Slow update..
Athifah Farihan cantik dan periang, dua kata yang pertama kali orang lihat dari gadis tersebut, terlahir dari keluarga sederhana, membuatnya harus putus sekolah dan membantu perekonomian keluarga demi kedua orang tuanya
Muhamad Ahnaf Baqir tampan dan shalih, berasal dari keluarga yang cukup berada tak membuatnya sombong, di tambah dirinya sebagai lulusan salah satu pesantren membuatnya tidak pernah membedakan orang dari derajatnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahagia memiliki kamu
Thifah duduk bersandar di brankar tempat tidurnya, dia sudah rapi menggunakan mukena setelah di bantu suaminya wudhu kini ia tinggal menunggu suaminya yang sedang menggunakan sarung dan menggelar sajadah
Subuh kali ini ia ingin sholat berjama'ah dengan suaminya, ia sudah sangat rindu untuk melaksanakan sholat berjama'ah seperti biasa mereka lakukan ketika di rumah, meski ia masih belum sanggup berdiri tapi ia sudah sanggup melaksanan sholat sambil duduk
Thifah sangat khusuk saat melaksanan sholat begitupun suaminya yang menjadi imamnya saat ini, setelah sholat Ahnaf mengulurkan tangannya dengan segera Thifah mencium tangan suaminya, setelah itu Naf mencium kening istrinya kemudian mencium perut Thifah yang masih rata seraya membacakan doa untuk si jabang bayi
"Mas, adek mau dengar mas mengaji, boleh kan"
"Boleh sayank, apa yang enggak buat kamu" Naf mengusap pucuk kepala istrinya dengan sayang
Naf membuka Alqur'an setelah berwudhu kembali, dia duduk kursi tepat di samping brankar Thifah. Thifah mendengarkan suaminya mengaji dengan perasaan bahagia, bahagia karena dia sudah di beri suami yang sangat shalih dan begitu menyayanginya, bahagia karena ia masih di beri kesempatan untuk tetap berada di samping suaminya dan bahagia karena sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua
"Ya Allah, sungguh sempurna kehidupan yang hamba miliki, terimakasih Engkau telah memberi Kebahagiaan yang sempurna kepada hamba, melalui laki laki yang shalih, semoga kita dapat terus bersama sampai ke jannah-Mu, Aamin ya Robbal 'alamin" doa Thifah dalam hati
"Shadaqallahul Azhim... " Naf menutup Alqur'an dan menciumnya kemudian meletakan di nakas dia melihat istrinya yang sedang termenung sambil berderai air mata
"Sayank, kenapa kok nangis, apa ada yang sakit" Naf merasa khawatir pada istrinya, ia duduk di tempat tidur sebelah istrinya tangannya terulur mengusap air mata Thifah
"Eh.. Enggak papa mas, adek hanya merasa bahagia aja" Thifah menggeleng kemudian tersenyum sambil memegang tangan Naf yang masih berada di pipinya
"Bahagia karena?" tanya Naf penasaran
"Bahagia karena adek mempunyai suami shalih seperti mas, di tambah sebentar lagi kita akan mempunyai anak, adek sangat bersyukur kepada Allah karena telah di beri kesempatan kembali bersama mas dan di percaya untuk mengandung buah cinta kita, adek bahagia memiliki mas" air mata Thifah kembali menetes tapi bibirnya terus menampilkan senyum manisnya
"Masya Allah, mas juga sangat bersyukur mempunyai istri shalilhah seperti adek, mas juga bahagia karena kita akan segera mempunyai anak, terimakasih ya sayank setelah kehadiran kamu kini hidup mas sangat sempurna. Mas mencintai adek karena Allah" Naf memeluk Thifah erat
"Sama sama mas, adek juga mencintai mas karena Allah" Thifah balas memeluk suaminya erat
Di balik pintu, dua orang menyaksikan kemesraan mereka, dokter Delia dan seorang suster yang hendak memeriksa kondisi Thifah, mengurungkan niatnya terlebih dahulu karena melihat kemesraan suami istri tersebut
"Masya Allah, dok saya jadi baper melihat kemesraan mereka" ucap suster Ana berbisik pada dokter Delia
"Makanya cepetan nikah sus, biar bisa seperti mereka" goda dokter Delia
"Ah dokter ini, kan tau saya ini jomblo mau nikah sama siapa" suster Ana bersemu merah mendapat godaan dari dokter Delia
"Ya di cari lah sus, calon suaminya, mau saya bantu cariin"
"Dokter bisa aja, tapi boleh juga dok hehe.. "
"Kamu ini dasar," Dokter Delia mencubit pelan tangan suster Ana, yang di cubit malah cengengesan