NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jadi, Rasa itu Namanya Cemburu, ya?"

Hari-hari berlalu dengan cepat. Berkat perawatan teliti dan penuh perhatian dari Farzhan, kondisi Vira membaik dengan pesat. Rona kemerahan yang sehat kembali menghiasi pipinya, senyum cerianya pun kembali mewarnai suasana rumah yang tadinya terasa sepi dan dingin. Kini ia sudah bisa beraktivitas seperti biasa yaitu memasak, membersihkan rumah, dan hal yang paling disukainya: mengerjai suaminya yang berwajah datar itu.

Malam itu, langit di luar tampak bersih dan berbintang. Angin malam berhembus sejuk menyusup lewat celah jendela yang terbuka sedikit, membawa aroma rumput basah dan tanah yang segar. Suasana di dalam rumah tenang, hanya terdengar suara siaran televisi yang diputar pelan. Vira duduk santai di sofa ruang tengah, memegang tablet di tangannya, sedang melakukan panggilan video dengan teman-teman masa kuliahnya. Ada Meisya, dan beberapa wajah lain yang sudah lama tidak ia temui.

Farzhan baru saja selesai membersihkan diri. Ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai berwarna gelap, rambutnya masih sedikit basah dan berantakan. Ia berjalan tenang menuju ruang tengah, berniat mengambil sebotol air dingin di meja makan, namun langkah kakinya terhenti di tempat saat pandangannya jatuh pada sosok istrinya.

Vira tertawa. Tawanya terdengar renyah, lepas, dan sangat manis di telinga. Wajahnya berseri-seri, matanya menyipit indah karena tertawa lebar, ekspresi yang jarang sekali Farzhan lihat secara jelas.

"Heh iyaa! Jangan mengejek begitu dong! Iya nih, aku sekarang tinggal di sini, aman dan nyaman kok." suara Vira terdengar ceria sekali, berbeda jauh dengan nada bicara lembut atau sedikit takut saat berhadapan dengannya.

Farzhan mengernyitkan dahi dalam diam. Matanya yang tajam lalu tertuju pada layar tablet itu. Di sana terlihat wajah beberapa orang, dan di antaranya ada seorang pria. Pria itu tampan, berpenampilan rapi, tersenyum ramah, dan terlihat sangat akrab saat mengajak Vira berbincang-bincang.

"Wih, makin cantik saja kamu, Vi! Dulu waktu kuliah aku sempat suka sama kamu, lho!" kata pria itu di layar dengan nada bercanda yang terdengar begitu akrab.

Vira malah tertawa makin keras, tangannya bergerak seolah memukul udara ke arah layar. "Ah apa-apaan sih kamu ini, Rian! Mulutmu bisa saja! Dulu saja kamu tidak berani bilang apa-apa sekarang malah sok hebat!"

"Serius, lho, Vi! Kalau aku tahu kamu akan secantik dan sebening ini sekarang, mungkin aku yang akan menyatakan perasaan duluan padamu sebelum 'Si Bos' itu datang!" canda pria itu lagi, disusul tawa teman-teman yang lain.

Farzhan berdiri diam di belakang sofa, menyaksikan semua percakapan itu tanpa bersuara sedikit pun. Wajahnya tetap dingin dan datar, namun di dalam dada, sesuatu bergerak tidak beraturan.

Jantungnya... entah mengapa berdetak kacau, tidak sesuai irama yang biasa.

Rasanya ada sesuatu yang aneh menyumbat dadanya. Seperti ada gumpalan hangat yang tiba-tiba berubah menjadi rasa asam dan panas yang menyengat. Melihat Vira tertawa selepas itu dengan pria lain, melihat Vira terlihat begitu bahagia dan terbuka saat berbicara dengan orang yang bukan dirinya, rasanya... Sangat tidak nyaman.

Farzhan membuang muka dengan kasar. Ia berjalan ke meja makan, meraih gelas berisi air dingin, lalu meminumnya hingga tandas dengan tegukan besar, seolah cairan itu mampu memadamkan api yang tiba-tiba berkobar di dalam dadanya.

"Hmph!" dengusnya pelan, nada suaranya terdengar kesal meski rendah. Ia berjalan cepat menuju kamar kerjanya, lalu menutup pintu dengan cukup keras hingga menimbulkan bunyi gedebuk yang menggema.

Vira yang sama sekali tidak menyadari kehadiran dan perubahan sikap suaminya, masih asyik mengobrol dan tertawa lepas bersama teman-temannya.

 

Keesokan harinya, suasana di lantai eksekutif kantor Farzhan terasa jauh lebih mencekam dari biasanya. Udara sejuk dari pendingin ruangan seolah tidak mampu mendinginkan hawa panas yang terpancar dari ruangan kerjanya. Kali ini bukan karena ia sedang marah besar seperti biasa, melainkan karena aura dingin namun penuh gejolak yang menyelimuti dirinya.

Pria itu duduk di kursi kebesarannya dengan punggung tegak kaku. Ia menatap layar komputer yang menyala di hadapannya, namun pandangannya kosong dan tidak fokus. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama cepat dan tidak beraturan. Tuk... tuk... tuk... Suara itu terdengar menekan dan membuat siapa saja yang mendengarnya merasa tidak tenang.

Wajahnya terlihat masam, keningnya berkerut dalam, dan rahangnya terkatup rapat sepanjang waktu.

Zikri masuk membawa setumpuk berkas dokumen, namun langkahnya menjadi ragu-ragu saat melihat kondisi atasannya yang aneh itu.

"Pa... Pak Farzhan? Ini dokumen yang Anda minta untuk ditandatangani..."

Farzhan tidak menjawab sedikit pun. Tatapannya masih tertuju kosong ke dinding seberang.

"Pak?" Zikri mendekat pelan, mencoba berbicara lebih lembut. "Anda kenapa? Apakah merasa sakit lagi? Atau ada masalah baru pada proyek film kita?"

Farzhan menghela napas panjang, berat, dan terdengar sangat frustrasi.

"Zik..." panggilnya pelan, suaranya berat dan rendah.

"Iya, Pak?"

"Aku mau bertanya padamu..." Farzhan menoleh perlahan, wajahnya terlihat bingung bercampur kesal yang mendalam.

"Ada rasa aneh di dadaku. Rasanya seperti... panas, sesak, ingin marah tanpa alasan yang jelas, lalu ingin membanting barang apa saja di dekatku. Rasanya juga... ingin berteriak kepada orang itu. WANITA ITU ISTRIKU! JANGAN SENYUM-SENYUM DENGAN DIA! Itu penyakit apa, ya? Penyakit jantung koroner, bukan?"

Zikri ternganga lebar mendengar pertanyaan polos itu. Perlahan namun pasti, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum lebar yang sangat jahil.

"Wah... wah... wah..." Zikri menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bersedekap dada, menahan tawa sekuat tenaga.

"Penyakit jantung koroner apa, Pak! Itu namanya... CEMBURU!"

Farzhan melotot tajam, wajahnya masih tetap dingin namun matanya membelalak tak percaya. "Cemburu? Apaan itu?"

"Ya ampun, Pak Bos! Hidup hampir tiga puluh tahun, baru sekarang mengetahui rasa cemburu, ya?" Zikri akhirnya tertawa kecil, tak kuasa menahan diri.

"Itu tandanya, Pak Farzhan Ibrahim yang dingin dan angkuh ini, sekarang sudah memiliki hati yang benar-benar berperasaan. Dan hati itu sedang marah besar karena takut kehilangan, atau takut ada saingan yang merebut perhatian Nyonya Vira dari Anda."

"Tidak masuk akal!" Farzhan menyangkal dengan tegas, namun kedua telinganya memerah padam.

"Aku hanya... aku hanya merasa kesal saja! Tadi malam aku melihat Vira melakukan panggilan video dengan teman laki-lakinya! Katanya teman kuliah! Mereka tertawa dan mengobrol dengan sangat akrab! Pria itu bahkan bilang dulu pernah menyukai Vira! Bahkan menyesal karena tidak menyatakan perasaan duluan! Gila, bukan? Seenaknya saja dia berbicara begitu!"

Semakin Farzhan berbicara, semakin merah wajahnya dan semakin meluap emosinya.

"Dan sedangkan Vira? Dia malah tertawa dengan sangat manis! Senyumnya sangat lebar dan manis! Selama ini, padaku dia tidak pernah tersenyum semanis itu! Padahal aku suaminya! Selama ini kalau bersamaku dia hanya cemberut, merajuk, atau terlihat takut! TAPI DENGAN LAKI-LAKI LAIN DIA BISA TERTAWA SELEPAS ITU?! Rasanya aku ingin menghancurkan saja benda elektronik itu! Rasanya aku ingin berteriak kepada seluruh dunia bahwa Vira itu MILIKKU! MILIK FARZHAN IBRAHIM!"

Farzhan menghentakkan kakinya ke lantai, merasa frustrasi setengah mati karena perasaannya sendiri yang kacau.

Zikri berdiri di sudut ruangan, menahan tawanya sampai perutnya terasa sakit. Gila... ini baru namanya cemburu buta. Sungguh lucu sekali tinggah laku bosku ini.

"Jadi... rasa itu namanya cemburu, ya?" tanya Farzhan lagi, kali ini suaranya jauh lebih pelan dan terdengar bingung. Ia menempelkan tangannya ke dada sendiri, merasakan detak jantungnya yang masih kencang.

"Rasanya... asam, panas, seperti memakan cabe rawit dicampur cuka, ya? Terasa sesak dan menyakitkan di dada?"

"Betul sekali, Pak!" jawab Zikri dengan nada mantap dan serius.

"Itulah definisi asli dari rasa cemburu. Itu tandanya Anda sangat menyayangi Nyonya Vira, dan Anda tidak mengizinkan ada orang lain yang mendekat, atau mengambil sedikit saja perhatiannya dari Anda."

Farzhan terdiam sejenak. Ia berjalan mendekat ke jendela kaca besar yang menghadap ke pemandangan kota. Ia menatap pantulan dirinya di kaca itu; wajahnya terlihat kacau, tidak teratur, dan sangat kesal.

Jadi... ini rasanya cemburu?

Rasanya tidak enak, menyiksa, membuat pikiran kacau... namun ia tidak bisa memungkiri satu hal, rasa itu muncul karena ia sama sekali tidak mau berbagi Vira dengan siapa pun, meski sedikit saja.

"Dasar wanita penggoda." gerutu Farzhan pelan, namun kalimat itu bukan ditujukan sebagai kemarahan pada Vira, melainkan kemarahan pada dirinya sendiri yang ternyata sudah jatuh cinta kepada wanita itu. "Membuat hidupku penuh kebimbangan saja."

"Terus sekarang bagaimana, Pak? Apakah Anda akan pulang lalu marah-marah lagi?" tanya Zikri penasaran.

"Tidak!" Farzhan berdiri tegak kembali, merapikan jasnya dengan gerakan gagah dan tegas, kembali menampakkan wibawanya yang dingin namun penuh keyakinan.

"Aku tidak akan marah. Aku akan memberitahunya, dan memberitahu seluruh dunia! Bahwa Farzhan Ibrahim ini jauh lebih hebat, jauh lebih kaya, dan jauh lebih menyayanginya dibandingkan laki-laki-laki tidak berguna itu!"

Zikri menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum melihat bosnya yang berjalan keluar ruangan dengan aura kepemilikan yang sangat kuat dan tak tergoyahkan.

"Yah... memang begitulah orang yang sedang jatuh cinta dan dilanda rasa cemburu. Semangat ya, Pak... selamat berjuang merebut hati istri sendiri."

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!