Bercerita tentang seorang gadis bernama Alexa, berusia dua puluh tahun, yang mengalami kisah luar biasa sepanjang hidupnya..
Malam itu adalah malam yang tak akan pernah dia lupakan. Malam yang menjadi awal mula ceritanya..
Kejadian yang membuat dia seakan tak bisa di kendalikan, jantung yang makin berdegup kencang, seolah tengah berusaha memompa darah baru yang mulai mengalir di sekujur tubuhnya...
Menjadikan suhu tubuhnya dingin, namun terkadang panas dan berkeringat..
Sampai akhirnya satu demi satu rahasia mulai terbongkar!
Sebuah fakta mengejutkan yang menyatakan dia berasal dari klan yang berbeda...
Dua darah yang mengalir dalam satu tubuh yang sama, ia pastilah amat terkejut saat mendengarnya!
Bagaimana dia akan melanjutkan kehidupannya di masa depan setelah tahu dia bukan sepenuhnya manusia?
Yuk! Yang suka cerita Non-Human boleh di intip dulu karya baru saya, sekalian di beri dukungannya, ya...
Terima k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Am, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Karena Aku
Alexa berbalik, di tatapnya Shaga yang tengah di hantam ke batang pohon yang menjulang tinggi dengan ranting-ranting yang sangat besar, di hantamkan tubuhnya oleh monster itu sampai terluka parah, mengeluarkan bau darah anjing basah nan segar dan sangat wangi.
"No! Sahga!!!" teriak Alexa sesaat setelah dia berada di antara dunia manusia dan dunia merah, tempat yang akan dia tuju sebagai tempat yang akan mengadu kehidupannya.
"Alexa, percaya padanya!"
Namun lagi dan lagi, ucapan Gabriell memaksa Alexa untuk tidak tenggelam dalam rasa cemas pada sang sahabat, apalagi sahabatnya itu sekarang tengah berjuang melawan ayah kandungnya sendiri.
Kini yang ada di mata Alexa hanyalah ketegaran yang dipaksakan oleh dirinya sendiri, mencoba memaksa diri untuk tega melihat Shaga kesakitan terkapar di atas tanah berbatu.
Bagaimanapun juga, Shaga pun tak bisa lari dari kenyataan, ia tak akan bisa menyeberang ke dunia merah sebelum kutukan untuk keluarganya berakhir.
Dan kini wajah laki-laki itu dipenuhi dengan darah, dengan luka yang sangat besar di pelipisnya, seolah menampilkan betapa sakitnya dijatuhkan oleh sang ayah kandung, namun dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk menerimanya.
Bukannya dia lemah, hanya saja, dia tak mampu membunuh atau sekedar melawan ayahnya. Bagaimanapun, dia hanya seorang putra yang harus tunduk pada sang ayah.
Namun apakah sang ayah peduli? jawabannya tetap pada kata tidak! tidak lagi, karena jiwa monster seakan telah menguasai jiwa dan raganya, membuat mata hati pria monster itu seakan dibuat buta, tak melihat kasih sayang, atau mungkin sekedar ikatan batin yang kuat dengan sosok putra tercintanya di masa lalu.
"Alexa, pergilah! berjuanglah!" ucapan itu nampak terdengar dengan sangat lirih dari mulut Shaga yang telah lemah, dengan senyuman tipis yang bisa Shaga berikan untuk sang sahabat sebelum Alexa harus pergi menghadapi apapun takdir yang akan dia hadapi.
"Ya! aku akan berjuang!"
Sebelum gadis itu terlihat meninggalkan dunia manusia, ia tatap sekali lagi wajah Shaga dengan penuh tangis, hingga akhirnya, pria monster itu menyadari akan siapa dirinya yang sebenarnya.
"Kau! itu kau!!"
Pria monster itu bergerak dengan cepat berlari ke arah pintu gerbang ghaib menuju dunia merah, dengan langkah kaki yang sangat cepat, menghentakkan kakinya di tanah berbatu, membuat tanah seolah-olah bergetar bak terkena gempa, membuat Shaga yang pada mulanya terkapar tak berdaya di atas tanah berbatu pun akhirnya terpaksa menggeret tubuhnya menahan kaki pria monster itu.
"Tidak! jangan harap kau bisa menangkap dia!!" ucap Shaga menahan langkah kaki sang monster.
"Gabriell! kakiku!! Arkh!!"
Namun agaknya Shaga tak bisa lebih cepat dari sang ayah. Kaki Alexa bagian kiri nyatanya telah tergapai oleh kedua tangan Sang monster, hingga akhirnya gadis itu pun terjebak dalam gerbang, ditarik oleh Linstain dan Gabriell, namun juga tak bisa lepas dari tangan monster serigala besar nan buas itu.
"Mimpi saja kau jika ingin kembali tanpa aku! sebelum aku berubah jadi normal, aku tidak akan melepaskan kamu dari dunia ini!!"
"Kau bilang apa? kau tidak mau melepaskan dia? baiklah! kalau begitu, mari kita rasakan sekuat apa gerbang ini menahanmu di sini!"
Di dorong saja tubuh monster besar itu, di goreskan tubuh monster itu pada gerbang ghaib yang terlihat seperti kilat menyambar, seolah kilatan api yang menyetrum tubuh Si Monster dan juga Shaga sampai rasanya memang benar-benar sakit.
Csssss
Csssssss
"Arkh!"
"Aaaaaaa!!"
Kekuatan yang dimiliki oleh Shaga nyatanya masih belum cukup untuk menembus benteng penghalang ini, bahkan sang ayah sekalipun.
Keduanya tergores dengan luka sayatan disertai kilatan api yang menyambar tubuh keduanya, hingga akhirnya, tangan si monster pun akhirnya melepaskan jeratannya pada kaki Alexa.
"Shaga!!!"
Tubuh itu mendadak tenggelam, bersamaan dengan hilangnya kilatan petir itu di gerbang pemisah, meninggalkan Shaga dan sang monster di sana, tergeletak tak berdaya sehabis mencoba melawan apa yang telah tertulis di dalam takdir.
Takdir yang menuntun keduanya dan membuat keduanya harus terdampar di dunia manusia, dan selamanya, sebelum wujud sang ayah berubah menjadi normal, dan sebelum Alexa ditemukan, keduanya bahkan tak akan pernah bisa menembus benteng tersebut.
Pria monster itu bangkit dari jatuhnya, mencoba meraba tanah yang keras lalu menatapi tubuh putranya yang telah terhampar tak berdaya di sisinya.
Wajah Sahga yang berdarah, dengan luka di pelipis, dan luka berat di bagian punggungnya.
Namun ia tetaplah seorang monster. Jiwa pembunuh seolah telah merasuki seluruh perasaannya, hingga tatkala melihat sang putra yang terkapar dengan lemah di hadapannya pun, ia tak terlalu peduli.
Miris sekali!
"Anak sialan!"
Bahkan ia terus saja mengumpat, sampai dia terbangun dan akhirnya berdiri dengan tegak kembali di samping raga Shaga yang tidak sadarkan diri.
"Bocah sialan!!"
Buk!
Blam!
Di tendang lah tubuh lemah milik Shaga, menimpa kembali pohon yang sama, membuat darah segar keluar dari mulut putranya, seakan memberi pertanda bahwa lukanya teramat berat.
Hanya saja, sang ayah bahkan tak akan pernah lagi peduli. Monster itu hanya kembali berjalan meninggalkan Shaga seorang diri di dalam hutan, dengan luka parah di sekujur tubuhnya.
Pria monster itu hanya terus berjalan menuju ke tempat persembunyiannya di dalam hutan yang lebat, rimbun, dan hanya dia yang berada di dalam sana, tidak ada orang lain lagi.
Swosh!
Sling!
Bruk!!
"Arkh!"
Ketiga orang itu terjatuh, menimpa tanah yang sangat panas, di penuhi dengan darah, dan juga beberapa bangkai yang telah terbakar api.
Mereka semua dibuat tercengang melihat kondisi yang baru saja mereka dapati. Kondisi di Medan perang, dengan darah serigala yang menetes di mana-mana, dengan badan para anggota vampir yang telah tergelatak dengan kobaran api yang menyala membakar bagian kepalanya.
"Tidak mungkin!" hanya kalimat itu yang bisa di katakan oleh Linstain saat mendapati sebuah tragedi di hadapan matanya.
"Negeri ini... telah hancur.."
Di pandangi saja oleh mereka dari kejauhan, lautan darah berwarna merah, menetes di antara dedaunan yang juga harus berwarna merah, menghiasi setiap tempat yang mereka tatapi dengan kedua mata mereka.
Ya, sejauh mata memandang, hanya ada penampakan darah dan puluhan bangkai serigala bercampur dengan vampir mati terbunuh dengan sia-sia.
"Ini pasti ulah dia! aku yakin itu!" ucap Linstain membuat Alexa dan Gabriell menatapnya.
"Sejak tadi aku hanya mendengar dia dan dia, kalian ini sebenarnya sedang membicarakan soal siapa?" Tanya Alexa dengan kepolosannya.
"Alexa, dia adalah kaum kita, dia Valheins, raja Vampire yang berkuasa di sini, menginginkan nyawa kamu sebagai kekuatan abadinya, dengan jantung kamu, dia bisa melakukan semuanya, termasuk memimpin dua dunia yang berbeda ini." Jelas Gabriell dengan wajah tegang.
"Kenapa kau sampai secemas itu saat menceritakan sosok Valheins padaku? apa dia sangat berbahaya seperti yang ada dalam pikiranku?" tanya Alexa pada Gabriell.
Sementara di sisi lain, Linstain tengah dibuat sibuk memeriksa seluruh bangkai serigala dan juga sisa vampir yang masih belum habis terbakar api.
"Jika kau menemukan orang yang paling berbahaya dalam dunia manusia, maka Valheins bisa seratus kali lipat dibanding manusia itu, dia adalah penguasa alam merah, dia yang mengatur segalanya, juga kakek kamu!"
"Kakek aku?"
Namun Linstain bangkit dari duduknya, membuat dua gadis itu akhirnya tak bisa melanjutkan perbincangannya dengan baik, dan harus memfokuskan otak mereka ke arah Linstain.
"Sialan! mereka pasti akan segera tahu kau telah kembali.." ucap Linstain membuat Gabriell agak cemas.
"Kenapa kau bisa seyakin itu?" tanya Alexa pada Linstain.
"Aroma tubuh kamu sangat berbeda dengan mereka, juga, langkah kaki kamu, langkah kaki kamu sangat jelas terlihat berbeda dengan kami semua, tanpa kau sadari, kau memiliki bentuk tubuh seperti manusia biasa, ajaib!" ucap Linstain pada Alexa, sambil menatapi salah satu kaki vampir yang masih tersisa itu.
"Aish! apa kau ini sedang bergurau? aku ini memang manusia biasa, apa sejak tadi aku bukan manusia?" tanya Alexa pada Shaga.
"Dia mungkin butuh adaptasi dengan dirinya, atau sedikit pengenalan tokoh agaknya lebih bagus dari dugaanku, kau tahu, sayang? gerbang itu bukan sembarang orang bisa membukanya, tapi lihatlah, kita dengan mudah melaluinya dengan bantuan Alexa, aku yakin dia memang orang yang kita cari.." ucap Gabriell pada kekasihnya.
Kini mereka bertiga nampak berjalan menyusuri lautan darah sehabis peperangan terjadi, hingga akhirnya mereka terlihat mulai menapaki kaki mereka di tanah yang kering dan juga tandus.
"Hum! baunya mirip dengan bau tubuh Shaga!" ucap Alexa mendadak jadi ingat akan sahabat baiknya di dunia manusia.
"Ya! kau benar, ini adalah kawasan para serigala, telah lama aku tidak menginjakkan kakiku di sini, rupanya sekarang sudah jadi sangat menyedihkan semacam ini.." jawab Linstain sambil terus menatap ke arah depan, melihat sebuah gurun pasir yang tandus, dan seolah mengering.
"Kau tahu? dulu di sini adalah Padang rumput yang luas, dialiri sungai yang sangat deras, menjadi pemisah antara kelompok serigala dengan kelompok vampir, udaranya tak pernah tercampur, tapi lihat saja sekarang, ini bahkan jauh lebih buruk dari bayanganku.." ucap Gabriell menahan kesedihannya.
Melihat kedua sahabatnya nampak bersedih, menatap situasi menyedihkan dari dunia yang kini telah hancur, seolah bumi sudah menelan dan tidak mau lagi membiarkan seisi di dalamnya hidup, ia nampak termenung.
Ia tak bisa berbohong, hati kecilnya mendadak tergerak membuat sebuah penyesalan yang tak kunjung usai di hatinya. Entah menyesal karena apa, namun ia sangat bersedih melihat semua yang terjadi di sini, dan bayinya, ini adalah sebuah kesalahan.
"Siapa yang membuat semua ini?" tanya Alexa dengan nada datarnya.
Gabriell dan Linstain saling bertatapan, seakan tak bisa mengatakan semua yang terjadi pada dunia merah, dan juga pada Alexa.
"Kenapa kalian diam? apa semua ini ada hubungannya denganku?" tanya Alexa lagi, seolah ingin sekali mengetahui semuanya.
"Alexa, bukan maksud kami untuk menyakiti hati kamu, hanya saja, semua ini terjadi setelah hari kelahiranmu.."
"Apa? Hari kelahiranku?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tèrusah berkarya
semangaaaaat thorrrrrr
semangat terus tuk berkarya thor....