Perjodohan adalah sebuah hal yang sangat
di benci oleh Abraham, seorang pengusaha
muda penerus kerajaan bisnis keluarga nya.
Dia adalah sosok yang sangat di puja dan di
damba oleh setiap wanita, dia merupakan
calon menantu yang sangat ideal dan di
impikan oleh setiap pengusaha dan para
bangsawan yang memiliki anak gadis, jadi
baginya hanya dengan menjentikkan jari
saja, wanita manapun akan dengan senang
hati memasrahkan dirinya untuk merangkak
di bawah kakinya.
Tapi..justru kakeknya, sang pemilik dan
penguasa serta pemegang kendali penuh
dari semua kekayaan keluarganya malah
memilihkan jodoh untuknya.
Dan sialnya lagi..wanita pilihan kakeknya
bukanlah wanita dengan kriteria dan tife
yang selama ini selalu menjadi standard nya.
Abraham sangat membenci keputusan sang
kakek. Namun demi warisan dan kendali penuh
atas segala kekuasaan yang telah di janjikan
padanya. Dengan terpaksa Aham menerima
semua keputusan kakeknya tersebut..
Dan bagi wanita yang juga terpaksa menerima
perjodohan ini..bagaimana kah dia akan bisa
menjalani hidupnya bersama seorang pria yang
sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.?
Takdir seakan menjungkir balikan kehidupan
seorang gadis biasa terpaksa yang harus
masuk ke dalam kehidupan sebuah keluarga
yang di penuhi dengan keangkuhan dan
kesombongan akan dunia yang hanya
tergenggam sementara saja..
**Tetaplah untuk selalu di jalanNya..**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan Syeera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Bantu Aku Keramas
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
♥️♥️♥️♥️♥️
Malam ini Naya benar-benar kebingungan.
Setelah makan malam Aham pergi ke ruang
kerjanya. Ada beberapa hal yang harus dia
kerjakan, tentunya urusan pekerjaan.
"Naiklah duluan, nanti aku menyusul.!"
Itulah pesannya sebelum akhirnya dia beranjak
dari meja makan.
Naya menatap ke sekitar kamar besar yang
selama ini menjadi kamar utama di dalam
Mansion megah ini. Tuhan..apa benar sekarang
dia akan menempati kamar ini ? apakah Aham
sudah benar-benar mengakui dirinya ?
Naya duduk di atas sofa mewah di ruang santai
dalam kamar besar itu. Dia meraih ponselnya
karena dari tadi terus saja bergetar. Terdapat
banyak pesan masuk dari beberapa orang yang
terhubung dengan dirinya. Tentunya dari Amar
yang menanyakan kondisinya, kemudian Yara
yang ikutan cemas setelah di beritahu oleh Amar.
Selain itu dari Robin serta Monica.
Naya menghela napas nya berat. Hari esok masih
menantinya dengan semangat yang tentunya tidak
boleh luntur. Apapun yang terjadi, dirinya harus
tetap kuat dan tegar. Tubuhnya saat ini memang
belum lah pulih sepenuhnya, tapi semangat nya
mengalahkan segala kelemahan fisiknya.
Naya langsung berdiri dari duduknya saat melihat
kemunculan Aham ke dalam kamar. Badannya
tiba-tiba saja terasa panas dingin.
"Siapkan air hangat..!"
Naya mengangguk kemudian berjalan menuju ke
kamar mandi. Aham melangkah mengikutinya.
Setelah selesai Naya beranjak, tubuhnya terdiam
di tempat saat melihat Aham sudah berada di
dalam kamar mandi, berdiri di belakangnya.Untuk sesaat keduanya saling pandang dalam diam.
"Aku permisi."
Naya melangkah sambil menundukkan kepala.
"Mau kemana kamu ?"
Naya berhenti tepat di samping Aham.
"Keluar Tuan..kemana lagi ?"
"Bantu aku melepas pakaian ku.!"
Hahh ?? ini orang ya..bener-bener deh ! dia kan
bisa sendiri ? dia punya tangan dan kaki yang
masih sangat berfungsi dengan baik bukan ?
Kenapa harus aku yang melakukannya !
"Bukankah anda bisa melakukan nya sendiri Tuan ?"
"Kau sudah melakukan satu kesalahan ! "
Naya mengerutkan alisnya. Kesalahan apa ?
"Maaf..saya salah apa ?"
"Cepat kesini, lepaskan pakaianku.!"
Akhirnya Naya memang tidak bisa lagi
membantah.Dia maju kehadapan Aham, masih terdiam kaku dan hanya menatap Aham sebentar,
kemudian memalingkan wajahnya mencoba membuang rasa canggung.
"Apa sebenarnya yang kamu tunggu.?"
Tatapan kesal Aham membuat Naya perlahan
mulai menggerakkan tangan membuka kancing kemeja Aham. Pria itu tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Dia menatap tenang, menikmati wajah
malu istrinya itu.
"Kau tahu apa kesalahanmu ?"
Naya menggeleng. Bibirnya di rapatkan. Dia tidak
sadar karena hal itu mata Aham kini semakin
terpusat ke bibir mungil nan menggoda nya.
"Kau tidak boleh lagi memanggilku dengan
sebutan Tuan !"
Naya terdiam. Dia melepaskan kemeja Aham.
Tubuh gagah dan sempurna itu kini ada di depan matanya. Darah Naya berdesir, hawa panas mulai menyelimuti tubuh nya saat ini. Ini benar-benar berbahaya. Dia takut hilang kendali kalau harus lama-lama dalam posisi seperti ini.
"Maaf..tapi aku harus memanggilmu apa ?"
"Terserah.! tapi harus enak di dengar.."
Naya bernapas lega saat Aham melangkah
menuju ke dalam bathub.Naya masih terdiam
di tempat nya. Dia memejamkan matanya saat
Aham membuka celananya tanpa rasa malu
atau rasa bersalah sedikit pun.
"Tuan..apa kau tidak punya malu sedikit saja ?"
"Kau itu istriku, kenapa aku harus malu.?"
"Apa ?? kau ini benar-benar keterlaluan !"
Ketus Naya sambil kemudian melangkah akan
keluar dari kamar mandi. Kau memang tidak
malu, tapi aku yang tidak tahan melihatmu
seperti itu, dasar menyebalkan !
"Hei..mau kemana kamu ? siapa yang
menyuruhmu keluar dari tempat ini ?"
Langkah Naya kembali terhenti. Apa sih maunya
ini orang ? memang nya aku harus diam di sini
dan melihat nya mandi ? impossible !
"Bantu aku keramas !"
"Apa ??"
"Itu adalah hukuman mu !"
Ya Tuhan..cobaan apalagi ini ?! Kenapa ada orang
seperti ini ? Dan dia adalah seorang Abraham,
yang terkenal sangat dingin dan angkuh itu !
"Tapi aku harus keluar sekarang.."
"Atau aku akan memaksamu untuk menemani
ku berendam.!"
Lagi-lagi Naya tidak punya pilihan. Dengan ragu akhirnya dia berjalan menghampiri Aham yang
saat ini sudah merendam sebagian tubuhnya
sampai sebatas dada. Mata Naya mengerjap
beberapa kali mencoba untuk mengindahkan
pemandangan vulgar yang sebenarnya begitu
menggoda di depan matanya. Laki-laki ini sudah
membuat mata sucinya selalu ternoda setiap
kali mereka bersama.
Naya bersimpuh di belakang tubuh Aham yang
duduk tegak dengan kedua tangan di rentangkan
di kedua sisi pinggiran bathub.
"Bukankah kau bisa melakukan nya sendiri
Tuan.."
Naya masih tidak terima semua ini. Aham
melirik, seringai kecil kembali terukir di bibir
seksinya.
"Hukumanmu harus di tambah.!"
Naya menutup mulutnya. Duhh..ini mulut kenapa harus keseleo terus sih? Terus panggilan apa
yang harus dia lontarkan kalau begini? Perlahan
dia mulai meraih kepala Aham, memakaikan
shampo dan menggosoknya pelan.
Benar ! ini sungguh aneh, kenapa rambut ini bisa
sehalus rambut bayi ? Naya seolah kecanduan
dia semakin intens menggosok rambut Aham.
"Apa kau sangat menyukai rambutku ?"
"Ahh ? tidak ! "
Naya menggeleng setengah merasa bersalah
karena lidah dan hatinya tidak sejalan.
"Bukan hanya rambutku, kulitku juga sehalus
sutra ! Kau akan menyukai semua yang ada pada tubuhku ! "
Apa ?? Tubuh Naya menegang sendiri.
Cengkraman tangan nya di kepala Aham sedikit
lebih kuat, membuat alis laki-laki itu terangkat.
"Apa yang kau lakukan ?"
"Ti-tidak Tuan.."
"Tuan lagi ??"
"Lalu aku harus memanggilmu apa? bapak
atau kakak ?"
"Kamu..!"
Aham menoleh dan menatap geram wajah Naya
yang terlihat mundur, tersenyum miring.
"Cari sebutan yang lebih bagus !"
Uuhh..dasar manusia aneh ! kenapa jadi aku yang
harus berpikir. Naya mulai membersikan rambut
Aham dari sisa busa shampo dengan
menggunakan selang shower.
"Apa aku boleh memanggilmu suamiku..?"
Suara Naya nyaris tak terdengar. Wajahnya juga
menampilkan semburat merah saat ini. Duhh..
dia benar-benar menyesali ucapannya barusan.
Bibir Aham terangkat sedikit.
"Coba kau ucapkan sekarang , aku ingin
mendengar apakah itu cukup bagus atau tidak !"
Naya menggigit bibirnya. Bagaimana ini ? rasanya
dia malu untuk mengucapkan nya lagi.
"Hei..kau ini suka sekali rupanya kalau aku
memberimu hukuman !"
"Tidak ! baiklah.."
"Cepat katakan !"
"Baiklah su-suamiku..!"
Mata Aham tampak bereaksi. Senyum tipis
kembali terukir di wajahnya.
"Cukup bagus.! sudah sana.! siapkan pakaianku.!"
Alhamdulillah..Naya menarik napas lega. Dia
segera beranjak dari tempat itu. Bajunya sedikit
basah terkena percikan air dari shower. Dengan
cepat dia melangkah keluar dari kamar mandi.
Naya kembali duduk di sofa sembari menunggu
Aham keluar dari kamar mandi. Dia mencoba
mengecek kembali ponselnya karena ada email
masuk dari Robin mengenai pekerjaan.
Dia segera menyimpan ponselnya saat melihat
Aham keluar dari kamar mandi. Seperti biasa
laki-laki itu selalu saja bertelanjang dada,
padahal Naya sudah menyiapkan satu stel
pakaian untuknya.
Aham melirik kearah keberadaan Naya.
"Cepat tidur, nunggu apalagi kamu ?"
Naya berdiri. Tidur ? dimana ? Aham naik ke
atas tempat tidur. Duduk bersandar seraya
membuka ponselnya. Banyak hal penting yang
harus dia cek saat ini. Sudut matanya melihat
kearah Naya yang saat ini berjalan masuk ke
dalam ruang ganti pakaian .
Tidak lama Naya sudah kembali. Mata Aham
tampak terpaku melihat Naya keluar dengan
memakai setelan baju tidurnya. Dia juga sudah
melepas kerudungnya. Rambutnya di gelung
asal hingga leher jenjangnya yang putih mulus
terlihat begitu menggoda.
Aham menelan salivanya berat. Hawa panas
perlahan mulai menjalari seluruh aliran darahnya.
Tubuh bagian bawahnya bereaksi seketika.
Owhh shit !
Kenapa bisa begini ? tubuh nya langsung saja
merespon hebat hanya dengan melihat wanita
ini memakai baju tidur saja !
Naya terlihat bingung dan canggung. Dia harus
bagaimana sekarang ?
" Naik ! kenapa masih di situ ?"
Suara Aham yang sedikit berat membuat Naya
semakin merasakan ketegangan. Tapi kenapa?
Bukankah dia sudah pernah tidur bersama dengan
laki-laki ini ? ini rasanya benar-benar berbeda.
"A-aku sebaiknya tidur di sana saja.."
Naya melirik kearah sofa. Mata Aham langsung
menghunuskan tatapan setajam pedang.
"Kalau begitu, kau harus di hukum sekarang !"
Naya cepat-cepat naik keatas tempat tidur.
Dia membenarkan letak bantal nya. Kemudian
mulai merebahkan tubuhnya.
Aham masih menatapnya tiada henti. Naya
mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan
Aham yang tidak pernah berpaling darinya.
Dia memiringkan badannya kearah samping.
"Berani berpaling kamu ?"
Naya menarik napas dan membuangnya kasar.
Sabar Naya..mulai sekarang dia harus
membiasakan diri dengan segala sesuatu sesuai keinginan Tuan Muda yang maha benar ini.
Naya kembali tidur dengan posisi badan lurus.
"Mendekat padaku !"
Naya melirik, keduanya saling pandang kuat.
"Masih berusaha membantah ?"
Baiklah Tuanku..! Naya beringsut, mendekatkan
dirinya pada Aham. Laki-laki itu tersenyum tipis.
Naya kini sudah berada di dekatnya.
Dada nya tiba-tiba saja kembali berdebar hebat.
Aroma membuai yang menguar dari tubuh Aham
membuat dia harus berusaha untuk menguasai
dirinya. Aham meletakkan ponselnya diatas nakas.
Dia kembali berpaling pada Naya yang masih
terdiam dengan posisi tubuh terlentang kaku.
"Mulai sekarang kau harus tidur dengan posisi
seperti ini."
Dengan gerakan cepat Aham menarik pinggang
Naya, keduanya kini saling berhadapan. Tubuh
mereka saling menempel ketat. Naya menekan
dada bidang agar tubuh bagian atasnya aman.
Mata mereka semakin lama semakin terpaut ,
sorot mata yang begitu rumit dan sulit untuk
di jabarkan. Yang terdengar sekarang hanya deru
napas mereka yang semakin lama semakin berat.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu.?"
Naya memberanikan diri bertanya. Ganjalan yang
ada di dalam hatinya harus terjawab saat ini juga.
"Baiklah..tapi akan ada harga dari jawaban yang
aku berikan padamu.!"
"Apa segala sesuatunya harus selalu ada harga
bagimu ?"
"Tentu saja ! tidak ada yang gratis di dunia ini.!"
Naya terdiam, berpikir keras. Baiklah tidak apa
asal rasa penasarannya tertuntaskan.
"Baiklah.! tapi aku minta..jangan yang aneh-aneh.
Aku tidak akan memberikannya.!"
"Kau pikir dirimu sangat berharga ya ?"
Naya memutar bola matanya kesal.
"Bagiku, diriku sangat berharga ! "
Aham tersenyum miring.Dia makin mempererat
pelukan nya di pinggang ramping Naya. Tubuh
wanita ini memiliki bentuk yang sangat pas dalam
genggaman tangan nya. Sangat enak untuk di
peluk. Aham terkekeh sendiri dalam hatinya.
"Apa yang mau kamu tanyakan ?"
Naya mencoba mengatur ritme napasnya.
"Apa yang terjadi sebenarnya ? kenapa sekarang
kau memintaku untuk pindah ke kamar ini."
Aham masih terdiam. Naya mendongak, menatap
Aham yang kini terpejam. Apa dia mendengar ku?
Naya kesal sendiri melihat Aham masih terdiam.
"Tolong beri aku penjelasan."
"Aku memberitahu semua pelayan bahwa kau
adalah istriku.!"
Naya tersentak. Dia menatap tidak percaya pada
Aham yang terlihat acuh saja.
"Be-benarkah..? tapi kenapa ?"
Aham membuka mata, dia tampak mengernyitkan
alisnya. Wanita ini bertanya Kenapa ?
"Bukankah itu yang kau inginkan ?"
Mata mereka kembali bertemu. Wajah Naya
memerah. Aham mengangkat dagu lonjong
Naya hingga kini wajah mereka begitu dekat.
"Sudah aku bilang, kau memang istriku.! tapi
aku belum bisa menerima mu seutuhnya."
"A-aku mengerti."
Lirih Naya berusaha menepis tangan Aham.
"Sekarang berikan aku ciuman !"
Naya membulatkan matanya. Ciuman lagi ?
"Aku sudah memberikan jawaban atas semua
pertanyaan yang bersarang di kepalamu itu.
Sekarang berikan aku imbalan..!"
Naya memejamkan mata. Mau tidak mau dia
mendekat. Tatapan mata Aham yang sedikit
berbeda membuat jantung Naya berpacu kencang.
Dengan cepat dia mendaratkan ciuman di bibir
Aham. Namun sedetik kemudian Aham melakukan
serangan balik. Dia menyergap bibir mungil Naya.
Tubuh Naya bergetar saat Aham mencium
lembut dan hangat bibirnya. Dia benar-benar
tidak kuasa untuk menolak ciuman ini. Aham
semakin memperdalam ciumannya dengan
gerakan sedikit liar, karena sensasi nikmat dari
bibir lembut Naya seketika membuat darahnya
mendidih. Naya mulai membalas ciuman Aham
membuat gairah dalam diri Aham semakin naik
dan membara.
Sial ! Juniornya langsung bangun meronta.
Tubuh Aham semakin memanas. Ciuman
mereka semakin lama semakin intens. Naya
mulai bisa mengimbangi permainan lidah Aham.
Mereka semakin terhanyut dalam gairah, tidak
ingin saling melepaskan satu sama lain. Sampai
akhirnya ciuman panas mereka harus terhenti
saat napas Naya mulai tersengal tidak sanggup
lagi meladeni keliaran bibir Aham yang terus
saja menyerangnya tiada ampun.
Mereka mencoba mengatur napas dan mengambil
pasokan udara sebanyak mungkin. Mata Aham
tampak berkabut. Hasrat dalam dirinya seakan
tidak terkendali. Ini gila ! kenapa wanita ini bisa
membuat tubuhnya begitu bernapsu dan
bergairah. Dia ingin memiliki wanita ini seutuhnya.
"Permisi.! aku harus ke kamar mandi. "
Naya cepat-cepat beranjak turun dari tempat
tidur. Dia harus segera menghindar dari laki-
laki ini. Kalau tidak dia tidak bisa menjamin
apa yang akan terjadi. Harus Naya akui, dirinya
memang wanita normal yang memiliki hasrat
dan napsu yang sama dengan orang lain.
Dia juga merasa setiap kali dekat dengan Aham,
tubuhnya begitu bereaksi. Dia tidak bisa terus
menerus mengontrol dirinya. Benar kata mereka
Aham memilki daya tarik seksual yang sangat
berbahaya.
Naya berdiri menyandarkan tubuhnya ke dinding
kamar mandi dengan memegangi dadanya. Lutut
nya terasa lemas saat ini. Dia terus mencoba
mengatur pernapasan nya dan menetralkan
debaran di dadanya.
Sementara Aham pun saat ini beranjak pergi
keluar dari kamar. Dia harus mendinginkan suhu
tubuhnya di kamar mandi sebelah. Ini pertama
kalinya dia tidak bisa menguasai hasratnya.
Banyak wanita yang sudah dia kencani. Tapi
belum ada seorangpun yang membuat dia harus
menderita seperti ini. Tubuh bagian bawahnya
tidak pernah mengamuk seperti ini sebelumnya.
Sial ! Aham benar-benar tidak mengerti kenapa
wanita itu mampu membuat tubuh nya bereaksi
seperti ini. Apa yang di miliki gadis itu yang tidak
di milik oleh gadis lain.!
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Bersambung...
Readers ku zeyenk..
Like & koment nya jangan lupa yaa..
Jangan pelit !! biar author tambah semangat.!!
Makasih banyak yang selalu setia..😘🤗🙏
ditunggu karya yg lainnya othor ku sayang...love sekebonnn😍
rindu juga ceritanya sherinda sma mayra thor..nnt mampir lg aaah💪💪💪