"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"
Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.
Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.
Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Jarak yang Menyiksa
Pagi itu, Mansion Tarkan terasa seperti diselimuti kabut tebal yang mencekam. Berita utama di seluruh kanal televisi nasional tidak lagi hanya membicarakan rumor; mereka menampilkan sebuah dokumen akta kelahiran lama yang telah dimanipulasi—dokumen yang menyatakan bahwa Amora adalah anak dari Tarkan dengan seorang wanita simpanan yang ternyata memiliki hubungan darah dekat dengan keluarga Tarkan.
Skandal "Hubungan Sedarah" itu kini menjadi senjata hukum yang mematikan.
Hamdan berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap keluar dengan tatapan kosong. Di tangannya terdapat surat panggilan dari dewan etik bisnis dan pihak berwenang. Jika ia tidak segera membuktikan bahwa Amora bukan saudaranya, ia tidak hanya akan kehilangan perusahaan, tapi Amora akan diseret ke pengadilan atas tuduhan penipuan identitas.
"Tuan, mobil sudah siap. Kita harus berangkat ke kantor pusat sekarang," ujar Farid dari ambang pintu.
"Farid," panggil Hamdan tanpa menoleh. "Mulai detik ini, perintahkan semua pelayan untuk tidak membiarkan Amora mendekatiku. Jika aku berada di satu ruangan dengannya, minta dia keluar. Jika dia memanggilku, abaikan."
Farid tertegun. "Tapi Tuan... Nona Amora baru saja mulai membuka diri."
"Lakukan saja!" bentak Hamdan, suaranya pecah oleh rasa sakit. "Setiap detik dia terlihat bersamaku, bukti palsu itu akan semakin menjeratnya. Satu-satunya cara melindunginya adalah dengan membuatnya terlihat tidak berarti bagiku."
Amora sedang membantu ibunya, Saphira, sarapan di kamar saat ia mendengar langkah kaki Hamdan di koridor. Dengan perasaan yang sedikit lebih ringan setelah kejadian kemarin, Amora keluar kamar untuk menyapa pria itu.
"Abang!" panggil Amora.
Hamdan lewat begitu saja. Ia bahkan tidak melirik, seolah Amora adalah udara kosong. Wajahnya kembali menjadi "kulkas dua pintu" yang paling dingin, bahkan lebih beku daripada saat pertama kali mereka bertemu di pasar desa.
Amora terpaku di tempatnya. "Hamdan? Ada apa? Luka di wajahmu masih harus diobati—"
"Nona Amora," Farid menghalangi langkah Amora dengan wajah penuh penyesalan. "Tuan Hamdan sedang sangat sibuk. Beliau meminta agar Anda tidak mengganggunya untuk waktu yang tidak ditentukan."
"Mengganggu?" Amora mengernyit, hatinya mencelos. "Tapi kemarin dia bilang—"
"Keadaan sudah berubah, Nona," potong Farid pelan.
Sepanjang hari itu, Amora mencoba berkali-kali. Ia menunggu di ruang makan, namun Hamdan meminta pelayan membawa makanannya ke ruang kerja. Ia mencoba mengetuk pintu perpustakaan, namun Hamdan justru keluar lewat pintu samping hanya untuk menghindarinya.
Amora berdiri di tengah aula, menatap cincin berlian di jarinya yang kini terasa sangat berat. Rasa kehilangan yang amat sangat mulai merayap di dadanya. Di saat ia baru saja mengakui bahwa ia membutuhkan Hamdan, pria itu justru membuangnya tanpa penjelasan.
"Jadi begini caramu bermain, Hamdan Tarkan?" gumam Amora dengan mata berkaca-kaca. "Kau memberiku harapan, lalu kau menjatuhkanku kembali ke lumpur."
Tanpa Amora ketahui, di balik pintu ruang kerjanya, Hamdan sedang meremas meja kerjanya hingga buku jarinya memutih, mendengarkan isak tangis Amora yang samar dari balik pintu. Ia harus menghancurkan hati Amora hari ini, agar dunia tidak menghancurkan hidup gadis itu besok.
Sore harinya, hujan turun deras membasahi kaca-kaca besar Mansion Tarkan. Amora berdiri di koridor lantai dua, memerhatikan Hamdan yang baru saja pulang dengan bahu yang basah kuyup. Ia berharap, setidaknya di tengah cuaca dingin ini, ada satu tatapan hangat yang diberikan pria itu.
"Hamdan!" Amora berlari menuruni tangga, mengabaikan peringatan Farid.
Hamdan berhenti di tengah aula, namun ia tetap membelakangi Amora. Air menetes dari rambutnya, membasahi lantai marmer yang mahal. "Sudah kukatakan pada Farid, jangan biarkan ada yang menggangguku," suara Hamdan terdengar sangat datar, hampir tidak bernyawa.
"Aku bukan 'siapa pun', Hamdan! Aku Amora!" Amora berdiri tepat di belakangnya. "Katakan padaku, apa salahku? Apakah karena aku menemukan Mama? Apakah karena aku tahu rahasia keluargamu?"
Hamdan mengepalkan tangannya di samping tubuh. Ia bisa merasakan aroma mawar dari tubuh Amora yang mendekat, aroma yang biasanya menenangkannya, namun kini terasa seperti racun yang mematikan bagi kewarasannya. Ia harus melakukan ini. Ia harus membuat Amora membencinya agar gadis itu menjauh dari pusaran penyelidikan polisi yang mulai mengarah pada Tarkan Group.
"Kesalahanmu?" Hamdan berbalik perlahan. Matanya yang biasanya penuh kilat protektif kini kosong dan dingin. "Kesalahanmu adalah kau terlalu percaya diri, Amora. Kau pikir hanya karena aku membawamu dari pasar, kau memiliki hak untuk mengatur perasaanku?"
Amora terbelalak, hatinya terasa seperti ditusuk sembilu. "Apa maksudmu?"
"Cincin itu, makan malam itu... itu hanyalah strategi untuk menenangkanmu agar kau tidak membuat keributan saat aku menyelidiki aset Klan," Hamdan berbohong, sebuah kebohongan yang paling menyakitkan yang pernah ia ucapkan seumur hidupnya. "Sekarang setelah aset itu terancam karena skandal ini, keberadaanmu di sini hanya menjadi beban bagiku. Kau menghancurkan reputasi yang kubangun belasan tahun."
Amora tercengang.
"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"
Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang menghantui mereka. Amora mundur selangkah, napasnya tersengal. "Beban? Jadi selama ini... jagung bakar itu, pelukan itu... semuanya palsu?"
"Dunia bisnis memang penuh kepalsuan, Amora. Sayang sekali kau terlalu naif untuk menyadarinya," Hamdan kemudian menatap tajam ke arah cincin berlian di jari Amora. "Simpan saja cincin itu sebagai bayaran atas waktumu. Tapi jangan pernah muncul di hadapanku lagi jika tidak kupanggil."
Hamdan melangkah pergi menuju kamarnya tanpa menoleh sedikit pun. Begitu ia menutup pintu kamarnya, ia langsung ambruk di balik pintu. Ia memukul dadanya yang sesak, mencoba mencari oksigen di tengah rasa sakit yang luar biasa karena telah menghancurkan satu-satunya alasan kebahagiaannya.
Di aula, Amora jatuh terduduk. Air matanya jatuh membasahi lantai marmer yang dingin. Di saat dunia menganggapnya sampah karena skandal sedarah, pria yang dianggapnya pelindung justru menyebutnya beban.
"Baiklah, Hamdan Tarkan," bisik Amora dengan suara yang pecah namun penuh tekad baru. "Jika aku adalah beban, maka aku akan menjadi beban yang paling sulit untuk kau lupakan."
To be continued...