Ini tentang Elza, wanita lumpuh yang dinikahi Alvian sebagai pertanggung jawaban pria tersebut yang menjadi penyebab Elza harus mengalami kelumpuhan seumur hidupnya.
Alvian Pramana hanya bisa pasrah meski sebelumnya menolak mentah-mentah atas permintaan orang tua Elza yang menginginkan pertanggung jawaban dengan menikahi Elza. Karna orang tua Elza yakin tidak ada pria manapun mau menikahi putrinya yang cacat.
Alvian yang sempurna bersanding dengan Elza, wanita cacat.
Jangan lupa mampir ke:
Instagram: Khazana_va
Tik tok: Khazana_va
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon windanor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mempertahankan
Setelah pertengkaran dengan Riana, Alvian membawa Elza ke kamarnya. Ia mendudukkan sang istri di sisi kasur. Terlihat jelas raut ketakutan dan kesedihan terpatri di wajah Elza yang hanya diam memendam apa yang ia rasakan.
"Jangan masukkan ucapan mama ke dalam hati. Dia hanya sedang emosi saja," ucap Alvian berharap kesedihan itu sirna dari wajah Elza. Mengingat sang istri sedang hamil dan itu bisa saja mempengaruhi kesehatan janin.
Elza yang awalnya tertunduk kini menatap suaminya. Hawa panas mulai menyelimuti mata Elza."Tapi mama benar, aku tidak sepantasnya menjadi bagian dari keluarga ini. Apalagi aku hanya wanita cacat," balas Elza. Ia sadar betul dengan posisinya yang memang tidak pernah di harapkan di rumah ini. Walaupun Alvian sudah menerima dirinya dan berubah menjadi suami yang lebih baik tapi tetap saja ia tertekan dan diselimuti kesedihan karna kebencian beberapa orang di sekitarnya.
"Hei, jangan bicara seperti itu, Sayang. Aku bahkan sangat bersyukur mendapatkanmu." Alvian berusaha meyakinkan Elza.
Wanita itu diam dan lalu menundukkan kepalanya. Ia tak ingin membahas perihal ini, saat ini ia hanya ingin sendiri dalam kesunyian. Alvian menghela napas berat. Pria itu menegakkan tubuhnya lalu melangkah membuka lemari. Ia mengeluarkan koper dalam lemari lalu memasukkan pakaian miliknya ke sana. Keputusannya sudah bulat, ia akan membawa Elza pergi dari tempat ini daripada harus melihat istrinya tertekan.
"Kenapa pakaiannya di pindahkan ke koper?" Elza menatap heran dengan apa yang suaminya lakukan.
Alvian menghentikan pergerakan tangannya lalu menoleh."Kita akan pergi dari sini. Aku tidak ingin kau semakin tersiksa di sini karna mama."
Mendengar itu genangan air mata di pelupuk mata Elza semakin membanjir. Ada rasa haru yang menyelusup masuk ke dalam hati Elza. Wanita itu bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah tertatih-tatih menghampiri Alvian. Ia memeluk tubuh besar suaminya bersamaan dengan kristal-kristal bening yang meluruh begitu deras.
Alvian mengusap lembut punggung Elza dan mengecup keningnya. Ia berjanji akan mengganti segala menderita dan kesedihan yang istrinya rasakan dengan kebahagiaan.
"Jangan menangis lagi. Dia akan ikut bersedih," ucap Alvian melepaskan pelukan Elza. Wanita itu menatap perutnya. Seulas senyuman tercipta di wajah Elza.
"Alvian!" Suara teriakan Riana menggelegar dalam ruangan itu kala melihat putranya berjalan menuju ke pintu utama dengan membawa koper.
Wanita paruh baya itu melangkah cepat mendekati keduanya. Elza semakin mengeratkan lingkaran tangannya kala melihat Riana melangkah mendekati mereka berdua. Sungguh, hatinya sangat sakit sekali setiap kali mendengar hinaan dan makian yang mertuanya lontarkan padanya.
"Kau mau ke mana?" tanya Riana pada Alvian tak lupa tatapan sinis yang wanita paruh baya itu berikan pada Elza.
"Aku ingin pergi dari sini. Aku tidak ingin Elza semakin menderita karna ulah Mama!" Alvian menjawab dengan tegas.
Riana tampak geram mendengarnya. Rasa benci pada Elza semakin besar. Kehadiran wanita cacat itu membuat hubungannya dengan Alvian merenggang. Seharusnya ia singkirkan saja Elza.
"Sekarang kau semakin tak menghormati Mama, Alvian! Mama hanya ingin kau mendapatkan pendamping yang terbaik bukan Elza! Wanita cacat dan miskin seperti ini!" Riana menunjuk tepat di wajah Elza.
Elza semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Alvian. Tatapan yang Riana berikan membuat ia takut.
"Aku seperti ini juga karna Mama! Apa tidak bisa sekali saja Mama tidak mengungkit kekurangan Elza? Apa Mama lupa Elza seperti ini karna aku. Mau seribu kali pun Mama meminta ku melepaskan Elza, aku tidak akan mau!"
Perdebatan antara ibu dan anak itu menjadi bahan tontonan para pelayan. Miris melihat keluarga yang awalnya harmonis tanpa ada pertengkaran besar kini terpecah belah. Dalam masalah ini Elza tidak bisa di salahkan karna ia hanya korban. Riana terlalu terpaku pada status dan kedudukan seseorang. Sedangkan Alvian berusaha mempertahankan sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya.
•
•
Mobil Lamborghini hitam meleset begitu cepat membelah jalanan yang lengang oleh pengendara lain. Setelah pertengkaran dengan sang mama Alvian meninggalkan Riana yang mengamuk dan hampir menyerang istrinya.
Seulas senyum terukir di bibir Alvian menatap Elza yang tampak melamun dengan sorot mata yang kosong menatap ke arah luar jendela kaca. Ia tahu, pasti Elza memikirkan kejadian yang tadi. Sungguh, ia tidak menyesal memilih mempertahankan Elza walaupun itu berdampak pada hubungannya dengan Riana yang merenggang.
Elza tersentak ketika Alvian menyentuh tangannya. Wanita itu menoleh menatap suaminya.
"Sebentar lagi kita sampai."
Elza hanya membalas dengan senyuman tipisnya tanpa berkata apapun.
Alvian sudah menyiapkan sebuah rumah yang akan mereka tinggali dan akan menjadi awal lembaran baru mereka berdua.
wkwkwk
Hiiii 🙈