Kavinder Sarfaraz Natapraja, semua orang mengenalnya sebagai pria tampan dan kaya raya. Kehidupan Kavin tak pernah lepas dari media dan para wanita yang selalu mengincarnya. Menginjak umur dua puluh tujuh tahun, Kavin selalu dipaksa oleh sang ibu untuk segera memiliki seorang istri. Namun Kavin hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Menikah? Kavin tidak berpikiran sampai sejauh itu. Pokok utamanya saat ini hanya terus mengembangkan perusahaannya agar semakin jaya dan sukses. Namun, siapalah yang mampu melawan kehendak takdir yang Tuhan berikan. Di kemudian hari, Kavin dihadapkan pada satu kenyataan di mana dia harus menikahi seorang gadis belia yang umurnya terpaut cukup jauh. Ternyata gadis tersebut adalah pilihan orang tuanya.
Akankah Kavin menerima gadis yang bahkan tidak dia kenal untuk menjadi istrinya? Dan mungkinkah cinta tumbuh diantara keduanya?
cerita murni dari haluan author. cerita kedua aku, batu voting y guys❤️
MLW@JANUARI 2022
Ovie Nur'Aisyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovie NurAisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Meet
Happy reading♡
Ashel pun berdiri dan hendak pergi namun Ayu tiba tiba memeluknya. Ashel hampir terjungkal karena Ayu yang tiba tiba memeluknya.
"WOI ANJRIT KAK ASHEL," teriak Ajeng. Didi yang berada di sebelahnya pun langsung menyumpal mulut Ajeng dengan kentang goreng yang cukup banyak. Tentu saja Ajeng tersedak.
"As*," umpat Ajeng.
"Mulutnya di jaga kamu kan islam Jeng," ucap Ashel.
"Lepasin napa mbak. Gue pegel mau duduk," ucap Ashel. Ayu pun melepaskan pelukannya. Ia pun pindah tempat duduk menjadi di sebelah Ashel.
"Gimana kabar lo?" Tanya Dimas.
"Baik. Lo pada gimana kabarnya?" Tanya Ashel.
"Baik ko kak, cuma ya lu tahu kalo mahluk sebelah gue gak bisa baik. Maennya ngegas mulu," ucap Ajeng menyindir Didi. Ashel hanya tertawa. Ternyata Ajeng dan Didi masih menjadi musuh bebuyutan.
"Lo sendirian kesini?" Tanya Didi.
Ashel menganggukan kepalanya. Ia pun menyeruput minumannya.
"Kangen loh," ucap Ayu. Ia terus memeluk Ashel sejak tadi. Sebenarnya Ashel risih, namun kasihan juga jika ia menolaknya.
"Gimana sekolah baru lo?" Tanya Dimas.
"Sejauh ini baik baik aja sih. Bedanya gak ada kalian aja," ucap Ashel.
"Kangen ya tiap istirahat kita kita barengan soalnya," ucap Didi.
"Ya, lumayan lah Di."
Sejak kedatangan Ashel, Nando menjadi diam. Ia bingung sendiri. Padahal jujur, ia sangat merindukan sosok Ashel.
Nando tersenyum saat kembali melihat tawa Ashel.
"Ceilah Nan senyum senyum lo ngeliat Ashel," ucap Dimas.
"Ashel cantik banget kalo lagi ketawa," ucap Nando.
Ajeng berdehem. "Kayaknya ada yang cinlok tapi gak cepu nih."
"Apaan sih Jeng. Enggak kali. Gue sama Nando cuma temenan," sangkal Ashel. Nando sudah menduganya. Ashel bukanlah orang yang gampang jatuh cinta ternyata.
"Iya bener banget," ucap Nando.
"Yang sabar aja ya Nan," ucap Ajeng.
Mereka pun saling bertukar cerita satu sama lain. Disini juga Ashel ikut memesan makanan.
Seperti biasa, mereka tidak akan pernah makan dalam keadaan tenang. Selalu saja ada hal yang membuat salah satu dari mereka rusuh. Ketenangan makan pun sangat sulit di dapatkan.
"Oh iya kak, lo gak sibuk sama organisasi lagi dong?" Tanya Tara.
"Enggak. Gue jadi rakyat biasa," ucap Ashel.
"Gimana tuh rasanya?"
"Ya gak gimana gimana. Gue cuma lagi menikmati aja jadi murid sungguhan," ucap Ashel.
"Maksudnya?" Tanya Ayu.
"Ya kan waktu jadi osis, tiap lagi belajar di kelas pasti aja ada yang manggil buat keluar kelas. Sampe sampe gue sering ketinggalan pelajaran," jelas Ashel.
"Iya, tapi anehnya lo sering dapet nilai tinggi seangakatan. Padahal kan lo jarang masuk kelas," sahut Ayu.
"Ya gatau juga. Gue cuma belajar dari buku lo juga kan?" Tanya Ayu pada Ashel.
"Ya iya. Tapi aneh, bisa lebih pinteran lo dibanding gue."
"Itu artinya takdir Ashel lebih pinter dari lo," ucap Dimas. Ayu pun hanya mendengus kesal. Dimas yang gemas pun langsung mengacak acak rambut Ayu.
Ashel mendadak heran dengan sikap keduanya. Kenapa Dimas dan Ayu jadi dekat?
"Gue tahu apa yang ada di pikiran lo. Tapi gue sama Dimas belum jadian. Mungkin masih pendekatan," bisik Ayu pada Ashel. Sedangkan Ashel hanya menganggukan kepalanya saja.
"Dih bisik bisik tetangga di depan tetangga," ucap Tara. Kebetulan Ayu dan Tara bertetanggaan.
"Si anjir," ucap Ajeng. Diantara mereka semua, Ajeng lah yang paling receh. Tak jarang semua hal ia tertawakan padahal itu tidak lucu.
"Lo boleh receh Jeng, tapi jangan keterlaluan. Aneh gue liatnya," ucap Didi.
"Gatau kenapa gue bisa sereceh ini. Kayak semua hal itu selalu bikin gue ngakak mulu," ucap Ajeng.
"Yaudah gak papa yang penting lo bahagia," ucap Didi. Tiba tiba jantung Ajeng berdetak kencang saat Didi mengucapkan hal itu.
"Kok muka lo merah?" Tanya Nando.
"H-hah? Enggak kok. Hawanya tiba tiba panas," alibi Ajeng sedangkan Didi hanya tersenyum kecil.
Mereka terus mengobrol sampai tak sadar jika waktu sudah menunjukan pukul tiga sore.
Beberapa dari mereka sudah pamit pulang. Kini tersisa Ashel, Nando, Ayu dan Dimas.
"Dari sekian banyaknya orang pas kumpul, cuma sisa kita berempat aja?" Tanya Dimas.
"Udah keliatan ngapain lo nanya anjir," ucap Nando.
"Terus kita mau ngapain? Gue masih mau sama Ashel," ucap Ayu.
"Double date aja," usul Dimas. Ashel hendak menolaknya namun tangan Ayu tiba tiba menahannya membuat Ashel langsung melihat ke arahnya.
Seketika Ashel paham. Ia pun setuju.
Mereka berempat pun keluar dari cafe. Mereka belum tahu tujuan mereka akan kemana. Ashel dan Nando hanya akan mengikuti keinginan dua sejoli itu saja.
"Shel lo bawa mobil?" Tanya Dimas. Ashel menganggukan kepalanya.
"Kalo lo Nan?"
"Bawa. Tapi gak papa tinggal disini aja mobil gue. Biar nanti gue bilang sama om gue nitip disini," ucap Nando.
"Om?" Tanya Ashel.
Nando menganggukan kepalanya. "Cafe ini punya om gue".
"Pantesan tadi kita gratis makannya," ucap Ayu. Nando hanya mengangguk dan tersenyum.
"Ya udah, lo berdua ikut mobil gue aja gimana?" Tanya Dimas.
Ashel dan Nando menganggukan kepalanya.
"Tapi, emang lo gak bawa mobil Yu?" Tanya Ashel.
"Enggak. Dijemput Dimas," ucap Ayu. Ashel pun langsung menyenggol bahu Ayu.
"Gercep lo," ucap Ashel.
"Ya harus!"
"Kunci mobilnya mana Shel? Biar gue titip ke om gue," ucap Nando.
"Gak usah dek kayaknya," ucap Ashel.
"Loh? Kenapa?" Tanya Ayu.
"Tuh ada Ayah. Biar gue suruh ayah bawa mobil gue aja. Lo pada tunggu disini dulu," ucap Ashel. Ia pu pergi ke tempat dimana ayahnya duduk di cafe itu.
"Pantesan dari tadi tuh anak liat ke arah itu mulu," ucap Nando.
Ashel pun berjalan ke arah meja ayahnya. Kebetulan sekali ayah dan bundanya sedang makan di cafe itu.
"Mentang mentang anaknya lagi mondok di rumah grandpa. Jadi berasa muda lagi nih," ucap Ashel saat ia sudah berada di dekat Adi dan Anna.
"ASTAGA? INI ANAK KITA MAS?" tanya Anna.
"Bunda ih malu. Gak usah teriak juga," peringat Ashel.
"Kok kamu bisa ada disini sih?" Tanya Adi.
"Idih, bicaranya gitu amat yah. Ashel cuma mau titip mobil aja. Ashel mau pergi sama temen temen Ashel," ucap Ashel. Ia pun mengeluarkan kunci mobil miliknya.
"Jawab dulu, kenapa kamu tiba tiba ada disini? Gak ngabarin lagi," ucap Adi.
"Emang grandpa gak ngomong yah?"
"Enggak, makanya ayah nanya kamu."
"Ya kan weekend jadi Ashel kesini," ucapnya.
"Terus kamu sendirian gitu dari Jakarta?" Tanya Anna Ashel hanya menganggukan kepalanya.
"Udah ya Ashel udah ditungguin. Ashel ijin main nanti pulang sebelum makan malam," ucap Ashel. Ia pun pergi dari sana.
Tbc.
lanjut thor semangat terussss