Mendapat beasiswa di Universitas ternama di Ibu kota Seoul membuat gadis cantik bernama YURIE berurusan dengan 7 pria tampan, dari keluarga terpandang dan kedudukan besar di Universitas tersebut.
Sebut saja pria-pria tampan itu adalah Y7. Pria yang sudah dijodohkan oleh para orang tua mereka. Diantara mereka YUDANTA HUGO lah yang paling tampan, angkuh, sombong, cuek, serta dingin.
Tak disangka YURIE tertarik pada salah satu Y7.
"Kau tahu sedang berhadapan dengan siapa???" YUDANTA HUGO
"Maaf itu tidak penting. Awas aku sudah terlambat!" YURIE
**
•Bagaimana kisah mereka? antara YUDANTA HUGO dengan YURIE?
•Siapakah dari Y7 yang berhasil membuat YURIE tertarik? bahkan itu pandangan pertama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanzhuella annoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29. Sangat Manis
"Untuk apa?" tanya Yurie yang tidak mengerti.
Ssst.....
Yudanta mendesis, mengerucutkan bibirnya. Hal itu sangat lucu bagi Yurie karena menurutnya imut. Hingga membuatnya senyam-senyum sendiri.
Melihat Yurie hanya diam saja, Yudanta langsung merampas potongan roti di tangan Yurie.
Hah....
Yurie tersadar dengan apa yang dilakukan Yudanta. Matanya melebar ketika potongan roti tersebut habis tak tersisa, semua di masukkan Yudanta ke dalam mulutnya.
"Roti ku," ucap Yurie.
"Bisa kau buat lagi? kebetulan aku belum sarapan," pinta Yudanta tak ingin di bantah.
Ya, karena bangun kesiangan dia melewati sarapan pagi. Apa lagi tidak ada waktu karena di kampus harus berkumpul pukul 8 pagi.
"Ini bukan sarapan untuk orang kaya seperti senior," ucap Yurie dengan yakin karena ini adalah hidangan sederhana.
Mendengar pernyataan Yurie membuat Yudanta mendekat, bahkan menumpukan kedua tangannya di bahu Yurie dengan sorot mata tajam tapi menyejukkan sampai ke relung hati.
Yurie menelan ludah dengan posisi wajah mereka begitu dekat.
"Siapa bilang?" ujar Yudanta dengan tatapan begitu intens.
"Se-senior....ya....a- aku akan buatkan," ucap Yurie terbata, bahkan lidahnya keluh ingin berbicara dengan keadaan seperti ini.
Yurie memundurkan wajahnya hingga kini kepalanya bersandar di sandaran sofa. Sedangkan Yudanta berdiri dengan kepala menunduk.
Tatapan intens itu tak lepas, hingga sorot mata keduanya saling beradu.
Yudanta semakin menunduk hingga wajah itu hanya berjarak beberapa senti, itupun karena tangan Yurie menahan dada bidang tersebut.
Entah kebodohan apa Yurie memejamkan mata, mungkin karena ingin menghindari tatapan penuh arti itu. Mendapat peluang membuat Yudanta semakin memberanikan diri. Belum lagi tergoda dengan bibirr, buku mata penting itu hingga membuatnya kehilangan akal sehat.
Cup
Bibirr keduanya saling menempel, lama-kelamaan bukan hanya sekedar menempel tapi saling menikmati seperti ciuman orang dewasa.
TING TONG
Bunyi bel apartemen membuat mereka sadar telah melampaui batas. Dengan segera Yurie spontan mendorong dada Yudanta dengan kuat hingga ciuman itu terlepas.
Dengan malu serta wajah merah padam Yurie beranjak bangkit, ingin melihat siapa yang ada diluar pintu apartemen. Sedangkan Yudanta mengusap bibirnya dengan jantung berdegup kencang.
"Sangat manis!" Gumam Yudanta.
Bagaimanapun ini adalah pengalaman pertamanya. "Apa yang telah aku lakukan?" batin Yudanta mengutuki kebodohannya karena sudah berbuat diluar batas kewajaran.
KLEK
Pintu di buka dan mata Yurie melebar melihat seorang membawa perlengkapan camping, dan menyerahkannya kepadanya.
"Bawa kedalam mobil!" Titah Yudanta tiba-tiba sudah berada di belakang Yurie hingga berhasil membuat Yurie terperanjat kaget.
Tanpa bertanya lagi pria itu kembali membawakan perlengkapan tersebut.
Canggung itulah yang dirasakan Yurie, bukan hanya Yurie saja tapi Yudanta juga hanya dia berusaha bersikap santai seperti biasanya.
Tanpa sepatah kata Yurie mundur dan membalikkan badan untuk melangkah ke arah dapur, ingin membuat beberapa potong roti untuk pria angkuh tersebut.
Dia membakar 3 potong roti sekaligus, biar Yudanta puas.
"Apakah itu roti masih bagus?" pertanyaan Yudanta yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya membuat Yurie meliriknya sekilas.
"Walaupun aku bukan orang kaya tapi masalah makanan tidak sembarangan makan," sahut Yurie seperti sebuah sindiran.
"Sekali lagi aku dengar kalimat itu dari mulutmu jangan salahkan aku!" Bisik Yudanta.
"Apa yang kamu lakukan?" lirih Yurie dengan suara bentakan. Bagaimana tidak marah dan kaget mendapati kedua tangan itu melingkar di perutnya dari arah belakang.
Yudanta menarik nafas dalam-dalam. Menghirup aroma rambut panjang itu dengan mata terpejam.Dia bahkan tidak peduli dengan ocehan Yurie kepdanya.
Rasa rindu yang tidak dimengerti membuat ya tidak tahan untuk memeluk gadis itu. Gadis yang membuatnya tidak betah berlama-lama berada di Indonesia.
Mengetahui ada acara tour yang tiba-tiba di adakan. Hari itu juga Yudanta terbang kembali ke negara kelahirannya.
Dan mendengar Yurie tidak ikut serta membuatnya tanpa berpikir panjang langsung meluncur ke apartemen.
Dan kini dia membujuk gadis tersebut, hingga kejadian tak pernah terduga membuatnya senan jantung.
"Lepas!" Sentak Yurie berusaha melepaskan pelukan erat tersebut. Mulutnya berkata tidak tapi hatinya menginginkan sentuhan itu.
Merasa cukup Yudanta melepaskan pelukan itu dan beranjak kembali ke sofa. Sedangkan Yurie berdiri membeku, mengatur debaran jantung yang tak kunjung normal.
Dengan wajah menunduk dia meletakan tiga potong roti dan secangkir teh hangat di hadapan Yudanta yang sedang mengotak-atik ponselnya.
"Segeralah berkemas. Kita akan menyusul ke pulau Jeju!" Ujar Yudanta dengan nada tak seperti biasanya.
"Maaf senior aku sudah putuskan tidak ikut," sahut Yurie.
"Aku yang memutuskan!" Jiwa sesungguhnya kembali lagi.
Yurie mengumpat, sangat terlihat jelas dari raut wajah masam itu tapi itu tak membuat Yudanta iba dan menarik ucapannya.
"Kita tak punya waktu lagi untuk melamun, mengumpat!" Sindir Yudanta seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Yurie.
"Aku kerja senior," Yurie kekeh tak ingin ikut serta dalam tour tersebut, walaupun tempat wisata itu adalah impiannya.
"Itu masalah kecil. Kau tahu siapa aku? atau aku sendiri yang mengemasi pakaianmu?" Ancam Yudanta bahkan sudah beranjak bangkit.
Hah.....
Mata Yurie membulat mendengar perkataan itu, dan bayangan negatif dimana Yudanta memegang pakaian dalamnya terlintas dalam bayangannya hingga membuatnya spontan berlari masuk kedalam kamar.
Yudanta tersenyum kecil melihat tingkah lucu Yurie.
...Bersambung...
mkn ya gak pernh up2 lgi