gsusbdvdiebdidbs
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIA METHA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kena Kan Lo
Aku mengambil ponsel yang berdering diatas nakas lalu menggeser warna hijau yang ada di layar, “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam sayang, kamu sekarang di mana?”
Aku mulai terbiasa dengan panggilan itu, “Masih di rumah, ini mau pesan grab untuk mengantar ke bandara,” aku mengenakan topi lalu meraih ransel yang ada di lantai, karena pulang cuma sehari jadi nggak perlu membawa pakaian.
“Nggak usah, kamu sudah di tunggu di depan kos, jadwal penerbanganmu pagi ini juga sudah di cancel.”
“Lho siapa yang cancel? Padahal aku sudah booking tiket dari kemaren,” protesku.
“Reno yang cencel, dia mengirimkan pesawat untuk menjemputmu. Kalau mau protes jangan sama aku, tapi sama abangmu.”
“Kamu cerita kalau aku mau ke Jakarta?” tanyaku dengan nada tinggi.
“Nggak usah marah-marah, kamu sudah di tunggu di depan kos. Aku tutup telponya, mau siap-siap kerja dulu. Hati-hati di jalan sayang, assalamu’alaikum.” Telepon langsung terputus.
Sekarang Haris berubah menjadi tukang ngadu, aku segera mengunci pintu kamar dan bergegas ke depan kos untuk mengetahui siapa yang menjemputku.
Benar saja, sebuah mobil Honda Civic tipe terbaru terparkir di depan pagar. Seorang laki-laki keluar dari mobil ketika melihatku kemudian melepaskan kacamata hitamnya, “Selamat pagi Nona Raharja, saya Randi asisten pak Reno akan mengantar Nona ke bandara,” dia membukakan pintu belakang mobil, “Silahkan masuk, Nona sudah di tunggu di bandara.”
Aku segera masuk ke dalam mobil karena penampilan Randi menarik perhatian teman-teman kosku. kemudian aku menelpon abang, “Kenapa abang cancel jadwal penerbangan Riana?” protesku ketika abang menjawab teleponku.
“Salamnya mana, yan? Kebiasaan banget nggak ngucap salam,” cecar abang.
“Assalamualaikum abang Reno yang tampan, kenapa tiba-tiba mengcancel jadwal penerbangan adikmu yang cantik ini?” aku bisa melihat dari sudut mataku asisten abang yang satu ini tersenyum.
“Abang sudah mengirim pesawat untuk menjemputmu.”
“Iya adek juga tahu, tapi apa alasannya?” ulangku kesal.
“Supaya kamu nggak keluyuran kemana-mana jadi abang tahu kamu benar-benar menaiki pesawat menuju Jakarta.”
Aku berusaha mengatur nafasku agar tetap tenang, sepertinya ini efek samping dari perbuatanku kemaren, abang jadi berlebihan sampai mengirimkan pesawatnya segala.
“Sudahlah bang, adek tutup telponnya. Bye,” aku mematikan ponsel lalu melemparnya kedalam tas.
Kami tiba di depan pesawat yang sudah siap landas, Randi membukakan pintu mobil dan membantuku keluar. Seperti ini ya rasanya jadi anak pengusaha, aku belum pernah di jemput menggunakan pesawat, kalau di jemput mobil atau motor sih sering tapi kalau pesawat… sepertinya aku harus sering-sering mangacau supaya abang berbaik hati mengirimkan pesawatnya.
Mood boosterku kembali ketika menapaki tangga pesawat, aku mengambil kacamata hitamku di tas dan memakainya.
Aku menatap kesekeliling kabin, Raharja group memang top, interiornya mewah dan terdapat kamar tidur di dalamnya.
“Selamat datang nona Riana, selamat bergabung di penerbangan Raharja Airlines, silahkan duduk dan gunakan sabuk pengaman anda sebentar lagi kita akan take off,” seorang pramugari menghampiriku. Aku mengikuti instruksinya dan duduk di tempat yang di tunjuk pramugari. Randi duduk tidak jauh dariku, aku pikir dia tidak akan ikut, ini mah sama aja aku punya bodyguard lagi, dasar licik.
Beberapa saat kemudian pilot mengumumkan pesawat yang akan take off, begitu pesawat mencapai ketinggian tertentu, mbak pramugari yang memperkenalkan dirinya sebagai Natalie menghampiriku, “Ingin sarapan apa nona? Kami punya roti panggang, omelet dan nasi goreng.”
Aku memilih roti panggang, omelet dan jus jeruk, sarapanku yang biasa. Aku menikmati sarapan di atas pesawat, sisa penerbangan aku habiskan dengan memetakan alur cerita di buku agenda, tiba-tiba saja aku mendapat inspirasi tentang tokoh utamanya.
∞∞∞∞
“Lo nikah bulan depan!” Seruku tidak percaya. Nita mengangguk, dia menyantap makan siangnya, kami sepakat bertemu di salah satu restoran di daerah Kemang.
“Itu masih kurang cepat yan, gue malah pengennya Minggu depan,” Nita menyantap salat romaine, dia sedang berusaha menjaga berat badannya menjelang pernikahan makanya menu makanannya berubah menjadi makanan kambing.
“Ngebet banget pengen nikah, kenapa nggak lo nikmati aja dulu masa-masa pacaran?” Aku menyantap supreme Tenderloin dengan tingkat kematangan well done bukan medium atau rare, aku bukan Haris yang suka menyantap daging mentah.
“Kalau elo sudah bertemu dengan belahan jiwa, bawaannya pengen cepat nikah aja. Rasanya hari-hari gue suram banget kalau belum ketemu Rogi,” Nita menyerup jus alvukatnya dari sedotan.
“Lebay lo, elo nya aja kali yang ngebet banget pengen nikah,” ucapku sinis.
“Liat aja entar, lo juga begitu nanti kalau Haris nggak juga ngajak lo nikah,” sahut Nita nggak mau kalah.
“Gue aja yang nggak siap, Haris kalau nggak di suruh diam bawaannya pengen ngajak nikah terus,” jelasku saat Nita menyerup jus alvukatnya, dia sampai terbatuk-batuk mendengar perkataanku.
“Seriusan? Elo kenapa nggak bilang sih sudah di lamar,” protes Nita.
“Gue belum di lamar ta, lo jangan salah paham deh,” gerutuku kesal. Belum apa-apa sudah salah paham aja nih anak, “Waktu di Bali gue bilang sama Haris kalau gue belum siap nikah sekarang dan dia mau menunggu gue.”
“Gue jadi penasaran gimana Haris nembak lo,” ucap Nita dengan senyum menyebalkan.
“Gue bukan burung yang ditembak segala,” gerutuku masam. Aku tidak ingin menceritakan bagaimana Haris menyatakan perasaannya dengan banyak drama yang menyertainya.
Nita terdiam melihat responku yang tidak bersahabat lalu bertanya kembali, “Gimana ceritanya lo bisa terdampar di Bali?” dia menyingkirkan piring kotor dari hadapannya.
“Sebulan yang lalu gue nginap di tempat Haris,” aku mulai bercerita.
“Nginap,” ucap Nita sambil membuat tanda kutip dengan tangannya dan matanya menatapku jahil.
“Jangan salah sangka dulu, waktu itu Haris kedatangan teman-temannya yang numpang nonton bola jadi dia nggak bisa ngantar gue. Beneran, gue tidur di kamar tamu jadi lo jangan salah paham,” ucapku meyakinkan.
“Oke lo tidur di kamar tamu, lanjut…” Nita menyeringai.
“Besoknya ketika Haris mau mengantar gue pulang, tiba-tiba mbak Dian datang. Gue beneran kaget, nggak nyangka aja mereka sudah kenal, sehari sebelumnya Haris bilang sama gue kalau dia sedang menyukai seseorang dan gue kira orang itu mbak Dian. Apa gue berlebihan ta kalau berpikir begitu? gue melihat mereka seperti orang pacaran yang sudah lama nggak bertemu, mereka cipika cipiki dan mesra banget. gue aja sampai jengah melihatnya.”
“Terus lo ngambek dan kabur ke Bali,” tebak Nita.
“Gimana ya…” aku bingung menjelaskannya, “Sebenarnya nggak kabur ta, tiga Minggu gue berusaha menghindari Haris. Telpon, WhatsApp bahkan dia ke kos pun nggak gue perdulikan. Waktu itu gue beneran ingin fokus ujian dan meredakan patah hati jadi semua akses gue blokir, bahkan gue nge-gym pun di jam kerja untuk meminimalisir pertemuan dengan Haris...”
“Bentar Rogi nelpon.” Nita memotong kata-kataku lalu mengangkat telponnya, “Ya beb, ini lagi makan bareng Riana… iya aku tahu… setelah makan mau nganterin Riana ke butik… miss you too, bye.” Nita meletakkan ponselnya di atas meja, “Jeda iklan, lanjut…” ucapnya seperti orang yang lagi nonton film tapi dipotong dengan iklan makanan ringan.
“Ya setelah ujian gue liburan ke Bali untuk mengurangi stress, eh tahunya Haris lapor ke abang dan bilang gue kabur ke Bali sampai papa panik,” aku melirik ke meja sebelah tempat bodyguard baruku duduk, “Gara-gara ulah gue kemaren sekarang gue punya bodyguard lagi deh,” aku memajukan tubuh kearah Nita lalu berbisik, “Dia jadi bodyguard gue kalau balik ke sini, kalau di Jogja bodyguard gue si Haris.”
Nita ikut melirik ke meja sebelah, “Jadi sekarang Haris pacar merangkap sebagai bodyguard lo?”
“Iya Haris sudah resmi naik pangkat, sekarang kalau mau kemana-mana gue harus wajib lapor dulu.” Tiba-tiba ponselku berbunyi, “Tuh apa gue bilang,” aku menunjukkan layar ponsel ke arah Nita dengan kesal.
“Sini biar gue yang ngangkat telponnya,” Nita mengambil ponsel dari tanganku lalu berdeham-deham sebentar sebelum menjawab telpon dari Haris, “Halo,” suaranya dibuat meyerupai suara laki-laki.
Tidak ada jawaban dari seberang sana, “Halo...halo, sepertinya salah sambung.”
“Siapa honey?” tanyaku dengan manja, sengaja memanas-manasi Haris.
“Nggak tahu, sepertinya salah sambung,” ucapnya dengan suara laki-laki.
“Kamu yang siapa? Bukannya ini ponsel pacarku?” tanya Haris datar.
“Kamu kenal?” tanya Nita pura-pura tidak mengetahui si penelpon.
“Siapa sih, gangguin orang kencan aja.” Ucapku berusaha menahan tawa.
“Riana!” teriak Haris.
Aku tidak bisa lagi menahan tawa, Nita juga ikut menertawakan Haris, “Jijik banget dengar lo manggil gue honey.”
“Elo kan emang selingkuhan gue,” kilahku sambil tertawa.
“Gue masih normal kali, gue jadi pengen cepat-cepat nikah supaya nggak dikira orang pacar gelap lo lagi.” Ucap Nita sambil menggembalikan ponselku.
“Jadi yang tadi itu cuma joke,” sahut Haris.
“Gue heran deh kenapa lo bisa suka sama orang gila ini?” tanya Nita ke Haris.
“Memangnya kenapa dengan Riana?”
“Kadang-kadang gue suka mikir sendiri, kenapa gue bisa betah temenan lama sama dia? Mana bawaannya suka nempel-nempel sama gue, nanti orang mikir kalau gue pacar wanitanya Riana, kan berabe kalau sampai Rogi memutuskan untuk membatalkan pernikahan hanya karena dia mengira gue lesbian,” jelas Nita dengan wajah innocent nya.
“Songong lo, gue masih normal kali,” sahutku sambil tertawa.
“Aku baru dengar joke yang seperti ini,” kata Haris heran.
“Welcome to our friendship, lo akan mendengar joke-joke yang lebih parah dari ini,” sahut Nita santai.
“Akan kuingat itu. Sayang, kenapa nggak bilang kamu langsung ketemu Nita? Reno sudah nungguin di rumah dari tadi.”
“Sejak kapan kamu jadi kacungnya abang?” tanyaku kesal, “Perasaan kamu nggak secerewet ini deh, aku jadi nyesel sudah mengiyakan jadi pacarmu.”
“Sudah nggak usah protes, cepat balik sudah di tungguin tuh.”
“Bentar lagi, aku mau ke butik dulu.” Aku meminta bantuan ke Nita untuk mencari alasan supaya nggak pulang kerumah.
“Nggak usah, besok-besok kan bisa.”
“Kayaknya hari ini nggak jadi ngukur gaun,” Nita menunjuk ke luar dengan dagunya. Abang keluar dari mobil Mercedes Benz yang terparkir di luar restoran.
Mati aku.
Aku langsung memutus telpon, “Ta bantuin dong, gue mau nginap di rumah lo aja,” ucapku dengan memelas.
“Nita menggeleng, “Lo sudah di jemput, jangan cari masalah deh lo pulang aja, gue nggak mau kena imbasnya.”
“Bantuin gue kali ini aja ta, gue males ketemu nyokap,” aku memohon dengan wajah memelas.
Nita menghela nafasnya, “Yan, ngeliat abang lo aja gue sudah nggak berani bantuin lo, sudah deh lo pulang aja nggak bakalan di apa-apain kok, palingan lo di kawinin sama kenalan nyokap lo.”
“Asem,” gerutuku masam.
“Eh gue salut banget sama Haris, dia berani banget berhadapan langsung dengan abang lo. Apa dia nggak takut kena kutukan ya jadi nekat menerjang badai?” bisik Nita ketika abang mendekati kami.
“Iya gue juga penasaran, apa yang sudah Haris lakukan hingga abang tenang dan menerima begitu saja saat dia mengangkat dirinya sendiri sebagai pacar?” bisikku ketika abang mendekati asistennya.
“Besok gue jemput di rumah lo deh,”
Nita memanggil pelayan untuk membayar bill tapi di cegah abang, “Saya saja yang bayar,” abang mengeluarkan kartu kredit nya.
“Makasih bang Reno, sampai jumpa besok, bye.” Nita melambaikan tangannya kemudian berlalu dari hadapanku.
Ini yang kena prank sebenarnya siapa sih? Niatnya ingin menjahili Haris, tahu nya malah aku yang kena tipu. Memang susah punya dua bodyguard.