NovelToon NovelToon
Regret! Saat Istriku Pergi

Regret! Saat Istriku Pergi

Status: tamat
Genre:Patahhati / Romansa / Tamat
Popularitas:621k
Nilai: 5
Nama Author: Sina Tu Narti Ajj

📖Harap sediakan tissue karena cerita mengandung bawang. 📖


"Kak Dibi, bolehkah Pelangi minta gendong?"

"Pe, kamu lagi hamil! Kalau jatuh bagaimana?"

"Kalau minta suap, mau nggak?"

"Jangan manja ya, Pe. Kakak sedang buru buru!"

"Oh...ya uda tak apa. Tapi Kak, jangan lupa tutup pintu rapat-rapat ya. Takutnya, Pe pergi dan hanya ada badai yang menggantikan kepulanganku."

Galaksi Miller Al Malik, kerap disapa Dibi, tidak tahu kalau istrinya--Pelangi Sagara sedang sakit keras seraya mengandung. Permintaan sederhana terakhir istrinya itu tidak terpenuhi olehnya sampai sang istri meninggal.

Selama pernikahan terpaksa itu, Dibi hanya mempedulikan seorang mantan kekasihnya yang sama halnya sedang sakit dan minta perhatian seorang Dibi.

Sampai saatnya, Istrinya meninggal baru ia menyadari kalau cinta besarnya itu hanya pada sang istri.

Penyesalan tak terkira dan tiada henti menggerogoti hari Dibi setelah kepergian Pelangi.

Benarkah Pelangi meninggal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sina Tu Narti Ajj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengambil Arpina

"Topan... Topan.... Jangan! Kamu jangan bawa Arpina!"

Bintang, orang tua Dibi itu terdengar memohon pada kakak Pelangi yang datang datang mau membawa cucunya.

Botol botol susu yang baru di sterilisasikan didapur, kini kembali kotor karena dijatuhkan begitu saja, demi bisa leluasa menahan Topan dan seorang babysister yang akan meninggalkan kamar itu.

"Minggir, Tan, jangan buat aku bertindak kasar!"

Bintang kekeuh menahan di pintu itu, tak peduli dengan kata kata Topan yang setengah membentak. Sedang Arpina yang berada di dalam gendongan babysister tersebut sudah mulai terusik. Bayi merah itu kembali menangis. Tapi Topan yang sudah punya niat, tidak mempedulikan, terpenting ia bisa membawa ponakan nya dari orang yang tidak bisa membahagiakan adik tersayangnya. Makanya, apapun akan dilakukan Topan demi bisa mewujudkan niatnya itu.

Tanpa melihat siapa Bintang yang notabenenya adalah kakak sepupu Ayahnya, Topan main menerobos pertahanan Bintang di ambang pintu itu.

"Cepat bawa ponakan saya ke mobil!" titah Topan ke babysister itu dengan suara tegas nan dinginnya.

Bintang yang ingin mempertahankan cucunya jadi tak kuasa karena tangannya telah dibelenggu kuat oleh Topan.

"Maaf, Tante, bukan niat aku kurang ajar, aku hanya tidak mau di hadang oleh siapapun."

Topan semakin bertingkah tidak sopan, ia tidak mau mengambil resiko dan berakhir gagal membawa anak Pelangi untuk di urusnya. Dengan itu, ia mendorong Bintang masuk ke dalam kamar dengan sedikit tenaganya. Lalu segera menarik kunci pintu bagian dalam itu. Dan berakhir Bintang terkunci.

"Topan __Arrgh...!" Bintang terpekik prustasi seraya menendang pintu kamar, kesal.

"Duh, bagaimana ini? Hah.... Dibi pasti semakin terpukul kalau anaknya pun direbut paksa dari sisinya. Aku nggak mau melihat anak ku terkena mental. Aku nggak mau!" racau Bintang seraya mondar mandir bingung di dalam kamar.

Tujuh menit dalam kebodohan karena resah, ia baru mengingat kalau ia harus menelpon Dibi.

" Apa? Arpina di bawa paksa oleh Topan?"

Dibi yang mendengar itu dari telpon, segera membelokkan kemudinya menuju rumah Topan.

Sedang Bintang yang baru dibuka pintu nya oleh ARTnya, segera tancap gas pun ke rumah Topan. Tak lupa, Bintang pun mengabari Dirgan, suaminya itu agar ikut meminta hak Arpina dalam kuasa Topan saat ini.

***

"Loh, ini__"

"Anaknya Pe. Tolong segera sus*i, Na."

Topan langsung memberikan bayi itu ke Gerhana. Istrinya tersebut memang menerima bayi yang sedang menangis itu. Tapi masih cengong, mendengar titah suaminya untuk menyus*i Arpina.

"Astaga, Nana, kasihan itu nangis terus. Cepat, Sayang, beri dia ASI-mu. Nggak apa-apa kan kalau kita bagi dua ASI Agni pada Arpina juga?"

Topan meminta dengan nada setengah sabar dan sisanya ya... kesal karena istri lemotnya itu masih saja cengong.

Bahkan, Topan segera membantu Gerhana membuka kancing kemeja bagian atas itu, agar Arpina segera mendapat apa yang di rindukan dari Pelangi yang tidak akan di dapatkan oleh ponakan nya lagi dari sang Mama.

"Ish, aku bisa sendiri. Modus aja mau nyentuh dadaku." Gerhana menepis tangan nakal Topan yang mau mengeluarkan isi dada itu.

Topan hanya datar, tapi dalam hati ia meringis pelan karena melihat ujung kenyal itu yang seakan akan melambainya. Andai Arpina tidak butuh itu saat ini, maka Topan lah yang akan menyesa*pnya.

"Apa lihat lihat? Mending sono gih, lihat Agni! Uda bangun apa masih bobo?"

Daripada punya pikiran kotor, Topan segera menurut pergi ke arah keranjang bayi jagoannya yang hanya beda beberapa bulan umur nya dengan anak Pelangi.

Saat suara tangis Arpina redup, Topan reflek melirik ke arah kasur, ternyata ponakannya itu sudah merasakan ASI dari istrinya.

"Mulai sekarang Arpina akan bersama kita, kamu tak keberatankan, Sayang?!" tanya Topan kembali mengikis jarak pada istrinya karena putranya itu masih setia terpejam nyaman di kasur ranjang bayi sana.

"Dibi, bagaimana? Aku yakin ya, pasti kamu nyulik Arpina kan?"

Gerhana memang selalu ceplas ceplos dalam apapun itu. Dan Topan sudah biasa jadi selalu santai perkataan istrinya yang nyelekit yang sialnya juga memang benar kalau ia mengambil paksa ponakannya dari pengawasan Bintang.

Belum Topan menjawab Gerhana, di luar pelataran sana sudah terdengar suara ribut ribut.

Topan tersenyum miring saat suara Dibi yang dikenali nya terdengar kesal di luar sana. Tadinya, Topan tidak mau keluar, tapi mendengar banyak orang di luar sana yang salah satu suara itu ada orang tuanya dan orang tua Dibi pun, akhir nya berdiri dari king size kasurnya.

"Nana, apapun yang terjadi di luar sana, kamu jangan berani membawa Arpina keluar. Oke!"

"Eum... Pergilah pencuri!"

Topan tak menghiraukan celetukan pedas Nana. Toh, itu memang benar kalau ia pencuri. Meski pun istrinya itu sudah berumur dewasa, tapi kejujuran dan keterbukaan istrinya itu seperti anak SD yang naif. Sebelas dua belas sama Mentari, ibundanya yang lempeng abis.

Sampai di teras, mata Topan langsung di suguhi Dibi dan kedua orang tua Dibi itu di hadang oleh lima belas anak buahnya.

Biru dan Mentari yang awalnya tidak tahu apa apa pun hanya diam tak mau berpihak pada Dibi, meski Topan sudah berbuat sesukanya. Orang tua Pelangi itu terlanjur kecewa pada Dibi sehingga persahabatan keluarganya pun sudah Biru putuskan secara sepihak. Meski Dirgan dan Bintang tak menyetujuinya dan protes panjang kali lebar.

"Charel... Kamu sangat kurang ajar menyuruh anak buah mu menghadang iparku. Ah... Maaf, mantan ipar!"

"Bos yang memberi perintah tadi, kok malah dikambinghitamkan?" Hanya bibir lah yang komat kamit dari Charel, asisten Topan. Tak berani protes pada bosnya yang terkenal singa itu.

Dibi yang sudah di lepas oleh anak buah Topan segera beranjak ke arah Biru dan Mentari ke anak tangga teras itu. Bintang dan Dirgan pun sudah berdiri di dekat anaknya.

"Ayah, Bunda __"

"Ganti panggilan itu pada kami!" Biru langsung mensergah. Biasanya kalau ia marah pada seseorang maka tinjunya itu yang akan berbicara. Tapi kali ini, Biru sangat sangat terlanjur kecewa mengetahui anaknya dapat perlakuan tidak baik oleh Dibi. Sampai akhirnya, anaknya itu sudah pergi. Makanya ia lebih memilih bersikap dingin dan tak mau bersinggungan dengan Dibi lagi.

"Maaf, tapi sampai kapan pun, kalian adalah orang tua kedua ku. Jadi ku mohon Ayah, beri tahu Topan untuk mengembalikan Arpina. Ku mohon, Bunda!" Dibi menyatukan kedua tangannya untuk memohon di depan mertuanya.

Mentari yang orang nya tak tegaan pun, kali ini tak menghiraukan Dibi yang memelas.

Topan masih saja menonton yang berdiri pada tangga teras paling atas seraya tangannya itu masuk ke dalam sakunya.

Topan ingin mendengar keputusan orang tuanya, apakah akan legowo memberikan Arpina begitu saja atau akan mempertahankan cucunya. Meski pun orang tuanya berpihak pada Dibi, maka sumpah demi apapun, Topan akan tetap ngotot pada pendiriannya untuk menjadikan Arpina sebagai putri sekaligus pengganti adik kesayangannya yang telah dilukai hatinya oleh Dibi.

"Biru, Mentari, come on.... Kita masih bisa berbicara baik baik __"

"Bicara apa, hah?" Biru langsung mensergah Dirgan. Sedang orang tua Dibi itu yang paham dengan kekacauan ini, hanya bisa menghela nafas gusar. Gara gara anaknya, Ia dan istrinya pun dapat imbasnya. Persahabatan mereka yang dulu dari orok itu sudah hancur saat ini.

" Kalian enak bisa berbicara ini dan itu. Sedang kami apa, hah? Kami hanya bisa menatap nama anak kami di batu nisannya. Dirgan, dengar ya... Sampai kapanpun, aku tidak akan memaafkan kesalahan anakmu karena memperlakukan putri satu satuku dengan cara tidak adil. Putra kebanggaan kalian itu pengecut tau nggak! Hati ini... "Biru menekan dadanya dengan satu jari. " Hatiku sakit, Dirgan, Bintang! Hatiku sakit mengingat aduan suara lemah Pelangi yang terakhir kalinya, 'Ayah, aku lelah.' Pe kami pergi dengan kata sakit hati atas kelakuan anak mu! Jadi sebelum aku murka, maka pergi dari sini. Bawah Dibi pergi atau aku akan membunuhnya."

Biru dan Mentari kembali menangis bila mana mengingat hari hari terakhir Pelangi, tanpa isak dengan air mata tak terbendung membanjiri pipi mereka.

1
umi istilatun
👍
Nur Aini
ya Alloh sakit nya💔💔💔😭😭😭😭😭😭
Rosdiana Dian
sumpah nyesek,,🥲yah semoga aja ada keajaiban
Tri Wulandari
Luar biasa
guntur 1609
dibi kau tu bukan cinta lagi sm pelangi tapi obsesi mu dengan rasa bersalah mu. kau harus bnyak belajar dari guntur
guntur 1609
sudah tahu salah. tapi omonganmu itu loh dibi. gak enak di dengar
guntur 1609
apa mngkn badai yg menyelamatkan pelangi ya
guntur 1609
oh brti biru sm bintang yg sepupuan
guntur 1609
rasakan kau dibi. seorang perwira kok gak pakai otak. masih sj berkhianat dengan mudahnya. waktu hamil. istrimu kau abaikan sekarang kau dikasih pelajaran sm pelangikan
guntur 1609
aku rasa pelangi belum mati
guntur 1609
sedih kata2 terakhir pelangi
guntur 1609
dasar bodat kau dibi. sanggup istrimu hamil kau gitukan. pantaslah kau dipukuli sm si kembar
guntur 1609
kau ja yg gak punya otak. ketika istrimu periksa. di alihat kau sm oelakormu
guntur 1609
mampus kau dibi, nyesal kau kn
guntur 1609
sekarang kau bru nyesal
Shifa Burhan
pelukan teman, ujung ditebut juga

pelakor dan pebinor sama laknat

jika ada yang membela pelakor dia sama laknat nya begitu juga kalau ada yang membels pebinor sama laknat nya juga

dan lagi thor apakah jika suami berpelukan dengan wanita lain dengan alasan pelukan teman, apakah kau Terima begitu saja dan anggap itu hal benar

thor jadi lah wanita bijak
Sri Watigustami
kecewa aq thor,emg didi bersalah to masa gk ada kesempatan kdua,maunya cinta didi dan pelangi bersatu,to malah gini endingnya🤦
Sri Watigustami
ya Allah thor knp aq 😭😭 terus.
3sna
ini suraat
Ran Aulia
huwaaa kejer. 😥😥😥😥😥😥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!