Tidak semua yang kita inginkan menjadi kenyataan.
Tidak semua yang kita rencakan berjalan sesuai kemauan.
Pasti ada masanya kita jatuh dan terpuruk.
Dan di saat aku jatuh dan terpuruk itulah selalu ada orang setia berada di sampingku.
Seindah apapun Pelangi akan kalah sama yang namanya Matahari,karena yang indah sesaat akan kalah dengan yang selalu ada setiap saat.
***
"will you be wife and mother to my daughter" tanya Alan yang belutut di depanku.
"tapi kita masih sama-sama terjebak masa lalu Mas, lantas bagaimana kita bisa memulai hubungan baru kalau masalalu kita masih terus menghantui" jawabku menatap matanya sendu.
"kita pasti bisa sama-sama bangkit dari rasa sakit ini Nay" ucapnya. "Trust me" lanjutnya mengiba.
aku berdecak pelan sebelum mengangguk.
"I will try" lirihku.
Alan lekas berdiri dan memeluk tubuhku setelah menyematkan cincin di jari manisku.
Ikuti terus kisah Naya dan Mas Duda ya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMAK DIBA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Aku sampai di kantor dan mengerjakan tugasku. Aku menyibukkan diri dan sengaja mematikan ponsel agar pikiranku bisa fokus dan mengurangi sedikit kesedihanku.
"Coklat panas mbak" Vivi meletakkan secangkir coklat panas di mejaku.
"Thank you sistaa" ucapku menyeruput coklat panas buatannya.
"Sama-sama" Vivi berlalu ke meja nya. Aku kembali fokus ke pekerjaanku.
Kring kring
"Hallo" ucapku.
"Istirahat dulu" ucap Given membuat ku mengernyitkan dahi lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.
'Udah jam setengah 1 ternyata' gumamku.
"Lu ke ruangan gue sekarang, gue udah buat makan siang" ucapnya lalu memutuskan sambungan telfon.
Aku meletakkan gagang telfon pada tempatnya, meng-save As pekerjaanku dan mengambil ponsel lalu menuju ke ruangan Given yang setengah terbuka.
Toktoktok
Aku mengetuk pintu dan langsung masuk dan langsung duduk di dsofa ruangan Given.
Aku tidak langsung makan karena pemilik ruangan juga tengah menunaikan ibadah jadi aku menunggunya selesai sambil memainkan ponsel yang sedari pagi tidak ku sentuh.
Begitu ponselku menyala ada beberapa panggilan yang tak terjawab di iringi pesan-pesan yang masuk ke ponselku.
Dokter Wanda rekaman apa. Batinku
Karena penasaran aku klik rekaman itu.
"Apa gue terlalu jahat ya Nda, gue hancur waktu liat dia nangis kemarin. Lebih baik dia nge-benci gue, daripada teruss nungguin orangnpenyakita kayak gue"
Deg
Ya benar itu suara Rizwan, aku menutup mulutku menggunakan sebelah tangan. Aku memejamkan mata sejenak sebelum mendengarkan isi rekaman kedua yang di kirimkan Dokter Wanda.
"Padahal gue tahun ini mau ngelamar dia, umur kita juga udah pas buat menjalin hubungan yang lebih serius, tapi semua udah hancurr Nda hancur" suara Rizwan terdengar frustasi.
"Kenapa nggak lo coba dulu" suara Wanda mencoba memberi nasehat.
"Heh, gue nggak sePercaya diri itu Nda, bisa ajakan gue mati 3 atau 4 bulan lagi, dia juga berhak bahagia, dia juga berhak dapet pasangan yang sehat, gue cuman mau lihat dia senyum terus Nda" suara Rizwan dengan kekehan lirih membuat air mataku kembali memetes.
Rekaman itu telah usai, aku mendekap ponselku di dalam dada. Aku mendongak ketika bahuku di usap pelan oleh Given.
"Ven, hiks hiks" aku menangis.
"Rizwan nggak mau kemo , dia mikirnya percuma. Ujung-ujungnya juga mati" ucap Given
"Nomer gue di blok sama dia Ven, hue kemaren abis dari rumahnya, gue nggak nyangka ternyata ada banyak foto gue di kamarnya, gue juga nemuin ini terus di pakai'in sama tante Sekar" aku menunjukkan cincin bertahta berlian kecil yang melingkar di jari manisku.
"Ya, emang Rizwan suka sama lu sejak lu masuk SMA, waktu masih MOS, tapi dia nggak berani deketin lu gegara lu kan orangnya jutek" kekehnya membuatku ikut terkekeh.
"Kan gue nggak kenal, kalo udah kenal mah gue orangnya asik" sombongku .
"Narsis lu ah, dah ayok makan" ucap Given mengacak rambutku membuatku mendelik lalu merapikan rambutku.
Aku dan Given makan di selingi Given yang bercerita masa SMA, masa dimana Given dengan gaya tengilnya mengajak'ku berkenalan sampai mengikutiku masuk kelas. Membuatku tertawa dan melupakan kesedihanku.
"Dah selesai, gue balik ya. Thanks traktirannya" godaku menaik turunkan alisku.
"Iyeee, sono kerja sono lu, jangan mewek mulu" jawabnya.
"Hahaa, iyaaaa" ucapku lalu keluar sari ruangannya.
"Kenapa tadi aku nggak di ajakin makan siang?" Tanyaku menatap Vivi, Eri san Risa bergantian.
"Udah di ajak kok, tapi mbak nggak nyahutin apa-apa, kita pikir mbak Nay istirahatnya belakangan" jawab Risa yang di angguk'i Vivi dan Eri..
"Okeeee" jawabku lalu meneruskan langkah ke mejaku.
Aku membuka ponsel dan membuka peaan dari Alan.
Papi Ara [ Nay]
Papi Ara [kok gak aktif]
Papi Ara [ jangan lupa makan siang]
Papi Ara [kalau udah baca pesan dariku, balas ya]
Aku menghela nafas lalu mengetikan pesan balasan. Aku tidak mau terlalu dekat dengan Duda anak 1 ini.
Karena jantungku selalu tidak aman ketika dekat dengannya, aku bukan AbG lagi, aku mengerti bahwa aku mengaguminya, tapi aku juga takut semakin terperosok jatuh dalam pesonanya sedangkan aku memiliki kekasih yang sangat mencintaiku dan sedang berjuang untuk hidupnya.
Kamu tuh sebenernya juga cinta sama Alan, tapi kamu keras kepala, keras hati, egois..
keliatan bibit pelakor nya, ibu nya juga mendukung selama cowoknya ganteng dan kaya...
hati2 ya Nay..
nanti senjata makan tuan
Jesy ternyata siluman ulat bulu yg kegagalan ama duda kaya..