Qiana akhirnya menyetujui permintaan Reino untuk menikah dengannya , meski harus menyembunyikan pernikahan mereka karena status keduanya yang masih pelajar.
Kedua orangtua Qiana pun tak bisa menolak , apalagi mereka sudah banyak menerima kebaikan Orang tua Reino, Majikan mereka yang sudah sangat baik pada mereka, bahkan mau menyekolahkan Qiana di sekolah yang sama dengan Reino.
Pernikahan Qiana dan Reino pun akhirnya kandas setelah orang tua Reino mengetahuinya. Meski tidak rela , Reino dengan terpaksa mentalak Qiana , demi keselamatan orang yang diam - diam sudah mencuri hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wahyoeni"23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Azka cemburu
Sungguh rasanya sangat tidak nyaman berada satu mobil bersama mantan suami. Qiana duduk dengan membuang muka ke jendela. Meski begitu Reino sangat senang, bibirnya terus menyunggingkan senyuman.
Ini bukan di sengaja , Reino yang bermaksud menjemput Aric di sekolah menyuruh mobil yang milik Azka untuk pulang, tanpa ia tau bahwa Qiana sudah menunggu Aric di dalam sana.
" Qi , bagaimana kehamilan kamu ?". tanya Reino membuka obrolan , tidak enak rasanya di diamkan seperti ini.
" Alhamdulillah baik ". jawabnya tanpa menoleh ke arah Reino.
" Berapa bulan Qi ?".
" Jalan lima bulan ". masih belum menengok juga , Rei tak patah arang.
" Ohhh, apa kamu tidak mengidam ?".
" Biasa aja , aku bukan tipe orang yang suka merepotkan orang, apalagi membuat suamiku susah dengan ngidam yang aneh ".
Reino bersyukur Qiana masih mau menjawabnya, meski nadanya sedikit ketus.
" Aduhhh ". ucap Reino , berusaha membuat Qiana melihat ke arahnya , dan berhasil.
" Kamu kenapa ?".
" Papa kenapa ?".
Qiana menengok ke arah Reino , bersamaan dengan Aric yang juga menanyakan keadaan Papanya itu.
Yes akhirnya kamu melihat ke arah ku juga Qi.... kamu masih khawatir padaku , dan aku yakin masih ada aku di hati kamu Qi...
" Papa tidak apa - apa Ric , tadi seperti ada yang menggigit kaki ku ". bohong Reino.
" Apa ada binatang di mobil kamu Rei ?". Qiana mulai panik.
" Mungkin semut , sudah aku tidak apa - apa , bagaimana kalau kita berhenti di restoran depan, kebetulan ada apotek di sebelah sana , aku mau beli obat , apa boleh Qi ?".
" Ya , baiklah ". Qiana tentu takut di salahkan kalau terjadi apa - apa sama Reino, mengingat ia sedang berada satu mobil dengan laki- laki itu.
" Papa mau ke apotek , kamu sama Bunda masuk dulu ke dalam cari tempat , sekaian pesankan juga buat Papa , kamu masih ingat kan kesukaan aku Qi ".
Belum juga Qiana menjawab , Reino sengaja menghindar , ia ingin tau apa Qiana masih mengingat makanan favoritnya.
Senyum Reino mengembang ketika ia melihat di meja sudah terhidang makanan favoritnya.
Reino makan dengan lahap , makanan itu jadi terasa makin enak hanya karena Qiana yang memesannya. Padahal yang paling Reino rindukan adalah masakan Qiana , tentu saja Reino tidak bisa memintanya pada Qiana.
Karena perceraiannya dengan Michele sudah di putuskan, Reino memutuskan untuk mendekatkan diri pada putranya .
Kali ini Papi Roman dan Mami Rieta tidak bisa melarang Reino lagi , apalagi setelah mereka melihat foto Aric , kedua orang itu langsung jatuh cinta pada Aric , dan meminta Reino membawanya ke sana.
Reino pun dengan suka rela meninggalkan perusahaan Papinya , bahkan ia sudah mendapat pekerjaan di Jakarta.
Beruntung juga Daddy Robert tidak menarik investasinya ,dan semua itu atas permintaan Michele.
" Makannya pelan - pelan Rei , seperti orang yang sudah tidak makan sebulan saja ". Qiana merasa ngilu melihat cara makan Reino.
Reino malah tersedak mendengar teguran dari Qiana.." Uhukkk.....uhukk ".
" Minum Rei , makanya baca doa dulu , main embat saja ". omel Qiana , membuat hati Reino makin berbunga - bunga, merasa diperhatikan.
" Terima kasih Qi ". Reino meminum air pemberian Qiana....
Oh Tuhan , mohon hentikan waktu sekarang...aku ingin kebersamaan ini selamanya....
Tapi doa Reino tidak terkabul....Sesi makan pun berakhir, mau tak mau Reino mengantarkan Qiana dan Aric pulang ke rumah mereka.
Malamnya.....
" Bagaimana sekolah kamu hari ini Ric ?". tanya Azka.
" Menyenangkan Pa , ada teman baru tadi di kelas , dia berasal dari Bandung ".
" Cewek apa cowok Ric ?".
" Cewek Pa ".
" Cantik enggak ?". Azka mendapat pelototan dari Qiana.
" Kakkkk.... jangan ngajarin yang enggak benar ya !".
" Cuma bertanya sayang , gimana Ric , teman kamu yang dari Bandung cantik enggak ?".
" Cantik Pa , kayak Bunda , kulitnya juga putih ". jawab Aric polos.
" Tapi masih cantikan Bunda kan ?". ucap Azka.
" Aric enggak tau , yang Aric tau Bunda sama Chila sama - sama cantik, Papa jangan tanya lagi , Aric capek jawabnya ".
" Aric capek kenapa hemm , enggak mampir kemana - mana kan tadi siang ?".
" Cuma mampir makan siang sama Papa Rei ".
" Rei ??". Azka melihat ke istrinya .
" Tadi Rei jemput Aric , dia tidak tau kalau aku sudah menunggu di dalam , dia keburu menyuruh Bang Nanang pulang, Aric juga ikut maksa aku ikut semobil dengannya, terpaksa aku mau ". Qiana langsung menjelaskan, apalagi melihat mata Azka yang berubah sendu.
" Kenapa tidak mengabariku ?".
" Maaf Kak ".
" Ayo Aric , saatnya kamu bobo , Papa antar ke kamar kamu ". Aric menurut , ia di gendong Azka menuju kamarnya.
" Bunda , Aric bobo dulu ya ". Aric mencium pipi Qiana.
" Iya sayang, jangan lupa berdoa ya , biar mimpi indah ". Aric mengangkat dua jempolnya.
Qiana tau Azka sedang marah padanya. Ia pun menunggu Azka di kamar. Lama sekali.....ia ingin menyusulnya , tapi pintu keburu ke buka dari luar , Azka masuk dengan membawa segelas susu hamil.
Hati Qiana terasa adem , perhatian sekali suaminya ini.
" Kamu belum minum susu kan sayang?".
" Belum Kak ,terima kasih ".
" Sama - sama sayang ". Tapi Azka langsung naik ke kasur dan memunggungi Qiana.
Qiana ikut berbaring dan memeluk Azka dari belakang.
" Kak maafkan aku , aku menyakiti hati kamu ya ". Qiana mulai terisak, baru sekarang Azka berlaku seperti ini , dan rasanya sakit sekali.
Tak tega , Azka pun membalikkan tubuhnya menghadap ke Qiana.
" Hai sayang, sudah jangan menangis, aku tidak marah , aku hanya cemburu , aku takut kedekatan kalian akan menumbuhkan perasaan lama yang terpendam , dan kamu akan meninggalkan aku ".
Qiana menatap mata Azka lekat , sisa tangisnya masih terdengar, " Enggak Kak , sekarang aku cintanya sama kamu, Rei hanya masa lalu , tapi aku tidak bisa menghapus kalau dia Ayah kandung Aric , lain kali aku akan menghindar jika ada dia ".
" Tidak perlu seperti itu , aku percaya sama kamu , hanya aku minta jangan hanya berduaan saja dengannya meski itu ada Aric di antara kalian !". Qiana mengangguk.
" Aku dengar Reino sudah menetap kembali di Jakarta , ia bekerja di salah satu perusahaan besar yang menjalin kerja sama juga dengan perusahaan aku ".
" Terus apa hubungannya denganku kak , aku tidak perduli lagi dengannya ".
" Aku hanya memberi tau sayang , jadi kamu jangan kaget kalau Reino bakal riwa riwi menemui Aric ".
" Aku harus bagaimana Kak ".
" Kamu tenang saja , kita lihat saja nanti , apa yang akan Reino lakukan selanjutnya ".
" Oh ya Qi , panggil aku Mas , Aa , atau Beib gitu , jangan Kak lagi , aku berasa bukan suami mu tapi kakak kamu ".
" Panggil Mas aja ya ".
" Boleh "
" Sudah enggak marah lagi kan ?" tanya Qiana.
" Aku enggak marah sayang , tapi kalau kamu mau bikin aku senang sih enggak aku tolak ".
Qiana tentu tau apa yang di inginkan suaminya itu.....
Adegan panas...skip aja ya...🤭
Bersambung
Jangan lupa dukungannya ya 👍🏻