Menjadi istri kedua tidak semudah mengucapkannya. Pada kenyataannya istri kedua harus punya kesabaran dan ketekunan lebih untuk menghadapi dunia.
Begitu pula dengan Winda, terlebih dengan status janda yang disandangnya tak luput dari sorot kebencian. Sebutan pelakor dan perusak rumah tangga orang seolah melekat pada dirinya, sejak ia memutuskan menikah dengan Detta, laki-laki yang telah beristri.
Namun Winda harus tetap bertahan demi anak yang didapat dari pernikahannya dengan Detta. Tetapi jika cacian dan cemoohan berpengaruh pada tubuh kembang anaknya, apa yang harus Winda lakukan? Haruskah ia bertahan? Ataukah ia justru menyerah dan mengakhiri semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusiana Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29. Cari titik lemahnya
Winda, mendorong pintu rumah perlahan. Suasana rumah sudah sepi, lampu ruangan pun sudah sebagain di matikan. Kemudian ia berjalan perlahan ke kamar Zia, untuk melihat putri kecilnya yang sudah tertidur dengan pulas. Diusapnya dahi Zia, yang penuh dengan titik keringat. Kemudian mengecupnya perlahan sebelum pergi.
Setelah dari kamar Zia, Winda mendorong pintu kamar Zara. Lalu menghela napas panjang saat melihat Zara masih duduk dengan mata menatap fokus pada buku di pangkuannya.
"Sudah malam, kenapa tidak tidur?" Winda berjalan mendekat ke arah Zara.
Zara menoleh kearah ibunya sebentar, lalu kembali menatap buku. "Belum ngantuk."
"Mama capek." Winda duduk di atas kasur berseberangan dengan Zara.
"Tidur 'lah, kenapa masih di sini?" wajah Zara datar tanpa ekspresi. Seolah tak peduli dengan keadaan di sekitar. Namun, sebenarnya ia merasa sangat kasihan pada ibunya. Ingin rasanya ia bertanya, Mama dari mana saja, kenapa baru pulang? Tapi lagi-lagi kalimat itu hanya tertahan di tenggorokan.
"Tante Mesya, sakit parah." Winda bergumam.
Tapi masih jelas terdengar oleh Zara. "Masih, peduli?" Sementara matanya masih tetap fokus pada bukunya. Tetapi, ia sudah tidak fokus untuk membaca. Hanya terdiam mendengarkan keluh kesah Winda.
"Mama, takut karena Mama 'lah Mesya sakit parah." Mata Winda menatap jauh kedepan. Ada penyesalan yang sangat dalam dari tatapan matanya.
"Kalau memang mama penyebabnya. Apa Mama, akan mengembalikan semuanya?"
Seketika Winda menoleh kearah Zara yang masih menatap bukunya. Kemudian, merebut buku dari pangkuan Zara. "Kamu nggak lagi baca 'kan?" Matanya menatap curiga.
Membuat Zara berdecak dan merebut kembali buku dari tangan ibunya. Sebenarnya ia malu mengakui bahwa sebenarnya sejak tadi ia menyimak semu ucapan ibunya.
"Menurut kamu bagaimana?" Winda menatap Zara, meminta pendapat.
"Apanya?" Zara balas bertanya dengan dahi berkerut bingung.
"Apa Mama, harus mengembalikan pada Mesya?" Tanya Winda serius.
"Menurut Mama, apa Tante Mesya akan sembuh dengan mama mengembalikannya?" Zara balik bertanya.
Membuat Winda berdecak kesal, kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Terlambat jika mama baru menyesal sekarang. Tapi Mama bisa jadi teman tante Mesya, dengan begitu tante Mesya akan lebih bisa menerima kehadiran Mama." Teriak Zara saat Winda akan melangkah keluar.
Membuat Winda berbalik dan menatap Zara. "Masalahnya, Mesya nggak suka keberadaan Mama. Dia pasti akan mati-matian mengusir mama. Bahkan sampai berdebat dengan om Detta, hanya karena Mesya mengusir Mama." Terang Winda panjang lebar. Menceritakan semua yang terjadi pada dirinya, Detta dan Mesya selama berada di rumah sakit.
"Se angkuh-angkuhnya sifat seseorang, pasti ada titik kelemahannya. Tugas mama, hanya mencari di mana titik itu berada."
"Sok tahu kamu!" Winda menggerutu pada Zara yang berbicara seperti orang bijak.
"Terserah Mama," Zara mengedikkan bahu tak peduli. "Terima atau tidak memang itu kenyataannya." Lalu, membuka fokus kembali pada bukunya.
Sementara itu, Winda langsung masuk kedalam kamarnya. Kemudian duduk terdiam di atas kasur memikirkan ucapan Zara.
Tidak ada yang salah dengan saran Zara, hanya saja terlalu sulit menjangkau titik lemah Mesya. Sebab Mesya menolak mentah-mentah kehadiran Winda.
***
Sementara Detta melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan malam yang sepi. Dari dealer tempat Mesya bekerja hingga hampir sampai di rumah, mereka duduk dalam keheningan.
Beberapa jam lalu, saat Detta menjemput Mesya di kantornya, percekcokan kembali terjadi. Dengan masalah yang sama, Detta tidak terima perlakuan kasar Mesya pada Winda. Sementara Mesya, tidak terima dengan sikap Detta yang terkesan selalu membela Winda.
Mesya langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kamarnya. Kemudian membaringkan tubuhnya dan menutup tubuhnya menggunakan selimut.
membuat Detta menghela napas pasrah, karena Mesya mendiamkannya. Perlahan namun pasti, tangannya terulur untuk membetulkan letak selimut Mesya dan mengecupnya perlahan sambil berbisik.
"Maafkan aku." Kemudian keluar dari kamar, membiarkan Mesya beristirahat.
Sementara itu, air mata Mesya justru mengalir dari balik kelopak yang terpejam. Ia sangat merindukan saat-saat romantis dan bahagia bersama Detta. Namun semua itu hanya akan menjadi kenangan masa lalu yang akan ia bawa pergi.
"Aku mencintaimu," Mesya berbisik pelan di balik isakannya.
***
"Apa! Bagaimana bisa?" Jena membelalakan mata terkejut saat Mesya bercerita tentang keadaannya. "Kok kamu baru tahu ngasih tahu aku?" Jena seolah tak terima karena Mesya terlambat memberi tahu.
"Aku juga baru tahu. Tapi semua sudah terlambat. Stadium empat, tinggal menunggu waktu saja." Kata Mesya frustasi.
"Waktu apa maksudmu? Tidak ada kata terlambat selama mau mencoba. Aku akan bantu cari rumah sakit yang bisa membantu menyembuhkan penyakit kamu." Jena berkata yakin seolah penyakit Mesya akan segera menemukan obat.
Namun, berbanding terbalik dengan Mesya. Ia justru pasrah dengan penyakitnya. Setahunya, penyakit apapun yang sudah berstatus stadium empat akan sulit bahkan tidak mungkin menemukan obatnya.
"buang- buang uang saja. Toh aku juga pasti mati." Kata Mesya mengungkapkan yang ada di pikirannya.
"Yakinlah, setiap penyakit pasti ada obatnya." Jena masih keukeh memberi semangat. "Ingat, kamu masih ada misi utama belum di selesaikan." Imbuhnya, dengan peringatan tegas.
"Aku menyerah, biarlah wanita itu yang menjadi pemenangnya. Aku sudah lelah berperang dengan takdir. Hidup pun, akan selalu di bayangi oleh perempuan itu."
Kalimat Mesya membuat Jena menghela napas panjang. Bersama dengan itu, pintu ruangan Mesya di ketuk dari luar. Mesya berteriak agar orang yang mengetuk pintu masuk. Sejurus kemudian, Mesya justru terdiam ketika mendapati Winda berdiri di balik pintu dengan tersenyum.
Menyadari hal itu, Jena langsung bangkit dan berpamitan pergi. Sementara Winda berjalan masuk kedalam ruangan, meski Mesya tidak menyuruhnya.
Winda duduk berhadapan dengan Mesya. Ia tersenyum meski Mesya memasang wajah datar.
"Sudah lebih baik?" Winda bertanya pelan.
"Ngapain kamu ke sini!"
Namun, Mesya justru balik bertanya dengan ketus. Ia heran dengan wanita dihadapannya itu. Sekeras apapun ia mengusir tapi sama sekali tidak membuatnya menjadi jera.
"Apa lagi yang kamu rencanakan?" masih dengan suara ketus. Mesya beranggapan bahwa Winda sedang menjalankan rencana untuk membuat hubungan dengan Detta merenggang.
"Rencana, apa? Aku cuma mampir mau kasih ini." Winda, meletakkan sebuah kotak makanan yang ia bawa dari rumah. "Dimakan ya, ini baik bagi penderita kanker."
"Oh ya ..., apa aku harus percaya? Bisa saja kan, kamu mencampur sesuatu di dalamnya." Mesya menatap Winda curiga.
Sementara Winda langsung menyahut, tak membenarkan kecurigaan Mesya.
"Tidak! Aku tidak menambahkan apapun. Dan aku sudah mencobanya, kamu bisa percaya padaku." Mata Winda menggambarkan kesungguhan dari ucapannya.
Namun sepertinya, Mesya sama sekali tidak percaya.
"Aku mohon, kamu keluar. Bawa itu kembali, aku butuh belas kasihan darimu. Dan satu lagi, jangan pernah beranggapan aku akan Luluh dengan semua perhatianku." Mesya menatap Winda, penuh amarah.
"Sekarang aku minta kamu keluar dari sini."
dimana² menang 😂