Hai dukung ceritaku ya.
SETELAH MEMBACA BIASAKAN LIKE.
LIKE, KOMENTAR, FAVORIT JUGA.
Cerita ini hanya kehaluan author saja ya.
Cerita ini kelanjutan Benih Tuan Muda Kejam.
Menceritakan kisah cinta anak ketiga Abraham dan arin.
Ya Andra harus menikah dengan seorang wanita cantik bernama Syafi yang ternyata anak dari pak Andi dan Veli. Arin yang sudah suka dengan Syafi pun meminta pak Andi untuk menjodohkan keduanya. Apalagi Syafi baru saja putus dengan sang tunangan karena penghianat.
Bagaimana serunya rumah tangga keduanya, apalagi Andra ternyata musuh bebuyutan Syafi selama di kampus.
Yuk kepoin ceritanya 🙏.
Setelah membaca biasakan like ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Sudah?" Tanya Andra sambil membenarkan kopyah dan sarung di tubuhnya, terus melihat Syafi ke arah Syafi yang ternyata sudah siap dengan mukenah.
Syafi hanya mengangguk saja tak berani berbicara, Syafi terkesima dengan dengan penampilan Andra. Jujur baru kali ini Syafi melihat Andra dengan pakaian kokoh.
"Baru sadar kalau nih cowok cakep banget, eh dia kan sudah resmi menjadi suamiku," guman Syafi tersipu wajah nya tiba-tiba bersemu merah.
"Kamu kenapa, sakit?" Tanya Andra heran melihat wajah Syafi yang memerah.
"Tidak," bantah Syafi dengan cepat dengan gelagapan, dia tak mungkin berbicara sejujurnya kalau dia mengagumi Andra, bisa-bisa pria di depannya itu besar kepala atau yang lebih parahnya nanti dia mengejek dirinya.
"Ayo nanti waktunya habis," ajak Andra karena waktunya sudah mepet.
Keduanya pun langsung melaksanakan kewajiban kedua dengan Andra sebagai imam untuk pertama kalinya setelah resmi menjadi suami Syafi.
Syafi begitu tersentuh saat mendengar suara merdu pria yang sudah resmi menjadi suaminya saat ini. "Ternyata suara begitu merdu saat melantunkan bacaan sholat," batin Syafi secara tak sengaja mengagumi sosok Andra.
Mereka pun selesai, Syafi tak lupa mencium tangan Andra. Kecanggungan pun melanda keduanya saat ini.
"Ya sudah aku, ke bawah dulu bantuin mbok masak," alibi Syafi padahal dia hanya ingin menghindari Andra.
"Hmm...." Andra hanya mengangguk.
Di dapur....
"Lho non Syafi mau ngapain?" Tanya si mbok heran karena pagi-pagi melihat anak majikannya sudah ada di dapur.
"Bantuin di mbok masak," jawab Syafi cengengesan.
"Tumben sejak kapan non Syafi hobi masak," batin si mbok.
"Si mbok belum mulai masak non, si mbok tadi baru nyuruh si Dea belanja, jadi non Syafi balik lagi saja ke kamar. Masa pengantin baru jam segini sudah keluar," kata si mbok di akhiri dengan menggoda anak majikannya itu.
"Eh..." Syafi di buat kaget dengan jawaban dari si mbok yang justru menggoda dirinya saat ini.
"Apaan si mbok,'' gerutu Syafi .
''Non Syafi kok belum keramas sih,'' tak henti-hentinya si mbok menggoda anak majikannya itu.
''Hah keramas?'' kening Syafi justru Syafi di buat binggung dengan pertanyaan dari si mbok.
''Ya iyalah non, biasanya habis malam pertama langsung keramas pagi-pagi, jangan malu deh non bilang saja jujur, ah pasti den Andra mau nambah lagi ya maka nya belum keramas-keramas,'' ceplos si mbok dengan mengedipkan matanya membuat Syafi geli sendiri.
Syafi menepuk keningnya, dia melupakan sesuatu yang penting.
''Bisa-bisanya si mbok bilang begini,'' gerutu syafi di dalam hatinya saat ini.
"Tadi Syafi sudah keringkan dengan hairdryer," bohong Syafi mana mungkin dia jujur belum melakukan malam pertama, bisa heboh seisi rumah.
"Y sudahlah mbok, Syafi balik lagi aja lah,'' kata Syafi berbalik pergi tak ingin berlama-lama di sini.
Syafi pun langsung berlari pergi meninggalkan dapur.
Ceklek....
"Kenapa muka kamu jelek banget," tanya Andra saat melihat sang stri masuk dengan wajah cemberutnya.
''Tidak apa-apa,'' bohong Syafi karena tak mungkin dirinya jujur bagaimana pembicaraan nya dengan si mbok tadi saat di dapur.
''Hari ini kamu mau kemana?'' tanya Andra mengurangi rasa canggung, dulu mulutnya pasti akan menjahili Syafi namun saat ini Andra tak berbuat begitu.
''Sejujurnya aku sudah suka kamu dari dulu tetapi ego ku yang begitu tinggi takut penolakan mengingat dulu kamu begitu bucin dengan kekasih mu membuat ku kesal dan justru berakhir dengan menjahili dirimu,'' batin Andra menatap syafi dengan pandangan rumit.
syafi pun duduk di meja rias memilih memoles wajahnya, namun tanpa sengaja dirinya menatap Andra seperti sedang melamun.
''Kamu kenapa?'' Tanya Syafi menoleh ke arah pria yang sudah resmi menjadi suaminya saat ini.
"Hah apa?'' Tanya Andra dengan kaget.
"Kamu kenapa?" Syafi mengulangi pertanyaan nya sekali lagi.
"Tidak apa-apa ,'' jawabnya.
Andra pun berdiri. "Mana baju ku,'' guman Andra masih di dengar oleh Syafi.
"Lha apa dia lupa, kan tadi pagi dia ambil baju di sana, dasar masih muda tetapi sudah pikun, hihi hihi hihi....." Syafi cekikikan di dalam hati menertawakan Andra yang tengah kebingungan.
"Tuh di pojokan," kata Syafi menunjuk ke arah sudut ruangan di mana koper milik Andra tersimpan rapi.
Andra lupa bawa karena dia masih binggung dengan kamar Syafi. Padahal tadi pagi dia baru saja mengambil baju dari sana. "Eh iya ya,"
Hening sesaat.....
"Kapan kita pindah ke apartemen ku?'' kata Andra memecah keheningan.
"Kenapa kita tidak tinggal di sini, kasihan papa sendirian di sini," kata Syafi mencoba membujuk Andra karena Syafi begitu berat meninggalkan sang papa sendirian.
Wajah Syafi berubah murung membuat Andra gelagapan.
Andra buru-buru menghampiri Syafi dan berjongkok di depan Syafi.
"Maaf mungkin berat bagi kamu meninggalkan papa sendirian di sini tetapi aku hanya ingin kita mandiri dan tak bergantung dengan orang tua kita," kata Andra mencoba menjelaskan agar perempuan yang telah menjadi istrinya itu mengerti dan mau mengikuti dirinya untuk pindah.
"Nanti kamu bisa mengunjungi papa kapan pun dan aku tak akan pernah melarang mu," janji Andra.
"Benar?"
"Iya," jawab Andra mantap.
"Sudah jam 8, ayo kita turun makan," ajak Andra. Tak terasa waktu berlalu keduanya pun bersiap turun ke bawah.
Di meja makan....
Sudah ada Abraham, Arin, pak Andi yang sudah menunggu mereka berdua turun.
"Akhirnya kalian turun juga, mama sudah menunggu kalian dari tadi," kata Arin menyambut keduanya.
"Ayo cepetan duduk, Andra jangan sungkan-sungkan," kata pak Andi.
Syafi pun langsung duduk di dekat pak Andi dan berhadapan dengan papa mertuanya yang tak lain adalah Abraham.
Syafi mendongak menatap tanpa sengaja menatap Abraham. "Duh mertua ku serem amat wajah nya kayak kulkas," batin Syafi.
Kini pandang Syafi beralih ke Arin. " Mertua ku cantik banget, mungkin banyak yang mengira kalau dia itu kakaknya Andra daripada ibunya karena wajahnya masih cantik dan awet muda,'' batin Syafi.
"Nak ambilkan suami mu makan," perintah pak Andi.
"Eh iya, pa," kata Syafi kikuk saat mendengar perintah sang papa.
"Mau makan apa?" Tanya Syafi berpura-pura tersenyum paksa.
"Sate dan sayur saja," jawab Andra.
Syafi pun dengan pelan-pelan mengambilkan nasi dan lauk yang di minta Andra.
"Duh romantisnya anak dan menantu kita pa," kata Arin dengan senyum mengembang melihat anak dan menantunya itu terlihat rukun.
"Iya tidak salah kita menjodohkan keduanya," sahut Pak Andi dengan senang.
"Ayo nak Andra makan yang banyak," kata pak Andi dengan wajah begitu senang.
"Semoga kamu selalu bahagia nak dan Andra bisa menjadi suami yang baik buatmu," batin pak Andi berdoa untuk kebahagiaan anak dan menantunya.
Bersambung....
Hadeh Abraham dari dulu gak berubah, masih aja posesif sama cemburuan🤣🤣