Pernikahan, Yasmin berpikir jika ia menikah dirinya akan hidup bahagia. Kehidupan sehari-hari ada yang mencukupi dan ia tidak perlu capek-capek kerja. Malah sebaliknya, laki-laki yang ia kenal baik dan tidak pelit ternyata adalah seorang yang pemalas tidak mau bekerja. Sebut saja namanya Hendro.
Kehidupan rumah tangga yang tidak di penuhi oleh Hendro di tambah lagi suaminya ini ternyata menikah secara diam-diam dengan tetangga samping rumahnya yang bernama Susi, janda empat kali di cerai.
Penasaran bagaimana Hendro dan Susi bisa menikah? Apakah Yasmin dan Hendro akan bercerai? Sama saya juga penasaran, yuk ikuti cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
"Dimana Yasmin? Kenapa tidak ikut sarapan?" Tanya bu Mita heran karena tak melihat menantunya.
"Masih tidur mah!" Jawab Bagas.
"Tumben jam segini masih tidur? Biasanya di antara kita, Yasmin paling awal bangun."
"Tadi malam ku ajak pergi pas tengah malam."
"Kemana?" Tanya bu Mita penasaran.
"Cari buah nanas," jawab Bagas dengan santainya tak merasa berdosa.
"Tengah malam keluar hanya untuk mencari buah nanas?" Bu Mita memperjelas.
"Iya mah....!"
"Keterlaluan!" Seru bu Mita. "Tidak ada waktu apa gimana hah?"
"Namanya juga pengen, gimana lagi?"
Huft......
Bu Mita memutar bola matanya malas kemudian menghembuskan nafas kasar.
"Jangan suka mengerjai istri mu, Bagas. Kasihan!"
"Gak ngerjain loh mah. Udah ah, aku berangkat kerja dulu. Biarin aja Yasmin tidur, nanti juga bangun sendiri."
"Kalau mamah jadi Yasmin, gak bakalan mau di ajak ngeluyur malam-malam!"
"Untung aja Yasmin bukan mamah!" Sahut Bagas kemudian berlenggang pergi.
"Bu, mobilnya sudah siap." Ujar pak Don memberitahu.
"Oh iya pak. Tunggu sebentar," Jawab bu Mita. "Bi,....bibi....!"
"Iya bu, ada apa?" Tanya bi Warti.
"Anu bi, itu kalau Yasmin bilangin kalau Bagas pergi kerja dan bilangin kalau saya pergi ke luar kota selama tiga hari."
"Baik bu!"
"Langsung di suruh sarapan ya bi. Yasmin itu tadi malam di ajak Bagas pergi gak tahu kemana makanya sekarang belum bangun."
"Baik bu,....!"
Bu Mita bersiap-siap kemudian bergegas pergi ke bandara. Tiga hari ke depan ia akan menghadiri acara pernikahan anak dari salah satu temannya di luar kota.
Sementara itu, di sisi lain Hendro tengah melamun sambil menjaga meja kasir. Entah apa yang di lamunkan pria ini hingga membuat Susi penasaran.
"Kamu mikirin apa bang?" Tanya Susi.
"Gak ada kok!" Bohong Hendro.
"Jangan bilang kalau kamu sedang melamunkan Yasmin."
"Mana ada!" Seru Hendro membantah.
"Ngaku gak?" Desak Susi.
"Abang cuma heran aja. Kita nikah sudah berbulan-bulan dan setiap hari siang malam selalu berhubungan badan, kenapa kamu belum hamil juga?"
"Mana aku tahu....!" Seru Susi.
"Kamu menggunakan alat kontrasepsi?" Tuduh Hendro.
"Eh bang, dari jaman suami pertama sampai kamu suami ke lima, aku gak pernah makai begituan. Enak aja main fitnah orang sembarangan!"
"Tuh, suami kamu lima tapi kok kamu gak pernah hamil?"
"Aku pernah hamil, setiap kali hamil aku keguguran!" Jawab Susi.
"Ah, masa sih?" Tanya Hendro tidak percaya.
"Abang tuh mandul kali....!"
"Enak aja, kamu tahu sendiri abang perkasa!"
"Perkasa belum tentu subur. Jadi, jangan menuduh ku mandul atau apa. Sembarang aja!"
Susi kembali mengomel, ia tidak terima atas tuduhan Hendro. Sebagai manusia normal, Hendro juga sangat menginginkan kehadiran seorang anak. Apa lagi ia anak tunggal, kalau bukan dia siapa lagi yang akan meneruskan garis keturunan.
Di sisi lain, Yasmin yang baru saja bangun merasa kepalanya pusing dan perutnya mual.
"Aduh, pasti ini efek bangun kesiangan." Ucap Yasmin dengan wajah lesu. "Mandi dulu lah, biar segar!"
Wanita ini bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Selesai mandi Yasmin langsung turun ke bawah. Rumah begitu sepi, ia sudah bisa menebak kemana penghuni rumah ini pergi.
Bi Warti memberitahu Yasmin kemudian menyiapkan makanan untuk Yasmin.
"Terimakasih bi," ucap Yasmin.
Saat sedang menikmati makanannya, Yasmin mendapatkan panggilan telpon dari suaminya untuk sekedar menanyakan kabar sang istri.
Bagas merengek pada Yasmin agar Yasmin menyusul dirinya ke kantor. Tidak mau membuat suaminya kecewa, Yasmin bergegas menyelesaikan makanannya kemudian pergi ke kantor Bagas.
Di tempat lain, saat ini Susi sedang berada di salah satu paranormal yang ia kenal dari salah seorang teman.
"Siapa yang mau kau pelet?" Tanya perempuan setengah baya yang sedang menguyah sirih pinangnya.
"Aduh, bu....!"
"Siapa yang kau sebut ibu?" Sentak paranormal tersebut.
Susi kaget.
"Panggil aku mbah nyai....!" Titahnya.
"Iya mbah nyai. Maaf," ucap Susi ketakutan.
"Kenapa?" Tanya mbah nyai.
"Anu mbah nyai, aku geli melihat mbah nyai nginang. Bisa di buang dulu....!"
Mata mbah nyai melotot lebar, tentu saja hal ini membuat Susi ketakutan.
"Sekali lagi kau banyak omong, akan ku jadikan kau tumbalku!" Ancam mbah nyai. "Cepat katakan, siapa yang ingin kau pelet?"
Bergegas Susi mengeluarkan foto Bagas.
"Ini orangnya, tolong pelet dia untuk ku." Titah Susi.
"Berani bayar berapa kau?" Tanya mbah nyai.
"Mbah nyai minta berapa?" Susi balik bertanya.
"Sepuluh juta....!" Jawabnya.
"Mahal sekali,...!" protes Susi.
"Kalau begitu pergilah. Minggat sana dari rumah ku!"
"Ini duitnya. Cepat kerjakan mbah nyai....!"
"Baiklah.Pulang saja kau, aku akan mengerjakannya untuk mu!"
"Serius loh mbah nyai...!"
"Dalam lima menit kau masih duduk di sini, kau sendiri yang akan celaka." Ujar mbah nyai menakuti Susi.
Susi yang ketakutan bergegas pergi. Wanita ini langsung menancap gas mobilnya pergi dari rumah paranormal tersebut.
"Resna,...keluar cepat!"
Perempuan yang mengaku paranormal ini langsung melepas rambut palsu dan pakaian dukunnya lalu memanggil Resna, teman Susi yang memberitahu rumah sang dukun pelet.
"Gimana, berhasil?" Tanya Resna.
"Ayo kita kabur, sepuluh juta sudah di tangan." Ujar mbah nyai alias Maimunah, teman Resna yang ternyata mereka sudah menipu Susi.
Mereka berdua sengaja menyewa rumah kosong satu hari untuk menipu Susi, teman mereka sendiri.
"Tunggu saja kau, Yasmin. Sebentar lagi suami mu akan jatuh kedalam pelukan ku," ucap Susi dengan gelak tawa puas.
Wanita ini menyetir dengan kecepatan tinggi hingga membuatnya kehilangan kendali.
Aaaaaaaaa.......
Braaaak........
Praaaaak........
Mobil yang di kendari Susi menabrak pembatas jalan untuk menghindari lubang.
Pengendara yang lain langsung menolong Susi, membawa wanita ini ke rumah sakit karena Susi mengalami luka yang cukup parah bahkan mobil bagian depannya rusak parah.
Hendro yang mendapat kabar jika istrinya kecelakaan dan masuk ke rumah sakit langsung bergegas menyusul ke sana bersama dengan ibunya.
"Memangnya Susi pergi kemana tadi?" Tanya bu Surti.
"Ada urusan sama temannya. Gak tahu juga,...!" Jawab Hendro.
"Ada-ada aja, semoga Susi baik-baik saja!"
Tak berapa lama Dokter keluar.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Tanya Hendro.
"Tangannya patah dan ada beberapa luka cukup parah di kaki dan wajahnya."
Huft......
Hendro membuang nafas kasar.
"Apa saya boleh melihat istri saya?"
"Silahkan....!"
Hendro dan ibunya masuk ke dalam, Susi masih belum sadar. Hendro membuang pandangan saat melihat luka jahitan di wajah Susi yang sangat mengerikan.
"Aduh Susi, kenapa jadi seperti ini sih?" Gumam Hendro dalam hatinya.
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Yuhu......yuk mampir di novel baru saya yang berjudul,
"Jerat Candu Istri Sewaanku"
rupa nya katak jandaku diartikan ada sorang janda dan ada seorang lelaki yang menclaim janda itu adalah miliknya