Pernikahan Keyla dan Edwin yang didasari oleh perjodohan terasa dingin sejak awal. Namun, waktu telah perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di hati Edwin. Tepat saat Keyla merasa pernikahan mereka mulai membaik, badai datang dari masa lalu.
Seorang wanita dari masa lalu Edwin, cinta pertamanya, kembali muncul. Kehadirannya yang tak terduga seketika menggoyahkan hati Edwin yang tadinya sudah mulai mencintai Keyla. Edwin, yang masih menyimpan sisa-sisa perasaan, mulai bimbang antara janji pernikahan dan nostalgia.
Di sisi lain, Keyla tengah berjuang meraih impiannya di dunia modeling, sebuah profesi yang tidak disukai dan dianggap tabu oleh Edwin. Keputusan Keyla untuk tetap mengejar karier ini semakin memperkeruh rumah tangga mereka, membuat Edwin merasa tidak dihargai.
Keyla kini berada di ujung tanduk. Ia harus berjuang mempertahankan suaminya dari bayangan masa lalu yang memikat, sambil berusaha membuktikan bahwa pilihannya sebagai seorang model tidak akan menghancurkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarMaker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab29
Hari Sabtu pukul 8 malam Keyla sudah terlelap dengan selimut tebal yang membalut seluruh badannya, satu jam yang lalu ia bersama Edwin baru saja tiba di kota Jakarta.
Berbeda dengan Keyla yang tertidur Edwin sedari tadi fokus terhadap laptop yang ada di pangkuannya.
Keyla membuka matanya, ia menatap kesekeliling kamar pandangannya terjatuh pada Edwin yang tengah terduduk di kasur dengan tangan memegang laptop.
"Kamu ngapain?" tanya Keyla dengan suara serak.
"Aku ganggu tidur kamu?" tanya Edwin tanpa menoleh pada Keyla dan tetap menatap layar laptop dihadapannya.
Keyla menyibak selimutnya ia mengganti posisinya menjadi duduk.
"Ed?" panggil Keyla seraya menggoyangkan lengan Edwin.
"Apa?" tanya Edwin lagi-lagi tanpa melihat Keyla.
"Udah malem kamu nggak capek?" tanya Keyla.
"Enggak," jawab Edwin singkat.
"Aku ngantuk temenin tidur," ujar Keyla.
"Tadi kan udah tidur, lagian aku juga ada disini nemenin kamu," ucap Edwin tidak mengindahkan permintaan Keyla.
Keyla berdecak kemudian tatapannya beralih kepada laptop yang ada di pangkuan Edwin.
"Ed" panggil Keyla lagi.
"Hmm," dehem Edwin singkat.
Karena tidak terlalu mendapat respon dari Edwin, Keyla menjadi sedikit kesal.
Dengan gerakan cepat Keyla mengambil laptop Edwin dan langsung duduk di pangkuan Edwin.
"Keylaa" ucap Edwin karena laptopnya di ambil oleh Keyla.
"Ck temenin tidur," rengek Keyla.
"Aku sibuk key," tolak Edwin.
"Please temenin tidur," Keyla terus merengek seraya menarik tangan Edwin dan melingkarkan di perutnya.
"Dua puluh menit lagi," ucap Edwin melepaskan tangannya dari perut Keyla dan mengambil laptopnya kembali.
"Kamu bisa pindah kan?" tanya Edwin.
Keyla menggelengkan kepalanya, ia malah membalikkan badannya dan memeluk Edwin, jadi posisi Keyla sekarang seperti anak kecil yang minta digendong.
Edwin menghela nafasnya, ia membiarkan Keyla tetap pada posisinya. Edwin mulai fokus pada laptopnya kembali meskipun ia sedikit kesusahan saat mengetik karena Keyla yang berada di pangkuannya.
"Aku capek," gumam Keyla.
"Makannya tidur," jawab Edwin.
Keyla mengerucutkan bibirnya ia melepaskan pelukannya dari Edwin. Edwin tidak peka dengan keinginan Keyla haruskah ia mengode dengan hal yang lebih sensitif agar Edwin tahu Keyla ingin tidur yang bukan artian sebenarnya.
"Key minggir aku nggak bisa ngetik lho ini," ujar Edwin membuyarkan pikiran liar Keyla.
"Pentingan mana laptop sama aku?" tanya Keyla menjajarkan posisinya dengan kepala Edwin.
"Kamu," jawab Edwin singkat.
"Yaudah aku mau tidur," ucap Keyla dengan muka kesalnya.
Edwin menatap Keyla detik selanjutnya dia mengecup singkat bibir Keyla.
Keyla tidak bereaksi sama sekali ia malah menatap Edwin datar.
"Lagi," pinta Keyla.
"Apa?" tanya Edwin.
"Kiss me," ucap Keyla.
Edwin mengerutkan dahinya.
"Kamu sakit nggak biasanya kayak gini," tanya Edwin menatap Keyla heran.
Keyla tidak menjawab ia sengaja mendekatkan bibirnya ke bibir Edwin.
"Kiss me now," pinta Keyla bahkan saat berbicara bibir Keyla menyentuh bibir Edwin.
Edwin memegang tengkuk Keyla, ia ******* kecil bibirnya.
"Aws," ringis Keyla langsung melepaskan ciuman keduanya karena Edwin sengaja menggigit bibir bawah Keyla.
"Balesan buat kamu yang keras kepala," ucap Edwin.
Keyla menatap Edwin kesal ia segera turun dari pangkuan Edwin dan kembali merebahkan badannya di kasur dan jangan lupakan posisinya yang membelakangi Edwin.
Edwin tersenyum tipis melihat Keyla yang memunggunginya.
"Marah?" tanya Edwin.
Keyla tidak menjawab, Edwin mematikan laptopnya dan menaruhnya di meja samping tempat tidur.
"Lepas," ucap Keyla karena tiba-tiba Edwin memeluknya dari belakang.
Edwin tidak menjawab ia malah merapatkan pelukannya terhadap Keyla dan memejamkan matanya.
Keyla menggerutu dalam hati, ia memegang bibir bawahnya yang terasa nyeri karena ulah Edwin.
Keyla membalikkan tubuhnya menatap Edwin yang tengah memejamkan matanya.
"Bibir aku sakit kamu sengaja kan," protes Keyla.
"Hmm," jawab Edwin tanpa membuka matanya dan malah menarik selimut hingga pinggang.
"Ed" Panggil Keyla.
"Apa?" Tanya Edwin pelan masih dalam posisinya.
"Pengen lolipop" kata Keyla berharap kali ini Edwin peka.
"Udah malem gak ada yang jual lollipop, besok aja ya"
"Bukan lolipop yang itu" kesal Keyla mengerucutkan bibirnya.
Edwin membuka matanya lalu menatap Keyla dengan menaikkan sebelah alisnya. "Terus"
"Ini" tunjuk Keyla pada milik Edwin yang ada di balik selimut.
Edwin tersenyum nakal kemudian mengecup bibir Keyla ********** seperti eskrim. Edwin berpindah ke atas Keyla sebelum ia melanjutkan aksi liarnya ia terlebih dahulu melepaskan kaosnya. Keyla melingkarkan tangannya di leher Edwin dan menikmati ciuman Edwin di lehernya. Setelah itu apa yang Keyla inginkan pun terpenuhi.
•••
Ke esokan paginya.
Keyla keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi badannya, ia sengaja bangun lebih awal dari Edwin karena hari ini ia akan pergi ke rumah mamanya.
Keyla membuka lemari pakaiannya dan mengambil pakaian santainya dan membawanya kembali ke kamar mandi.
Selesai mengganti pakaiannya Keyla berjalan ke arah tempat tidur dan membangunkan Edwin.
"Aku mau ke rumah mama kamu ikut nggak?" tanya Keyla seraya duduk di tepi ranjang.
"Kamu pergi sendiri aku ada janji sama temen pagi ini," ucap Edwin dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Temen? Siapa?" tanya Keyla posesif.
"Temen lama," jawab Edwin menatap Keyla.
"Cowok?" tanya Keyla sekali lagi.
"Cewek," jawab Edwin.
"Oh oke," tungkas Keyla singkat suaranya mengecil. Ia cemburu karena Edwin akan pergi menemui perempuan yang katanya teman lamanya.
Edwin tersenyum tipis seraya mengganti posisinya menjadi duduk.
Cup
"Cowok sayang," ucap Edwin mencium singkat kening Keyla.
Pipi Keyla memerah karena panggilan dari Edwin barusan yang sangat lembut.
"gitu aja Blushing," ejek Edwin.
"Mana ada udahlah aku berangkat, bye," elak Keyla dan segera berdiri dari ranjang.
"Hati-hati," ucap Edwin.
Edwin hanya menjawab dengan deheman saja kemudian Keyla segera keluar kamar.
•••
Keyla mengemudikan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya, sebelum ke rumah mamanya Keyla pergi ke toko kue untuk membelikan kue ke sukaan mamanya.
Dua puluh menit mengemudi Keyla sudah sampai di depan toko kue, saat keluar dari mobil mata Keyla tidak sengaja menatap seseorang yang tidak lain adalah Raka yang berada di Cafe dekat toko kue. Keyla tersenyum ia mengeluarkan hpnya dan menelfon Raka.
Tidak butuh waktu lama Raka sudah mengangkat panggilan telpon dari Keyla.
"tumben nelpon," ucap Raka dari sebrang sana.
"Ka coba liat di sekitar Cafe," ucap Keyla.
"Kenapa?" tanya Raka seraya mengedarkan pandangannya. Keyla melambaikan tangannya saat mendapati Raka tengah menatapnya.
"Aku kesitu," ucap Raka mengakhiri telponnya dan beranjak dari kursi tempat duduknya.
Raka keluar cafe ia menghampiri Keyla.
"Ngapain disini?" tanya Raka seraya memeluk Keyla.
"Mau beli kue buat mama," jawab Keyla membalas pelukan dari Raka.
"Udah nggak nangis lagi?" tanya Raka mengacak rambut Keyla gemas.
Keyla tertawa.
"Jangan di bahas Ka, aku malu nangis di depan kamu kemarin," ucap Keyla.
Raka tertawa pelan ia merapikan rambut Keyla yang sedikit berantakan karena ulahnya.
"Raka, kamu masih jomblo?" tanya Keyla tiba-tiba.
"Hmmm kenapa tiba-tiba nanya? Kamu mau jadi pacar aku," ucap Raka bercanda.
"Ngaco, cari pacar sono," ucap Keyla menoyor kepala Raka.
"Cariin kalau gitu," jawab Raka.
"Mau yang kek gimana aku punya kenalan banyak," ucap Keyla terlihat antusias.
"Aku maunya yang kayak kamu," jawab Raka.
"Yaudah sama aku aja," canda Keyla membuat Raka tertawa.
"Ikut aku ke cafe dulu yuk Key," ajak Raka.
"Oke terserah tapi bayarin"
"Kebiasaan," Raka terkekeh.
"Kan kamu sayang aku," tutur Keyla menaikkan turunkan alisnya dengan ekspresi imutnya.
"Iya-iya tau apasi yang nggak buat sahabat aku," ucap Raka seraya menggandeng tangan Keyla menuju Cafe.
•••
Raka menatap Keyla yang tengah memakan dessert di hadapannya.
"Berhenti liatin aku makan Ka" ucap Keyla menghentikan sendokannya ke dalam mulut.
Raka terkekeh. Ia sangat gemas melihat cara makan Keyla yang seperti anak kecil.
"Kapan kebiasaan kamu bisa hilang," ucap Raka seraya mengelap asal mulut Keyla yang sedikit belepotan dengan tisu.
"Yang bener kali nggak ikhlas banget," protes Keyla seraya merebut tisu yang ada di tangan Raka dan mengelap mulutnya kembali.
Drtttt drttttt.
Tak lama Hp Raka berbunyi.
"Aku angkat telpon bentar," ucap Raka.
"Siapa?" tanya Keyla.
"Pacar aku," ucap Raka mengedipkan matanya sebelah kepada Keyla. Keyla langsung melempar Raka dengan bekas tisu, Raka segera menghindar ke samping.
"Aku tinggal bentar jangan ngilang," ucap Raka berdiri dari kursinya.
"Hmmm pergi sono," ucap Keyla menggerak-gerakkan tangannya seperti mengusir Raka.
Raka segera pergi untuk menerima panggilannya sedangkan Keyla memilih bermain hp untuk menunggu Raka.
Keyla membuka room chatnya tiba-tiba saja ia teringat dengan Edwin, maka dari itu Keyla segera mengirimkan pesan untuk Edwin.
Keyla: Jadi ketemuannya sama temen?"
Selesai mengetikkan pesan Keyla menutup kembali hpnya dan ternyata Raka sudah berjalan ke arahnya.
"Gimana udah puas telpon sama pacar boongannya?" ucap Keyla seraya terkekeh.
Raka menjitak kepala Keyla.
"Awh! sakit Ka, tangan kamu mau aku potekin," ucap Keyla menatap kesal Raka.
"Aku mau meeting, kamu tetep disini atau gimana?" tanya Raka.
"Sekalian deh, kita bareng keluar," ucap Keyla, Raka mengangguk.
Raka menunggu Keyla membereskan barangnya yang ada di meja setelah itu keduanya keluar dari Cafe.
"Kamu tadi mau beli kue kan?" tanya Raka.
"Hm," jawab Keyla.
"Kamu tunggu disini aku beliin, sampein ke tante Sofia kalau anak gadisnya ngeselin," ucap Raka, Keyla memelototkan matanya tangannya dengan cepat menampol lengan Raka.
"Sialan," umpat Keyla, Raka tertawa ia segera masuk ke dalam toko kue.
Keyla memilih menunggu Raka di dekat mobilnya, tidak lama kemudian Raka keluar dengan tangan membawa beberapa paper bag berlogo toko kue tersebut.
"Nih," ucap Raka menyerahkan paper bag tersebut ke pada Keyla.
"Tumben baik," ucap Keyla.
"Mujinya telat Key," ucap Raka memutar bola matanya malas, Keyla tertawa.
"Aku balik jangan lupa pesan aku tadi," ucap Raka.
"Nggak aku sampein," kata Keyla.
"Terserah, aku sumpahin kamu tambah pendek," ucap Raka segera berlalu dan memasuki mobilnya sebelum terkena teriakan dari Keyla.
"Aku sumpahin kamu punya pacar" balas Keyla berteriak.
"Itu sumpah atau do'a" teriak Raka dari dalam mobil.
Keyla menggidikan bahubya, lantas ia pun segera memasuki mobilnya.