NovelToon NovelToon
Ritual Bunga Kantil

Ritual Bunga Kantil

Status: tamat
Genre:Spiritual / Horor / Tamat
Popularitas:203k
Nilai: 5
Nama Author: Meylani Putri Putti

Keling, begitulah orang menyebut Lastri. Bukan hanya itu, kata hinaan kerap terlontar untuk Lastri rasa sakit, kecewa, serta merasa tidak berguna.
Hal itu membuatnya menerima ajakan Nilam untuk memasang susuk serta ritual agar ia bisa menjadi cantik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meylani Putri Putti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mendaki Gunung

Dua hari berlalu, kondisi Lastri semakin membaik sesekali Ayu mampir untuk menjenguk Lastri. Lastri juga sudah bisa dimintai keterangan oleh polisi.

“Selamat siang Ibu Lastri, kami ingin menanyakan beberapa hal terkait kecelakaan yang menimpa Anda.”

“Baik Pak silahkan,” sahut Lastri.

“Saat kejadian apa Anda sempat melihat plat mobil atau ciri-ciri lainnya?”

“Mobil warna hitam, kalau nomor platnya saya tidak tahu. Yang saya ingat pengemudinya wanita,” tutur Lastri.

“Bisa Anda sebutkan ciri-cirinya?”

“Yang saya lihat rambutnya panjang, dia pakai kaca mata hitam selebihnya saya tidak tahu. Karena kejadian itu begitu cepat.” Sahut Lastri.

Usai menanyai Lastri dengan beberapa pertanyaan para polisi itu pergi, hanya tertinggal Lastri dan juga Ayu.

“Lastri apa kamu mau makan sesuatu? Biar aku belikan,” ucap Ayu.

Lastri menggelengkan kepalanya. “Nggak Yu aku masih kenyang,” sahut Lastri.

“Gimana luka kamu apa sudah sembuh?” Ayu menyentuh pelipis Lastri.

“Aahh! Sakit,” pekik Lastri sembari meringis

“Ma-maaf Lastri apa aku terlalu keras memegangnya.”

“Nggak apa-apa Yu. Oh iya ... Kamu gak masuk kerja Yu? Bukankah isi sudah lewat jam istirahat?” tanya Lastri.

Ayu melihat jam tangannya. “Astaga! Aku hampir aja lupa. Aku pergi dulu ya Lastri, semoga cepat sembuh.”

Ayu bergegas pergi meninggalkan Lastri, saat Ayu pergi Lastri menghela nafas lega. Sebelumnya ia mengirim pesan kepada Emir untuk datang dan menemaninya di rumah sakit.

Tidak lama Emir datang dengan wajah serius, rupanya Emir datang tidak sendirian ia bersama dengan Azlan.

“Lastri.”

“Apa yang kamu katakan saat di pesan chat itu benar?” tanya Azlan.

Lastri mengangguk. “Tapi biarkan ini jadi rahasia kita,” pinta Lastri.

“Apa kamu gila Lastri?” ucap Emir.

“Rupanya perusahaan Gunawan tidak hanya menyimpan wanita, tapi juga pembunuh.”

“Apa maksud kamu Azlan!”

“Aku hanya bicara kenyataan.”

Emir mendengus, ia mengepal tangannya dengan erat tanpa pikir panjang ia mencoba mendaratkan kepalan tangannya itu ke wajah Azlan. Namun, pukulan itu di tahan dengan mudah oleh Azlan.

“Arrgh! Kamu boleh menghinaku Azlan. Tapi jangan pernah kamu menghina orang tuaku!” Emir mendaratkan kembali pukulannya.

“Sudah cukup! Kenapa kalian malah berantem sih!” bentak Lastri. 

“Azlan kamu seharusnya jangan ngomong gitu, nggak ada anak yang rela orang tuanya dihina Azlan dan kamu Emir jangan ngajak ribut di sini! Ini rumah sakit bukan ring tinju!” sambung Lastri.

Emir dan Azlan hanya diam ketika di omeli oleh Lastri, mereka berdua mau tidak mau mendengarkan ocehan Lastri tersebut.

“Lastri maaf sudah bikin kamu marah,” ucap Azlan.

“Iya Lastri maafin aku ya. Lain kali aku ajak dia ke ring tinju aja.”

Mendengar ucapan itu, Azlan mengerutkan alisnya sembari menatap Emir dengan tatapan tajam.

“Apa?” ucap Emir.

“Sudah! Sudah! Sepertinya aku harus keluar dari rumah sakit ini.”

*** 

Di sisi lain Nilam yang saat itu berada di kantor tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya. Matanya tanpa henti menatap layar komputer yang ada di depannya.

Sampai sesuatu menghentikan kegiatannya, tercium bau anyir menyeruak yang entah dari mana datangnya.

“Bau banget! Bau apaan sih?” ucap Nilam sambil mencari sumber bau tersebut.

Nilam menutup hidungnya dan berjalan menuju pintu berniat untuk keluar. 

“Kok nggak bisa dibuka?” ucap Nilam yang berulang kali berusaha membuka pintu.

“Ada orang di luar? Siapa saja tolong bukain pintunya!” teriak Nilam.

Saat Nilam masih berusaha membuka pintu, Nilam merasakan suasana berbeda di ruangannya bulu kuduknya berdiri. Hawa dingin begitu terasa di tengkuk lehernya.

Ekspresi tegang terlihat jelas di wajah Nilam, ia memcoba memberanikan diri menoleh perlahan  ke belakang, namun tidak ada sesuatu yang aneh.

Saat Nilam kembali berbalik ia di kejutkan oleh sosok yang tiba-tiba berada di hadapannya. Wanita memakai seragam kerja berdiri dengan kaki yang jomplang. Wajahnya rusak serta sebagian kepalanya hancur.

Sosok itu adalah arwah Melinda. Tatapan kemarahan serta dendam membuat wujud Melinda semakin mengerikan. Seketika Nilam berteriak histeris.

“Aaaaa ....”

“Tolong! Buka pintunya!” Nilam menggedor pintu.

“Tolong! Siapa saja di luar tolong buka!”

Pintu ruangan Nilan berhasil terbuka, dan di depan pintu sudah ada Gunawan.

Spontan Nilam berlari dan menghampiri Gunawan. 

“Pak tolong pak! Ada Melinda!” ucapnya.

“Melinda apa? Dia sudah mati mana bisa hidup lagi.” Sahut Gunawan.

“Tapi Pak tadi saya lihat Melinda!”

“Ya sudah kamu ke ruangan saya saja, lalu tenangkan diri kamu.”

Nilam akhirnya masuk ke dalam ruangan Gunawan. Ia duduk di sofa sembari menunggu Gunawan selesai memeriksa laporan.

“Nilam bagaimana kalau kita makan malam?” ajak Gunawan.

“Makan malam? Boleh. Tapi harus di restoran mahal!”

“Ha-ha-ha. Jangankan restoran mahal, restorannya akan aku beli untukmu jika kamu mau.”

“Oh iya ... Kemarin aku lihat tas bagus banget di mall. Nanti sore kita ke sana ya.” 

“Kamu boleh ambil sepuasmu nanti.”

Mendengar ucapan Gunawan, rasa takut Nilam menjadi hilang hanya ada perasaan senang. Namun ada hal yang tidak mereka tahu, sebelumnya Emir memasang penyadap suara karena ia merasa curiga dengan kedekatan Gunawan dan juga Nilam. 

Tentu saja Emir mengetahui tentang hal ini, bahkan ia lebih akan berhati-hati dengan Nilam mulai dari sekarang.

Emir yang saat itu tengah duduk di dalam mobil mendengarkan pembicaraan Nilam dan Gunawan lewat alat penyadap ia terus berkonsentrasi menyimak pembicaraan hingga sampai mereka memulai percakapan vulgar yang terlontar dari mulut Gunawan.

Kebetulan saat itu ada Azlan berada satu mobil dengan nya, kerena penasaran Emir sedikit membesarkan suara dari alat tersebut.

“Mereka ngomong apaan sih nggak ngerti!” ucap Emir sambil membesarkan volume suara alat penyadapnya.

Hingga terdengar suatu percakapan dewasa antara Gunawan dan Nilam.

“Sepertinya sekarang gunung itu terlihat besar dari biasanya,” terdengar suara Gunawan.

“Oh ya ... Mau coba mendaki dua gunungku ini Pak?” sahut Nilam.

“Mereka ngapain sih?” tanya Emir kepada Azlan.

“Mana aku tahu. Mungkin lagi mendaki,” sahut Azlan.

“Hei ... Mendaki di mana? Mereka sekarang lagi di kantor.”

Mereka berdua sama sekali tidak mengerti apa yang Gunawan dan Nilam bicarakan hingga mereka mendengar suara ******* dari Nilam.

Azlan yang saat itu tengah meminum segelas es kopi itu pun tersedak hingga menyemburkan  es kopinya ke wajah Emir.

“Uuhukkk!” Azlan tersedak.

“Sialan! Kamu pikir mukaku ini apa hah?” Emir langsung mengambil tissue.

“Maaf nggak sengaja.”

Semakin lama suara ******* itu semakin keras disertai suara ketukkan hingga  tepukkan dengan cepat Emir mematikan alat tersebut. 

“Gila mereka ngapain!”

“Ya mendaki gunung,” sahut Azlan sambil mengambil tissue untuk menyeka mulutnya.

“Aku serius Azlan!”

“Ya aku juga serius. Gunawan lagi mendaki gunung Nilam. Sampai sini paham kan?”

“Gunung?” Emir melihat ke arah dadanya sendiri.

“Arrrgh! Sialan benar dugaan ku papa ada main dengan wanita itu!” Emir memukul-mukul kemudi mobilnya.

“Kita nggak boleh gegabah. Kita harus cari bukti yang kuat. Malam ini kita ke kantor kita pasang alat penyadap lagi di ruangan wanita itu.” Ucap Azlan.

“Ya sudah. Demi mendapatkan hati Lastri apa pun akan aku lakukan!” ucap Emir.

Azlan terkekeh tertawa. “Kamu tidak mungkin bisa.”

“Apa maksudmu?”

“Di hati Lastri Cuma ada Azlan.”

“Kamu jangan terlalu percaya diri Azlan. Kita lihat nanti siapa yang akan dipilih oleh Lastri.”

Mereka terus berdebat memperebutkan siapa yang pantas untuk Lastri di dalam mobil.

 

1
Antoni Indri
seru ceritanya...
bagas muhammad
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
bagas muhammad
apa lastri melangar pantangan.di teror terus
Dwi Ratih
ceritanya bagus singkat GK bertele2 aku suka sekali
👑Meylani Putri Putti: makasi kk 🥰
total 1 replies
Ajeng Sripungga
Luar biasa
Krisna Adhi
/Facepalm//Facepalm/
siscapucinoo
ayu nih
Santi Rizal
good... mksh Thor
Santi Rizal
syukurlah Lastri selamat
Santi Rizal
makin seru dan menegangkan
Santi Rizal
sereeerrm Thor
Santi Rizal
tegang banget nih
Santi Rizal
lumayan deh ga terlalu horor...ada ngakakny
Santi Rizal
seperti nya ayu pelakunya
Santi Rizal
msh banyak keganjilan...othor bisa banget bikin penasaran
Santi Rizal
kok JD serem iihh
Santi Rizal
ternyata Nilam jahat
Santi Rizal
apa karena susuk Lastri JD di teror mahluk astral
Santi Rizal
Lastri polos banget
Santi Rizal
bullying sangat berpengaruh PD mental seseorang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!