abi
Aira Azzahra Humaira
dasar abi oneng mau aja di bikin ribet
Santiani
kanapa si Aby mau aja/Sob/
Santiani
langsung baca bab 87 kok tamat nya gantung ya , cerita nya belum tuntas
Nur Hayati
Luar biasa
Aira Azzahra Humaira
tuh kan mulai bejat tuh ibunya si lita dasar gak ada ahklak
Aira Azzahra Humaira
bener kata Imran ngapain nolongin orang klu keluarga nya sendiri harus tersakiti
Aira Azzahra Humaira
dasarnya abi aja yg rakus perceraian emang di benci dalam agama tapi nyakitin istri mu bego
Yus Nita
lama x ganjaran buat si Risma, yg gak ada nyadar nu
Yus Nita
buat ulah
Yus Nita
emang lah si Risma, ntah kapan insyaf ny
Yus Nita
si Risma tuh aja yg do penjara ksn.
karena dia yg ngotot mau mengambil
Khalisa.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!