Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Dunia tidak berakhir dengan ledakan besar, melainkan dengan keheningan yang menyesakkan.
Setelah matahari padam dan Inti Surya tertelan ke dalam genggaman Kael Ravenhart, Archeon berubah menjadi sebuah bola batu yang membeku di tengah ruang hampa. Di Lux Aeterna, sisa-sisa kemegahan marmer putih kini tampak seperti tumpukan tulang belulang raksasa di bawah langit yang berwarna abu-abu pekat—warna dari atmosfer yang kehilangan sumber energinya.
Kael masih berdiri di balkon istana. Enam garis Sigil di tangannya tidak lagi berdenyut dengan kemarahan, mereka kini bersinar dengan cahaya stabil yang dingin, seperti lampu pemakaman. Di belakangnya, istana Solaria yang dulunya adalah simbol harapan kini telah berubah menjadi istana sunyi dan kelam.
Di sudut ruang yang hancur, Liora Ashveil mencoba bangkit. Tubuhnya terasa luar biasa berat. Tanpa mana matahari yang mengalir di udara, setiap sel di tubuhnya seolah-olah berteriak karena kelaparan energi. Ia menatap tangannya. Sigil Api Celestial miliknya telah menjadi noda hitam yang mati di kulitnya.
"Kau melakukannya..." suara Liora pecah, tertiup angin dingin yang mulai membawa serpihan es. "Kau benar-benar memadamkan dunia ini, Kael."
Kael berbalik perlahan. Jubah bayangannya menyapu lantai batu dengan suara mendesis, seolah-olah bayangan itu sendiri memiliki gigi yang mengunyah realitas. Ia menatap Liora dari ketinggian balkon.
"Aku tidak memadamkannya, Liora," jawab Kael. Suaranya kini tidak lagi memiliki nada manusia, itu adalah suara yang bergema dari dasar sumur yang tak berdasar. "Aku hanya menghentikan sandiwara ini. Kalian hidup di bawah cahaya palsu, menyembah kristal yang kalian curi dari inti bumi. Sekarang, kalian hanya melihat apa yang tersisa ketika kemunafikan itu diambil."
"Dan apa yang tersisa?" teriak Liora sambil menunjuk ke arah jalanan kota di mana penduduk mulai berebut sisa makanan dalam gelap. "Hanya ketakutan! Hanya kematian!"
"Hanya keadilan," balas Kael dingin. "Di dalam kegelapan, seorang raja dan seorang pengemis memiliki berat yang sama. Mereka sama-sama tidak memiliki apa-apa."
Kael mengangkat tangan kirinya ke langit. Dengan satu jentikan jari, sebuah gelombang energi hitam menyapu seluruh ibu kota. Obor-obor yang tadinya padam mendadak menyala kembali, namun apinya tidak berwarna jingga hangat. Api itu berwarna biru pucat dan tidak mengeluarkan panas—Void Fire. Api itu tidak membakar kayu, melainkan mengonsumsi partikel debu di udara untuk terus menyala.
"Aku akan memberikan kalian cahaya," ucap Kael. "Tapi cahaya ini tidak akan menghangatkan kalian. Ia hanya akan mengingatkan kalian siapa penguasa baru di dunia.
Vorgas, yang entah bagaimana masih bertahan hidup dengan tubuh yang setengah hancur, merangkak mendekati tangga balkon. Ia melihat muridnya—atau apa pun yang sekarang mendiami tubuh Kael—dengan tatapan yang bercampur antara benci dan pemujaan.
"Tuan..." bisik Vorgas. "Pasukan Shadowspire... mereka menunggu perintahmu. Apa yang harus kami lakukan dengan sisa ksatria Solaria yang tertangkap?"
Kael melirik ke bawah, ke arah ribuan ksatria suci yang kini dirantai oleh belenggu bayangan. Di antara mereka ada para jenderal, pendeta tinggi, dan bangsawan. Mereka yang dulu memerintahkan eksekusi terhadap siapa pun yang dianggap "tercemar" oleh kegelapan.
"Bawa mereka ke hadapanku," perintah Kael.
Satu per satu, para petinggi Solaria diseret ke depan alun-alun. Raja Valerius berada di barisan paling depan. Mahkotanya sudah hilang, wajahnya penuh memar. Ia menatap Kael dengan kebencian yang murni.
"Kau bisa mengambil matahari kami, Iblis," ludah Valerius. "Tapi kau tidak akan pernah bisa mengambil jiwa kami. Dewa Pencipta akan menghancurkanmu!"
Kael turun dari balkon, melayang turun seperti helai bulu hitam yang jatuh. Ia mendarat tepat di depan Sang Raja. "Dewa Pencipta? Jika dia memang ada, dialah yang pertama kali memberikan Sigil ini padaku. Dialah yang membiarkan aku kelaparan di jalanan sementara kau berpesta di bawah cahaya Inti Surya."
Kael memegang dahi Valerius. Sigil ke-6 di tangan Kael bercahaya.
"VOID EXTRACTION: MEMORY ERASURE."
Valerius menjerit saat garis-garis hitam mulai merayap masuk ke matanya. Kael tidak membunuhnya. Ia melakukan sesuatu yang lebih buruk. Ia menghapus semua ingatan Valerius tentang kemuliaannya, tentang takhtanya, dan tentang keluarganya. Dalam sekejap, Sang Raja Solaria berubah menjadi pria tua yang linglung, tidak tahu siapa dirinya atau di mana dia berada.
"Kau tidak pantas mati dengan bangga sebagai raja," bisik Kael. "Kau akan hidup sebagai pengingat akan kegagalan cahayamu."
Kael kemudian menatap sisa tawanan lainnya. "Mulai hari ini, tidak ada lagi Kerajaan Solaria. Tempat ini bernama Aethel Void. Kalian yang memiliki Sigil cahaya, berikan mana kalian kepadaku setiap hari untuk menjaga api biru ini tetap menyala. Jika tidak, kalian akan membeku di dalam malam yang abadi."
Malam itu, Kael duduk di singgasana yang kini telah berubah menjadi takhta obsidian. Di dalam keheningan aula yang megah, Umbra muncul dari balik bayangannya. Sosok itu kini tampak lebih padat, hampir memiliki bentuk fisik yang menyerupai Kael, namun dengan seringai yang lebih lebar.
"Sangat mengesankan, Kael," puji Umbra. "Kau telah menundukkan satu kerajaan. Tapi kau harus tahu... Archeon hanyalah satu titik kecil di peta dimensi. Para penguasa dari alam lain sudah mulai melirik ke arah sini. Mereka merasakan hilangnya Inti Surya."
"Biarkan mereka datang," jawab Kael sambil menatap garis-garis di tangannya.
"Kau tidak akan cukup kuat hanya dengan enam garis," Umbra berjalan mengitari singgasana. "Garis keenam memberimu kendali atas materi dan ruang. Tapi Garis Ketujuh... itu adalah kuncinya. Garis itu akan memberimu kendali atas Waktu dan Kehidupan. Kau bisa membangkitkan yang mati, atau menghapus masa depan."
Kael mengepalkan tangannya. "Bagaimana cara membukanya?"
Umbra berhenti tepat di samping telinga Kael, membisikkan kata-kata yang membuat suhu ruangan semakin turun. "Kau butuh pengorbanan dari seseorang yang mencintaimu dengan murni. Seseorang yang memiliki esensi cahaya primordial. Garis ketujuh bukan dibuka dengan mana, Kael... ia dibuka dengan Keputusasaan Mutlak."
Mata Kael melirik ke arah pintu aula, di mana ia tahu Liora sedang dikurung di salah satu menara.
"Tidak," ucap Kael tegas.
"Oh? Masih ada sisa-sisa pemuda dari Eldravale di dalam sana?" Umbra tertawa meremehkan. "Ingatlah, Kael. Jika kau tidak mencapai tahap ketujuh, para 'Pembersih' dari Alam Astral akan datang dan menghapusmu seolah kau hanyalah kesalahan tipografi dalam naskah alam semesta. Kau ingin melindungi Liora? Maka kau harus menjadi Dewa."
Sementara itu, jauh di bawah tanah Lux Aeterna, di dalam jaringan saluran air yang luas, sebuah pergerakan mulai terbentuk. Liora, yang ternyata berhasil dibebaskan oleh sisa-sisa ksatria bayangan yang masih memiliki hati, kini berdiri di depan sekelompok kecil penyintas.
Mereka adalah para penyihir tingkat rendah dan warga sipil yang tidak mau tunduk pada api biru Kael.
"Kita tidak bisa melawannya dengan kekuatan," ucap Liora, suaranya parau namun penuh tekad. "Kael memakan mana. Semakin besar sihir yang kita lemparkan, semakin kuat dia."
"Lalu apa yang bisa kita lakukan, Komandan?" tanya seorang prajurit muda.
Liora mengeluarkan sebuah buku kuno yang ia curi dari perpustakaan rahasia raja sebelum istana jatuh. Buku itu berjudul The Genesis Fragment.
"Legenda mengatakan bahwa Sigil Void diciptakan sebagai penyeimbang, bukan penghancur," jelas Liora. "Ada sebuah tempat bernama Spring of Origin di pegunungan utara. Jika kita bisa mencapai tempat itu, kita bisa menemukan cara untuk menyegel kembali kekuatan Kael... atau setidaknya, memberikan dunia ini matahari yang baru."
"Tapi perjalanannya sangat jauh, dan dunia sekarang gelap total," sela yang lain.
"Maka kita akan berjalan di dalam gelap," balas Liora. "Kael mungkin menguasai malam, tapi dia tidak bisa memiliki harapan kita."
Tanpa mereka sadari, sepasang mata ungu milik salah satu Void Walker mengawasi dari langit-langit gua.
Kael melihat semua itu melalui mata pasukannya. Ia tahu Liora melarikan diri. Ia tahu tentang rencana mereka menuju Spring of Origin.
Vorgas, yang kini telah mengganti lengannya yang hancur dengan lengan prostetik dari energi hitam, berdiri di samping Kael. "Haruskah aku mengirim pasukan untuk menjemput kepala mereka, Tuanku?"
Kael terdiam cukup lama. Ia menatap telapak tangannya. Ada rasa sakit yang aneh di sana, sebuah rasa sakit yang bukan berasal dari Sigil, melainkan dari sisa-sisa jantung manusianya.
"Biarkan mereka pergi," ucap Kael akhirnya.
"Tapi Tuanku, mereka mencari cara untuk mengalahkanmu!"
"Aku tahu," jawab Kael sambil berdiri dari takhtanya. "Biarkan mereka mencari harapan itu. Dunia ini terlalu membosankan jika semua orang menyerah begitu cepat. Aku ingin melihat... apakah cahaya kecil mereka sanggup menembus ketiadaan yang kubuat."
Kael berjalan menuju jendela besar, menatap dunia yang kini menjadi abu-abu. Salju hitam mulai turun, menutupi kehancuran Lux Aeterna.
Ia adalah Kael Ravenhart. Sang Kaisar Kehampaan. Pemenang dari pertempuran yang tak seorang pun ingin menangkan. Ia telah mendapatkan segalanya—kekuatan, takhta, dan keabadian. Namun, saat ia berdiri di puncak dunia yang mati itu, ia menyadari satu hal yang tidak pernah diberitahukan oleh Umbra kepadanya.
Menjadi penguasa kegelapan berarti kau harus siap menjadi satu-satunya hal yang tetap terjaga ketika seluruh dunia tertidur selamanya.
"Liora..." bisik Kael pada angin dingin. "Jangan buat aku kecewa."
Di tangannya, garis keenam berdenyut sekali lagi, seolah-olah memanggil garis ketujuh yang masih tersembunyi di balik kabut takdir. Perang besar Archeon mungkin telah berakhir, namun perang demi jiwa sang kaisar baru saja dimulai.
Dan jauh di cakrawala utara, sebuah kilatan cahaya putih kecil muncul sesaat, menantang dominasi malam abadi.